
Hai ...
Aku UP lagi, jangan bosen ya😄
Ini bentuk rasa terimakasih aku kepada kalian karena kalian sudah setia baca karya remahan aku ya. Cus baca 👇
...----------------...
Sebenarnya pengawal yang ada di sekitaran ruko tempat praktek Radit sudah tahu apa yang dilakukan Rindra. Namun, Genta menyuruh mereka untuk tidak bergerak. Karena Genta sedang bersama Addhitama menyaksikan apa yang dilakukan putra kesayangan Addhitama melalui CCTV yang tersambung dengan laptopnya.
"Radit!" seru Addhitama ketika melihat Radit terkulai lemah.
"Apa ini rencanamu?"
Addhitama menggelengkan kepalanya. Lalu, bergegas ke ruko tempat praktek Radit. Tapi, dia terlambat. Rindra sudah melumpuhkan Radit hingga amarah Addhitama pun meluap.
Addhitama memukul wajah dan tubuh Rindra dengan membabi-buta.
"Apa kamu tidak kasihan melihat adikmu terkulai seperti itu," bentak Addhitama penuh dengan kemarahan.
Sedangkan pengawal Genta sudah membawa tubuh Radit ke rumah sakit terdekat.
"Dia adik kamu Rindra! Adik kamu!" pekiknya.
"Adik yang selama ini kamu sebut sebagai pembunuh. Tapi, nyatanya kamulah yang akan menjadi pembunuh adikmu sendiri," bentak Addhitama dengan air mata yang sudah menetes.
Rindra hanya menunduk dalam dan Addhitama segera menyusul Radit ke rumah sakit.
"Maafkan Papih, Radit. Maafkan Papih." Kalimat yang selalu Addhitama gumamkan di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Tibanya di sana, Addhitama bergegas ke IGD. Dan Echa sedang menangis dipelukan Genta.
"Radit anak yang kuat," ucap Genta.
Echa menatap sinis ke arah Addhitama. Ada rasa benci di hatinya. Kenapa seorang Ayah bisa tega kepada anak kandungnya sendiri?
"Udah puas Om melakukan ini kepada Radit? Puas!" teriak Echa. Echa sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Apa ada seorang Ayah yang tega menyakiti anaknya sendiri? Mengorbankan anaknya sendiri demi melindungi orang yang sebenarnya salah?"
"Lihat anak Om, itu. Lihat!" tunjuknya ke arah Radit yang terbaring lemah di ranjang pesakitan.
"Apa Om akan siap kehilangan anak bungsu, Om? Apa Om akan siap disalahkan oleh Mamihnya Radit atas ketidak becusan Om dalam menjaga Radit?" lirih Echa.
Addhitama menunduk dalam mendengar ucapan seorang Anak SMA tapi, memiliki pemikiran yang sangat dewasa.
"Sesekali, pandanglah wajah Radit ketika dia terlelap. Banyak kesedihan yang Radit pendam sendiri. Banyak beban yang dia tanggung. Hanya ketika dia tidur, kesedihan serta beban itu hilang. Dan ketika dia terbangun, hidupnya teras berat kembali."
"Echa kira, hidup Radit lebih indah dibanding Echa. Ternyata, lebih buruk dari yang Echa pikir. Apalagi tidak mengenal ibu kandungnya sedari lahir. Pasti terasa sakit," ungkap Echa dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Addhitama tidak bisa menahan air matanya. Penyesalan yang dia rasakan kini. Apalagi, melihat tubuh Radit yang terbaring lemah seperti itu. Membuat Addhitama semakin menyesal.
"Pih, jaga anak ketiga kita. Rawat dan besarkan dia dengan baik serta penuh kasih sayang. Berikan cinta yang berlimpah untuknya. Karena Mamih tidak bisa menjaganya dan juga menemaninya."
Kalimat terakhir yang diucapkan mendiang istri Addhitama berputar di kepalanya. "Maafkan Papih, Mih. Maafkan Papih."
Dengan wajah penuh kesedihan, Addhitama pergi meninggalakan rumah sakit. Membuat Genta menghela napas kasar. Genta berharap, Addhitama sadar dengan sikap buruknya terhadap Radit selama ini.
Satu jam berselang, kondisi Radit mulai membaik. Dan Radit dipindahkan ke ruang rawat VVIP atas permintaan Genta. Echa selalu setia berada di samping Radit meskipun, Radit belum tersadar.
"Kakek beli makanan dulu, ya." Echa mengangguk dan dia masih menjaga Radit seorang diri. Tangan Echa terus menggenggam tangan Radit dengan eratnya.
"Bangun Bhal," lirihnya.
Di lain tempat, Addhitama sedang mempersiapkan konferensi pers jawaban atas pernyataan Radit beberapa waktu yang lalu. Apa dia akan membela diri lagi? Atau sebaliknya? Konferensi pers dadakan yang Addhitama lakukan.
Ternyata konferensi pers ini ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun televisi serta media online.
Puluhan wartawan sudah berada di salah satu hotel mewah tempat diadakan konferensi pers. Dan berita tentang Addhitama sudah terdengar di telinga Genta.
"Kali ini apa yang akan kamu lakukan?" gumamnya.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Addhitama didampingi pengacara dan juga beberapa anggota kepolisian masuk ke dalam ruangan. Banyak para wartawan yang sudah mengambil foto Addhitama.
"Selamat malam semua," sapa Addhitama.
"Dan malam ini, saya akan menjawabnya."
Genta yang sedang menonton Addhitama di layar laptopnya hanya menghela napas kasar.
"Apa yang akan kau jawab, Addhitama," geramnya.
"Yang dinyatakan oleh putra saya, benar adanya."
Para wartawan terkejut akan pernyataan Addhitama.
"Skandal yang menjerat Radit hanya penjebakan semata dari Kakaknya, Rindra Addhitama yang tak lain adalah ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Fani."
"Fani, wanita yang kalian beritakan telah dinodai oleh putra bungsu saya. Faktanya, bukan Radit yang menodainya. Melainkan Rindra dan Fani memang sama-sama suka dan sama-sama sadar dalam melakukan hal yang tidak terpuji itu."
"Rindra lah yang sudah mengatur semuanya. Tentang berita yang harus kalian up tanpa kalian tahu kabar sebenarnya. Dan kalian hanya menuruti ucapan Rindra. Demi sebuah berita yang akan menjadi trending topik di hari itu."
"Dan semua kebenarannya sudah dikatakan putra bungsu saya, Raditya Addhitama."
"Apa Anda akan diam saja mengenai masalah adik dan kakak ini?"
"Saya sudah malaporkan putra pertama saya, Rindra Addhitama dengan pasal percobaan pembunuhan serta pencemaran nama baik. Karena apa yang dia lakukan selama ini sudah sangat salah."
"Saya sudah lelah dengan hanya membungkam mulut saya dengan kenyataan yang sebenarnya. Sekarang akan saya kuak semuanya. Yang salah, harus dihukum. Bukankah begitu hukum alamnya?"
__ADS_1
Mata Echa membelalak dengan sempurna ketika melihat berita yang sedang dia tonton.
"Abang dipenjara." Suara lirih Radit terdengar membuat Echa segera memeluk tubuh kekasihnya.
"Akhirnya kamu sadar, Bhal."
Echa tidak bisa menahan kegembiraannya hingga tanpa sadar dia mengecup kedua pipi Radit dan juga keningnya.
"Aku senang banget, Bhal." Seulas senyum melengkung di bibir Radit.
Tapi, Radit masih kepikiran tentang berita yang baru saja dia dengar.
"Bhul, Abang ...."
"Kamu gak usaha mikir yang macam-macam, ya. Aku panggil dokter dulu supaya periksa kondisi kamu."
Setelah dokter memeriksa kondisi Radit. Dokter menyarankan agar Radit berisitirahat.
Keesokan paginya, Echa sedang menyuapi Radit semangkuk bubur rumah sakit. Kamar perawatan terbuka, Addhitama melangkahkan kakinya menuju ranjang pesakitan Radit dengan berlinang air mata.
Echa mundur, mempersilhkan Addhitama mendekat ke arah Radit.
"Maafkan Papih, Dit. Maafkan Papih," sesalnya.
Pelukan hangat yang sangat jarang Radit rasakan. Kini, dia rasakan kembali. Ada bulir bening yang jatuh membasahi pipi Radit. Rasa haru bercampur bahagia.
"Papih sudah melaporkan Abangmu ke polisi," ujar Addhitama.
"Ke-kenapa?"
"Karena dia hampir saja membunuhmu."
Radit menggeleng dan menatap manik mata sang Papih yang penuh dengan penyesalan.
"Jangan Pih, cabut laporan Papih," tolak Radit.
Echa menatap Radit tidak percaya begitu juga Addhitama.
"Bagaimanapun dia tetaplah Abang Radit. Penerus semua perusahaan Papih. Nantinya, nama Papih yang akan tercoreng dan berdampak pada saham perusahaan Papih."
"Radit tidak meminta harta dari Papih. Biarkan harta untuk Radit, Radit yang cari dengan kemampuan dan ilmu yang Radit miliki. Tapi, satu hal yang Radit minta sama Papih. Tolong sayangi Radit layaknya Papih menyayangi Abang dan juga Kakak," pintanya.
Hati Addhitama terenyuh mendengar permintaan Radit. Permintaan yang sangat sederhana dari seorang Raditya Addhitama. Dan Echa melengkungkan senyum penuh kebahagiaan melihat ketulusan Radit untuk keluarganya.
Meskipun, Abangnya tidak menyayanginya. Tapi, Radit menyayangi Abangnya layaknya adik kepada Kakaknya. Terlepas rasa sakit yang Radit terima tidak sebanding dengan rasa sayangnya untuk Rindra.
...----------------...
Semoga terhibur ....
__ADS_1