
Semua orang pulang dengan hati yang sedih. Salah satu dari keluarganya harus pergi jauh dari mereka.
"Kenapa pindahnya tanggung, Pih?"
Pertanyaan yang muncul dari Riana. Hanya seulas senyum yang Keysha berikan.
"Ini sudah menjadi kesepakatan Papih sama Key."
Kecewa sudah pasti Riana rasakan. Bukan hanya Riana, Keysha pun merasakan hal yang sama. Padahal sekarang sudah masuk bulan ketiga di kelas dua belas. Namun, Keysha memilih untuk melanjutkan sekolah di negeri orang.
Rifal pun dirundung kecewa. Ketika hatinya sudah mantap, tetapi cinta tidak berpihak. Apakah ini yang dinamakan pertemuan untuk perpisahan?
Dengan langkah gontai, Rifal berpamitan kepada Azkano dan istrinya. Tak hentinya Kano dan Sheza mengucapakan terima kasih. Kini, Rifal beralih menatap Keysha yang masih dengan wajah sendu.
"Semoga kamu betah di sana." Keysha menegakkan kepalanya dan memandang Rifal dengan mata yang menyorotkan kepedihan yang mendalam.
Tidak ada jawaban dari Keysha. Dia hanya menatap dan menerima uluran tangan Rifal.
"Saya permisi."
Menyerah, itulah yang Rifal lakukan. Takdir yang menyakitkan. Kenapa harus dipertemukan jika berakhir dipisahkan? Memang belum saling mengenal. Akan tetapi, ada sebuah keyakinan yang membuatnya terus maju. Sekarang, kenyataan pahit harus dia telan dan terima.
"Harus menjadi pecundang lagi," gumam Rifal dengan senyuman kecut.
Rifal sedang meratapi nasibnya dengan menghisap sebatang rokok di halaman samping rumahnya. Kepulan asap putih sengaja dia hembuskan tinggi-tinggi. Seperti sedang meluapkan rasa sedih dan kecewanya.
"Gagal." Suara seseorang yang sangat menyebalkan akhir-akhir ini terdengar.
"Jagain jodoh orang pernah, dan sekarang malah ditinggalin pas mau berjuang." Ucapan yang terdengar sangat miris.
"Menyerah?"
"Mungkin itu jalan terbaik. Sebelum aku larut dalam kisah yang berakhir luka yang sama," sahut Rifal.
"Kenapa tidak berjuang?"
"Terlalu tinggi benteng yang memisahkan kita. Terlalu banyak perbedaan," jawab Rifal sambil mengepulkan asap rokok lagi.
"Perbedaan akan hilang karena penyatuan."
"Ucapan tidak semudah kenyataannya, Bang. Bicara mudah, menjalankannya itu yang sulit," imbuh Rifal sambil mematikan puntung rokok.
"Life must go on." Rifal beranjak dari duduknya meninggalkan Rindra seorang diri.
Rifal merebahkan tubuhnya di atasannya kasur. Bayang-bayang wajah sendu Keysha masuk melintasi pikirannya.
"Good bye."
Biarkan bayang wajah itu hilang seiring berjalannya waktu. Dibawa oleh angin dan terkikis oleh jarak.
"Gua bilang apa, lu itu harus cari perempuan yang seumuran sama lu. Bukan bocah," oceh Sandi ketika mendengar semua kepiluan Rifal.
"Lu hanya sebatas mengagumi. Bukan mencintai," terangnya lagi.
"Gua emang bodoh," lirihnya.
Seharian ini Rifal tidak fokus ke pekerjaannya. Hanya ada bayang wajah Keysha di kepalanya.
Kenapa bayang kamu masih ada di kepalaku?
Dengan penuh perjuangan Rifal menyelesaikan semua pekerjaan. Meskipun, Sandi terus mengomel karena pekerjaan Rifal yang lambat. Tidak seperti biasanya. Rifal hanya diam, tidak ingin menimpali. Dia mendadak menjadi manusia kalem.
"Patah hati memang bisa membuat orang berubah," gumam Sandi, yang melihat Rifal lebih banyak diam hari ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari pun sudah condong ke
barat. Rifal merenggangkan otot-ototnya. Mematikan laptopnya dan menghidupkan ponsel pribadinya.
Terdengar suara notif pesan yang sangat banyak. Namun, tidak Rifal hiraukan.
Pasti grup bawel.
Rifal keluar dari ruangan disapa sopan oleh sekretarisnya. Dia menekan tombol lift menuju lantai satu. Di dalam lift, dia hanya termenung. Ketika pintu lift terbuka dia dikejutkan dengan kehadiran anak perempuan berbaju putih abu-abu yang sedang menunggunya di lobi kantor.
"Keysha."
Rifal mempercepat langkahnya. Namun, Keysha sudah beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"Keysha!" panggil Rifal dengan suara lantang. Tidak dia pedulikan banyak orang yang melihatnya.
Langkah Keysha pun terhenti. Dia membalikkan badan dan terlihat Rifal yang sedikit berlari menghampirinya.
"Ada apa ke sini?" Keysha menatap Rifal penuh arti. Kemudian, dia tersenyum tipis.
"Kakak tidak baca pesan dari Key?"
"Pesan?" ulang Rifal.
"Maaf, kalo Key ganggu. Key permisi." Wajah Keysha terlihat sangat kecewa.
__ADS_1
Dia pun memilih untuk meninggalkan Rifal. Masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya.
Rifal segera membuka ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Matanya membola ketika mendapat pesan dari 08124567xxxx
14.50
Kak Rifal, apa bisa kita ketemu?
Ini Keysha.
15.30.
Apa boleh Key ke kantor Kakak?
16.02
Key udah di kantor Kakak.
Gak bisa masuk.
Dilarang sama security.
Key tunggu di lobi.
17.03
Sepertinya kakak sangat sibuk.
Maaf Key menganggu.
Key hanya ingin bilang,
Malam ini Key akan berangkat.
Makasih atas kebaikannya.
Key tunggu perjuangan Kakak.
Pesan akhir itu membuat mata Rifal melebar. Apa maksud pesan terakhir yang Keysha kirimkan?
"Perjuangan," gumamnya.
Rifal mendadak bodoh. Otaknya sedang tidak bekerja dengan sempurna. Satu menit kemudian dia tersadar.
"Shit!" umpatnya.
Rifal segera mengejar mobil Keysha. Namun, dia sudah terlambat. Mencoba menghubungi nomor ponsel Keysha pun tidak bisa. Hanya operator yang menjawabnya.
Kak Rifal menyukaimu. Apa kamu juga menyukainya?
Jangan membohongi hati kamu. Jika, iya bicara iya. Kalo tidak bicara tidak.
Usia tidak mengenal cinta. Jodoh pun rahasia Tuhan. Perbedaan usia bukan menjadi halangan untuk bersatu.
Kalo dia emang serius. Dia pasti akan berjuang mendapatkan kamu. Kalo dia hanya diam saja, lebih baik kamu yang mundur. Berjuang sendirian itu lelah. Masih banyak laki-laki yang mau berjuang bersama-sama.
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Keysha. Semoga keputusan yang dia ambil benar.
"Apa Kakak mau berjuang? Menunggu Key seperti Kak Radit yang rela menunggu Kak Echa bertahun-tahun?"
Begitulah batin Keysha. Keputusan yang dia ambil bukan tanpa pertimbangan. Dia mendengar sendiri bahwa papihnya mengagumi sosok Rifal Addhitama.
Papih kenal dia, Mih. Keluarganya pun sudah menjadi bagian keluarga Kak Gi. Dia pekerja keras dan menjadi orang pertama yang selalu membantu Pak Addhitama sebelum kedua anaknya masuk ke perusahaan. Kehidupan pribadinya sangat tertutup. Ketika ditanya kenapa belum nikah dia hanya tersenyum. Katanya, jodohnya masih otw.
Sangat beruntung wanita yang menjadi pendamping hidupnya nanti. Dia sangat baik, pasti akan menjadi imam yang baik juga. Yang Papih bangga, dia satu-satunya teman bisnis Papih yang tidak meminta anak kita secara terang-terangan.
Penjelasan yang Keysha anggap sebuah kode. Apalagi sang Papih menceritakan tentang Rifal dengan sangat antusias. Sudah pasti papihnya mengenal baik Rifal. Sikap Rifal pun sangat sopan kepada papih serta Mamihnya.
Satu hal yang membuat Keysha yakin, Rifal mampu memberikan kenyamanan kepadanya. Terbukti dari kesabaran Rifal menyuapinya. Serta perlindungan Rifal ketika dia rela melepas jaket demi untuk Keysha. Sikap papihnya ada pada diri Rifal.
Sesosok manusia bodoh masih betah berada di dalam mobil. Tatapannya masih fokus pada chat akhir yang Keysha kirimkan.
Kejar Kak. Itu kode alam. Apa mau dia diembat orang lain.
Ucapan Radit membuat Rifal menghela napas kasar. Ragu, itulah yang Rifal rasakan sekarang. Apa mungkin? Dua kata itu yang selalu memutari otaknya.
Dia menghubungi seseorang, setelah itu dia melajukan mobilnya. Arah mobilnya melaju ke rumah Echa. Namun, dia menghentikan mobilnya di kedai kopi. Sudah ada Echa di sana.
"Sorry, lama, ya?" Echa menggeleng dan menyuruh Rifal untuk duduk.
Rifal menyerahkan ponselnya kepada Echa. Dahi Echa mengkerut ketika membaca pesan dari Keysha. Namun, sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Kakak mengartikan apa pesan dari Keysha?" Rifal menggedikkan bahu.
"Kenapa?"
"Takut salah karena terlalu percaya diri." Echa tertawa mendengar jawaban Rifal. Sungguh seperti ABG yang baru mengenal cinta.
"Udah tua juga gak pinter-pinter," ujar Echa yang masih tertawa.
__ADS_1
"Apa itu kode?" Echa mengangguk pelan sambil meminum es kopi kesukaannya.
"Tapi ... tadi dia terlihat kecewa," terang Rifal.
"Ya jelas kecewa lah. Lihatlah jam di mana Keysha mengirimkan pesan. Itu berjarak satu jam. Menunggu satu jam ibarat menunggu satu tahun Kak Rifal Addhitama." Baru kali ini Echa merasa kakak iparnya nampak seperti orang bodoh sungguhan.
"Hape gua mati tadi. Jadi, gua gak tahu. Ketemu dia di lobi pun cuma sebentar, terus dia langsung pergi."
"Perempuan itu kalo udah kecewa pasti diem Kak. Untuk apa menjelaskan. Mereka hanya ingin kepekaan dari seorang laki-laki. Dikasih kode sedikit langsung mengerti," terang Echa.
"Lu kira gua cenayang kayak laki lu," sungut Rifal.
"Dikasih tahu juga," dengus Echa.
"Terus ini gimana? Gua coba menghubungi dia pun gak bisa." Wajah frustasi Rifal terlihat jelas.
"Tanya pada hati Kakak. Apa yang seharusnya Kakak lakukan? Memenuhi permintaannya atau mundur tanpa menyakitinya," jawab Echa.
Berjuang, apa bisa? Long distance relationship apa tidak akan menimbulkan luka untuk kedua kalinya?
Ada sebuah trauma yang Rifal rasakan ketika menjalani hubungan LDR. Setelah lulus SMA, Rifal memutusakan untuk kuliah di London dan hanya mengambil S1 selama empat tahun. Sedangkan Jelita memilih untuk kuliah di Bandung. Enam bulan pertama hubungan mereka masih baik-baik saja. Terkadang, Rifal membiayai Jelita untuk pergi ke London menemui dirinya. Sedangkan dirinya tidak bisa bolak-balik London-Indonesia. Selain kuliah, dia juga harus mengecek perusahaan sang papih.
"Setelah aku lulus, aku akan meminang kamu." Itulah yang Rifal ucapan dan janjikan pada Jelita. Gadis manis berlesung pipi dan berbola mata indah.
Semakin ke sini, intensitas mereka berkomunikasi semakin jarang dan Jelita sudah jarang menemui Rifal di London. Namun, Rifal masih percaya pada Jelita.
Ketika wisuda tiba, dua kebahagiaan menyelimuti hati Rifal. Bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa segera melamar sang pujaan hati. Akan tetapi, sebuah video yang Sandi kirimkan membuat Rifal tak berdaya.
Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Apriani binti Jaka Prasetya dengan mas kawin tersebut, tunai.
Mata Rifal terbuka lebar ketika pengantin itu memang Jelita, kekasihnya.
Kenapa bisa?
Hanya itu yang bisa Rifal pertanyakan.
Wanita perlu kepastian dan perjuangan. Bukan hanya sebuah janji manis yang tak kunjung dilaksanakan.
Sungguh malang nasib Rifal. Hatinya hancur berkeping-keping. Frustasi sudah pasti. Dia tidak menunjukkannya pada keluarga. Menyimpan semuanya rapat-rapat. Dia tidak ingin menambah beban sang ayah.
Wanita butuh kepastian dan perjuangan.
Kalimat itu yang sekarang berkelana di pikiran Rifal. Hatinya masih ragu, tetapi dorongan untuk maju sangatlah kuat. Tanpa sepatah kata yang terucap, Rifal meninggalkan Echa. Dia bergegas melajukan mobilnya.
Tiba di rumah Keysha, semuanya sudah terlihat sepi. Dia turun dari mobil dan bertanya kepada security.
"Tuan dan Neng Keysha sudah pergi ke Bandara. Pesawat mereka berangkat jam tujuh."
Wajah panik Rifal terlihat jelas. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bandara. Sekarang sudah pukul setengah tujuh.
"Masih ada waktu. Jangan sampai mengecewakan," gumam Rifal.
Rifal masuk ke Bandara dan mencari keberadaan Keysha dan Azkano. Menghubungi Keysha pun tidak bisa. Ketika dia hendak menghubungi Azkano, dia melihat wanita yang sedang dicari tengah duduk seorang diri dengan kepala yang tertunduk.
"Keysha!" panggil Rifal.
Semua orang menatap heran kepada Rifal. Perempuan yang dipanggil namanya pun menoleh. Ada sorot ketidak percayaan yang dia pancarkan. Apalagi pria itu berlari ke arahnya. Menubruk tubuh Keysha dan memeluknya.
"Aku akan terus berjuang menunggu kamu. Meskipun aku tahu itu tidaklah mudah. Aku akan terus berusaha."
"Aku menyayangi kamu, Keysha."
Sebuah pernyataan cinta yang membuat Keysha meneteskan air mata. Sebenarnya, Keysha sudah tidak ingin berharap lagi karena dia merasa tidak ada perjuangan yang dilakukan oleh Rifal. Dia menyimpulkan bahwa Rifal hanya bermain-main saja.
Ketika asa itu sudah mulai pupus. Seorang yang dinanti hadir dengan membawa cinta. Mengungkapkan perasaannya dengan yakin.
Bibir Keysha kelu, hanya air mata kebahagiaan yang dia rasakan. Tangannya membalas pelukan hangat nan nyaman yang Rifal berikan. Sebagai tanda bahwa dia juga menyayangi Rifal. Apa cinta bisa datang secepat ini? Apa cinta pada pandangan pertama itu nyata?
Rifal mengurai pelukannya, tersenyum ke arah Keysha yang sedang menangis. Tangannya mengusap air mata yang sudah membanjiri wajah perempuan cantik di hadapannya.
"Belajar yang benar. Aku akan menunggu kamu dan berjuang untuk terus mendapatkan cinta kamu."
"Maaf, si pria tua ini mencintai perempuan muda seperti kamu. Perempuan yang telah mencairkan hatiku yang telah membeku. Perempuan yang selalu membuatku tersenyum sendiri ketika teringat wajah kamu. Perempuan yang menyadarkan aku bahwa menuju cinta sejati itu butuh perjuangan dan pengorbanan."
"Apa kamu mau jadi calon istri aku? Ibu dari anak-anakku kelak." Lagi-lagi Keysha hanya terdiam.
"Aku tidak ingin pacaran. Aku ingin sebuah keseriusan dalam hubungan. Usiaku sudah tidak muda lagi. Aku ingin bahagia bersama wanita yang aku cinta, yaitu kamu."
"Sekali lagi, apa kamu mau menjadi calon istri aku, Keysha?"
"Apa Kakak mau menunggu Key? Menunggu hingga pendidikan Key selesai?"
"Tentu, aku siap menunggu kamu. Selama kamu menempuh pendidikan aku akan berjuang untuk memantaskan diri bersanding dengan perempuan seperti kamu. Permata berharga milik Pak Azkano yang sudah banyak ditawar oleh banyak pebisnis kaya." Keysha hanya tersenyum mendengar ucapan Rifal.
"I love you, Keysha."
"Love you too, Kak."
Rifal tersenyum dan menarik tangan Keysha masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jaga hati kamu hanya untuk aku. Aku janji, aku akan terus berjuang untuk kamu. Akan aku buktikan bahwa cinta itu tak mengenal usia."