Yang Terluka

Yang Terluka
Melamarmu


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir lima tahun hubungan Radit dan Echa berjalan. Pasang surut, naik turun mereka berdua rasakan. Hidup di negeri orang pun mereka rasakan sampai sekarang ini.


Radit membawa Echa ke sebuah apartment mewah di Canberra. Ada rasa takut di hatinya. Apalagi, senyum licik yang menghiasi wajah Radit.


"Bhal, mau ngapain kita ke sini?"


"Mau senang-senang lah, Yang."


Langkah Echa terhenti ketika mendengar ucapan Radit yang terdengar sangat menyeramkan di telinganya.


"Bhal, aku gak mau kalo ka ...."


Radit segera membopong tubuh Echa ala bridal menuju lantai 25 di mana unit miliknya berada.


"Bhal, jangan aku mohon," pinta Echa sangat lirih. Matanya sudah berkaca-kaca. Tapi, Radit tidak mengindahkannya.


Hingga lift berhenti di angka 25. Seperti seorang pangeran, dengan gagahnya Radit membawa tubuh Echa di dalam gendongannya. Senyum seringai muncul di wajah Radit. Tangannya membuka unit apartment milikinya. Ruangannya sangat gelap membuat Echa semakin ketakutan.


Lampu temaram hidup. Mata Echa berbinar ketika melihat meja makan minimalis berhiaskan lilin-lilin indah. Dan meja makan berada di lingkaran kelopak mawar merah segar.


Perlahan Radit menurunkan tubuh Echa. Radit tersenyum ke arah sang kekasih yang sudah ingin menitikan air mata.


"Jangan pernah berpikir jelek. Karena aku akan menjaga kamu sampai tiba waktunya aku memiliki kamu sepenuhnya."


Echa berhambur memeluk tubuh Radit. Tangis bahagia yang dia tunjukkan. Tak hentinya Radit mengecup ujung kepala Echa dengan sangat mesra.


"Jangan nangis, Yang." Radit menghapus air mata yang sudah membasahi pipi cantik Echa.


Raditya menggandeng tangan Echa dan membawanya masuk ke dalam lingkaran kelopak mawar merah untuk menikmati makan malam romantis. Sangat romantis. Hanya berdua, bertemankan alunan lagu yang seakan memberikan kode untuk kelanjutan hubungannya.


🎶


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Ku pandang tajam bola matamu


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan

__ADS_1


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan


Tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang ku tahu


Ku ingin melamarmu


🎶


Dan sekarang, Radit sudah membawa punggung tangan Echa ke bibirnya. Mengecupnya sangat dalam dan penuh perasaan. Hanya rasa bahagia yang Echa rasakan. Sungguh hanya kebahagiaan yang ada di hati Echa sekarang ini.


"Aku ingin mengulang momen lima tahun lalu. Di mana aku mengikatmu karena aku takut kehilangan kamu. Jarak, itulah yang membuatku takut. Aku takut, ketika aku jauh dari kamu. Kamu berpaling dari aku. Karena aku tahu, kamu adalah wanita incaran banyak pria."


Seulas senyum Echa berikan untuk Radit yang terlihat seratus kali lebih tampan dengan menggunakan kemeja berwarna navy yang dilipat hingga ke siku. Radit bangkit dari duduknya. Berlutut di samping Echa hingga Echa memutar tubuhnya menghadap ke arah Radit.


"Elthasya Afani, hampir lima tahun hubungan kita berjalan. Suka duka telah kita lalui bersama. Bertengkar, cemburu, mesra menjadi pemanis hubungan kita. Apalagi, di tiga tahun ini. Kita selalu bersama, semakin mengenal kebiasaan kita masing-masing."


"Echa, apa kamu mau menikah denganku? Menghabiskan sisa waktu bersama aku, lelaki yang penuh dengan kekurangan."


Radit menyerahkan kotak berwarna navy ke hadapan Echa. Di sana terdapat cincin yang sangat manis. Berwarna putih dan ada ukiran inisial nama mereka, E&R.


Setetes bulir bening jatuh di pelupuk mata Echa. Bukan tangis sedih melainkan tangis bahagia. Dua kali dia diperlakukan sangat manis seperti ini oleh Radit. Kepala Echa pun mengangguk, menandakan dia mau. Radit tersenyum bahagia. Kemudian, memasangkan cincin di jari manis Echa. Echa segera memeluk Radit yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Makasih, Bhal. Makasih," ucapnya haru.


"Tidak ada yang perlu kamu ucapkan. Ini semua aku berikan karena memang aku tulus mencintai kamu. Menyayangi kamu dan ingin menjadikan kamu pendamping hidupku." Radit membawa tubuh Echa untuk berdiri. Mata mereka berdua terkunci dengan senyum yang mengembang dari kedua bibir mereka. Radit mengecup dalam kening Echa. Seketika Echa memejamkan matanya. Merasakan ketulusan akan cinta yang Radit berikan.

__ADS_1


"Congratulation!" teriak dua wanita.


Echa sangat mengenali suara itu. Sangat kenal dengan suara mereka. Echa menoleh ke asal suara dan ada Mima dan Sasa yang sedang menatapnya haru. Keharuan pun tak terelakan. Echa berhambur memeluk tubuh kedua sahabatnya ini.


"Gua kangen kalian," lirih Echa dengan derai air mata yang membasahi pipinya.


"Kita juga kangen lu, Chut," balas Mima yang tak kalah sedihnya.


Mima melanjutkan kuliah di Jogja sedangkan Sasa di Malang. Waktu mereka bertemu pun hampir tidak ada. Sudah tiga tahun mereka tidak bisa berkumpul lengkap seperti ini. Dan ini adalah momen yang sangat membahagiakan untuk Echa.


"Bhal ...."


Radit menganggukkan kepalanya. Dan Mima serta Sasa mengiyakan jika mereka datang karena dijemput oleh Radit. Radit ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Echa di hari di mana Radit ingin melamar Echa. Meskipun belum resmi, setidaknya Echa mau menerima pinangannya. Urusan restu keempat orangtua Echa baru Radit pikirkan nanti. Yang terpenting, dia harus siap mental terlebih dahulu. Karena Ayah dan Papa Echa kadang tidak bisa ditebak sikapnya.


Mereka menikmati makan malam bersama. Dengan canda tawa dan tentunya Radit yang terus menggenggam tangan Echa.


"Kak Radit dari dulu tuh bucin banget sih sama Echa," ledek Mima.


"Apalagi sekarang, Echa udah bisa dandan dan cantiknya luar biasa. Pasti deh Kak Radit sangat ketakutan kehilangan Echa," timpal Sasa.


Radit dan Echa hanya tertawa. Sepasang kekasih ini tidak malu-malu mengumbar kemesraan di hadapan Sasa dan Mima. Terkadang, sikap mereka berdua membuat Mima dan Sasa kesal. Karena telah membuat mereka iri akan hubungan Echa yang bertahan cukup lama.


"Kapan nih halalin Echanya?" tanya Sasa.


"Sesiapnya Echa aja. Kalo aku mah kapan aja juga siap," ujarnya.


"Udah siap, Cha, melepas keperawanan?"


"Omongan lu, Mimot," sergah Echa sambil melempar kentang goreng ke arah Mima. Mima dan Sasa hanya tertawa.


"Apa jangan-jangan udah dibobol duluan? Kata anak zaman now mah naruh DP dulu gitu."


"Astaghfirullah al'adzim," ucap Radit dan Echa.


"Aku gak sebejat itu, ya. Nyium bibirnya aja belum pernah." Sasa dan Mima melongo mendengar ucapan dari Radit.


"Benar Cha?" Echa pun mengangguk menjawab pertanyaan Sasa.


...----------------...


Semoga terhibur ...

__ADS_1


__ADS_2