
Setelah puas bercengkrama bersama si triplets, Rion mengetuk pintu ruang kerja Echa. Dia tahu anaknya itu berada di dalam sana.
"Masuk."
Pandangan Echa masih terpaku pada layar laptop. Terdengar langkah yang semakin mendekat membuat Echa mendongak.
"Ayah," sapanya.
Senyum hangat Rion berikan kepada Echa. Dia duduk di sofa pojok ruangan.
"Ada apa Ayah?" tanya Echa yang kini melangkah menghampiri ayahnya. Dia memposisikan diri di sebelah ayah tercinta.
"Tolong temani Ayah ke makam bunda kamu," ucap Rion dengan bersungguh-sungguh.
Echa membeku mendengar semua ucapan Rion. Dia menatap ayahnya yang tengah memandanginya dengan tatapan serius.
"Ayah serius?" Echa benar-benar terkejut dengan kalimat yang ayahnya katakan tiba-tiba.
"Iya. Ayah ingin berdamai dengan masa lalu. Ayah ingin menikmati hari tua Ayah dengan ketenangan dan juga kebahagiaan bersama anak-anak Ayah juga cucu-cucu Ayah. Serta menantu Ayah yang selalu membuat Ayah naik darah."
Echa pun tertawa mendengar ucapan ayahnya yang mengumpat Radit.
"Ya udah, Echa suruh Riana pulang, ya. Biar kita ke makam Bunda sama-sama." Senyum terukir indah di wajah Echa. Hatinya sangat merasa lega. Akhirnya, apa yang dia inginkan terlaksana juga.
Makasih Ya Allah, Engkau telah meluluhkan keras hatinya Ayah hamba.
Echa memasak makanan yang spesial untuk malam ini. Hatinya sangat bahagia tak terkira. Apalagi lengkungan senyum terus ayahnya ukirkan.
"Kenapa senyum-senyum terus sih."
Radit berhasil mengejutkan Echa di dapur dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Ay, lepas. Ada Mbak Ina," imbuh Echa.
"Gak apa-apa, Neng. Malah Mbak senang lihatnya," imbuh Mbak Ina.
"Tuh dengar," balas Radit.
Echa mengecup pipi Radit sekilas untuk membuat Radit melepaskan pelukannya.
"Baba tunggu di ruang bermain anak-anak dulu, ya."
Radit sangat bahagia ketika Echa memanggilnya dengan sebutan yang biasa anak-anaknya ucapkan.
"Iya, Bubu Sayang." Radit mengecup ujung kepala Echa dan pergi dari dapur.
Echa menggelengkan kepala melihat tingkah lucu suaminya itu.
"Mbak senang banget. Rumah tangga Neng selalu dikaruniai kebahagiaan yang melimpah," ujar Mbak Ina.
"Alhamdulillah, Mbak. Echa juga sangat bahagia," balasnya.
Bukan hanya Echa yang merasakan kebahagiaan, tetapi orang-orang yang dekat dengannya pun ikut bahagia melihat dirinya bahagia.
"Semoga terus bahagia ya, Neng."
"Amin. Selalu doakan Echa ya, Mbak." Mbak Ina sudah menganggap Echa seperti anaknya sendiri. Apalagi sikap sopan yang selalu Echa berikan kepadanya membuat Mbak Ina semakin sayang kepada anak majikannya tersebut.
Makanan sudah tersaji di meja makan. Aromanya membuat para manusia yang tengah asyik bermain di ruangan si triplets berhambur ke meja makan.
"Wah, ada acara apa ini?" tanya Rion yang sudah duduk manis.
Di depannya sudah tersedia banyak menu makanan. Ada ayam panggang, tumis daging pedas manis, ikan lele goreng, cumi goreng tepung, udang bakar madu, perkedel, telur mata sapi, capcai, ayam cah jamur dan masih banyak yang lainnya.
"Ini gimana makannya?" tanya Iyan.
Mereka pun tertawa, Echa tak segan meminta Mbak Ina dan Pak Mat untuk makan bersama mereka dalam satu meja makan. Namun, Mbak Ina dan pak Mat menolak. Mereka memilih untuk makan di dapur.
Makan malam hari ini terasa sangat bahagia. Semua anggota keluarga Echa tersenyum gembira. Apalagi melihat wajah si triplets yang sudah belepotan dengan kecap.
Echa mendudukkan tubuhnya di samping suaminya yang tengah memangku laptop. Dia meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
"Ada apa, Sayang?" Kecupan hangat mendarat di ujung kepala Echa.
"Besok tolong jemput Riana di Bandara, ya."
Radit menghentikan aktifitasnya, dia menatap bingung ke arah Echa.
"Belum waktunya untuk liburan 'kan?" tanya Radit.
"Belum, dia ke sini bukan untuk liburan." Tangan Echa sudah melingkar di pinggang Radit.
"Lalu?" Radit benar-benar penasaran.
"Kita akan ke makam bunda."
Lengkungan senyum terukir di wajah tampan Radit. Dia membalas pelukan hangat dari istrinya.
"Ayah minta aku untuk temani Ayah ke makam Bunda. Bukannya itu menandakan bahwa Ayah sudah berdamai dengan masa lalunya?" Radit mengangguk.
"Aku sangat bahagia," ucap Echa.
__ADS_1
Di Jogja.
Riana merasa bingung dengan isi pesan yang dikirimkan oleh sang kakak.
Kakak sudah memesankan tiket untuk ke Jakarta. Besok pagi ada orang yang akan menjemput kamu. Tidak ada alasan!
Helaan napas kasar keluar dari mulut Riana. Dia sedikit takut apalagi beberapa hari ini mendiang sang ibu selalu mendatanginya di dalam mimpi.
Jaga Ayah ya, Ri. Jangan pernah sia-siakan Ayah. Ayah sangat menyayangi kamu dan juga Iyan. Biarlah Bunda saja yang menyia-nyiakan Ayah.
"Apa maksud dari ucapan Bunda?" gumam Riana.
"Semoga Ayah baik-baik saja."
Keesokan paginya, Riana dijemput oleh orang suruhan Echa. Riana hanya membawa tas ransel. Tidak perlu membawa baju karena di rumahnya baju di dalam lemari masih tersusun rapi.
Di sepanjang perjalanan, Riana terus merapalkan doa yang baik untuk ayahnya.
Tibanya di Jakarta, dia disambut oleh sang kakak ipar. Riana mencium tangan Radit dengan sopan kemudian memeluknya.
"Kak Echa ke mana?" tanya Riana.
"Lagi ada meeting di Bekasi. Makanya berangkat pagi-pagi," jawab Radit yang masih fokus ke jalanan.
Tibanya di rumah, Riana disambut oleh Mbak Ina. Semua makanan kesukaan Riana pun sudah Mbak Ina siapkan.
"Ri, Abang boleh minta tolong gak?"
"Minta tolong apa, Bang?" jawab Riana setelah mendudukkan diri di sofa.
"Jam setengah sebelas tolong jemput si triplets. Abang ada meeting penting. Gak bisa diwakilin." Riana mengangguk dan tersenyum dengan senang hati.
"Makasih, ya."
"Sama-sama, Abang."
Melihat sikap kakak iparnya yang sangat perhatian kepada istri dan ketiga anaknya, peduli dengan keluarga istrinya membuat Riana merasa bahagia. Kakaknya sangat beruntung mendapat suami yang luar biasa seperti Radit.
"Ri, juga ingin punya suami seperti Abang," gumamnya.
"Pasti nanti jodoh Neng Riana juga seperti Mas Radit," imbuh Mbak Ina. Riana sedikit terkejut dan dia hanya menyunggingkan senyum.
"Amin. Semoga saja ya, Mbak."
Kembali ke rumahnya adalah hal yang menyenangkan bagi Riana. Namun, ada juga hal yang menyakitkan yaitu kembali teringat akan sosok laki-laki yang masih memenuhi hatinya.
Riana tidak ingin mengingatnya, dia memilih untuk masuk ke kamarnya yang masih sangat rapi. Seperti sedia kala dia meninggalkan rumah.
Jam setengah sebelas. Riana bersama Pak Mat menjemput ketiga keponakan yang sangat dia rindukan. Siapa lagi jika bukan si triplets. Melihat para orang tua yang heboh membuat Riana menggelengkan kepalanya.
"Udah kayak toko mas berjalan," gumamnya dalam hati.
Dia berpikir jika kakaknya saja yang memiliki kekayaan luar biasa tidak seheboh ini. Memakai barang bermerk pun sangat jarang. Padahal dia mampu membeli tas kremes per bulan. tetapi kakaknya malah enggan.
"Kemakan gaya hidup," imbuhnya.
Mengisi rasa bosan karena ketiga keponakannya belum keluar sekolah, Riana membuka sosial media miliknya. Alangkah terkejutnya ketika Aksa yang telah lama hilang muncul kembali dan memasang foto mereka berdua.
"Kapan aku bisa melupakan kamu? Jika kamu tiba-tiba muncul kembali."
Teriakan si triplets membuat Riana terkejut dan tersenyum ke arah tiga balita yang tengah berlari ke arahnya.
"Aunty!"
Mereka memeluk erat tubuh Riana dan mengecup pipi Riana bertubi-tubi.
"Pulang yuk," ajak Riana.
"Beli itu!" tunjuk Aleeya.
Ada gerobak yang menjual kue cubit tak jauh dari sekolah mereka. Riana mengangguk, dia juga merindukan jajanan khas SD.
Setelah membeli kue cubit yang matang dan setengah matang, mereka masuk ke dalam mobil dan menikmati makanan yang baru saja mereka beli.
"Kalian suka?" Si triplets pun mengangguk.
Hal sederhana, tetapi mampu membuat Riana bahagia. Apalagi melihat ketiga keponakannya yang sangat menikmati makanan tersebut.
Tibanya di rumah, mereka menuju tempat minum khusus mereka berdua. Riana terus menggeleng, minuman mereka saja tidak boleh sembarangan. Harus air mineral yang ada manis-manisnya dalam kemasan botol kecil.
"Biaya hidup kalian itu sangat mahal," ucap Riana sambil menjawil hidung ketiga keponakannya.
Kadang Riana merasa kasihan kepada kedua orang tua si triplets. Biaya makan ketiga anak ini sangatlah mahal. Belum lagi biaya pakaian dan sekolah mereka. Masih kecil saja sudah sekolah di tempat yang mahal.
Ketiga anak tuyul itu tidak mendengar ucapan Riana. Mereka masih asyik meneguk minuman mereka. Setelah habis, botol itu mereka penyokkan baru mereka buang.
"Kata Bubu dan Baba, harus dilusak dulu balu dibuang," tutur Aleena.
Riana bangga kepada ketiga keponakannya yang sangat luar biasa. Dari kecil mereka mendapat kasih sayang yang lengkap dan utuh dari semua orang. Didikan kedua orang tuanya pun sangat luar biasa.
Asyik bercengkrama dengan ketiga anak dari kakaknya, akhirnya Riana dan si triplets tertidur bersama di ruang bermain. Hanya tersisa bungkusan cemilan yang Riana beli di minimarket yang kini sudah berserakan.
__ADS_1
Echa tiba di rumah dan tersenyum bahagia ketika melihat ketiga anaknya serta adiknya tertidur sangat pulas. Dia menggelengkan kepala melihat bungkusan makanan yang sangat banyak. Didominasi cokelat dan Chiki.
"Kebiasaan," dengus Echa, tetapi bibirnya tersenyum bahagia.
Setelah membersihkan tubuhnya Echa menuju meja makan, di mana di sana sudah tersedia aneka makanan kesukaan Riana. Namun, Echa memilih untuk menyantap salad buah kesukaannya.
"Mbak, tolong buatkan es kopi ya, kasih jelly ke dalamnya." Mbak Ina pun mengangguk.
Di saat Echa merasa lelah, dia terpaksa menyuruh asisten rumah tangganya untuk menyiapkan apa yang dia inginkan.
"Kak, kenapa nyuruh Ri pulang?" Suara Riana menghentikan aktifitas Echa yang tengah mengunyah salad.
"Abang cuma gelengin kepala doang kayak orang lagi dugem," lanjut Riana serta bersungut, sambil menarik kursi untuk dia duduki.
"Besok pagi, kita akan pergi ke makam Bunda."
Mata Riana membola mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dia menatap kakaknya dengan tatapan intens.
"Kita semua," lanjut Echa.
"Ayah?"
Echa mengangguk menjawab pertanyaan dari Riana. Bibir Riana pun terangkat dengan sempurna. Hatinya sangat bahagia sekali.
"Kakak gak bohong 'kan?"
"Enggak lah, ngapain juga bohong," ujar Echa, sambil mengunyah.
Riana membuka mulutnya lebar membuat Echa tertawa. Dia menyuapkan salad buah ke mulut adiknya yang satu ini.
"Ini Neng es kopinya," ujar Mbak Ina.
"Makasih, Mbak."
"Mbak, Ri mau ya." Mbak Ina tersenyum dan mengangguk.
"Bukan buat sendiri," dengus Echa.
"Kakak juga dibuatin Mbak Ina," balas Riana.
"Kakak capek, ini juga baru nyampe," sahut Echa.
Jika, sudah adu mulut seperti ini akan lama selesainya. Riana maupun Echa tidak akan mau kalah. Mbak Ina ikut senang melihat keluarga dari majikannya ini yang selalu kompak dan juga bahagia. Apalagi perubahan Riana yang sangat mencolok.
Suasana makan malam pun berubah semakin ramai. Gelak tawa tercipta dan keisengan Riana kepada si triplets membuat suasana semakin ramai. Apalagi jika melihat ketiga tuyul Echa marah, pasti membuat semua orang gemas dibuatnya.
Riana mengetuk pintu kamar sang ayah. Senyuman hangat Riana berikan kepada sangat ayahbyang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Tak segan Riana memeluk tubuh ayahnya.
"Ri, kangen Ayah." Tangan Riana melingkar erat di perut sang ayah.
"Ayah juga sangat merindukan kamu. Jangan buat Ayah kecewa, ya."
Riana menatap dalam manik mata ayahnya. Dia menggelengkan kepala dengan sangat yakin.
"Ri, akan membuat Ayah bahagia. Ri, akan membuat Ayah tersenyum gembira. Tetap sehat demi, Ri. Tetap sehat untuk Iyan dan juga Kak Echa."
Rion memeluk erat tubuh putri keduanya ini. Perubahan sikap Riana membuat Rion semakin menjaga Riana.
"Makasih telah memaafkan Bunda," ucap Riana.
Tidak ada jawaban dari Rion. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama ketiga anaknya.
Iyan dan Echa masuk ke dalam kamar sang ayah dan ikut memeluk erat tubuh renta sang ayah.
"Makasih kalian telah hadir di dalam hidup Ayah. Makasih telah menjadi anak-anak yang luar biasa untuk Ayah. Makasih, Nak."
Tetesan air mata jatuh begitu saja di wajah Rion dan ketiga anaknya. Rasa haru bercampur bahagia mereka rasakan. Momen yang sangat langka yang tengah mereka lakukan. Sekarang, waktunya Rion membuka lembaran hidup yang baru.
Keesokan paginya, mereka kompak menggunakan pakaian serba putih. Begitu juga dengan ketiga anak Echa yang sangat cantik memakai gamis putih dan juga kerudung.
"Engkong, kenapa kita halus ke lumah Nenek? Apa Engkong sudah gak nangis lagi?" tanya Aleeya yang penasaran.
Awalnya ketiga anak Echa ini menolak. Bukan tanpa alasan, mereka tidak ingin kakek mereka menangis lagi. Namun, perlahan Rion menjelaskan kepada ketiga anak pintar yang Echa lahirkan. Akhirnya mereka mau ikut juga.
Tibanya di pemakaman, Rion menuntun ketiga cucunya menuju pusara Amanda. Dia tersenyum dan mengucapkan salam ketika berdiri di samping pusara tersebut.
"Assalamualaikum, Amanda."
Keadaan mendadak hening, si triplets pun ikut serta duduk di tikar yang sudah disiapkan di sana.
"Maaf, aku baru datang ke rumah kamu. Pasti kamu tahu 'kan alasannya kenapa?" Rion menjeda ucapannya sejenak.
"Kedatangan ku ke sini untuk mengatakan bahwa aku telah memaafkan segala kesalahan yang sudah kamu perbuat terhadapku. Aku ingin menjalani masa tuaku dengan tenang melepaskan semua rasa sakit ku yang bertahun-tahun aku pendam."
"Aku ke sini juga membawa ketiga cucuku yang cantik-cantik dan juga pintar. Mereka menjadi pelipur laraku. Mereka lah penyemangat hidupku beberapa tahun ini. Mungkin, jika anakmu hidup usianya juga sama dengan ketiga cucuku. Namun, Tuhan berkehendak lain. Dia dipanggil Tuhan karena Tuhan tidak ingin aku membencinya." Senyum tipis terukir di bibir Rion.
"Semoga kamu tenang di sana. Aku akan menjaga anak-anakku dengan baik. Aku juga akan memberikan pendidikan yang tinggi untuk mereka. Kamu jangan khawatir, anak-anaku sekarang sudah berbeda. Banyak perubahan dari diri mereka karena gembelengan dari anak sulungku."
"Aku datang ke sini tidak untuk menangis karena aku tidak ingin membuat ketiga cucuku semakin membencimu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa sekarang aku akan memulai hidup baru, lembaran yang baru tanpa bayang-bayang masa lalu. Hidup bersama anak, menantu dan juga cucu-cucuku."
Ketiga anak Rion serta menantunya tersenyum mendengar ucapan Rion.
__ADS_1
Datang ke pemakaman untuk memaafkan, sekaligus untuk mengubur segala kenangan dan kejadian yang menyakitkan. Selamat tinggal ... semoga kamu tenang di sana. ~Rion Juanda~