
Dada Echa turun naik menandakan emosinya sedang membuncah. Ditatapnya wajah sang ayah dengan penuh kemurkaan.
"Kalo gak mampu jangan sok-sokan beli barang branded."
Kalimat itu Echa tujukan pada sang ayah yang sedang menunduk dalam. Wajah Echa sudah merengut kesal.
"Kata Om uangnya ada. Kalo kere ngomong dong. Buang-buang waktu," omel Dena dan berlalu begitu saja.
"Ini gimana jadinya?" Kasir pun bertanya ke arah Rion.
"Biar saya yang bayar," jawab Echa dengan mengeluarkan kartu miliknya.
Echa lebih dulu menitipkan ketiga anaknya kepada sang kakak ipar serta ayah mertuanya. Emosinya sedang tidak stabil.
Tibanya di rumah, Echa benar-benar memasang wajah murka. Merasa dibohongi sudah pasti. Apalagi dengan mudahnya sang ayah membelikan ABG itu tas yang harganya di atas dua puluh juta.
"Mau Ayah apa?" Nada bicara terdengar sangat marah. Namun, dengan emosi yang masih tertahan.
Rion yang tengah terduduk tidak berani menatap Echa. Dia bagaikan anak kecil yang tengah disidang oleh kedua orang tuanya.
Mendengar suara sang kakak yang sedikit keras, Riana dan Iyan bergegas menuju ruang keluarga.
"Ada apa Kak?" Riana dan Iyan bingung akan mimik wajah yang kakaknya perlihatkan. Apalagi, ayah mereka tengah tertunduk.
"Kalo Ayah mau menikah lagi, bilang. Gak usah main perempuan." Ucapan Echa membuat Riana dan Iyan menatap tajam ke arah Rion. Dari dua mata tajam, kini bertambah menjadi enam mata yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Ayah kasihan, dia anak yatim," bela Rion.
"Dia anak yatim, Riana juga anak piatu. Ayah lebih kasihan kepada perempuan itu dari pada kepada anak Ayah?" Kalimat mematikan meluncur bebas dari mulut Echa.
"Sayang, udah. Jangan emosi " Radit mencoba menenangkan Sang istri.
Rion tidak bisa mengelak ataupun menjawab kalimat yang Echa lontarkan. Dia terus menunduk dalam.
"Lihat Echa, Ayah. Lihat Echa." Suara Echa bergetar.
Perlahan Rion mengangkat kepalanya. Menatap lamat-lamat wajah sang putri.
__ADS_1
"Ayah gak kasihan sama Echa. Ayah gak kasihan sama Riana dan Iyan. Ayah gak kasihan sama kami semua?" Air mata Echa kini mengalir deras.
"Echa mengajak Ayah ke sini untuk mengurus Ayah. Membahagiakan Ayah serta kedua adik Echa. Membantu Ayah melupakan masa lalu Ayah."
"Kenapa Ayah seperti ini? Ayah jalan dengan perempuan itu sama seperti Ayah sedang berkencan dengan putri Ayah sendiri," terangnya.
"Sayang, kendalikan emosi kamu. Biar Ayah menjelaskan dulu," ujar Radit.
"Ayah kesepian. Kalian sibuk masing-masing."
Mendengar ucapan sang ayah, Riana. Echa dan Iyan menatap sendu ke arahnya.
"Jika, Ayah merasa kami abai. Itu salah. Jika, Ayah ingin memiliki pendamping biar kami yang carikan," terang Echa.
"Kami sayang Ayah. Ri, sibuk belajar karena Ri ingin membuat bangga Ayah. Kakak sibuk dengan si kembar karena emang itu tugas Kakak," timpal Riana.
"Apa Ayah ingin Echa kembali ke Ausi? Meninggalkan Ayah agar Ayah bisa mendekati perempuan manapun. Apa mau Ayah seperti itu?” Nada bicara Echa sudah mulai lemah menandakan dia lelah.
"Dek ...."
"Sekarang terserah Ayah. Echa tidak akan melarang. Ijinkan Echa pula untuk tinggal di Ausi lagi." Echa meninggalkan Rion menuju kamarnya.
"Semua yang Kakak lakukan sebagai bukti betapa Kakak menyayangi Ayah. Betapa Kakak selalu mengutamakan Ayah dalam hal apapun. Termasuk kebahagiaan Ayah." Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari Riana.
Pagi harinya, Echa dan Radit tidak menampakan diri di meja makan. Membuat Rion kalang kabut sendiri.
"Kakak pergi ke rumah Om Addhitama," kata Iyan sambil mengunyah rotinya.
Rion dapat menghela napas lega. Semalaman di tidak bisa tidur. Ucapan demi ucapan yang dilontarkan Echa terus terngiang di kepalanya. Sungguh, Rion tidak bisa jauh dari putri sulungnya serta ketiga cucunya.
Berniat hanya bermain-main berujung seperti ini. Kapok, itulah yang Rion rasakan. Wajah kucel layaknya pakaian yang belum disetrika Rion tunjukkan di pagi yang cerah ini. Rion tidak banyak bicara. Dia terus menghubungi Echa, tetapi tidak pernah Echa jawab.
"Kenapa lagi?" Arya menepuk pundak Rion dengan pelan.
"ATM gua diblok," jawab Rion. Namun, Arya tertawa puas mendengar pengakuan dari Rion.
"Ketauan jalan sama si Dena." Rion pun mengangguk.
__ADS_1
"'Kan udah gua bilang. Udah jangan, lu malah bersikukuh."
"Echa marah?"
"Jangan bertanya apa yang lu sudah tahu jawabannya," sungut Rion. Lagi-lagi Arya terbahak.
"Apa sih yang lu cari? Anak lu aja masih mampu membiayai hidup mewah lu. Seluruh pendidikan Riana dan Iyan pun sudah dijamin oleh Echa. Lu tinggal uncang-uncang kaki doang padahal," tutur Arya.
"Lu tau gak sih, segimana sayangnya Echa sama lu. Bagaimana perjuangan dia untuk membahagiakan lu. Menarik lu yang udah hampir tenggelam dalam kubangan luka dan kesedihan. Membawa lu ke dalam rumah yang Echa berikan kehangatan dengan rasa cinta dan sayang yang dia utamakan. Lu harus tau, di balik perjuangan Echa ingin membahagiakan lu pasti ada air mata yang menetes di matanya. Ada keluhan yang pastinya terlontar dari mulutnya."
"Lu mau cari kebahagiaan yang gimana lagi? Echa dan Radit bagai malaikat penyelamat untuk lu. Anak baik pasti berjodoh dengan orang yang baik pula. Dan lu beruntung memiliki dua malaikat tidak bersayao itu."
Di kediaman Addhitama, rasa pusing masih menjalar di kepala Echa. Wajah pucatnya nampak terlihat jelas.
"Kamu sakit?" Nesha yang baru saja dari dapur duduk di samping Echa.
"Echa pusing, Mbak."
"Istirahat aja di kamar. Biar Mbak yang jaga anak-anak." Baru saja Echa membuka mulut Nesha sudah mengusirnya.
"Mbak tidak mau suamimu mengeluarkan tanduk," candanya. Echa terkekeh dan naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.
Pikirannya masih melayang-layang ke sana ke mari. Mengingat sang ayah jalan dengan wanita muda membuat Echa memanas. Seolah sedang memergoki suami sendiri dengan selingkuhannya.
Apa kasih sayang yang Echa berikan belum cukup?
Dari lubuk hatinya paling dalam, Echa selalu berdoa agar ayahnya tidak berniat untuk menikah lagi. Dia ingin berbakti kepada ayahnya. Mengurus ayahnya dengan tenaganya sendiri. Namun, mendengar Ayah merasa kesepian membuat hati Echa mencelos.
Aku juga tidak boleh egois.
Echa hanya menghela napas kasar dengan hati yang cukup pedih. Hal yang tidak bisa kembali hanyalah waktu.
*Andaikan, Ayah tidak mengkhianati Mamah.
Andaikan, Ayah tidak dikhianati Bunda*.
Hanya kata Andai yang kini berada di dalam kepala Echa. Berandai-andai dan melamunkan apa yang tidak mungkin bisa kembali.
__ADS_1
Apa salah seorang anak hanya menginginkan kebahagiaan untuk ayahnya?
...****************...