Yang Terluka

Yang Terluka
Tidak Baik-baik Saja


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Radit benar-benar membuktikan ucapannya. Dia benar-benar meninggalkan apartment milik papihnya dan tinggal di ruko yang dia sewa dari Genta. Dan uang yang dia bawa pun hanya uang dari hasil prakteknya di rumah sakit. Dia tidak ingin bergantung kepada Papihnya lagi. Ketergantungannya membuat Radit selalu dianggap rendah oleh Papih dan juga abangnya.


Bagaimana nasib Rindra? Radit sama sekali tidak mau tahu. Yang ada di kepalanya bagaimana membuat praktek yang baru saja dia buka ramai. Meskipun dia tahu, sesuatu itu tidak ada yang instan. Harus melalui beberapa proses yang tentunya tidak mudah.


Enam bulan sudah Radit membuka prakteknya. Apakah Radit melupakan niatan awalnya untuk mengejar Echa kembali? Jawabannya tentu tidak. Radit masih mengawasi Echa dari kejauhan sambil dia membangun usahanya dengan hasil keringatnya sendiri.


Ternyata kabar yang tersebar ke Indonesia tidak sesuai dengan fakta yang ada. Media memberitakan jika Radit lah yang menikah dengan Fani. Dan memang anak yang ada di dalam kandungan Fani adalah anak biologis Radit. Hati Echa sangat ssit dan hancur mendengarnya. Harapannya sudah sia-sia.


"Mana janji kamu yang akan selalu membahagiakan aku?" lirih Echa ketika membaca salah satu artikel tentang pernikahan Radit dan juga Fani.


Kedua orangtua Echa pun sangat khawatir dengan kondisi putri mereka yang semakin terpuruk. Cinta yang dimiliki untuk Radit lebih besar dibandingkan untuk Riza.


Ketika semua beban terlalu berat karena rindunya terhadap Radit yang semakin menumpuk. Echa akan pergi ke ruangan kerja Papanya.


Ketukan pintu membuat Gio menghentikan kegiatannya sejenak. Ketika suara nyaring dari dalam mengucapkan kata masuk, knop pintu mulai terbuka.


Gio hanya menatap sendu ke arah putrinya yang telah mematung di depan pintu.


"Sini, Sayang."


Hanya mendengar kata itu saja, hati Echa semakin rapuh dan dia berhambur memeluk tubuh Papanya. Isak tangis lirih sangat menyayat hati Gio.


"Menangislah, jika dengan menangis bisa menghilangkan semua rasa sesak di dada kamu."


Derai air mata membasahi wajah Echa begitu juga dada Gio. Gio hanya mengusap lembut kepala putrinya dan sesekali mengecup puncuk kepala Echa. Gio tidak akan menanyakan apapun sebelum Echa menceritakan. Gio sangat tahu, bagaimana hati putrinya saat ini.


Sebenarnya, yang Echa butuhkan adalah dekapan hangat ayahnya. Namun, ayahnya selalu sibuk dengan urusannya. Dan Bundanya pun seakan telah berubah kepadanya. Echa juga bingung, kenapa Bundanya bisa berubah seperti itu? Seakan membatasi pertemuannya dengan sang ayah.

__ADS_1


Waktu terus berganti, tapi luka itu tak kunjung sembuh. Dan Radit, sudah tidak ada kabarnya. Setiap kali Addhitama datang ke rumah Gio, rasa sesak yang Echa rasakan. Apalagi, jika melihat manik mata Addhitama yang sangat mirip dengan Radit membuat dia semakin tenggelam dengan lukanya. Jujur, bayang-bayang wajah Radit tidak bisa hilang dari ingatannya.


Di sinilah Echa berada, di balkon kamarnya sembari menatap langit malam yang cerah. Echa berdiri tegak dengan kepala yang mendongak menatap ke kerlipan bintang di atas sana.


Mungkin, kamu sudah bahagia di sana. Berbeda denganku di sini yang masih belum bisa sedetik pun melupakan bayang wajahmu. Suaramu yang khas dan dekapan hangat darimu selalu aku rindukan. Aku seperti manusia yang kehilangan arah. Tak tahu mau ke mana kaki ini melangkah. Karena aku telah terbiasa dengan kehadiranmu sebagi penunjuk jalanku. Penerang dalam gelapnya hidupku. Tapi, kamu sendiri yang malah menjerumuskan aku ke dalam jurang kehancuran.


Aku telah salah menilai mu, kamu tidak jauh dari laki-laki yang bersamaku sebelumnya. Hanya saja, kamu menjelma menjadi pengobat luka dan kamu telah membuatku jatuh cinta. Namun, ketika aku yakin dengan perasaanku kamu malah menduakan ku dan berkhianat di belakangku. Dan sekarang, hanya luka yang masih menganga yang ada di hati ini.


Echa pun menunduk dalam, hanya kesedihan dan kesakitan yang menjadi teman setia Echa hampir satu tahun ini.


Dan orang yang sangat Echa inginkan dikala kondisi Echa seperti ini hanya mengatakan, "Ayah sibuk, Dek."


Ada rasa kecewa di hatinya. Apa tak bisa sedikit pun meluangkan waktu untuk dirinya? Dan apakah Echa harus memaksa? Dan itu tidak akan pernah Echa lakukan. Echa sadar diri dan tahu batasan siapa dirinya. Sedangkan kedua orangtuanya sudah memiliki keluarga masing-masing dan hidup bahagia. Dia tidak akan mengganggu kebahagiaan mereka.


Rasa rindu yang sudah tidak tertahan, membuat Echa mengunjungi rumah sang Ayah tanpa pemberitahuan. Ketika dia mengetuk pintu, raut wajah masam yang Bundanya tunjukkan.


"Mau ngapain kamu ke sini?"


Echa tersentak tapi, Echa mencoba untuk tetap ramah kepada Bundanya.


"Echa. ingin ketemu Ayah," jawabnya sopan.


"Ayah kamu belum pulang kerja, mending pulang sana. Riana lagi tidur nanti keganggu."


Amanda langsung menutup pintu dengan keras. Membuat Echa tersenyum miris. Echa pun mengalah, dia memilih pulang ke rumahnya dengan wajah yang sendu.


Setiap hari, Echa selalu mendatangi rumah ayahnya namun, bundanya seakan melarangnya meskipun hanya menginjakkan kaki ke dalam rumah sang ayah.

__ADS_1


Akhirnya, Echa bisa masuk ke dalam rumah sang ayah karena bantuan Mbak Ina. Dan Mbak Ina pun dimarahi habis-habisan oleh Amanda karena mengijinkan Echa masuk. Echa masih bertahan karena dia sangat merindukan ayahnya.


Baru saja Echa menyapa ayahnya, tangan ayahnya yang hendak memeluk Echa malah dicekal oleh Amanda dan disuruh memeluk Riana.


Sakit, sudah pasti. Perih sangat perih. Tapi, Echa mencoba untuk baik-baik saja dan dia mengalah. Hingga perjuangannya ingin dipeluk ayahnya pun berakhir sia-sia. Ayahnya tak kunjung menghampirinya. Dan pagi inilah pagi yang membuat Echa muak dengan semuanya.


"Gak usah manjain anak kamu, Bang. Dia itu udah gede,udah harus mandiri, jangan apa-apa Ayah," omel Amanda sambil menggendong Riana.


Hati yang sudah sakit semakin bertambah sakit ketika mendengar ucapan yang sangat menyakitkan yang dilontarkan oleh ibu sambungnya, yang sudah Echa anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Echa melangkahkan kakinya menuju ayah dan bundanya.


"Echa berangkat, Yah."


"Sarapan dulu, Dek. Terus berangkat bareng Ayah," tawar Rin.


"Makasih, Echa bisa sarapan di kantin dan bisa naik ojek online. Karena Echa bukan ANAK MANJA."


Echa menatap wajah Amanda dengan tatapan tajam, kemudian berlari meninggalkan ayah dan bundanya yang mematung di tempatnya. Sekarang, Rion menatap sengit ke arah Amanda.


"Puas kamu!"


Echa terus berlari sambil memegang dadanya yang teramat sesak. Ingin dia menjerit karena telah menahan semua rindu yang selama ini dia pendam sendiri untuk ayahnya. Orang yang terlambat memberikan cinta untuknya.


"Echa tidak manja, Echa hanya mengatakan jika Echa sedang tidak baik-baik saja, Ayah."


...----------------...

__ADS_1


Ada notif up langsung baca dong jangan ditimbun-timbun. Sedih loh, mana views turun. Lama-lama aku migrasiin ceritanya ke lapak sebelah🤧


__ADS_2