
Wajah Rindra merah padam ketika sudah keluar dari kantor Rion. Bukannya dukungan yang Rion berikan malah cemoohan.
"Apa lebihnya anak itu sih? Kenapa semua orang menyukainya?" Rindra semakin kesal kepada Radit.
Waktu terus berjalan, sudah dua bulan Radit berada di luar negeri. Dan hubungan Radit dan Echa tetap berjalan dengan lancar. Radit akan pulang ke Indonesia ketika sudah enam bulan berada di sana. Masih harus menunggu empat bulan lagi untuk bertemu kekasih hatinya.
Hari ini, Rindra terus saja berusaha untuk mendekati Echa. Pagi hari, Rindra sudah berada di kediaman Gio untuk menjemput Echa. Mau tidak mau Echa berangkat bersama Rindra ke sekolah.
Selama di perjalanan, Echa hanya diam dan menatap ke arah luar jendela. Mood-nya hari ini benar-benar jelek.
"Gimana hubungan kamu sama Radit?" tanya Rindra memecah keheningan.
"Baik." Hanya satu kata yang menjadi jawaban dari mulut Echa.
Rindra menutup mulutnya kembali. Anak remaja di sampingnya ini sangatlah susah untuk didekati. Setelah sampai di depan gerbang sekolah, tak lupa Echa mengucapkan terimakasih lalu keluar dari mobil Rindra. Namun, tangan Echa ditahan oleh Rindra.
"Pulang sekolah aku jemput ya."
"Maaf Kak, pulang sekolah aku mau nyari buku dulu bareng teman. Makasih atas tawarannya." Dengan pelan Echa melepaskan tangan Rindra yang menahan lengannya. Echa buru-buru keluar dari mobil Rindra sebelum Rindra mencegahnya lagi.
Echa tiba di dalam kelas dengan napas tersengal. Sasa dan Mima memandang aneh kepada sahabatnya. "Abis lari maraton?" tanya Sasa.
"Dikejar-kejar setan," sahut Echa.
"Hay," sapa Riza.
"Tuh setannya datang," kata Mima. Riza menatap kesal ke arah Mima.
"Mamih buatin sarapan buat kamu." Riza mengambil tempat makan yang ada di dalam tasnya.
"Kata Mamih, harus dihabiskan. Itu makanan kesukaan kamu," lanjutnya.
Echa membuka tempat makan itu, roti bakar isi cokelat berlimpah kesukaan Echa.
"Makasih, nanti gua abisin."
Riza pun tersenyum ke arah Echa. Lalu dia pamit untuk pergi ke kelasnya.
"Mamihnya Riza tau gak sih kalo kalian udah putus?" tanya Sasa.
"Tau," jawab Echa sambil memakan roti bakar buatan Tante Marta.
"Baik banget ya batal calon mertua lu," imbuh Mima.
"Tapi sayang, anaknya nggak," sahut Echa sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah pulang sekolah, Echa dan dua sahabatnya dijemput oleh Pak Mat. Hari ini mereka akan ke salah satu toko buku yang berada di sebuah mall. Kebiasaan anak remaja sepulang sekolah seperti itu. Alasan mencari buku padahal aslinya untuk main ataupun nonton.
Meskipun hanya bertiga, mereka tampak riang gembira. Apalagi tawa Echa yang sangat lepas. Membuat seseorang yang mengikutinya dari belakang menyunggingkan senyum. Apalagi dadanya berdegup tak karuhan ketika melihat tawa bahagia anak SMA itu.
Setelah puas mencari buku, mereka berbincang seru di sebuah restoran kesukaan mereka bertiga. Suara Barito seseorang membuat Echa dan dua sahabatnya menoleh ke arah kanan mereka.
Seseorang dengan senyum khasnya sudah menyapa mereka. "Boleh aku gabung?" tanyanya.
Mima dan Sasa nampak tidak berkedip. Terlebih sekarang ini Rindra menggunakan pakaian santainya. Dia terlihat sangat tampan.
Tanpa dipersilahkan pun Rindra duduk di samping Echa membuat Echa harus bergeser sedikit. Namun, tangan Rindra lebih dulu merengkuh pinggang Echa. Dan tatapan mereka pun bertemu.
Suara deheman Mima membuyarkan pandangan mereka. Ditambah makanan yang mereka bertiga pesan sudah sampai.
"Kakak gak pesan?" tanya Sasa.
"Udah kok, bentar lagi juga datang." Benar saja, makanan yang Rindra pesan sudah datang. Mereka semua menikmati
Rindra tersenyum melihat Echa sangat lahap menyantap menu yang dia pesan. Tiba-tiba tangan Rindra menyeka ujung bibir Echa membuat Echa terdiam seketika.
"Belepotan," ujar Rindra dengan nada yang sangat lembut.
Tidak ada ekspresi apa-apa dari Echa. Hatinya sama sekali tidak tersentuh. Beda, jika Radit memperlakukannya seperti ini.
Setelah selesai makan, Rindra membayar semua makanan mereka semua. "Gak usah Kak," tolak Echa sambil menyodorkan kartu debit miliknya.
Ponsel Echa berdering, seketika wajah Echa panik. "Dirawat di mana? Biar Echa ke sana sekarang."
"Iya, gak apa-apa. Echa pulang pesen taksi online aja."
Setelah panggilan telepon berakhir, Mima dan Sasa mendekat ke arah Echa. "Siapa yang sakit?"
"Riana," jawab Echa sambil membuka aplikasi taksi online.
"Ya udah kita balik sekarang aja," ajak Mima.
"Kalian mau langsung pulang?" Sayup-sayup Rindra mendengar kepanikan Echa.
"Iya Kak, adiknya Echa dirawat di rumah sakit," sahut Sasa.
"Aku antar kamu ke rumah sakit biar cepat." Rindra menawarkan diri untuk membantu Echa.
"Aku udah pesan taksi online kok," balas Echa.
Rindra meraih ponsel Echa, ternyata Echa belum memesan. Dengan cepat Rindra menutup aplikasi tersebut. Dan menarik tangan Echa.
__ADS_1
"Aku antar biar cepat. Kalian berdua gak apa-apa kan pulang pake taksi online." Mima dan Sasa pun mengangguk.
Kali ini Echa tidak bisa menolak. Dia harus menemani bundanya secepatnya. Sedangkan Pak Mat setelah mengantarkannya ke mall langsung pulang. Karena harus mengantar Riana berobat. Ternyata dokter menyarankan agar Riana dirawat untuk beberapa hari ke depan. Dan ketika Pak Mat hendak menjemput Echa, mobil yang dikendarainya pecah ban.
Sepanjang perjalanan Echa hanya terdiam. Dan Rindra pun tahu jika, Echa sedang khawatir. Setelah sampai di parkiran rumah sakit, Rindra tetap menemani Echa masuk ke dalam rumah sakit. Ketika sampai di ruang rawat Riana, terlihat bundanya sedang menangis.
Ibu mana yang tega melihat anaknya kesakitan ketika dimasukkan jarum infus. Apalagi umur Riana masih sangat kecil.
"Bunda," panggil Echa.
Amanda pun tersenyum ke arah Echa dengan air mata yang menetes. "Sabar ya Bun, Riana pasti sembuh." Beginilah cara Echa untuk menenangkan bundanya.
"Bunda udah makan?" Amanda pun menggeleng.
"Echa beliin makanan dulu, ya." Amanda pun mengangguk.
"Aku antar," ucap Rindra.
Echa dan Amanda baru menyadari jika sedari tadi ada Rindra di ruang rawat Riana. "Maaf Kak, aku gak tahu kalo Kakak ikut masuk ke sini," imbuh Echa.
"Gak apa-apa," balas Rindra seraya tersenyum.
Echa dan Rindra pun pergi ke kantin rumah sakit. Dia membeli makanan dan juga beberapa cemilan dan juga air mineral untuk sang Bunda.
Sapaan dari seseorang membuat Rindra menoleh ke arah belakang. "Wah udah lama kita gak ketemu," imbuh Jodi.
Rindra pun tersenyum dan berbasa-basi kepada Jodi teman kuliahnya yang sekarang berprofesi sebagai manager di rumah sakit ini.
"Kak, ayo."
Jodi dan Rindra pun menoleh ke arah Echa. Rindra pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Gak dikenalin dulu?" goda Jodi.
"Kamu pasti pacar Rindra, kan. Sangat beruntung Rindra dapetin gadis cantik kaya kamu," pujinya.
Echa hanya tersenyum. Baru saja dia akan menimpali ucapan Jodi, ada seorang wartawan yang ingin mewawancarai Rindra. Dengan tegas Rindra menolak dan membawa Echa keluar dari kantin.
Keesokan harinya Radit mendapat kirimin sebuah berita dari Indonesia. Matanya terbelalak ketika dia membaca judul artikelnya.
Rindra Addhitama ternyata sudah memiliki kekasih yang masih belia.
****
Happy reading ....
__ADS_1
Doakan semoga bulan ini bisa UP rutin ya ...