
Dua hari sudah Echa bermalam di kediaman Addhitama. Memang sedang acara di sana. Addhitma menginginkan mereka melakukan foto keluarga.
Ketiga anak Echa sangat anteng berada di sini. Apalagi Rifal, Rindra dan Rio selalu mengajak mereka becanda.
"Kamu sakit?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Radit sama persis dengan pertanyaan Nesha.
"Hanya pusing." Echa masih terbaring.
Radit duduk di samping tempat tidur. Mengecek suhu badan Echa. "Mau pulang?"
Perkataan Radit selalu tepat sasaran. Echa hanya diam dengan kepala yang menggeleng.
"Aku butuh menenangkan diri sejenak."
Radit menarik tubuh Echa untuk duduk. Mereka saling menatap. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.
"Kita tidak boleh egois."
Sebuah kalimat yang membuat Echa tertunduk. Radit menggenggam erat tangan Echa, mengusap lembut punggung tangan sang istri.
"Ayah memerlukan partner hidup."
Kalimat yang semakin membungkam mulut Echa. Radit tahu istrinya tengah bersedih. Dia juga tahu bagaimana Echa menyayangi ayahnya.
Keadaan kamar tiba-tiba hening. Echa masih tertunduk dan Radit masih menggenggam tangan sang istri. Radit menangkup wajah Echa. Benar saja, bulir bening sudah menetes di wajah penuh lelah itu.
"Apa aku terlalu mengekang Ayah?" Radit menggeleng dan tangannya menghapus jejak air mata.
"Itu bukti bahwa kamu tidak ingin Ayah tersakiti atau sakit hati lagi. Aku tahu, kamu ingin menyelamtakan Ayah yang hampir tenggelam dan kesedihan yang sama, sebuah kegagalan yang teramat menyakitkan."
Radit memeluk tubuh Echa dengan penuh kehangatan. Jika, sudah menyangkut ayah dan anak-anaknya. Echa akan menjelma menjadi wanita rapuh.
"Bicara baik-baik dengan Ayah. Ayah pasti merasa sedih sama seperti kamu ini. Wajar, jika Ayah kesepian. Butuh teman bicara atau teman jalan. Sedangkan kita anak-anaknya, sibuk dengan urusan kita masing-masing. Tanpa kita sadari, kita telah mengabaikan Ayah."
"Malam ini, kita pulang, ya." Tidak ada jawaban dari Echa. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Radit.
Sedangkan di rumah yang berbeda. Seorang pria paruh baya tengah memandangi gazebo yang berada di samping rumah. Secangkir kopi panas telah menemaninya. Namun, sudah lima belas menit berlalu kopi itu tidak pernah dia sentuh.
Apa Ayah tidak kasihan sama Echa?
Jika, Ayah ingin menikah bilang. Jangan main perempuan.
Perkataan Echa tiga hari yang lalu masih membekas di hati Rion. Baru kali ini dia melihat Echa marah luar biasa. Walaupun nada bicaranya rendah, tetapi terdengar penuh dengan amarah.
"Maafkan Ayah, Dek."
Sebuah tepukan di pundak membuat Rion menatap ke arah kanannya. Senyum hangat nan lembut terukir di wajah wanita yang dulu pernah menjadi miliknya.
"Temui Echa."
__ADS_1
Dua buah kata yang membuat Rion menggeleng dengan cepat.
"Dia masih marah kepada Mas."
Pesimis yang Rion rasakan saat ini. Bagaimana tidak, semua pesan serta panggilannya tidak pernah Echa balas ataupun jawab.
"Itu bukti bahwa Echa memang sangat menyayangi, Mas. Echa tidak akan bersikap berlebihan pada orang yang dia anggap biasa." Ayanda menatap ke arah sang mantan suami. Dia menggenggam hangat tangan Rion.
"Mas adalah orang yang sangat spesial di dalam hidup Echa. Pria yang menjadi cinta pertama untuknya. Pria yang sangat Echa kagumi dan hormati. Mas adalah segalanya buat Echa."
"Melihat Mas terpuruk ketika kita berpisah, menyimpan kesedihan tersendiri untuk Echa. Perubahan terlihat jelas ketika Mas belum menikahi Bundanya Riana 'kan." Rion terus mendengarkan ucapan Ayanda.
"Belum lama ini, Echa melihat Mas disakiti. Pasti akan membawa perubahan lagi pada sikap Echa. Over Posesif itulah Echa sekarang. Dia seperti itu karena dia ingin melindungi Mas. Dia tidak ingin Mas sedih lagi. Apalagi harus gagal lagi."
Rion terdiam mendengar penjelasan Ayanda. Rasa bersalah sangat menyelimuti hatinya.
"Mas tahu, setelah full jadi ibu rumah tangga. Setiap malam ketika suaminya sudah terlelap. Echa mengendap-endap untuk mengecek semua usaha yang dia kelola. Hingga pagi menjelang dia masih berada di depan layar laptop. Memijat keningnya yang terasa pusing serta mulut yang terus menguap. Itu semua demi untuk menghasilkan pundi-pundi agar Riana dan Iyan bisa sekolah di tempat yang bagus. Dia tidak memakai uang Radit untuk membiayai sekolah kedua adiknya."
Rion terkejut akan kenyataan yang baru dia dapati. Tidak percaya sudah pasti.
"Mas, putri kita putri yang hebat. Kita harus menjadi orang tua yang hebat juga untuk Echa. Perjuangan dia sangat berat, Mas. Apalagi masa kecilnya." Suara Ayanda semakin terdengar serak.
"Echa bisa menerima dan menyayangi kita dengan baik seperti ini pun, aku sangat bahagia. Tidak membenci meskipun telah menyakiti. Itulah yang Echa lakukan."
Tanpa banyak bicara, Rion bangkit dari duduknya. Meraih kunci mobil yang berada di dalam kamarnya. Tujuannya hanya satu, menemui putrinya.
Tibanya di rumah Addhitama, seorang wanita cantik membukakan pintu. Dahinya mengkerut melihat pria paruh baya tampan yang tidak dia kenali.
"Maaf, Bapak siapa?"
"Saya ayahnya Echa." Mata Nesha membola mendengar pengakuan dari Rion. Dia sungguh tidak menyangka ayah dari adik iparnya masihlah sangat muda. Kharismanya sangat terpancar jelas.
"Masuk dulu, Pak. Biar saya panggilkan."
Pelukan Radit terlepas ketika ada suara ketukan pintu dari luar. Radit menukikkan kedua alisnya ketika melihat sang kakak ipar berada di depan pintu kamarnya.
"Ada ayah mertua kamu." Radit hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
"Yang, turun yuk ke bawah." Lebih baik Radit tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada Echa. Bukan tanpa alasan, pasti Echa tidak mau menemui ayahnya.
Di lantai bawah, Echa dikejutkan dengan keberadaan Rion. Mereka berdua saling pandang dengan tatapan penuh rindu. Melebihi sepasang kekasih.
"Temuilah. Itulah tanda Ayah sangat menyayangi kamu."
Radit sengaja meninggalkan Echa dengan Rion. Biarkanlah ayah dan anak ini bicara dari hati ke hati. Mengungkapkan apa yang ingin mereka ungkapkan.
"Ayah ...."
"Dek ...."
__ADS_1
Ucapan yang bersamaan membuat mereka terdiam.
"Maafkan Ayah." Sebuah kalimat yang membuat Echa segera memeluk tubuh sang ayah.
Echa terisak dan tersedu di dalam pelukan hangat pria yang sangat dia cintai selain suaminya.
"Maafkan Echa, Ayah."
"Kamu tidak salah, Dek. Ayah yang salah. Ayah yang harusnya sadar diri. Ayah yang harusnya bisa menahan semuanya. Hanya karena kesibukan kalian Ayah jadi salah langkah. Maafkan Ayah, Dek."
Keharuan tercipta, sedangkan tidak jauh di sana Radit tersenyum bahagia. Semarah-marahnya Echa terhadap sang ayah, hanya akan bertahan selama tiga hari. Ayahnya bagai permata berharga yang harus dia lindungi.
"Jika, Ayah ingin menikah. Menikahlah, Echa tidak akan melarang."
Mendengar ucapan Echa, Rion mengurai pelukannya. Dia menatap lekat manik mata putrinya. Menghapus air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Tidak. Ayah sudah memiliki kamu, Riana serta Iyan. Malaikat-malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan ke dalam hidup Ayah. Serta ada tiga cucu-cucu Ayah yang akan membuat hati Ayah berwarna."
Echa tersenyum ke arah sang ayah. Hatinya lega meskipun tak sepenuhnya percaya. Jodoh adalah rahasia Tuhan. Jika, Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk sang ayah dia bisa apa?
Tangisan salah satu dari si triplets membuat Echa mengakhiri keharuannya. Dia segera menuju kamar si triplets diikuti oleh Rion.
Radit sudah menggendong Aleeya yang tak berhenti menangis. Echa mengambil alih Aleeya. Namun, tangis Aleeya semakin keras.
"Coba Ayah yang gendong."
Baru saja Aleeya digendong oleh Rion, matanya terpejam menandakan kenyamanan. Echa dan Radit saling tatap hingga mereka tersenyum bahagia.
"Kamu kangen Engkong," kata Echa sambil mengusap rambut Aleeya.
"Sama kayak Bubunya," timpal Radit.
Rion dan Radit pun tertawa. Hati Rion mulai menghangat kembali. Apalagi bisa melihat putri kesayangannya tertawa lepas seperti ini.
Awalanya, Rion memutuskan untuk pulang. Namun, Radit mencegahnya. Ditambah kedatangan Rifal membuat Rion seperti dikurung di rumah ini. Rifal dan Rion memang cukup akrab. Apalagi tingkah mereka sama-sama selengean.
"Kapan nikah?" Pertanyaan yang membuat Rifal mendengus kesal.
Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Echa, Radit, Rifal, Rindra, Nesha serta Addhitama.
"Kapan nikah untuk ketiga kali?"
Sontak semua orang tertawa. Apalagi melihat ekspresi Rion yang sudah tidak bersahabat seperti itu.
"Baru baikan jangan bikin panas lagi," kelakar Radit.
Tawa semua orang semakin menjadi. Sedangkan wajah Echa sudah merengut kesal.
Dengan mesranya Radit merangkul pundak Echa. Mengecup pelipis sang istri.
__ADS_1
"Itu bibir jangan dimanyun-manyunin. Mau aku serang di sini?"