
Kabar tentang kehamilan wanita yang bersama Radit di apartment sudah sampai di telinga keluarga Gio. Gio menghela napas berat. Lambat laun, putrinya akan tau akan hal ini.
Dengan tergesa Ayanda segera ke kantor Gio. Dia langsung menuju ruangan Gio yang berada di lantai paling atas. Kedatangan Ayanda disambut hangat oleh sekretaris Gio namun, tak diindahkan oleh Ayanda. Tanpa mengetuk pintu Ayanda langsung masuk ke ruangan Gio.
Gio yang baru saja hendak memaki-maki orang yang masuk tanpa mengetuk pintu malah membungkam mulutnya.
"Daddy."
Gio mengerti apa yang tengah dikhawatirkan oleh istrinya. Gio membawa tubuh Ayanda untuk duduk bersamanya.
"Echa pasti akan tahu akan kabar ini. Dan kita harus selalu siaga untuknya. Pasti tidak mudah bagi Echa untuk menerima kenyataan ini. Terlebih, Daddy masih melihat jika Echa masih mengharapkan Radit," ujar Gio.
"Mommy takut Echa akan drop lagi," lirihnya.
Gio memeluk istrinya, dia juga merasakan ketakutan yang sama. Namun, sebisa mungkin Gio akan selalu membuat Echa bahagia,
Masalah Echa dan Radit belum diketahui oleh kedua sahabat Echa. Mereka hanya tahu, Radit selingkuh ketika mereka bertemu dengan Radit ketika di Malang.
Dengan napas tersengal Doni duduk ini di depan meja Echa. Echa mengerutkan dahinya.
"Kenapa lu?" sergah Sasa.
Doni menunjukkan berita yang sedang trending kepada Sasa. Sasa pun menutup mulutnya tak percaya. Dia langsung menyerahkan ponsel Doni kepada Echa.
Seperti disambar petir di siang bolong. Hati Echa hancur lebur, remuk redam dan sakit dan sungguh sakit sekali.
Bibirnya mampu tersenyum namun, matanya nanar. Sasa dan Mima langsung memeluk tubuh Echa.
"I'm okay," katanya.
Doni mendekat ke arah Echa dan menggenggam tangan Echa. "Mulut lu bisa bilang begitu, tapi mata lu mengatakan jika lu terluka," ucap Doni.
Tangis Echa pun pecah, untungnya sekarang jam istirahat tidak ada murid yang lain di kelas. Hanya Echa, Sasa, Mima serta Doni.
Sungguh miris kisah percintaan Echa, tidak ada yang berjalan dengan mulus. Semua lelaki yang menjadi pacar Echa semuanya berkhianat.
"Mending untuk mandi kembang gih, biar hidup lu gak sial mulu," cibir Tere.
"Cowok yang gua kira sempurna ternyata penjahat wanita," ledeknya lagi.
Sasa dan Mima sudah ingin menyerang Tere namun, Echa melarangnya.
"Benar apa yang dibilang Tere." Echa pun pergi meninggalkan dua sahabatnya dan juga Doni serta Tere yang sedang tertawa puas.
__ADS_1
Tempat yang selalu Echa datangi ketika hatinya sedang kalut. Gudang yang berada di lantai paling atas. Di sinilah dia selalu menumpahkan semua kesedihannya seorang diri. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga.
Selama jam pelajaran pun Echa sangat tidak berkonsentrasi. Setelah bel pulang terdengar, Echa bergegas pulang. Ternyata sudah ada sang Papa yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang sekolah.
Gio menganggukkan kepalanya dan Echa pun langsung masuk ke dalam mobil Gio.
Di dalam mobil, Echa memeluk tubuh Gio dengan eratnya dengan air mata yang sudah membasahi kemeja sang papa.
"Menangislah jika itu membuat hatimu tenang," imbuh Gio.
Sedangkan Ayanda sudah berada di kantor Rion. Dia pun sedikit emosi karena KInanti sengaja menghalang-halangi dirinya untuk bertemu dengan Rion.
"Dari tadi saya sudah sabar ya. Mau saya pecat, kamu?" tukasnya.
Suara Ayanda pun terdengar ke dalam ruangan Rion. Arya langsung membuka pintu ruangan. Melihat wajah Ayanda yang sudah merah padam membuat Arya heran.
"Kenapa gak langsung masuk?" tanya Arya.
"Gak boleh sama asisten Mas Rion. Katanya ada tamu penting," sahut Ayanda kesal.
"Gak ada tamu kok. Udah masuk gih, orang yang kamu cari lagi ada di dalam." Ayanda pun menuruti perintah Arya.
Setelah Ayanda masuk, Arya menatap Kinanti dengan tatapan membunuh. "Kenapa kamu bohong? Kamu lupa pemilik utama usaha ini siapa?"
"Tidak ada yang harus kamu turuti perintah dari siapapun kecuali Pak Rion, Bu Ayanda serta saya. Istri Rion tidak memiliki hak apa-apa di sini," tegasnya.
Sedangkan di dalam ruangan Rion, Ayanda semakin tersulut emosi ketika mendengar jawaban dari mantan suaminya.
"Mas, anak kita memerlukan kamu. Luangkan sedikit waktumu untuk Echa," pinta Ayanda.
"Dek, Riana sedang sakit. Dia sangat manja sama Mas. Echa masih punya kamu dan juga Gio," jawabnya.
"Mas, Echa juga anak kamu. Dia ingin memeluk kamu, menumpahkan segala kesedihannya kepada kamu, Mas."
Ponsel Rion berdering, dengan cepat dia menjawabnya.
"Iya, Abang segera pulang."
Rion pun langsung membereskan semuanya dan meninggalkan Ayanda seorang diri di dalam ruangan. Ayanda hanya mematung melihat sikap Rion yang aneh seperti ini.
"Beresin ruangan, Riana lagi rewel," titah Rion kepada Arya yang masih berada di depan meja KInanti.
"Lu kepala keluarga apa ibu rumah tangga sih?" geram Arya.
__ADS_1
Arya masuk ke dalam ruangan dan masih ada Ayanda di sana. "Akhir-akhir ini Rion emang nurut banget sama istrinya," imbuh Arya.
"Apa aku salah meminta dia untuk menemui putrinya? Echa sedang membutuhkan ayahnya," lirih Ayanda.
***
Sedangkan di Canberra, Radit sudah memutuskan untuk mengikuti permintaan papihnya.
"Beri Radit waktu 2 bulan untuk dekat dengan Fani. Karena Radit perlu pendekatan terlebih dahulu untuk saling mengenal satu sama lain."
Addhitama pun menyetujui permintaan dari Radit. Radit pun mulai mendekati Fani, mengantarnya pulang serta mengajaknya jalan-jalan layaknya pasangan yang sedang melakukan pendekatan.
"Aku senang deh, kamu ngajak jalan aku sama anak kita." Radit hanya tersenyum kecut.
Dia mengikuti ke mana Fani melangkah. Segala yang Fani mau selalu Radit penuhi. Karena Fani beralasan, jika ini adalah keinginan anaknya.
Setelah lelah berkeliling mall, Fani mengajak Radit untuk makan di restoran Indonesia yang berada di mall tersebut.
Disela makan, Radit mulai membuka suara. "Usia kandungan kamu sudah berapa bulan?"
"Aku belum tahu pasti, tapi jika kamu ingin tahu besok kita ke dokter obgyn ssja untuk mengetahui usia anak kita," sahut Fani seraya terseyum
Radit terdiam sejenak, namun dia teringat akan perkataan Pria paruh baya yang dia panggil Kakek.
"Baiklah."
Keesokan harinya setelah Radit dan Fani pulang praktek, mereka menemui dokter obgyn yang berada di rumah sakit tempat mereka praktek
"Wah, bayi kalian sangat sehat," ucap dokter Nana yang sedang menggerakkan alat USG di atas perut Fani.
"Usia kandungan Fani berapa bulan dok?" tanya Radit.
"Sekarang sudah memasuki 15 Minggu," sahut dokter Nana.
Radit pun tersentak dengan apa yang didengarnya. Jika menurut penghitungannya, usia kandungan Fani 8-9 Minggu. Karena dari waktu kejadian hingga sekarang baru 2 bulan.
Lalu, anak yang ada di dalam kandungannya itu anak siapa?
***
Happy reading ....
Ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.
__ADS_1