
Rifal Addhitama.
Anak kedua dari Addhitama yang memiliki wajah rupawan. Tidak kalah dari sang kakak dan juga adiknya. Rifal adalah pria santai yang tidak memperdulikan apa kata orang. Dia juga adalah pria yang gigih. Namun, dia adalah pria yang tertutup akan perihal pribadi.
"Kak, kapan kamu nikah?"
Pertanyaan yang sering Rifal dengar. Namun, tak pernah sekali pun Rifal pikirkan. Dia anggap sebagai angin lalu.
"Ketika makhluk bumi pindah ke mars." Itulah jawaban Rifal kali ini.
Anak Addhitama yang selalu membuat kehangatan di dalam keluarga. Mampu menjadi penengah antara pertikaian adik dan kakaknya. Menjadi andalan Addhitama dalam mengelola perusahaan.
Setiap hari Rifal hanya menyibukkan diri di kantor. Jika, weekend tiba dia selalu menghabiskan waktu bermain dengan keponakannya. Apa Rifal tidak punya pacar?
"Gua gak nyari pacar. Gua nyari istri." Begitulah Rifal menjawab jika Sandi bertanya. Sandi adalah sahabat Rifal sekaligus asisten pribadi Rifal.
"Apa masih ingat masa lalu?"
Rifal pun mendengus kesal. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Kisah sepuluh tahun lalu tidak membuat luka itu sembuh. Malah tetap menganga sampai saat ini.
"Jelita."
"Si jeli," gumam Rifal dengan senyum kecut.
"Dia sudah bahagia, Fal. Udah punya anak juga. Kenapa lu masih tenggelam dalam luka yang sama? Kenapa lu belum bisa move on dari dia?"
"Kenapa lu harus bertanya seperti itu? Lu udah tau jawabannya 'kan."
"Terlalu cinta," jawab Sandi seraya mencebikkan bibirnya.
"Ketika sudah cinta pasti susah lupa," timpal Rifal.
"Serah lah. Serah," sahut Sandi.
Ketika ada acara di kediaman adiknya, Raditya. Ada seorang perempuan yang menarik perhatian Rifal. Wajahnya sangat manis dan tutur katanya sangat sopan. Membuatnya berdecak kagum.
"Liatin siapa?" Rifal menggeleng ketika mendapat pertanyaan dari Radit.
"Kak, mau minum apa?" tanya Echa yang sedang menggendong salah satu dari si triplets.
"Gampang, biar gua bikin sendiri. Urus aja tuh ponakan gua." Echa pun tersenyum mendengar ucapan Rifal.
"Dapurnya sebelah sana ya, Kak."
"Tau gua, Cha. Tau," jawab Rifal gemas.
Radit hanya menggelengkan kepala jika melihat Echa dan Rifal bertemu. Ada saja hal yang bisa mencairkan suasana.
"Kapan balik ke perusahaan?"
"Masih ragu. Inginnya kembali ke rumah sakit." Rifal hanya menggeleng tak percaya.
"Batu emang lu," sungut Rifal.
Dia memilih ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Rifal tipe orang yang tidak ingin merepotkan orang lain.
"Adik ipar Solehah. Tau aja kopi kesukaan kakak ipar tercintanya," gumam Rifal.
Ketika tangan Rifal hendak mengambil kopi sachet yang tersedia di atas meja. Ada tangan lain yang menyentuh tangan Rifal. Tangan itu lembut sekali dan kulitnya berwarna putih dipenuhi bulu-bulu halus.
"Ah, maaf." Suara yang terdengar sangat lembut dan merdu di telinga Rifal. Akhirnya, Rifal menoleh ke arah samping. Hatinya berdegup sangat cepat seperti orang yang tengah lari maraton.
Matanya tidak berkedip ketika melihat perempuan yang sedari tadi dia perhatikan dalam jarak jauh. Kini, sudah ada di hadapannya.
"Maaf, Kak. Aku mau ambil kopinya."
Rifal pun tersadar dari lamunannya dan mempersilahkan perempuan itu untuk mengambil kopi.
"Apa Kakak mau sekalian aku buatkan kopi juga?"
Ya Tuhan, suaranya terlalu merdu. Tatapannya sangat teduh.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Rifal pun mengangguk cepat. Perempuan itu memberikan senyuman manisnya dan fokus kepada kopi sachet yang baru saja dia buka. Kemudian dia masukkan ke dalam cangkir. Dituangkannya air panas ke dalam cangkir tersebut. Tangan putihnya mengaduk kopi agar larut dengan sempurna.
"Ini kopinya."
__ADS_1
Secangkir kopi sudah perempuan itu berikan kepada Rifal. Rifal menerimanya dengan mata yang terus menatap perempuan itu dengan kagum.
Rifal terus menatap ke arah perempuan itu yang kini sudah menjauhi dirinya. Senyumnya kini melengkung. Menandakan dia menyukai sosok perempuan itu.
"Siapa dia?" gumam Rifal.
Ketika Rifal membawa secangkir kopi menuju Radit berada. Dia sudah tidak melihat keberadaan perempuan tadi. Matanya terus berkeliling. Hanya nampak keluarga Giondra saja yang sedang bersama papihnya.
"Yang, tadi keluarga Kak Kano ijin pulang. Disuruh masuk ke kamar anak-anak takut ganggu katanya," jelas Radit pada Echa yang baru saja bergabung bersamanya. Setelah menidurkan Aleeya yang sulit untuk terpejam.
"Nanti aku telepon Kak Kano."
Pagi hari, Sandi tercengang ketika melihat wajah Rifal yang sangat bersinar. Seperti cahaya mentari pagi yang menyilaukan.
"Roman-romannya lagi bahagia nih," ujar Sandi.
Hanya senyum yang lebar yang Rifal tunjukkan. "Udah masuk jam kerja, yang sopan dikit ama atasan," sungut Rifal.
Sandi hanya mendengus kesal dan meletakkan map yang cukup banyak dengan sedikit membantingnya di meja Rifal.
"Gua potong gaji lu," geram Rifal.
Bagaiman Rifal tidak geram, baru saja dia ingin menyesap kopi dikejutkan dengan suara bantingan yang membuat kopi itu tersiram ke wajahnya. Untung saja kopi itu sudah hangat.
Sandi yang melihat wajah Rifal tergelak dengan sangat keras. "Mampoes!"
"Bang sat Emang lu. Bang sat!"
Ketika makan siang tiba, tidak biasanya Rifal mengajak Sandi makan di mall.
"Lagi kesambet setan apaan lu?" sergah Sandi.
"Pengen kembali ke masa muda."
"Tau deh yang udah tua mah," ejek Sendi lagi.
"Udah pernah ngerasain sepatu kulit masuk ke dalam mulut lu belum?" Bukannya takut Sandi malah terkekeh.
Mereka memasuki restoran Jepang. Rifal memesan menu favoritnya diikuti oleh Sandi.
"Apa?"
"Gua temenan sama lu bukan setahun dua tahun Rifal. Lu gak bisa nyembunyiin sesuatu dari gua," geram Sandi.
"Ada seorang perempuan yang membuat gua tertarik." Mata Sandi melebar dengan sempurna mendengarnya.
"Serius? Hati yang membeku layaknya es abadi di Antartika sudah mencair?" Terkejut begitulah reaksi Sandi.
Rifal hanya menggedikkan bahunya dengan bibir yang tersenyum.
"Dia ... cantik. Suaranya ... lembut."
Senyum itu terus merekah di wajah Rifal membuat Sandi ikut bahagia.
Namun, mata Rifal kini memicing ke arah dua orang perempuan yang tengah berjalan melewati restoran yang dia kunjungi.
"Penasaran, siapa perempuan yang bisa mencairkan hati lu?" ujar Sandi.
Rifal tidak menjawab. Dia masih memandang ke arah luar. Dahinya tiba-tiba mengkerut ketika melihat perempuan yang dia kenali.
"Riana," gumamnya.
"Namanya Riana?" tanya Sandi.
"Apaan?" Rifal sudah fokus ke benda pipih di tangannya.
"Perempuan yang lu suka?" Rifal menggeleng.
"Lalu siapa?" Rifal hanya menggeleng.
"Aneh," dengua Sandi kesal.
Untung saja makanan. sudah tersaji di meja. Kekesalannya bisa dia luapkan ke makanan yang menjerit meminta untuk segera dilahap.
Ri, ini Kak Rifal.
__ADS_1
Kakaknya Abang Radit.
Kakak ipar kamu.
Riana mengerutkan dahinya ketika membaca isi pesan dari nomor yang tidak dia kenali.
Ya, ada apa.
Itulah balasan dari Riana dengan berjuta kebingungan.
"Tumben banget. Ada apa, ya?" gumam Riana.
Sekarang kamu lagi di mana?
Pesan Rifal sangat membuat Riana semakin tidak mengerti. Ada dengan Kakak dari Abang iparnya ini?
Lagi di mall sama temen.
Rifal termangu membaca pesan Riana. "Teman? Berarti ...."
Tangan Rifal segera menari-nari kembali di atas layar ponsel.
Pasti mau ke toko buku, ya.
Lagi-lagi dahi Riana mengkerut. Ya, dua huruf itu yang Riana ketikkan.
Dengan rasa penasaran yang membuncah. Rifal beranjak dari restoran tersebut.
"Makan dulu," ucap Sandi.
"Abisin sama lu."
Tanpa menoleh sedikit pun Rifal terus melakukan langkahnya. Dia berkeliling mall untuk mencari toko buku yang dimaksud. Dia penasaran apa perempuan yang dia kagumi itu benar temannya Riana.
Jikalau benar, berarti Rifal menyukai bocah. Rifal hanya menggelengkan kepalanya. Berharap itu bukan teman Riana.
Rifal masuk ke dalam toko buku. Dia mencari keberadaan Riana. Dia tersenyum lega ketika melihat Riana. Rifal menghampiri Riana dan menyapanya.
"Eh, Kak Rifal."
"Maaf, tadi Kakak chat kamu." Riana tersenyum dan menjawab tidak apa-apa.
"Katanya sama teman? Mana temannya?" Rifal tidak bisa menunggu lama-lama lagi.
"Oh, dia lagi cari buku. Ri, kesini cuma temenin dia doang kok." Rifal mengangguk mengerti.
"Ri, gua udah dapat buk ...."
Ucapan teman Ri menggantung ketika melihat Riana sedang bersama seorang pria berkemeja gelap. Wajah pria berkemeja itu pun tidak asing bagi perempuan itu.
"Eh, kita ketemu lagi." Rifal mencoba berbasa-basi kepada perempuan itu.
"Oh, Kakak yang semalam di dapur Kak Echa." Rifal mengangguk pelan. seraya tersenyum.
"Udah 'kan. Cepet bayar, gua lapar," imbuh Riana. Teman Riana pun mengangkat jarinya membentuk huruf O dengan senyum yang sangat manis. Membuat Rifal terhipnotis.
"Gimana kalo Kakak traktir?" usulnya pada Riana.
"Mau banget, Kak. Kebetulan uang udah makin menipis. Minta ke Kak Echa gak enak," kekeh Riana.
"Ajak teman kamu juga." Riana pun mengangguk.
Tidak berjalan di belakang dua ABG ini dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.
"Kakak, gak apa-apa 'kan makan di tempat ini," ujar Riana.
"Gak apa-apa. Kakak mah ikut aja." Riana dan temannya pun tersenyum gembira.
Setelah memesan menu makanan yang mereka inginkan, mereka bertiga berbincang santai.
"Kakak apanya Kak Radit? Kok aku baru liat Kakak, ya." Suara yang sangat merdu yang didengar oleh Rifal.
"Kakak adalah kakak keduanya dari Radit. Nama Kakak, Rifal." Tangannya sudah terulur ke arah perempuan itu.
"Keysha." Seulas senyum yang melengkung indah di wajah yang sangat sempurna. Apalagi telapak tangannya yang sangat halus.
__ADS_1
Oh God. Kenapa aku bisa tertarik dengan anak SMA.