
Setelah penolakan dari Echa, namun Rindra tidaklah menyerah. Malah dia semakin gencar mendekati Echa. Dari mengirim makanan ketika jam istirahat, menjemputnya meskipun Echa tak pernah mau pulang bersamanya. Dan juga dia tak bosan-bosannya ke rumah Echa hanya untuk sekedar mengajak Echa mengobrol.
Echa tetaplah Echa, dia teguh pada pendiriannya. Dia bukanlah gadis yang dengan mudahnya untuk berpaling. Harta dan tahta yang Rindra miliki tidak membuat Echa tertarik. Echa bukanlah gadis penggila harta.
"Dek, ada Rindra di bawah," ujar Ayanda. Echa yang sedang bermain ponsel pun hanya berdecak kesal.
"Bilang Echa udah tidur. Echa lagi gak mood Mah," imbuhnya.
Ayanda pun mengerti bagaimana putrinya saat ini. Setiap hari Rindra bagaikan ekor dari Echa. Selalu mengikuti Echa ke mana pun dia pergi. Meskipun selalu di tolak, Rindra tetaplah keras kepala.
"Ya udah, Mamah matiin lampu kamarnya. Biar dia percaya." Echa pun mengangguk.
Gio menatap istrinya yang baru saja turun dari kamar putrinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Karena Ayanda turun seorang diri.
"Echa udah tidur, mungkin dia kecapean," ucap Ayanda.
Wajah Rindra nampak tidak percaya, sudah sering Echa membohonginya seperti ini.
"Tadi dia abis jalan-jalan sama Om-nya. Dan Maghrib tadi dia baru sampai rumah," jelas Gio.
Rindra pun mau tak mau percaya akan ucapan kedua orangtua Echa. Akhirnya dia pun pamit pulang. Karena tidak ada gunanya juga dia masih di sini.
Diam-diam dia mengelilingi rumah besar milik Giondra. Tanpa dia sadari, sekeliling rumah Giondra dipasang cctv. Gio dan Ayanda pun berdecak kesal.
"Dia benar-benar gak percaya," ucap Gio di ruang kerjanya.
"Untungnya Mommy tadi matiin lampu kamar Echa," sahut istrinya.
Setelah melihat sendiri kamar Echa sudah gelap, Rindra pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Gio. Sepanjang perjalanan dia mencoba menghubungi Echa namun, nomornya selalu tidak aktif.
Dan di kamar Echa, dia sedang asyik berbalas chat dengan Radit. Kekasih hatinya yang berada di belahan dunia sana. Echa memang menggunakan nomor khusus untuk menghubungi Radit. Hanya nomor Radit yang dia simpan. Dia pun menggunakan ponsel canggih pemberian papanya.
"Ya udah kamu tidur gih. Tetap jaga hatimu untuk aku. Hati-hati dengan Abangku." Itulah isi pesan dari Radit.
Echa pun mematikan ponselnya dan mulai memejamkan matanya. Setiap sebelum tidur, dia selalu berdoa agar esok dan seterusnya Rindra tidak mengganggunya.
Keesokan harinya, seperti biasa Pak Muh mengantarkan paper bag berisi makanan. "Dari dia lagi?" Pak Muh pun mengangguk.
Awalnya Pak Muh tidak mau mengaku jika Rindra lah yang mengirimkan makanan untuknya. Setelah didesak dan diancam dengan menggunakan Papa dan Kakeknya, akhirnya Pak Muh mengaku.
"Buat Pak Muh aja. Aku mau makan di kantin," ucapnya.
"Tapi Neng ...."
"Ambil aja Pak. Rezeki mah jangan ditolak," ucap Sasa.
"Makasih Neng." Echa pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Parah ya, udah ditolak juga," kata Mima.
"Itulah yang dinamakan cinta," sahut Sasa.
"Bukan cinta, tapi obsesi itu," timpal Echa.
"Maksudnya?" tanya dua sahabat Echa bersamaan. Echa hanya mengangkat bahu sebagian jawabannya.
Ketika tiba di kantin, semua siswa menatap Echa dengan tatapan aneh. Ya, ini semua karena setiap hari Rindra selalu datang ke sekolah hanya untuk menjemputnya. Dan dengan percaya dirinya, dia akan berdiri di samping pintu mobilnya.
Apalagi melihat Tere yang seakan meledeknya dengan bergelayut manja kepada Riza. Tatapan Riza dan Echa bertemu, namun dengan cepat Echa memutusnya.
Echa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Echa ingin kwetiau seafood pedas." Mima dan Sasa saling menatap heran.
"Oke, Echa tunggu. LOVE YOU." Dengan sengaja Echa mengeraskan dan menekan kata love you di akhir percakapannya.
"Pasti dari sugar Daddy," cibir Tere.
Semua siswa yang berada di kantin pun semakin menatap jijik kepada Echa. Sedangkan Sasa dan Mima hanya menggelengkan kepalanya.
"Gila," bisik Mima.
"Biar makin rame," sahut Echa santai.
Semakin siang keadaan kantin semakin padat. Echa hanya memesan susu cokelat dingin dan juga Snack kentang. Sedangkan kedua sahabatnya sedang melahap mie ayam.
"Sayang," panggilnya pada Echa.
Bisik-bisik antar para siswa mulai terdengar. Dan Gio pun mendengarnya.
"Makasih," ucap Echa sambil mengambil goody bag yang papanya bawa.
"Ya ampun, sugar Daddy lu ganteng banget Cha," celetuk salah seorang siswa.
Gio membuka kacamatanya dan matanya memicing tajam ke segala arah. Terutama ke arah siswa yang meledak putrinya.
Semuanya menunduk takut. Karena mereka tahu dia adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini. Dan dia adalah Papanya Echa.
"Ada masalah apa kalian dengan putri saya?" tanya Gio dengan penuh penekanan.
Echa mengusap lembut tangan sang Papa. Dia tahu, papanya tidak terima Echa diejek seperti itu.
"Udah Pa, gak apa-apa." Gio pun menatap manik mata Echa, dan Echa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah Papa ke kantor lagi ya. Kalo ada yang macam-macam, biar Papa keluarkan dari sekolah ini." Ucapan yang sangat mengancam untuk semua siswa sekolah ini.
Sedangkan di tempat lain, Rion sedang kedatangan tamu tak diundang. Dan tidak dia kenal. Sebelumnya, Kinan mengetuk pintu ruangan Rion dan mengatakan jika ada yang ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
"Laki-laki itu mengaku putra dari Addhitama," jelas Kinan.
Rion menatap Arya, dan Arya pun mengangkat bahunya. Setahu mereka, anak Addhitama adalah Radit. Tapi, Radit belum lama ini pergi ke luar negeri jntuk melanjutkan study-nya di sana.
"Laki-laki itu rapih, menggunakan jas," lanjut Kinan.
Rion tahu sekarang, siapa yang dimaksud asistennya ini. "Suruh dia masuk."
Kinanti pun menuruti perintah atasannya. Dia menghampiri Rindra yang masih menunggu di depan ruangan Rion.
"Anda diperbolehkan masuk oleh Pak Rion."
Baru saja dia menutup pintu ruangan, Rindra nampak terkejut ternyata Rion tidak sendiri. Ada seseorang di sana yang dengan tenangnya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Arya sudah memasang wajah songong di sana.
"Maaf Om, ganggu waktunya," ujar Rindra sopan sambil menjabat tangan Rion lalu bergantian ke Arya.
"Silahkan duduk."
Rindra pun bersikap sangat sopan di hadapan Rion dan juga Arya.
"Saya datang ke sini untuk meminta izin, Om." Rion pun mengerutkan dahinya.
"Saya meminta izin untuk mendekati Echa anak, Om. Saya sayang sama Echa." Arya tersedak dengan air kopi yang baru saja akan masuk ke dalam tenggorokannya.
"Maksudnya apa? Bukannya kamu Kakak kandung Radit." Rindra pun mengangguk.
"Kamu pasti tahu hubungan putri saya dengan adik kamu, kan."
"Iya Om, tapi saya tidak bisa membohongi hati saya kalo sebenarnya saya juga menyayangi Echa. Bukankah cinta itu harus diperjuangkan?" kilahnya.
"Klasik banget omongan lu," cibir Arya.
"Jangan pernah mengatakan ingin memperjuangkan jika niat utama lu cuma untuk memisahkan. Cinta tidak selamanya harus memiliki, Bung," sindir Arya.
"Jika kamu hanya berniat menikung putri saya dari tangan Radit, bercerminlah dahulu. Apakah kamu sudah mampu menyaingi Radit? Apakah putri saya akan bisa dengan mudah berpaling dari Radit?"
Mulut Rindra pun terkunci sangat rapat. Dia tidak menyangka respon Ayah kandung Echa akan sekejam ini.
"Pikirkan dahulu sebelum bertindak. Apakah kamu benar-benar sayang kepada anak saya atau hanya sekedar tidak ingin tersaingi oleh Radit?" tukas Rion.
"Lu tuh Kakak yang gak ada akhlaknya. Harusnya lu bahagia ngeliat Adek lu bahagia. Bukan malah kebakaran jenggot kayak gini,"omel Arya
"Dan lu minta izin kepada orang yang salah. Ayahnya Echa dulunya adalah predator wanita. Dia gak akan pernah bisa lu kibulin. Karena dia jauh lebih ahli dari lu."
***
Happy reading ....
__ADS_1
Aku tunggu komen kalian, kalo tiap aku UP komennya banyak, jempolnya banyak pasti aku UP tiap hari.