
Sudah beberapa hari ini Echa merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Tidak bisa mencium aroma makanan dan malah senang makan-makanan yang masam.
Seperti pagi ini, ketika semuanya sarapan Echa malah memilih tidak keluar kamar. Radit yang terus membujuk istrinya pun tidak mampu membuat Echa keluar kamar.
"Bau, Ay." Itulah yang Echa katakan.
Radit tidak bisa memaksa dan ketiga anaknya pun tidak mempermasalahkannya. Mereka berpikir bahwa ibu mereka itu kecapek-an kesan sudah beberapa hari ini Echa pulang malam.
"Berangkat bareng Engkong aja, ya." Mereka mengangguk setuju.
Ketiga anak Echa tidak pernah rewel perihal siapa yang mengantarnya. Diantar sopir pun dia tidak masalah.
Setelah selesai makan, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada sang ibu yang tengah berbaring di tempat tidur.
"Maaf ya, Nak. Bubu tidak bisa mengantar kalian ke sekolah,"sesal Echa.
Ketiga bocah itu menggeleng. Mereka malah memeluk tubuh sang ibu.
"Tidak apa, Bubu," ujar Aleena.
"Kami bukan anak kecil lagi," lanjut Aleeya.
Echa tertawa, dan mengusap lembut rambut kedua anaknya, sedangkan Aleesa malah asyik mengusap lembut perut sang ibu.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Echa kepada Aleesa. Dia hanya menggeleng dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.
Selesai mencium kening sang ibu, mereka segera keluar menghampiri Engkongnya yang sudah menunggu mereka.
"Hi kembar," saat sang om yang sudah memiliki motor matic kesayangannya.
__ADS_1
"Mimo nanyain," imbuh Aska.
"Gak mau ke rumah Mimo ada nenek sihir," celetuk Aleeya.
"Hush!"
Sentakan Rion hanya mendapat desisan dari Aleeya, sedangkan Aska hanya dapat tertawa.
Nenek sihir yang Aleeya maksud adalah istri dari Aksara. Wanita antah berantah yang tiba-tiba mengajak Aksa menikah dengan alasan surat wasiat dari kakek uyut mereka.
Tidak dipungkiri hubungan Rion dan Giondra pun sedikit merenggang. Mereka mengetahui bahwa kedua anak mereka saling mencintai. Namun, pernikahan dadakan antara Aksara dan juga Ziva sangat menyakiti hati Riana.
Dari situlah Rion seakan menghindari Gio juga Ayanda. Dia merasakan kesakitan yang Riana rasakan. Semenjak saat itu juga, Echa serta keluarganya tak pernah ke rumah sang mamah. Bukannya tega, mereka hanya tidak ingin melihat wanita antah berantah itu.
Di dalam kamar, Echa masih berbaring. Suaminya mengecup kening Echa sangat dalam.
"Mau ke dokter?" tanya Radit.
"Aku berangkat, ya." Echa mengangguk dan tak lupa dia meminta dipeluk sangat lama. Beberapa hari ini Echa sangatlah manja, tetapi Radit sangat bahagia.
Di kelas si triplets wajah berseri Aleesa terlihat jelas. Yansen mengerutkan dahinya karena sedari tadi Aleesa bagi orang tak waras.
"Kamu gak lupa minum obat 'kan?" sergah Yansen.
"Obat apa? Aku gak sakit."
Yansen menggedikkan bahunya. Ternyata otak Aleesa tak sepintar Aleena.
Pulang sekolah, Aleesa segera menuju kamar di mana sang ibu tengah tertidur. Dia berbaring di samping Echa dan mengusap lembut perut rata Echa.
__ADS_1
"Ya ampun, Nak. Ngagetin," ucap Echa. Aleesa hanya tersenyum ke rahim sang ibu.
"Kakak dan Adik di mana?".
"Kamar," jawabnya.
Echa hendak turun dari tempat tidur, tetapi Aleesa melarang.
"Biar Kakak Sa yang ambil minumnya."
Echa tersenyum bahagia mendengar ucapan anaknya ini. Echa sedikit heran karena tidak biasanya Aleesa seperti ini.
Seharian ini Aleesa terus memanjakan ibunya membuat kakak dan adiknya pun ikut memanjakan sang ibu. Kebahagiaan tak terkira yang Echa rasakan.
Ketika malam datang, Aleesa mengumpulkan semua teman-temannya di halaman samping. Ada Om Uwo, Dev, duo lontong putih, botak, serta Merriam. Mereka menatap bingung ke arah bocah Lima tahun di depannya ini.
"Ada apa?" tanya Dev.
"Tolong jaga Bubu." Dahi mereka mengkerut mendengar apa yang diucapkan oleh Aleesa.
"Emangnya ibu kamu kenapa?". tanya Om Uwo.
"Di perut Bubu ada ...." Aleesa tidak melanjutkan usapannya. Dia malah terkekeh sendiri.
"Ada apa?" tanya si botak.
"Pokoknya jagain Bubu! Jangan banyak tanya."
Semua makhluk tak kasat mata itu mengangguk cepat. Mereka tidak mau melihat Aleesa murka. Bisa kacau semuanya.
__ADS_1
Aleesa yang sudah sangat antusias dan selalu menjaga Echa di kamar. Echa pun merasakan hal yang aneh, kenapa putrinya seperti ini? Ketika Echa bertanya, Aleesa hanya tersenyum lalu memeluk tubuh ibunya.
"Kakak Sa, sayang Bubu," ucapnya.