Yang Terluka

Yang Terluka
Kelelahan


__ADS_3

Echa berangkat dengan pesawat komersil tanpa memakai pesawat pribadi milik keluarga Gio. Itulah keinginan Echa karena dia ingin merasakan hidup normal layaknya orang lain. Tidak selalu dipermudah dengan kemewahan.


"Kamu serius, Sayang?" Echa hanya tersenyum dan menunjukkan bukti, jika suaminya sudah memesan dua tiket pesawat untuk mereka.


"Sangat serius, Pa. Papa jangan khawatir. Ada suami Echa yang akan Jagan Echa." Begitulah jawaban dari Echa.


Gio hanya menghela napas berat. Sedangkan si kembar sudah memeluk tubuh sang Mommy karena mereka tidak ingin ditinggalkan oleh sang kakak.


Sedangkan Rion, pandangannya tidak terlepas dari sang putri sulung. Ada rasa berat di hatinya untuk melepas putri kesayangannya. Namun, tugasnya sebagai seorang ayah sekaligus orang tua kini sudah selesai. Dia harus mempercayakannya kepada Radit yang sudah sah menjadi suami Echa.


"Jaga Echa untuk kami. Sekali kamu menyakiti putri Ayah. Ayah tidak akan mengambil putri Ayah dari tangan kamu. Jangan harap kamu bisa kembali bersama putri Ayah." Permintaan serta ancaman yang Rion lontarkan kepada menantunya.


"Pasti, Ayah."


Tiba sudah di mana Echa dan Radit harus berangkat ke Ausi. Mereka diantar layaknya orang yang akan berangkat ke tanah suci. Ada keharuan yang tercipta. Echa mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Karena dia tidak ingin membuat hati suaminya sedih.


"Sering tengokin para orang tua kalian di sini," lirih Ayanda.


Echa dan Radit mengangguk pelan dengan senyuman. Menutupi kesedihan yang mereka berdua rasakan.


Sepasang suami istri ini sudah masuk ke dalam pesawat. Radit memesan kelas bisnis agar memberikan kenyamanan kepada sang istri. Perjalanan kali ini cukup lama dan harus beberapa kali transit.


"Kamu pasti sedih," ucap Radit sambil mengusap pelan puncak kepala sang istri.


Echa menatap Radit dengan tatapan. sendu. Terlihat jelas gurat kesedihan di matanya.


"Aku janji, setelah kontrak di rumah sakit tempat aku bekerja selesai. Kita kembali ke tanah air. Aku tidak ingin membuat kamu tertekan. Jika, di rumah Mamah dan Papa setidaknya banyak orang. Ada yang akan menemani kamu ketika aku sibuk." Echa tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya sudah melingkar di pinggang sang suami.


"Kemana pun kamu pergi. Pasti akan ku ikuti." Radit membalas pelukan sang istri dengan sangat erat. Berkali-kali mencium puncak kepala Echa.


Perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, belum juga sampai. Echa berkali-kali membenarkan posisi duduknya yang semakin ke sini semakin tidak nyaman.


"Kenapa, Yang?"


"Pegal." Radit hanya tertawa. Radit meletakkan kepala Echa di pundaknya dan satu tangannya dia letakkan di belakang punggung sang istri. Memijat lembut punggung Echa membuat Echa merasa nyaman.


"Lebih baik kamu istirahat. Perjalanan kita masih cukup lama." Echa membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Pijatan lembut Radit membuat Echa mudah untuk terlelap.


"Aku beruntung mendapatkan kamu, Sayang."


Setelah melewati perjalanan panjang tiba sudah mereka di Bandara Internasional Canberra. Radit membangunkan istrinya yang masih terlelap. Ketika Echa baru saja mengerjap, Radit mengecup bibir istrinya membuat mata Echa melebar.


Radit hanya tersenyum, lalu mengeluarkan tisu basah untuk mengusap lembut wajah Echa. Tentu saja dengan tisu basah yang selalu Echa gunakan. Karena kulit Echa sangatlah sensitif.


"Kita sudah sampai. Aku sudah meminta pegawaiku untuk menjemput kita." Tangan Radit terulur ke arah Echa dan mereka turun dari pesawat dengan tangan yang saling bergenggaman.


Karyawan Radit sudah menjemput mereka. Tak lupa Zayden mengucapkan selamat untuk sepasang pengantin baru ini. Bibir Zayden terus melengkung ketika melihat bosnya sangat bahagia bersama istri cantiknya. Apalagi bosnya tidak pernah melepaskan genggaman tangannya terhadap sang istri.


Mobil yang dikendarai Zayden masuk ke dalam sebuah rumah mewah. Di mana Radit dan Echa akan tinggal. Mereka berdua disambut hangat oleh para asisten rumah tangga. Ada dua asisten rumah tangga di kediaman Radit. Sengaja Radit mempekerjakan orang asli Indonesia di rumahnya. Karena dia dan Echa terkadang bosan dengan masakan ala-ala Barat.


"Selamat datang Tuan dan Nona," ucap Bi Iroh dan Bi Ami.


Hanya seulas senyum yang Radit dan Echa berikan. Mereka memilih untuk masuk ke dalam kamar karena tubuh mereka sudah sangat letih.


"Aku siapkan air hangat ya," ujar Echa.


"Iya."


Radit membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rasa ngantuk pun mulai menderanya. Radit kurang istirahat karena dia lebih mementingkan kenyamanan istrinya dibandingkan dirinya. Padahal, besok pekerjaan sudah menunggunya.


Ketika Echa keluar dari kamar mandi, bibir Echa melengkung dengan sempurna melihat suaminya sudah terlelap.


"Pasti kamu lelah. Kamu suami terbaik," ucap pelan Echa.


Echa membiarkan suaminya tertidur dan dia yang memilih untuk mandi terlebih dahulu. Memilih berendam karena rasa pegal dan kram.


Echa hanya menggelengkan kepala ketika melihat Radit masih terlelap dengan nyamannya. Tidak tega membangunkan suaminya yang terlihat sangat kelelahan. Echa memutuskan untuk ke lantai bawah dan menuju dapur.

__ADS_1


"Biar saya aja yang masak, Bi," ujar Echa.


"Tapi, Non ...."


"Tidak apa-apa, suami saya ingin makan masakan saya," sambungnya lagi.


Kedua asisten rumah tangga itu pun mengangguk patuh. Mereka bertugas hanya menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak.


"Non, mau buah potong atau jus?" tanya Bi Ami.


"Tidak, Bi. Saya ingin lemon tea hangat."


"Biar Bibi yang buatkan, ya, Non." Lagi-lagi Echa menolak.


"Biar saja aja, Bi. Bibi cukup membantu menyiapkan bahannya saja." Bi Ami hanya bisa patuh pada perintah majikannya.


"Kita seperti makan gaji buta," bisik Bi Iroh kepada Bisa Ami.


Selesai sudah Echa membuat ayam cah jamur dengan pelengkap cumi goreng tepung kesukaan Radit. Serta lemon tea panas. Kenapa Echa membuat lemon tea panas bukan hangat? Dia tahu, suaminya masih terlelap. Membangunkan Radit memang cukup mudah. Namun, jika Radit sudah berada di dalam kamar mandi seperti wanita sedang luluran. Lama sangat.


Echa menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya. Ternyata suaminya sudah tidak ada dan terdengar suara gemercik air di dalam kamar mandi. Echa segera menyiapkan baju santai untuk sang suami sambil merapihkan tempat tidur.


Tanpa Echa sadari, Radit sudah keluar dari kamar mandi dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mencium tengkuknya membuat Echa merinding.


"Aku bau dapur, Ay," tolak Echa.


"Biarkan sebentar saja seperti ini, Yang." Echa pun pasrah. Setelah Radit puas memeluknya. Kini Radit membalikkan tubuh Echa dan mengecup kening Echa sangat dalam.


"Makasih sudah mau jadi istriku." Echa hanya tersenyum mendengar penuturan tulus dari Radit.


"Pakai bajunya terus kita makan."


Tangan mereka bertautan dengan senyum yang terus merekah di bibir pasangan pengantin baru ini.


"Masakan sederhana aja, ya. Aku lelah," ucap Echa ketika sudah duduk di depan meja makan.


"Kamu 'kan pernah bilang kalo kamu hanya akan makan masakan buatan aku," jawab Echa.


"Iya, kecuali kamu lelah atau sakit pasti aku mau makan masakan siapapun."


Bi Ami dan Bi Iroh yang sedang membereskan perabotan di dapur tersenyum bahagia mendengar ucapan pasangan baru ini. Benar-benar pasangan yang saling pengertian.


"Kamu makan juga, ya." Seperti biasa Radit hanya mengambil piringnya dan mengisinya dengan nasi, ayam cah jamur serta cumi goreng tepung. Kemudian, dia menyuapi istrinya terlebih dahulu baru dirinya sendiri.


Kebahagiaan yang Radit dan Echa pancarkan membawa aura positif bagi semua orang. Termasuk para pekerja di rumah Radit.


Pagi buta, Echa harus menyiapkan sarapan untuk sang suami. Meski hanya roti bakar atau nasi goreng. Radit pasti akan memakannya.


Bergelut dengan wajan dan spatula Echa lakukan pagi ini. Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima. Dengan sesekali menguap, Echa mampu menyelesaikan masakannya. Tak lupa, Echa menyiapkan kopi panas untuk sang suami.


Kedua asisten rumah tangga itu sedang membersihkan seluruh rumah dan juga halamannya. Rumah Radit bukanlah rumah yang kecil.


Echa naik ke lantai atas dan mencoba membangunkan suaminya yang masih betah berada di bawah selimut.


"Ay, bangun. Kamu harus berangkat kerja 'kan." Tidak perlu susah untuk membangunkan seorang Raditya Addhitama. Radit pun mengerjapkan matanya kemudian tersenyum ke arah sang istri. Bukannya bangun, Radit malah memeluk pinggang Echa dengan sangat erat.


"Mandi dulu, air hangatnya udah aku siapin. Terus, sarapan." Setelah puas memeluk tubuh sang istri, Radit beranjak dari posisi tidurnya. Kemudian, mengecup bibir Echa singkat.


Echa memakaikan dasi di leher kemeja Radit dengan tangan Radit yang terus memeluk pinggang sang istri.


"Aku belum mandi. Jangan cium-cium terus," ujar Echa.


"Mau mandi atau enggak, kamu tetap cantik dan wangi." Echa hanya menyunggingkan senyum kecil.


Setelah selesai, Radit dengan posesifnya menggandeng tangan Echa. Kebahagiaan sangat terpancar pada wajah Radit.


"Kayak pembantu sama majikan kalo gini," gerutu Echa yang sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Radit pun terkekeh mendengar ucapan sang istri. "Makanya jangan pakai daster. Pakainya lingerie aja di kamar." Dengan keras Echa memukul bahu Radit membuat Radit semakin tergelak.


Radit menikmati masakan sang istri dengan lahap. Sedangkan Echa terus menyandarkan kepalanya di bahu Radit dengan sesekali mulutnya menguap. Setelah selesai, Echa mengantarkan suaminya hingga depan pintu rumah. Tak lupa dia mencium tangan sang suami. Dibalas kecupan hangat yang mendarat di kening Echa.


"Setelah ini kamu tidur lagi. Aku tidak ingin kamu sakit." Suara Radit terdengar sangat tegas.


"Bi Iroh, nanti tolong masakin untuk istri saya. Dan jangan ganggu istri saya ketika dia sedang istirahat." Bi Iroh pun mengangguk patuh.


"Ya udah, aku berangkat." Radit mengecup bibir sang istri kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Tubuh Echa terasa remuk. Lelah yang dia rasakan sekarang ini. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Tak lama dia pun terlelap.


Setiap hari Echa melakukan tugasnya dengan sangat baik. Menyiapkan sarapan serta makan malam untuk sang suami. Bangun ketika masih gelap dan tidur larut malam menunggu suaminya selesai mengerjakan pekerjaannya yang dia bawa ke rumah.


Ketika Echa bangun tidur di hari yang masih gelap. Kepalanya sedikit pusing dan untuk jalan pun dia sedikit sempoyongan. Namun, tak dia hiraukan.


Echa tetap menyiapkan sarapan untuk Radit dan segala keperluan Radit. Keringat dingin sudah mengucur deras di keningnya. Wajahnya pun terlihat pucat. Karena Radit sedang terburu-buru Radit tidak melihat jelas wajah istrinya.


Sudah jam dua belas siang, tetapi Echa tidak juga keluar kamar. Bi Iroh dan juga Bi Ami sedikit khawatir. Mengetuk pintu kamar majikannya pun mereka tidak berani karena sang tuan sudah memberi larangan kepada mereka untuk tidak mengganggu istrinya ketika sedang istirahat.


Satu jam berselang, Echa tak kunjung keluar. Bi Iroh memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar majikannya. Namun, tidak ada jawaban. Tangan Bi Iroh mencoba membuka gagang pintu. Untung saja pintunya tidak terkunci. Bi Iroh melongokkan kepalanya mencari sosok sang majikan. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat tubuh sang majikan sudah menggigil hebat.


"Nona!" teriak Bi Iroh.


"Bi Ami, cepat ke mari!" teriaknya lagi kepada Bi Ami yang sedang berada di dapur.


Bi Iroh memegang kening Echa, tubuhnya sangat panas. Kemudian dia berlari mengambil wadah dan mengisinya dengan air untuk mengompres Echa. Karena dia tidak ingin memberikan sembarang obat.


"Ya Tuhan," ucap Bi Ami terkejut.


"Telpon Tuan. Kasihan Nona."


Berkali-kali Bi Ami menelepon Radit. Namun, tak juga ada jawaban. Sudah lebih dari lima kali dia menghubungi Radit.


"Gak diangkat, Bi Iroh," ujar Bi Ami.


Bi Iroh memandang sedih ke arah Echa. Mata Echa sudah terpejam dan tubuhnya tidak menggigil lagi.


"Mungkin Tuan sibuk," jawab Bisa Iroh.


Lima belas menit berselang, ponsel Bi Ami berdering dan Raditlah yang menghubunginya. Ketika Bi Ami mengatakan jika Echa sakit, Radit langsung panik. Pasien yang masih tersisa lima orang pun dia serahkan kepada dokter lain. Dia memilih untuk pulang melihat kondisi istrinya.


Radit mengemudi dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sudah tidak karuhan. Dirinya sangat khawatir dengan kondisi Echa.


Tibanya di rumah, dia memarkir mobil dengan sembarangan. Dia berlari menuju kamar. Hatinya sakit ketika melihat istrinya dengan wajah pucat. Dikeningnya ada handuk kecil untuk mengompres tubuh Echa yang demam.


"Maaf, Tuan. Saya tidak berani untuk memberikan obat sembarangan kepada Nona," jelas Bi Iroh.


Radit segera membawa tubuh istrinya menuju mobil. Membawanya menuju rumah sakit di mana dia melakukan praktek. Dengan sedikit berlari dia membawa tubuh Echa menuju IGD.


"Periksa istriku!" Dokter Firman hanya mengangguk dan memeriksa Echa. Ketika semua orang tidak boleh menemani pasien di IGD. Hanya Radit yang bisa melakukan itu.


"Kamu apakan istrimu hingga kelelahan seperti ini?" Ucapan dokter Firman membuat dahi Radit mengerut.


"Saya tahu kalian pengantin baru, tetapi harus tahu aturan juga." Radit hanya terdiam belum bisa menimpali.


"Istrimu sangat kelelahan. Ketika tubuh lelah dan terus dipaksa 'bekerja' berdampak seperti ini. Untungnya saja dia tidak pingsan," jelas dokter Firman.


"Istriku baik-baik saja 'kan?" Radit sungguh khawatir. Jika, sang ayah mertua tahu bisa dipecat Radit menjadi menantu.


"Istrimu hanya butuh istirahat. Jangan kelelahan dan harus cukup tidur."


Radit menatap Echa dengan tatapan bersalah. Setiap malam sebelum tidur pasti Radit menginginkan tubuh Echa untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.


"Maafkan aku."


...****************...

__ADS_1


Mana Komennya?


__ADS_2