
Kehamilan kedua ini cukup berbeda dengan kehamilan Echa yang pertama. Rasa mual memang sering datang, tetapi tidak separah kehamilan sebelumnya. Radit menjadi suami yang benar-benar siaga. Tidak membiarkan istrinya kelelahan. Selama belum ada asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah Radit yang lakukan.
"Ada yang kamu mau?" tanya Radit ketika sang istri sibuk menggonta-ganti siaran televisi.
"Mau mie goreng, Ay." Radit tersenyum dan mengusap lembut kepala Echa.
"Tunggu, ya. Aku bikinin." Namun, Echa melarang Radit untuk pergi.
"Kenapa? Katanya mau mie goreng," imbuh Radit.
"Mau makan di luar." Radit pun terkekeh mendengar permintaan sang istri. Apapun yang Echa minta pasti akan Radit belikan.
"Ya udah, kamu siap-siap."
Ada kebahagiaan yang menyelimuti hati Radit. Radit merasa sangat bersyukur kehamilan Echa kali ini tidak semenyulitkan kehamilan Echa yang pertama.
Dengan posesifnya Radit menautkan tangannya dan tangan Echa. Radit terus berdecak kesal ketika banyak mata yang tertuju pada istrinya. Apalagi pakaian Echa sore ini sedikit terbuka di bagian dada.
Bukannya menuju restoran, Radit malah menarik tangan Echa ke sebuah toko baju merk dunia. Tentu Echa bingung dengan suaminya.
"Ay, aku lapar bukan mau belanja," tawar Echa.
Radit tidak mengindahkan ucapan Echa. Dia masih berkeliling mencari baju yang cocok untuk sang istri. Setelah didapati, Radit menyuruh Echa untuk mencobanya.
"Ay," panggil Echa yang melongokkan kepalanya. Radit masuk ke bilik ganti tersebut dengan senyuman yang lebar.
"Gak usah dibuka lagi, biar aku langsung bayar." Echa memanyunkan bibir karena suaminya malah seenaknya seperti ini. Namun, dia juga tidak bisa menolak.
Setelah semuanya selesai, dan baju baru dipakai. Sedangkan yang berada di paper bag hanyalah baju Echa yang dipakai dari rumah.
"Ay, kenapa aku harus ganti baju?" Tidak ada jawaban dari Radit. Dia terus membawa Echa ke restoran yang menyediakan aneka mie.
Echa merengut di hadapan Radit ketika mereka sudah duduk di restoran. Radit bangkit dari duduknya dan kini duduk di samping sang istri. Dia menarik Echa ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala sang istri.
"Aku tidak suka kamu memakai pakaian yang terbuka. Aku hanya ingin tubuhmu yang indah ini hanya aku yang bisa melihatnya serta menikmatinya," terang Radit.
__ADS_1
"Maaf." Satu kata yang Echa ucapkan.
"Gak apa-apa, tetapi jangan diulang lagi, ya." Echa mendongak ke arah sang suami seraya tersenyum.
Radit sangat bahagia ketika melihat Echa makan dengan begitu lahapnya. Meskipun, nanti malam akan Echa keluarkan kembali itu tidak jadi masalah untuknya. Setidaknya ada asupan makanan yang masuk ke dalam perut Echa dan juga para anaknya.
"Mau apa lagi?" tanya Radit.
"Es krim dan waffle."
Radit bagai membawa anak kecil yang sedang menginginkan ini dan itu. Kendari begitu, hati Radit merasa senang karena istrinya tersenyum sangat lepas. Apalagi tawanya yang terdengar sangat bahagia.
Lelah mereka berkuliner di mall. Radit memutuskan untuk pulang ke rumah. Selama diperjalanan, Echa tertidur pulas efek kekenyangan. Radit hanya tertawa melihat sang istri.
Malam ini Radit dan Echa benar-benar tidur nyenyak. Tidak ada acara muntah-muntah tengah malam. Mereka hanya saling mendekap satu sama lain. Apalagi Radit yang sudah menempatkan wajahnya pada tempat favoritnya. Dijamin Radit tidak akan terbangun hingga pagi tiba.
Pagi harinya, Echa tersenyum melihat wajah bayi besarnya masih menempel di dadanya. Layaknya bayi yang sedang mencari kehangatan dari ibunya.
Dengan pelan, Echa menarik tubuhnya hingga wajah Radit menjauhi area kesukaan Radit. Beruntungnya, Radit masih terlelap hingga Echa bisa terbebas dari sang bayi besar bergigi tajam.
Echa mengambil bahan-bahan yang ada di lemari pendingin, dengan cekatan dia menyiangi sayuran, lauk serta daging. Pagi ini dia ingin sekali memakan masakan yang berkuah bening.
"Kenapa kamu masak?" Radit sudah melingkarkan tangannya ke pinggang Echa dan mengecup pipi sang istri.
"Aku lagi kepingin makan sop daging sama ikan goreng, Ay."
Radit masih setia memeluk tubuh Echa mengikuti ke mana Echa melangkah.
"Mending kamu mandi, terus kita sarapan. Sebentar lagi masakannya sudah selesai," titah Echa.
Radit mengangguk patuh dan melepaskan pelukannya. "Bikinin kopi, Yang," teriak Radit dari lantai atas.
Echa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah manja suaminya. Bagi Echa ini adalah hal yang wajar karena Radit tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari seorang ibu. Selain istri, Echa juga harus bisa menjadi sosok ibu untuk Radit dan ternyata Echa berhasil.
Radit sudah turun dengan pakaian rapihnya. Minus dasi karena dia sudah terbiasa dipakaikan oleh Abah istri. Lagi-lagi Echa menggeleng, tangannya dengan lincah memakaikan dasi di kerah kemeja sang suami.
__ADS_1
"Makasih, Sayang." Kecupan hangat mendarat di kening Echa.
Radit tersenyum melihat makanan yang tersedia di atas meja makan. Bukan makanan mewah hanya makanan rumahan.
"Mau aku suapin?"
"Sekarang aku yang akan suapin kamu karena udah menjadi suami yang baik untuk aku." Radit pun tersenyum. Terlebih Echa sudah menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulutnya.
"Enak gak?" Radit hanya mengacungkan kedua ibu jarinya.
Rumah tangga Radit terasa lengkap dan sangat bahagia. Sehingga dia sudah menyuruh tukang untuk merenovasi kamar di bawah agar kamar itu bisa mereka tempati. Radit khawatir, jika sang istri harus turun-naik tangga.
"Sekarang kamu yang aku suapin," Radit sudah meraih piring yang baru saja Echa isi dengan lauk dan sayurnya.
"Nanti kamu telat, loh."
"Paling ditegur doang," jawab santai Radit.
Echa hanya menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan cara bekerja otak suaminya.
Radit merasa bahagia ketika Echa makan dengan porsi yang cukup banyak. Dia berpikir apa karena Echa sedang mengandung anak lebih dari satu? Jadi, nafsu makannya meningkat. Setelah selesai sarapan, Echa mengantar sang suami hingga depan pintu rumah.
Radit berjongkok di depan Echa. Kini, wajahnya menghadap perut sang istri.
"Jangan nakal, ya. Kalian harus jadi pelindung untuk Bubu. Baba kerja dulu, ya." Radit mengecup perut Echa tiga kali sesuai dengan jumlah janin yang ada di dalam kandungan sang istri.
Kemudian, dia bangkit dari posisinya. Radit tersenyum ke arah sang istri. Lalu, mengecup kening sang istri kemudian turun ke bibir merah Cherry Echa. Mereka berpagut cukup lama, hingga mereka berdua melepaskannya karena pasokan oksigen yang menipis.
Echa mengusap lembut bibir sang suami dengan senyuman yang merekah.
"Hati-hati, Baba." Radit pun tersenyum mendengar ucapan sang istri.
"Jangan terlalu capek. Langsung istirahat, ya. Aku usahakan pulang cepat."
...****************...
__ADS_1