Yang Terluka

Yang Terluka
Mabuk Cinta


__ADS_3

Rifal pulang ke rumah tepat di jam dua pagi. Radit dan Rindra masih setia menunggu Rifal. Ada ketakutan di hati mereka berdua. Tidak pernah mereka melihat Rifal sekecewa ini.


"Dari mana saja, Kak?"


"Kamu ke mana, Fal?"


Tidak ada jawaban dari Rifal. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. Radit dan Rindra tidak bisa banyak bertanya sekarang. Rifal pulang dengan tidak mabuk pun mereka sudah bersyukur.


Keesokan paginya, Radit dan Rindra sudah mengatur agenda untuk pergi ke tempat wisata membawa anak-anak mereka. Namun, Rifal memilih untuk tinggal di rumah saja.


"Kak, ayo ikutlah," pinta Echa. Rifal menggeleng. "Kalian saja, aku di rumah saja."


Mereka semua tidak akan memaksa. Membiarkan Rifal menikmati waktunya untuk sendiri. Rifal tenggelam dalam kisahnya yang selalu kelam.


Rifal membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar dengan mata yang kosong.


"Apa aku harus selalu mengalah?"


Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Rifal. Wajah ringisan Keysha masih terbayang di kepalanya. Wajah Sandy yang dibilang teman oleh Keysha pun sangat menunjukkan rasa sayangnya terhadap Keysha.


Kak, usia Kakak sama Keysha itu berbeda. Jadi, Kakak juga harus bisa mengimbangi sikapnya. Dia masih labil dan membutuhkan kenyamanan serta perhatian. Mencoba lah menjadi pria seperti itu. Sedikit saja perhatian kecil yang Kakak berikan pasti akan membuat dia bahagia.


"Apa aku harus merubah sikapku?" tanyanya pada diri sendiri.


Matanya terlelap kembali karena sesungguhnya dia masih mengantuk. Namun, ketukan pintu kamarnya mulai terdengar membuat Rifal merasa terganggu.


Hanya dengan memakai celana pendek serta kaos hitam, Rifal membuka pintu kamarnya. Dirinya mematung tatkala melihat siapa yang mengetuk pintu. Wajah cantik yang penuh kekhawatiran yang dia tunjukkan.


"Maaf," lirih Keysha sambil menunduk dalam.


Rifal meraih kedua tangan Keysha membuat Keysha menatap ke arah Rifal. Senyum terukir di wajah Rifal. Punggung tangan itu Rifal kecup dengan sangat lembut dan penuh cinta.


"Maaf, aku kurang memberikan perhatian." Mata Keysha sudah berkaca-kaca mendengarnya. Ucapan Rifal persis seperti sang Papih jika sedang meminta maaf.


"Jangan menangis," ucap Rifal, yang kini menarik tangan Keysha ke dalam pelukannya.


"Aku sayang kamu," ucap Rifal yang tengah mengecup ujung kepala Keysha. Tidak ada jawaban, hanya tangan Keysha yang semakin erat membalas pelukan Rifal.


Lama mereka berpelukan, Keysha mulai meringis. "Kenapa, Key?"


Keysha mulai membungkukkan tubuhnya dan mencoba melepaskan sepatu yang dipakainya. Tanpa Keysha duga, Rifal mengangkat tubuh Keysha dan membawanya ke dalam kamar Rifal. Meletakkan tubuh Keysha di atas tempat tidur miliknya.


"Kok makin parah? Kita ke rumah sakit, ya." Keysha menggeleng.


"Jangan ngeyel, ya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu tunggu sebentar. Aku ganti pakaian dulu." Rifal bergegas mengganti pakaiannya di kamar mandi. Setelah itu menggendong Keysha ke bawah menuju mobil.


"Kak, masa Key nyeker?" Rifal pun terkekeh melihat kaki Keysha nyeker sebelah.


"Nanti kita berhenti di toko sendal, ya. Soalnya si Echa cuma bawa sendal swallow yang kena cacar." Ucapan Rifal mampu membuat Keysha tertawa lepas.


Tangan Rifal mulai mengusap lembut kepala Keysha membuat Keysha menatapnya.


"Tawa kamu sangat cantik," puji Rifal.


Wajah Keysha sudah mulai bersemu merah. Rifal menautkan tangannya dengan tangan Keysha. Mengecup punggung tangan itu dengan sangat dalam.


"The next Nyonya muda Addhitama," ujar Tidak seraya tertawa.


Rifak mengendarai mobilnya dengan satu tangan. Satu tangannya dia gunakan untuk menggenggam tangan sang kekasih yang terus melengkungkan senyum. Namun, senyum itu pudar ketika ponselnya berdering. Wajahnya berubah seketika membuat Rifal menginjak rem membuat Keysah sedikit terkejut.


"Siapa?" Keysha menunjukkan layar ponselnya ke arah Rifal.


Tangan Rifal menyentuh gagang telepon berwarna merah. "Aku tidak suka diganggu." Keysha mengangguk mengerti.


Mereka berhenti di sebuah toko sepatu merk ternama. "Kamu tunggu aja di sini, ya." Keysha mengangguk.


Setelah Rifal turun dari mobil, Keysha sedikit kebingungan ketika Rifal tidak menanyakan ukuran sendalnya.


Apa dia tahu?


Tak lama, Rifal membawa sebuah goody bag dan menyerahkannya kepada Keysha.


"Semoga kamu suka." Keysha tersenyum hangat ke arah Rifal.


Ketika dibuka ternyata sendalnya sangat bagus dan juga cantik. Ketika Kesha lihat size-nya dia sedikit terkejut. Dia menatap ke arah Rifal.


"Kakak tahu ukuran kaki Key?" Rifal hanya tertawa.


"Ukuran dalaman kamu juga aku tahu." Wajah Keysha ditekuk sedangkan Rifal terkekeh sambil mengusap pipi sang kekasih.


"Tadi aku lihat ukuran sepatu kamu, Sayang." Hati Keysha berbunga ketika Rifal menyebutnya dengan sebutan sayang.


"Sendalnya pakai dong, jangan dipeluk terus. Harusnya 'kan aku yang kamu peluk," godanya.


"Ih Kakak mah." Tangan Keysha mencubit lengan Rifal hingga dia meringis.


"Sakit, Key. Sakit!"


"Lagian nakal," sungutnya.


Rifal pun melanjutkan perjalannya menuju rumah sakit. Tibanya di sana, Rifal memapah Keysha yang berjalan dengan tertatih.


"Aku ambilin kursi roda, ya." Keysha menolak.

__ADS_1


Tangan Keysha sudah melingkar di lengan Rifal membuat Rifal tersenyum.


"Aku daftar dulu, ya." Keysha mengangguk.


Rifal sengaja langsung datang ke dokter spesialis kulit. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kaki serta kulit Keysha.


Setelah mendaftar, mereka harus menunggu di depan ruang dokter spesialis. Rifal terus menggenggam tangan Keysha. Sedangkan Keysha membaringkan kepalanya di bahu Rifal.


"Udah makan?" Keysha menggeleng.


"Pulang dari sini kita makan dulu."


Setelah menemui dokter spesialis, sesuai dengan ucapan Rifal Merkea pergi makan ke restoran terenak di sana.


"Masih sakit?"


"Sedikit," jawab Keysha yang melingkarkan tangannya di lengan Rifal.


Hari ini Rifal sangat bahagia karena Keysha selalu menempel padanya. Duduk di restoran pun dia tidak ingin jauh dari Rifal.


"Maaf ya, aku udah bikin kamu celaka," sesal Rifal.


Keysha mendongak menatap Rifal, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan salah Kakak. Waktu itu Key lagi ngelamun," sahutnya.


"Makanya jangan ngelamun terus." Rifal menarik hidung Keysha dengan gemas hingga membuat Keysha tertawa.


Rifal menjelma menjadi pria yang sangat romantis. Dia dengan telaten menyuapi Keysha.


"Kakak juga harus makan," imbuh Keysha.


"Iya, nanti aku makan kok. Kamu dulu yang makan," ujar Rifal.


Namun, tangan Keysha sudah menyendokkan makanan yang Rifal pesan dan menyuapkannya kepada Rifal. Ingin sekali momen ini tidak berakhir, tetapi waktu yang terus berjalan seakan memisahkan paksa mereka.


Rifal mengantar Keysha pulang ke rumah. Di sana, Sheza sudah cemas menunggu putrinya didampingi Sandy.


"Key." Sheza dan Sandy terkejut ketika melihat Keysha berjalan dengan berpegangan tangan kepada Rifal.


"Maaf, Bu. Kaki Keysha semakin parah, makanya saya bawa ke rumah sakit tanpa izin Ibu dulu," jelasnya dengan bahasa yang lugas.


"Ya ampun, makasih banyak. Kamu telah menyelamatkan Keysha untuk kedua kalinya," ucap Sheza dengan tulus.


"Sama-sama Bu. Apa boleh saya bawa Keysha ke kamarnya?"


"Tentu saja boleh, tapi kamarnya ada di atas," imbuh Sheza.


Rifal menggendong Keysha layaknya pangeran yang tengah menggendong sang permaisuri dengan gagahnya. Sedangkan tangan Keysha sudah merangkul leher Rifal dan senyuman manis terus melengkung di wajah Keysha seraya menatap Rifal.


Dengan hati-hati, Rifal menurunkan Keysha. Menyelimuti tubuh Keysha dengan selimut tebal.


"Jangan lupa minum obatnya," ucap Rifal.


Keysha mengangguk pelan dan menahan tangan Rifal.


"Temani Key, di sini," imbuhnya.


Rifal tersenyum dan mengangguk. Namun, dia tidak enak hati pada Sheza.


"Aku minta izin sama Mamih kamu dulu, ya." Rifal menuju lantai bawah, sedikit banyak dia mendengar percakapan Sheza dengan Sandy.


"Kenapa Tante percaya sama teman Om itu?" sergah Sandy.


"Tante tahu dia dan keluarganya. Mereka orang-orang baik. Pria itu juga yang menyelamatkan Keysha," terang Sheza.


"Sekarang, biarkan Keysha istirahat dulu."


Lengkungan senyum terukir diwajahnya Rifal. Hatinya kembali lega ketika sudah mendapat lampu hijau dari ibunda Keysha.


Setelah Sandy pergi, Rifal menghampiri Sheza dan membuat Sheza cukup terkejut.


"Bu, Keysha meminta saya untuk menemaninya di kamar. Apa boleh?" Seulas senyum Sheza berikan dan dia pun mengangguk pelan.


Wajah Rifal sangat bahagia dan dia kembali naik ke lantai atas.


"Boleh?" tanya Keysha yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


Rifal mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum. Rifal memberikan obat kepada Keysha untuk dia minum.


"Sekarang tidur ya." Bukannya tidur, Keysha merangkul lengan Rifal dan membaringkan kepalanya di pundak Rifal. Merasakan kenyamanan seperti bahu sang Papih.


"Manja banget sih," goda Rifal.


"Manjanya 'kan cuma sama Kakak doang," imbuh Keysha.


Rifal tertawa, tetapi sejurus kemudian dia menatap sendu ke arah Keysha. Tangannya mengusap lembut rambut hitam Keysha.


"Besok aku harus kembali ke Jakarta." Mendengar ucapan Rifal membuat Keysha tersentak. Dia menegakkan kepalanya menatap ke arah Rifal. Tatapannya membuat hati Rifal teriris.


"Apa harus secepat itu?" tanya Keysha dengan suara lirih.


"Maaf, pekerjaan sudah menungguku di Jakarta," terangnya.

__ADS_1


Mata Keysha sudah nanar mendengar ucapan Rifal. Seketika dia memeluk tubuh Keysha.


"Aku janji, akan selalu menghubungi kamu dan mengubah sikapku. Aku akan lebih peka dan perhatian kepada kamu. Kamu baik-baik ya, di sini."


Mulut Keysha tak mampu bicara. Dia hanya bisa mengeratkan pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma parfum yang dipakai oleh Rifal.


Lama mereka berpelukan, akhirnya Keysha terlelap dalam posisi memeluk Rifal. Ada kesedihan yang mendalam ketika harus meninggalkan Keysha. Apalagi keadaan kakinya belum sepenuhnya pulih. Raut kesedihan masih nampak jelas di wajah Keysha meskipun dia sudah terlelap.


"Maafkan aku, Key. Aku sayang kamu." Kecupan hangat mendarat di kening Keysha sebelum Rifal memilih untuk pulang.


"Udah tidur?" tanya Sheza kepada Rifal.


"Udah, Bu. Sekalian saya mau pamit. Besok saya harus kembali ke Jakarta." Wajah Sheza sedikit terkejut mendengar ucapan Rifal.


"Kami semua harus kembali ke Jakarta. Sudah cukup liburannya di sini."


Tidak ada kata cukup untuk dua insan yang sedang dimabuk cinta. Apalagi, kembali setelah break beberapa hari membuat perasaan Rifal semakin menjadi-jadi kepada Keysha.


Tibanya di rumah, dia disambut hangat oleh keempat keponakannya. Mereka menceritakan keseruan mereka ketika mengunjungi tempat wisata. Apalagi mereka bisa menaiki wahana yang mengasyikan menurut mereka.


"Sepertinya Om kalian juga sedang bahagia," kelakar Echa pada empat balita tersebut.


Rifal menatap Echa dengan tatapan jengah. Lirikan mata malas terlihat di mata Rifal.


"Sekarang kalian semua istirahat. Besok pagi kita akan pulang ke Jakarta," imbuh Rindra.


"Aik cawat agi?" Rindra mengangguk dan disambut sorakan bahagia oleh keempat cucu Addhitama.


"Udah pamitan belum?" Radit menepuk pundak Rifal setelah anak-anaknya masuk ke dalam kamar.


"Udah, tapi besok harus ke sana lagi. Gua mau mencoba jadi pria peka," ujarnya.


"Gitu dong, baru adiknya Rindra Addhitama." Rifal mencebikkan bibirnya. "Adik dari si pria berengsek," timpalnya.


Radit tertawa keras sedangkan Rindra mendengus kesal.


"Yang sempurna dan jadi incaran para calon mertua cuma kamu doang ini, Dit," sungut Rindra.


"Iyalah. Manusia yang kisah percintaannya manis itu cuma aku." Radit membanggakan dirinya sendiri sehingga membuat Rindra dan Rifal menatap jengah.


Malam pun tiba, Rifal masih berbincang dengan seseorang di balik sambungan telepon.


"Udah tidur belum?" tanya Rifal.


"Baru minum obat, Kak. Palingan sebentar lagi tepar."


"Mimpi yang indah ya. Jangan lupa mimpiin aku," ucapnya seraya tersenyum.


"Aku gak mau mimpiin Kakak. Aku inginnya yang nyata."


Mereka pun berbincang ria seperti dunia hanya milik mereka berdua.


"Besok pagi aku harus berangkat. Kamu gak apa-apa 'kan?" Kini Rifal memulai percakapan tentang kepergiannya.


"Walaupun Key bilang, Key kenapa-kenapa. Gak akan merubah keputusan Kakak 'kan?"


Hanya hembusan napas kasar yang mampu Key dengar. Rifal hanya diam dan cukup lama keadaan hening.


"Aku akan mencoba menjadi seperti pria yang kamu inginkan. Aku akan berusaha, Key."


"Tidak usah menjadi orang lain untuk membuat Key bahagia. Jadilah diri Kakak sendiri, itu akan membuat Key lebih bahagia."


Sungguh ucapan yang menghangatkan hati Rifal. Namun, dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan mencoba berubah menjadi manusia lebih peka lagi.


"Makasih, Sayang. Makasih sudah mau mengerti aku dan memberiku kesempatan lagi," tutur Rifal.


"Kesempatan ini kesempatan terakhir untuk Kakak. Kalau Kakak mengecewakan Key lagi, kita akan pisah beneran."


"Jadi. pisah kemarin cuma pisah bohongan?" gurau Rifal.


"Beneran juga, tapi Key gak tega melihat wajah sendu Kakak. Makanya Key mencoba ngasih kesempatan lagi untuk Kakak."


Keysha tidak ingin terlihat bucin di depan Rifal. Sedangkan dalam hati Rifal dia tertawa sangat keras. Bukan hanya dia yang sendu, Keysha pun sama. Ingin sekali Rifal menimpali ucapan Keysha. Akan tetapi, dia teringat akan ucapan Radit.


Wanita selalu benar dan pria selalu salah.


"Baiklah, untuk kali ini aku mengalah," gumamnya dalam hati.


Keesokan paginya, mereka semua sudah berkumpul di ruang bawah. Tinggal menunggu Rifal yang belum keluar kamar.


"Ama nih, nti cawatna tebulu teblang," gerutu Aleesa.


(Lama nih, nanti pesawatnya keburu terbang)


Tak lama kemudian, Rifal keluar dari kamarnya dan mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang berada di sana.


"Pakai alis apa eyeliner Lama benar," cibir Echa. Hanya cengiran yang menjadi jawaban dari Rifal.


Mereka semua sudah keluar dari rumah, ketika satu per satu dari mereka masuk ke dalam mobil. Ada seorang perempuan cantik yang masuk ke halaman rumah. Terlihat tiga pria dan Echa terkejut.


"Keysha?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2