
Ketika Aksa telah kembali ke LN, si triplets pun mulai kembali ke rumah kedua orang tua mereka. Setiap hari Rion selalu merindukan ketiga cucunya, tetapi mereka sombong tidak ingin bermain ataupun pulang ke rumah.
"Engkong!" panggil Aleeya.
Ketiga anak Echa baru saja pulang dari Bandara. Ayanda langsung mengantarkan mereka ke rumah kedua orang tua mereka.
"Engkong!" panggil Aleesa.
Mereka melihat mobil sang kakek sudah terparkir cantik di depan rumah. Menandakan bahwa engkong mereka sudah pulang. Akan tetapi, mereka mencari ke semua ruangan hasilnya tidak ada.
"Engkong pergi bersama Wawa," balas Mbak Ina yang baru saja menghampiri mereka.
Wajah lesu ketiga anak Echa terlihat jelas. Mereka ditinggalkan oleh ibu mereka, dan teman bermain mereka yaitu sang kakek pun tidak ada.
"Kata Bubu, Neng- neng yang cantik main bersama Mbak dulu, ya."
Ketiga anak itu pasrah, mereka merebahkan tubuh mereka di karpet bulu ruang bermain.
"Mbak, mau susu," pinta Aleeya.
Mbak Ina segera bangkit dari duduknya dan membuatkan susu untuk mereka bertiga. Walaupun hanya Aleeya yang meminta, Mbak Ina tahu bahwa dua saudaranya yang lain pasti mau juga. Bukan hanya susu yang dibawa oleh Mbak Ina. Dia juga membawa mini box dessert untuk ketiga cucu majikannya tersebut.
Mereka meminum susu seperti orang yang sudah seharian kehausan dan menghabiskan mini dessert box dalam waktu sekejap.
"Bubu kapan pulang?" tanya Aleena.
"Sebentar lagi. Bubu hanya ke kantor Engkong."
"Engkong?" tanya Aleeya.
"Ke Bogor."
"Huh! Ke Bogol mulu," keluh Aleesa.
Mbak Ina tersenyum bahagia mendengar gerutuan dari si kembar tiga itu. Mereka adalah anak-anak yang aktif dan cepat tanggap.
Lama mereka menunggu sang ibu, akhirnya mereka terlelap dengan sendirinya, ketika Mbak Ina masak untuk makan malam. Semua pintu Mbak Ina kunci takut mereka kabur sembunyi-sembunyi.
Lengkungan senyum terukir di wajah Mbak Ina melihat trio Al terlelap dengan damainya. Anak-anak yang selalu membawa kebahagiaan untuk keluarga Rion dan juga Echa.
Deru mesin mobil terdengar, Mbak Ina segera membukakan pintu. Benar dugaannya, kedua orang tua si triplets baru saja tiba.
"Anak-anak di mana, Mbak?"
Pertanyaan pertama yang Echa lontarkan adalah anak-anak. Itulah kebiasaan Echa sekarang. Semenjak ketiga anaknya bersekolah, Echa mulai pelan-pelan meninggalakan mereka ke kantor. Meskipun, tidak setiap hari karena Echa juga tahu batasan. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengurus ketiga anaknya. Dia tidak mau menyesal di kemudian hari.
Setelah membersihkan tubuhnya, Echa kembali menghampiri anak-anaknya yang ternyata masih terlelap.
"Mbak, mereka nangis gak?" tanya Echa ketika menghampiri Mbak Ina di dapur.
"Enggak, Neng. Cuma nanyain Bapak aja." Echa mengangguk, ketiga anaknya memang mengatakan bahwa mereka rindu dengan kakek mereka.
"Sayang, anak-anak bangun," ucap Radit.
Echa sedikit berlari menghampiri ketiga anaknya yang sudah duduk dengan mata yang masih mengantuk.
"Maaf ya, Bubu tinggal lagi." Mereka bertiga memeluk tubuh Echa.
"Engkong kapan pulang?" Echa tersenyum mendengar pertanyaan Aleeya.
"Paling nanti malam," jawab Echa sambil mengusap rambut ketiga anaknya.
"Baba." Aleena merentangkan tangannya, ingin dipeluk Radit.
"Uncle sudah naik pesawat?" Aleena mengangguk pelan.
Sebenarnya ketiga anak-anak Echa ini masih ingin bermanja dengan kedua orang tua mereka. Akan tetapi, mereka juga harus mengerti bahwa ayah dan ibu mereka bukanlah anak dari orang sembarangan. Memiliki banyak harta warisan yang harus mereka kelola.
Gio dan Addhitama sudah memperkenalkan si triplets tentang perusahaan yang mereka miliki. Meskipun, melalui video mereka cukup mengerti. Itulah alasan mereka untuk tidak menjadi anak cengeng. Harus mau dititip di sana dan di sini. Mereka malah bahagia karena banyak keluarga yang mereka miliki.
Makan malam sudah tiba, tetapi Rion belum juga datang. Ketiga anak Echa terus menunggu sang kakek. Mereka benar-benar merindukan Rion.
"Om kecil, kapan Engkong pulang?" Kini Aleesa yang bertanya. Dia tengah duduk di ruang bermain sambil berbincang dengan Jojo.
"Paling sebentar lagi. Kalian sih nakal gak mau pulang ke rumah. Sekarang, ditinggal Engkong 'kan," goda Iyan.
"Di lumah Mimo ada Uncle. Dedek pengen bobo sama Uncle," jawab Aleeya.
Ruang bermain pun terdengar sangat bising karena adu bicara antara Iyan dan ketiga keponakannya.
"Kenapa sih?" Echa yang baru saja membereskan meja makan menghampiri adik dan ketiga anaknya.
"Kata Om kecil, Engkong tinggalin Dedek," adu Aleeya.
Echa mengusap lembut rambut Aleeya. "Engkong sedang kerja sama Wawa. Jadi, kalian jangan menunggu. Lebih baik tidur. Besok 'kan harus sekolah."
Si triplets pun menuruti apa yang diucapkan oleh sang ibu. Dia menatap ke arah Iyan.
"Iyan mau tanding PS sama Abang," ujarnya.
"Jangan malam-malam. Jangan berisik." Iyan pun mengangguk patuh.
Dia lebih takut kepada Echa dibandingkan Riana.
Setelah ketiga anaknya terlelap. Echa yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya dikejutkan dengan kehadiran Radit yang sedang mencari alat kedokterannya.
"Ay, ada apa?"
"Ayah," jawab Radit.
__ADS_1
Echa segera turun dari tempat tidur ketika mendengar nama Ayah, dan turun ke lantai bawah. Ayahnya sudah terbaring di sofa dengan wajah yang sudah pucat.
"Om, Ayah kenapa?" Echa benar-benar panik.
"Tadi, dia mengeluh pusing dan enek."
Radit segera memeriksa keadaan ayah mertuanya. Dari detak jantung hingga tensi darah.
"Ayah, ke rumah sakit aja, ya. Maag Ayah kambuh dan Ayah juga kurang cairan," terang Radit.
"Gak usah, Dit. Besok juga Ayah sembuh."
Rion benar-benar tidak ingin merepotkan anaknya. Apalagi dia melihat Echa sudah menahan air matanya yang hendak menerobos jatuh.
"Bawa Ayah ke kamar aja."
Radit dan Arya membawa tubuh Rion ke kamarnya. Echa memasangkan selimut ke tubuh sang ayah. Dia menggenggam hangat tangan Rion.
"Ayah akan membuat Echa lebih bersedih lagi jika Ayah tidak mau dibawa ke rumah sakit," ujarnya dengan suara berat.
"Jangan buat Iyan takut, Ayah. Iyan sudah tidak punya Bunda. Jangan tinggalkan Iyan, Ayah."
Arya menunduk dalam, jarinya mengusap ujung matanya yang basah. Jika, menyangkut Iyan dan Echa dia akan selalu menangis.
"Ayah tidak apa-apa. Ayah hanya kelelahan saja. Jam makan Ayah juga berantakan, dengan istirahat juga pasti sembuh." Rion akan keras kepala jika menyangkut sakitnya.
"Ya udah, kalau begitu Iyan hubungi Kak Ri. Biar dia pulang dan ikut merawat Ayah juga." Iyan sudah membuka ponselnya, Rion melarangnya.
"Jangan ganggu Kak Ri," pintanya.
"Makanya nurut sama Kak Echa. Jangan nakal kayak anak kecil," sungut Iyan.
Arya mengulum senyum ketika melihat Rion tidak berkutik diceramahi oleh anak bungsunya. Ingin rasanya Arya tertawa terbahak-bahak.
"Bubu ...."
Tangisan si triplets terdengar membuat Echa dan Radit berlari ke kamar ketiga anak mereka.
"Kenapa, Nak?" Mereka segera memeluk tubuh Echa dan juga Radit.
"Kakak Sa mimpi Engkong."
"Dedek juga."
Echa menghembuskan napas berat mendengarnya. Ketiga anaknya ini memiliki ikatan batin yang sangat kuat terhadap kakeknya.
"Engkong lagu sakit, kalian jangan berisik, ya."
Ketiga anak itu terlihat terkejut mendengar ucapan dari Radit. Mereka bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar kakek mereka.
"Hati-hati, Nak!" teriak Echa.
"Kenapa Engkong sakit?"
"Engkong jangan hujan-hujanan."
"Jangan panas-panasan juga."
Celotehan ketiga anak Echa membuat Iyan dan Arya tertawa. Ucapan yang sangat salah yang mereka lontarkan.
"Engkong gak hujan-hujanan, Nak. Engkong juga gak panas-panasan," terang Radit.
"Telus?"
"Engkong nakal, makannnya gak teratur. Terlalu banyak minum kopi," terang Echa.
Tangan mungil si triplets memukul lengan Rion bersamaan sehingga membuat Rion mengaduh.
"Kopi gak bagus," kata Aleena.
"Betul. Kopi yang Engkong minum mahal. Kasihan Bubu selalu beliin kopi mahal buat Engkong," cerca Aleesa.
"Besok minum air putih aja ya, Kong."
Lagi-lagi Arya dan juga Iyan tertawa mendengar ocehan ketiga anak ajaib ini. Bukannya disayang karena sakit malah diceramahi.
"Dek, bawa anak kamu pergi dari sini Kepala Ayah makin sakit."
jawab mereka bersamaan.
"Kami akan jaga Engkong," ucap mereka lagi.
"Ya Tuhan!" erang Rion pelan.
Keesokan paginya, Rion mulai membuka matanya. Dia melihat ketiga cucunya tengah memijat kakinya. Dua di kiri dan satu di kanan.
"Cucu-cucu Engkong, lagi apa?" tanya Rion.
"Dari bangun tidur mereka gak mau mandi. Ingin pijatin Engkong katanya," jelas Echa yang baru saja masuk membawa nampan berisi bubur ayam.
Rion mulai menegakkan tubuhnya dan tersenyum ke arah cucu-cucunya.
"Makasih, ya." Si triplets pun mengangguk dan memeluk tubuh Rion.
"Kalian mandi dulu ya. Engkong juga mau cuci muka. Setelah ini kita makan bubur ayam bersama, ya."
Tiga anak Echa mengangguk dan buru-buru turun dari tempat tidur Rion.
"Bubu, ayo mandi," ajak Aleesa.
__ADS_1
Echa menggelengkan kepalanya. Ketiga anaknya ini sungguh luar biasa. Mereka sangat menyayangi kakek mereka.
"Bubu, Dedek gak mau sekolah. Dedek mau temani Engkong." Echa tercengang mendengar ucapan Aleeya yang tengah dia sisir rambutnya.
"Kakak Sa juga gak mau sekolah, Bu."
"Kakak Na juga."
"Tidak boleh begitu, Sayang. Kalian harus sekolah. Nanti kalau opa nanyain kenapa anak-anak Baba gak sekolah, gimana?" tanya Echa.
Ketiga anak Echa pun terdiam. Mereka memang sering ditelepon oleh Addhitama perihal sekolah mereka.
"Sekolah ya, setelah pulang sekolah 'kan bisa jagain Engkong."
Akhirnya, mereka mengangguk. Echa membawa nampan berisi bubur ketiga anak mereka yang ingin makan bersama sang kakek tercinta.
"Jangan nakal ya, Nak. Bubu temani Baba dan Om kecil, ya."
Echa memberikan ketiga anaknya bersama Rion. Biarkan cucu dan kakek itu melepas rindu.
"Anak-anak mau sekolah?" Echa mengangguk sambil menikmati bubur ayam buatannya.
"Kak, kenapa bubur ayamnya bikin sih. Pasti Kakak capek. Tadinya beli aja," ujar Iyan.
"Gak gitu juga dong, Yan. Ayah lagi sakit, Kakak harus memberikan yang terbaik untuk merawat Ayah. Kakak gak mau Ayah semakin sakit."
Kakak dari Iyan ini benar-benar luar biasa. Iyan menyunggingkan senyum yang sangat lebar.
"Sebagai anak, Kakak ingin memberikan yang terbaik untuk Ayah. Selagi masih bisa diberi waktu untuk merawat Ayah. Apapun akan Kakak lakukan."
"Makasih ya, Kak."
"Tidak perlu ucapan seperti itu. Itu sudah kewajiban kita sebagai anak-anaknya merawat orang tua kita." Senyum tulus terukir wajah Echa.
Radit sangat bangga dan beruntung memiliki pendamping hidup seperti Echa. Wanita yang sangat sempurna di matanya.
Bukan hanya ayahnya yang dirawat jika tengah sakit. Echa pun rela bolak-balik atau menginap di kediaman Addhitama jika Addhitama tengah terbaring lemah. Echa tidak ingin ayah mertuanya tak terurus.
Sebelum mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, Rion memesan ingin dibelikan buah belimbing dan nanas kepada Echa.
"Ayah 'kan punya maag. Buah yang lain aja, ya," tawar Echa.
"Ayah ingin itu, Dek. Ingin yang segar-segar." Echa mengiyakan saja, nanti dia akan bertanya kepada sang suami boleh tidak ayahnya makan belimbing dan juga nanas.
Sepulang mengantar sekolah ketiga anaknya, Echa sudah membawa belimbing dan juga nanas yang sudah dikupas. Dia berikan kepada ayahnya yang masih dalam posisi tiduran.
"Ayah, dimakan dulu buahnya." Rion membuka matanya dan beringsut mendudukkan tubuhnya.
"Makasih," ucapnya, sambil mengunyah buah nanas.
Tak Rion duga bahwa Echa malah memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Jangan sakit dan janjilah jangan tinggalin Echa. Echa belum sanggup kehilangan Ayah. Anak-anak Ayah masih membutuhkan Ayah."
Kalimat yang begitu sangat menyayat hati Rion. Ujung matanya mengeluarkan cairan bening.
Echa mengurai pelukannya. Dia mengusap air mata sang ayah yang sudah menetes.
"Ayah, tolong jujur sama Echa. Akhir-akhir ini Ayah sedang memikirkan sesuatu 'kan?" selidik Echa.
Mata ayahnya tidak bisa berbohong. Echa merasakan ada kejanggalan yang ayahnya sembunyikan. Beberapa hari ini makannya sangat sedikit dan pulang pun sangat malam. Ketika Echa tanyakan kepada Arya, tidak ada pekerjaan yang terlalu menyita.
"Jujurlah sama Echa, Ayah. Echa tahu, Echa tidak akan pernah bisa menggantikan Mamah ataupun Bunda. Setidaknya, Ayah masih memiliki tempat untuk berkeluh kesah."
Echa sangat berharap ayahnya ini membuka suara. Rion masih membeku.
"Sudah lebih dari seminggu ini, Bunda kamu hadir di mimpi Ayah. Dia meminta maaf hingga bersujud di kaki Ayah," lirihnya.
Sebagai seorang anak, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak akan memaksa sang ayah untuk memaafkan bundanya. Itu bukan kapasitasnya untuk mencampuri perasaan sang ayah.
"Bunda terus meminta maaf kepada, Ayah. Apa Ayah masih akan terus mengeraskan hati Ayah?"
Rion tidak bisa menjawab pertanyaan dari Echa. Tiga tahun berlalu, ternyata tidak menyurutkan rasa marah dan bencinya kepada mendiang sang istri.
"Ayah ... coba lepaskan dan ikhlaskan semuanya. Insha Allah hidup Ayah nanti akan tenang. Ikhlas itu gak mudah. Melepas itu sulit, kenapa tak Ayah coba? Perlahan saja, jangan buru-buru." Echa menggenggam tangan ayahnya dengan sangat erat.
"Echa yakin, Ayah pasti bisa. Manusia itu gudangnya salah. Tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Tuhan saja maha pemaaf, kenapa kita yang hanya makhluk ciptaannya malah menjadi manusia yang keras hatinya?"
Rion menatap manik mata putrinya sulungnya yang terus memancarkan cahaya ketenangan. Anaknya yang satu ini memiliki aura yang berbeda. Meskipun terus disakiti, dihina oleh orang lain, dia mampu memaafkan. Dia tidak ingin membebani dirinya sendiri dengan rasa dendam.
"Ayah bukan kamu, Dek. Hati Ayah tidak selembut kamu."
Echa pun menggeleng. Dia meletakkan tangan ayahnya di dadanya.
"Hati lembut Echa karena Echa mampu berdamai dengan rasa sakit, rasa perih dan kecewa yang pernah Echa alami. Echa mampu menerima Ayah dengan lapang dada padahal Ayah telah menyakiti hati Echa. Kenapa? Echa ingin hidup Echa tenang bersama orang yang Echa sayang. Jika, Echa dendam dan marah sama ayah sampai tidak memaafkan Ayah, Echa sangat yakin ... kalau hidup Echa tidak akan sebahagia sekarang."
"Belajarlah, Yah. Kasihan Iyan, kasihan Riana. Mereka ingin Ayah memaafkan ibu mereka. Mereka ingin Ayah mereka kembali lagi. Mereka tidak ingin melihat ayah mereka menangis secara diam-diam di kamar."
Rion pun menunduk dalam dan menangis cukup keras. Dia benar-benar kesakitan menahan semuanya sendirian.
"Ayah merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian bertiga. Ayah merasa ... telah gagal mendidik kalian. Malah menjadikan kalian anak dari keluarga yang tidak utuh. Maafkan Ayah."
Echa segera memeluk tubuh ayahnya. Sakit sekali hati Echa mendengarnya.
"Ayah adalah orang tua yang terbaik untuk Echa dan kedua adik Echa. Tidak ada Ayah yang hebat selain Ayah. Echa bangga menjadi anak Ayah."
Di balik pintu Arya mendongakkan kepalanya ke atas menahan air mata yang ingin menetes.
"Selama ini ternyata batin lu sangat menderita," batinnya.
__ADS_1
Selama bersahabat dengan Rion, dia tidak pernah melihat Rion serapuh ini. Perpisahannya dengan Ayanda pun tidak separah ini. Luka yang ditinggalkan oleh Amanda sangatlah berbekas hingga sahabatnya ini menyimpan luka itu sendirian. Tidak ingin berbagi kepada yang lainnya.