
Si triplets merasa bahagia bisa mengenal Jingga. Wanita yang penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Baru pertama bertemu, Jingga mampu membuat si triplets jatuh hati.
"Kalian benar kembar tiga? Kok yang mirip cuma dua?" Pertanyaan yang mengundang gelak tawa.
"Tuh 'kan Pih. Kak Jingga aja sependapat sama Kal." Satria tertawa dan mengusap lembut kepala Kalfa.
"Jingga, tolong jaga mereka, ya. Saya harus kembali ke kantor." Jingga mengangguk.
"Anak-anak, jangan nakal, ya," ujar Satria.
"Iya, Pih," jawab Kalfa.
"Baik, Om," sahut si triplets.
"Nanti keponakan saya akan menjemput mereka," tutur Satria.
"Iya, Pak."
Setelah kepergian Satria, si triplets benar-benar lengket bersama Jingga. Kalfa hanya mendengkus kesal.
"Seorang laki-laki harus mengalah kepada perempuan." Itulah yang Jingga katakan kepada Kalfa. Anak asuhnya ini sangatlah posesif akan dirinya. Jadi, sebisa mungkin Jingga memberi pengertian kepada Kalfa.
Untung saja Kalfa anak yang mudah mengerti dan tidak selalu memaksakan kehendaknya. Kalfa juga seolah memberikan perhatian lebih kepada Aleena. Sedari tadi Kalfa terus memandangi Aleena yang tengah tersenyum manis.
"Kal, suka sama anak kembar yang wajahnya gak sama itu, ya," bisik Jingga di telinga Kalfa.
Wajah Kalfa bersemu mendengar bisikan dari Jingga, sedangkan pengasuhnya tertawa melihat reaksi Kalfa.
"Masih kecil belum boleh pacar-pacaran. Temanan aja dulu, ya." Kalfa pun mengangguk.
"Em ... Kal gak mau pacaran, mau langsung nikahin Aleena," bisik Kal di telinga Jingga.
Sungguh perkataan Kalfa membuat Jingga tertawa. Anak zaman sekarang udah mau main langsung nikah saja. Padahal menikah itu tidak semanis gula, Ferguzo.
Si triplets sudah seperti memiliki seorang kakak perempuan. Maklum, semua omnya laki-laki. Hanya satu tantenya, tetapi ada di Kota yang berbeda. Apalagi Jingga yang benar-benar mengemong si kembar tiga ini .
"Senang deh, bisa main sama Kakak," ucap Aleena.
"Kakak Sa juga suka sama Kakak," ujar Aleesa.
"Dedek mah sangat senang," kata Aleeya.
Jingga tersenyum dan mengusap lembut rambut si triplets. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika memiliki anak kembar tiga seperti ini. Pasti sangatlah repot.
Sikap Jingga sama halnya kepada Kalfa. Dia hendak menyuapi si triplets makan siang. Akan tetapi, mereka menolak.
"Kami bisa makan sendili," ujar Aleena. Aleesa dan Aleeya pun menyetujui ucapan dari kakak mereka.
Jingga terkejut, anak dari majikannya saja masih sangat manja. Namun, Jingga menurutnya saja. Ketika dia melihat betapa rapihnya mereka makan, Jingga menggeleng tak percaya.
"Kalian pintar banget makannya," puji Jingga.
"Kami diajalakan ... apa Kakak Na kata Bubu," tanya Aleeya.
"Mandili," jawab Aleena.
"Nah itu," lanjut Aleeya.
Jingga benar-benar kagum melihat ketiga anak ini. Dia juga ingin bertemu ibu dari mereka. Sepertinya dia bisa belajar banyak dari ibu dari si triplets.
"Ibu kalian kerja?" tanya Jingga.
"Kakak Jing-jing, kalau sedang makan gak boleh banyak bicala," tukas Aleeya.
Seketika Jingga terdiam mendengar ucapan ketiga anak ini. Sedari tadi ketiga anak ini fokus makan tanpa bersuara.
Setelah selesai makan, mereka meletakkan piring dan gelas di wastafel khusus cuci piring. Itulah yang selalu ibu mereka ajarkan.
"Kalian belum jawab pertanyaan Kakak," ujar Jingga.
"Apa?" tanya Aleena.
"Ibu kalian kerja?" Aleena dan kedua adiknya mengangguk.
"Kalian punya pengasuh?" Ketiganya menggeleng.
"Lalu kalian sama siapa?" tanya Jingga lagi.
"Ada Mbak Ina di lumah," jawab Aleesa.
Ketukan pintu terdengar, Jingga segera membuka pintu. Dilihatnya pria tampan yang sudah berdiri di depan pintu. Mata Jingga tak berkedip ketika melihat pria tersebut.
"Maaf, Mbak. Saya ingin menjemput anak-anak saya," ujarnya.
"Anak-anak?" ulang Jingga.
"Baba," panggil si triplets bersamaan.
Radit tersenyum ke arah ketiga anaknya dengan tangan yang sudah dia rentangkan. Si triplets segera masuk ke dalam pelukan Radit.
__ADS_1
"Baba lama," omel Aleena.
"Maaf, tadi ada rapat penting. Sekarang, ikut ke kantor baba dulu. Nanti Bubu jemput kalian di sana." Si triplets pun mengangguk.
Si triplets kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas mereka. Mereka berpamitan kepada Kalfa dan juga Jingga.
"Makasih kelapa, makasih Kakak Jing-jing," ucap Aleeya seraya tersenyum.
"Terima kasih, sudah menjaga ketiga anak saya," ucap Radit seraya tersenyum.
"Sama-sama."
Dalam hati Jingga, dia menangis keras. Pria tampan di hadapannya ternyata sudah berbuntut tiga. Dia kira masih lajang karena terlihat sangat muda dan tampan. Namun, sayang seribu sayang semuanya hancur dalam sekejap.
"Penasaran sama istrinya," gumam Jingga, ketika Radit dan si triplets sudah pergi.
"Cantik banget dan baik sekali," jawab Kalfa serta tersenyum.
Jingga benar-benar penasaran dengan ibunya si triplets. Ingin sekali dia bertemu dengan Echa.
Di sepanjang perjalanan, mereka bertiga terus bercerita perihal Jingga yang mereka panggil Kak Jing-jing.
"Boleh ya, Ba. Nanti main lagi ke rumah si kelapa," pinta Aleeya.
"Boleh dong, tapi ijin sama Bubu dulu, ya."
"Oke," jawab mereka bertiga.
Bukan hanya kepada Radit mereka bercerita. Kepada Ibunya pun si triplets cerita perihal pengasuh Kalfa.
"Kalian mau punya pengasuh juga?"
Ketiga anak Echa menggeleng kompak. Mereka malah memeluk erat tubuh sang ibu.
"Ingin Bubu aja," ujar Aleena. Echa pun tertawa.
Aska terus mencoba untuk mendekati si triplets, tetapi mereka bagai belut. Sulit sekali digenggam. Memaafkan pun enggan.
"Ayo dong, maafin Om," pinta Aska kepada ketiga keponakannya. Dia rela duduk di bawah kursi di atasnya mereka tengah duduk.
"Om udah tahu salatnya," acuh Aleena.
Aleesa dan Aleeya asyik makan kacang almond. Tanpa mendengarkan omnya yang playboy itu.
"Kalau Om putus sama itu perempuan, nanti dia mati," terang Aska.
Mata Aska melebar ketika mendengar ucapan dari Aleesa. Mentang-mentang keponakannya itu suka hantu jadi seenaknya bicara.
"Jangan begitu dong, 'kan kasihan," ujar Aska.
"Dedek gak kasihan," sahut Aleeya.
Aska ingin menjerit sekencang-kencangnya. Ketiga keponakannya ini sangatlah cerdas. Tak lama berselang, suara seseorang yang si triplets benci terdengar.
"Boleh gak sih, nyuluh Om Uwo buat jadiin itu pelempuan pacal Om Uwo," gerutu Aleeya.
Iyan yang baru saja menghampiri si triplets tertawa. Dia mengusap lembut kepala Aleesa.
"Sok cantik," dengkus Aleena.
Mereka tengah menatap ke arah Christina yang tengah berbicara dengan sang ibu. Aska yang melihat Christina segera berlari ke arah halaman belakang. Dia memilih kabur seperti melihat hantu. Untung saja ada sepeda Pak Yok yang bisa Aska gunakan untuk pergi dari kediaman Echa.
"Nanti saya balikin," ucap Aska sambil melewati Pak Yok.
Pak Yok hanya menggelengkan kepala jika melihat adik dari majikannya itu.
"Lihat cewek cantik seperti melihat hantu. Gimana ngeliat hantu beneran," oceh Pak Yok.
"Pocong item, itu tukang pintu gerbang gak tahu aja kali ya kalau dia juga dikelilingi setan," ucap anteu poci
Lontong berwajah hitam hanya diam. Dia tidak pernah mau diajak bicara. Aska pergi, Beeya pun datang bersama sang papah.
"Yok, cepatlah buka pintunya," omel Arya.
Pak Yok menggerutu kesal di dalam hati. Baru saja Arya datang sudah mengoceh tak jelas.
Beeya segera turun dari dalam mobil ketika mobil sang ayah berhenti di depan kediaman Echa. Sebelum dia naik ke undakan anak tangga yang ada di depan rumah Echa, Beeya berhenti sejenak.
"Om poci dan anteu poci jangan ganggu ya. Orang cantik mau lewat," ujarnya.
Kedua lontong putih itu pun tertawa mendengar ucapan Beeya. Selama mereka berdua berdiri di sana, mereka tidak pernah menganggu siapapun, kecuali orang yang akan berbuat jahat kepada penghuni rumah ini.
Arya menukikkan kedua alisnya. Dia melihat Beeya sedang berbicara sendiri.
Pekikan suara Beeya membuat si triplets berlari. Mereka memeluk tubuh Beeya dengan sangat erat. Di sinilah Christina merasa tak dianggap oleh ketiga keponakan Aska.
"Kak, kata penghuni rumah Aska, Aska ada di sini," tanya Christina.
"Oh dia ...."
__ADS_1
"Udah pergi," jawab Iyan lantang. Dia masih fokus pada gadget di tangannya.
Echa menatap ke arah ketiga anaknya karena sedari tadi Aska sedang berusaha membujuk si triplets untuk memaafkannya.
"Ada hantu, makanya dia kabul," terang Aleena.
Aleesa dan Aleeya terkikik mendengar keterangan dari Aleena. Begitu juga Iyan.
"Bapak lu mana?" Arya sudah masuk ke dalam rumah.
"Lagi di ruang kerja, Om," jawab Echa.
"Laki lu?" tanya Arya lagi.
"Belum pulang, masih banyak pekerjaan."
Arya mengangguk pelan, dia memilih untuk menemui Rion di ruang kerja.
"Bee, Papah ke atas, ya."
Sedari datang Beeya menatap nyalang ke arah Christina. Masih ada rasa benci di hati Beeya.
"Aleesa, Iyan, kalau wanita bunuh diri mereka akan jadi apa?" tanya Beeya di depan Christina.
"Kalau gak Tante kunkun ya Pocica," jawab Iyan.
Maksud dari Tante kunkun adalah kuntilanak dan Pocica adalah pocong. Namun, Iyan mengatakannya dalam bahasa yang tidak menakutkan.
"Serem dong, ya," balas Beeya.
"Secantik apapun ketika dia dia hidup, kalau udah meninggal ya tetep aja pucat. Mau di make-up secantik apapun juga, tetap aja mayat," terangnya.
Omongan Beeya dan juga Iyan sangat menyentil hati Christina. Dia tahu maksud dari Beeya. Pasti Aska sudah menceritakan semuanya tentang dia yang hampir bunuh diri.
"Udah-udah, kenapa bahas begituan sih? Yuk, mending kita makan," ajak Echa.
"Enggak Kak, makasih," tolak Christina.
"Loh kenapa?" tanya Echa bingung.
"Aku lagi diet," sahut Christina seraya tersenyum.
"Sebagus-bagusnya tubuh manusia semasa hidup. Pada akhirnya akan dimakan cacing tanah juga dan akan dikerumuni belatoeng," timpal Iyan.
Christina merasa terkena tekanan mental jika terus-terusan berada di dalam rumah ini. Bukan hanya ucapan si triplets yang mulutnya pedas, adik laki-laki Echa serta Beeya pun bermulut setan.
Orang yang tengah dicari Christina amatlah sedang asyik nongkrong di pinggir jalan yang berumput. Di temani segelas kopi sturbuck keliling yang berada di sana.
"Pasti belum pergi tuh demit," gumamnya.
Menikmati udara malam di luar membuat hatinya tenang. Apalagi ketika dia melihat ke arah langit. Bintang dan bulan saja berduaan, playboy tengik ini malah sendirian. Sungguh miris bukan?
"Kamu ada di mana?" tanya Aska dalam hati.
Di kediaman Echa, Christina terus saja menghubungi Aska. Namun, Aska juga cerdik. Dia mematikan ponselnya agar tak diganggu oleh makhluk astral itu.
"Aku gak mau putus sama kamu. Aku hanya mencintai kamu, Aska."
Kalimat yang Christina ucapkan ketika Aska meminta hubungannya diakhiri. Deraian air mata membanjiri wajahnya, membuat Aska tak tega.
"Kita beda."
Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Aska. Kalimat yang sebenarnya Aska hindari karena sangat sensitif. Namun, kekeras kepalaan Christina yang membuat Aska berkata sangat kejam.
"Ijinkan aku untuk belajar agamamu," balas Christina.
"Agama bukan untuk main-main," tegasnya.
Setelah Aska mengatakan hal itu, ternyata Christina sudah mengambil pisau lipat di dalam tasnya. Aska sedikit terkejut, tetapi dia bersikap tenang.
"Lakukan apa yang mau kamu lakukan," titah Aska.
"Yang akan menyesal bukan aku. Ketika kamu pergi, aku bisa leluasa memilih wanita yang cocok untuk aku." Aska berlalu begitu saja. Tak dia pedulikan Christina. Kepalanya sudah sangat pusing.
Kembali ke rumah Echa, Christina benar-benar tak makan malam. Padahal menunya sangat nikmat. Christina pun sempat tergiur, tetapi dia sedang melakukan perawatan tubuh salah satunya dilarang makan malam.
"Kalau nge-date terus lagi diet. Sia-sia dong nge-date-nya?" Beeya mulai membuka suara.
"Mending kayak Kakak deh, gak pernah namanya diet. Rakus iya," ujar Echa.
"Tuh dengar, Bee. Jangan nyiksa diri. Kalau laki-laki itu tulus mencintai kamu, dia tidak akan mempermasalahkan apapun termasuk berat badan kamu," ungkap Arya.
Sungguh sentilan untuk Christina. Keluarga Aska dan Echa benar-benar bermulut sangat pedas. Melebih bubuk cabe kering.
"Satu lagi, Bee. Kalau kamu suka sama seorang laki-laki, tapi laki-lakinya gak suka sama kamu. Jangan pernah kamu merendahkan harga diri kamu di hadapan pria. Apalagi sampai mengemis cinta."
Jleb.
Sangat menusuk hari Christina ucapan dari Arya itu. Seakan dia tengah menyindir Christina.
__ADS_1