
"Pak, boleh dong dikenalin sama putrinya."
"Pak, putrinya buat saya aja."
"Bapak pasti beruntung mendapatkan menantu macam saya."
Banyak kalimat yang terucap dari para sahabat pengusaha Rifal jika bertemu dengan Azkano. Azkano hanya tertawa ketika mendengar ucapan mereka semua.
"Kamu tidak meminta anak saya juga? Bukankah kamu masih lajang?"
Jika, Rifal tahu anaknya Azkano adalah Keysha. Dia yang akan menjadi orang pertama yang meminta Keysha.
Kenapa gua jadi orang terakhir yang mengenal Keysha? Jadi, Keysha ini yang menjadi 'permata berkilau' milik Azkano?
Rifal memperhatikan bagaimana Keysha bersikap sopan kepada sang ayah.
"Bagaimana, menyenangkan?" tanya Kano pada Keysha.
"No bad," jawab Keysha seraya terkekeh.
Oh God. Senyumnya benar-benar memabukkan.
Kano memicingkan mata ketika melihat Rifal di depannya.
"Pak Rifal," sapa Kano dengan ramah.
"Sungguh kebanggan buat saya bisa bertemu dengan Anda, Pak Azkano," ujar Rifal seraya menjabat tangan Kano.
Berbasa-basi sebentar, berbicara masalah perusahaan dan berlanjut menikmati makanan.
"Oh ya, besok Papih akan terbang ke Singapur. Mungkin untuk tiga hari ke depan."
"Key gak mau ikut, Pih. Key, lelah."
"Kamu sama siapa di sini, Key? Mamih tidak akan meninggalkan kamu sendirian di rumah," tegas Sheza.
"Key di rumah Mommy saja."
Sheza menatap ke arah Kano. Sebuah anggukan bertanda Kano setuju.
"Kaza juga gak mau ikut deh. Kaza mau di rumah Mommy juga. Nanti bisa main sama Iyan," balas Kaza.
Melihat kehangatan keluarga Azkano membuat hati Rifal menghangat. Apalagi kasih sayang yang Azkano berikan kepada Keysha sangat besar.
"Udahan natap anak orangnya, " bisik Radit.
Rifal menatap ke arah Radit tak percaya. Sungguh seperti cenayang.
Setelah tiba di rumah, Radit dan Echa segera meletakkan si triplets di kamarnya. Kemudian, mereka berdua membersihkan badan dan naik ke atas tempat tidur.
"Ay, ada yang aneh gak sih sama Kak Rifal?" Tangan Echa sudah melingkar di pinggang sang suami.
"Aneh gimana?" tanya Radit yang sedang mengecup ujung kepala Echa.
"Pandangannya ke Keysha." Radit mendongak ke arah Radit.
Cup.
Satu kecupan di bibir Radit berikan untuk Echa. "Perasaan kamu aja. Sekarang kita tidur, ya." Radit menarik tubuhnya dan Echa berbaring. Mengecup kening Echa sangat dalam dengan mengucapakan dua buah kalimat yang tidak pernah absen dia ucapkan sebelum tidur.
"Good night, Sayang. I Love you so much."
Di kamar yang bernuansa biru seorang remaja tengah memandangi langit kamar. Matanya enggan terpejam, padahal waktu sudah sangat malam.
"Kak Rifal," gumamnya seraya tersenyum.
Rifal itu teman bisnis Papih. Sering Papih bertemu dengan dia. Dia juga Kakak dari Radit. Orangnya baik dan tegas. Dia satu-satunya teman bisnis Papih yang tidak meminta kamu untuk menjadi pendampingnya.
Keysha menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Pasti sudah memiliki pacar yang sangat sempurna. Tidak akan jauh seperti Kak Echa pastinya."
Umurnya sudah tidak muda lagi. Udah kepala tiga, tapi masih betah melajang. Karir bagus, tampang oke. Seharusnya sudah memiliki pendamping bahkan anak. Usia Papih saja yang baru menginjak empat puluh sudah memiliki anak gadis yang luar biasa cantiknya.
"My first love, Papih."
Tanpa semua orang sadari, diam-diam Rifal selalu mengintai Keysha dari kejauhan. Dari berangkat sekolah hingga pulang lagi. Kegiatan apa saja yang Keysha ikuti Rifal ketahui.
Bersanding dengan Keysha seperti bersanding dengan putri mahkota. Sepertinya tidak mudah.
Keraguan kini muncul dari diri Rifal. Bukan tanpa alasan, Keysha adalah anak yang dididik keras sejak dini. Dia akan menjadi penerus pertama perusahaan serta usaha lain milik keluarga Winarya yang akan jatuh ke tangannya.
Syarat menjadi pendamping anakku itu tidak sulit. Hanya perlu kegigihan. Kegigihan dalam menaklukan hatinya dan kegigihan dalam membahagiakannya. So simple.
"Menikahi bocah judulnya." Rifal mengerang frustasi.
Dia menatap dirinya di cermin. Kedewasaan hadir di wajahnya. Sedangkan Keysha, anak masa kini yang berwajah cantik. Apa cocok? Bukankah nantinya hanya akan menjadi cemoohan dari orang sekitar.
Gila lu! Gak salah? Anak SMA yang baru naik ke kelas tiga? Mau jadi pedofill lu?
Kata-kata dari Sandi lah yang membuat Rifal down dalam sekejap. Rasa percaya dirinya kini hancur sudah.
"Apa salah mencintai gadis SMA?" gumamnya.
Rifal mengacak-acak rambutnya. Pusing memikirkan logika yang bertentangan dengan hati yang sesungguhnya.
Rifal mengambil kunci motor di atas nakas. Pergi dengan hanya menggunakan celana pendek.
"Mau ke mana?" Suara Addhitama terdengar sangat jelas.
"Nyari angin, Pih."
Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Masih sore bagi Rifal. Dia menyusuri jalan tanpa arah. Dia benar-benar ingin menenangkan hatinya.
Matanya memicing ketika melihat dari kejauhan ada beberapa anak laki-laki berhenti di pinggir jalan dan menggoda seorang anak yang masih memakai seragam SMA.
__ADS_1
Rifal menurunkan kecepatan motornya. Matanya melebar ketika melihat gadis SMA itu adalah Keysha.
"Key," panggil Rifal.
Semua anak laki-laki itu mundur. Apalagi melihat wajah Rifal yang sudah merah padam.
"Kakak ...."
Keysha segera berhambur memeluk tubuh Rifal. Degup jantung Rifal sudah tidak beraturan. Apalagi tangan Keysha dengan eratnya memeluk pinggang Rifal.
"Kamu gak apa-apa?" Rifal mencoba mengurai pelukan Keysha. Ternyata Keysha sudah berurai air mata.
"K-Key, takut." Suaranya bergetar.
Anak yang terbiasa pergi dan pulang diantar jemput oleh sopir. Sore ini, harus pulang sendiri. Ponselnya mati karena kehabisan daya dan dompetnya tertinggal membuatnya harus pulang berjalan kaki. Sungguh sial sekali nasib Keysha. Di rumah pun tidak ada siapa-siapa. Mamih dan Papih serta Kaza sedang pergi ke Bandung.
"Jangan takut, ya. Ada aku di sini." Rifal mengusap air mata Keysha yang sudah membanjiri wajahnya.
"Sekarang kita pulang, ya." Keysha mengangguk pelan.
Sebelumnya, Rifal melepas jaket yang dia gunakan. Memakaikannya kepada Keysha.
"Biar tasnya aku yang bawa." Keysha memberikan tasnya kepada Rifal.
"Maaf, cuma pake motor."
"Gak apa-apa." Masih ada rasa takut di wajah Keysha.
Motor melaju dengan sangat pelan. Tangan Keysha yang semula berada di samping tubuh Rifal, kini melingkar di pinggangnya. Membuat jantung Rifal kembali berdisko ria.
Oh God. Bagaimana aku bisa melupakannya. Atau ini jawaban atas keraguanku?
Rifal menghentikan motornya di pinggir jalan. Tepat di tukang nasi goreng gerobakan.
"Kita makan dulu," ajak Rifal.
"Tapi, Kak ...."
"Pasti kamu belum makan 'kan. Nanti aku yang bilang ke Echa. Biar hubungi Papih dan Mamih kamu. Kalo kamu lagi sama aku."
Pria bermulut ember ternyata bisa luluh kepada anak SMA yang lugu. Mulutnya sangat manis seperti biang gula. Namun, kemanisan itu tidak berlebih. Malah pas porsinya.
Rifal memesan dua nasi goreng dengan kepedasan sedang. Sedangkan Keysha masih melamun dan pikirannya entah ke mana.
"Key, makan dulu."
Bukannya memakan nasi goreng yang sudah disajikan. Keysha hanya memandangnya saja tanpa mau menyantapnya.
Rifal hanya mendesah kecil. Dia mengambil sendok yang ada di atas piring.
"Makan, ya. Jangan buat Mamih dan Papih kamu khawatir." Keysha membuka mulutnya dan senyum pun merekah di bibir Rifal.
Begini nasibnya jika memacari anak SMA.
Rifal terkekeh geli di dalam hati. Akan tetapi, dia sangat menikmati. Apalagi, Keysha terlihat sangat menikmatinya.
Keysha mengambil sendok yang sedang Rifal pegang. "Kakak juga makan. Key bisa makan sendiri." Senyum Keysha merekah dan menular pada Rifal.
Tanpa sadar, tangan Rifal mengusap lembut kepala Keysha. Setelah makan selesai, Rifal mengantarkan Keysha ke rumah Radit dan Echa. Di sana lebih aman karena ada Rion juga. Serta ada Riana.
"Keysha." Echa memeluk tubuh Keysha.
"Makasih, Kak," ucapnya pada Rifal.
"Sama-sama, untungnya gua lagi lewat situ," balas Rifal.
"Ngopi dulu, Fal," tawar Rion.
"Maunya susu, Om, tapi yang langsung dari sumbernya." Pukulan mendarat di kepala Rifal yang membuat Rifal tertawa karena telah membuat Rion murka.
"Ganti baju dulu, ya. Pinjam baju Riana." Keysha mengangguk pelan dan meninggalkan semua orang.
Mata Rifal masih tertuju pada sosok Keysha hingga dia menghilang dan tak terlihat lagi.
Waktu sudah menjelang pagi. Akan tetapi, Rifal masih tersenyum sendiri. Baru kali ini dia jatuh cinta bagai orang gila.
"Ketika gua nyuapin Keysha jatuhnya kaya gua nyuapin anak gak sih?" gumam Rifal.
"Gara-gara si Sandi nih. Kepercayaan diri gua hilang begitu aja," dengusnya.
Pagi hari, Rifal menunjukkan wajah yang biasa walaupun Sandi terus melayangkan godaan-godaan kepada Rifal.
"Pak, ada yang mau bertemu dengan Bapak," ucap Susan sekretaris Rifal.
"Siapa?"
"Pak Azkano."
Deg.
Jantung Rifal berdegup sangat cepat. pikirannya berkelana ke sana ke mari. Ada sedikit ketakutan di hatinya.
Mau ngapain?
"Suruh masuk."
Meskipun gugup, Rifal harus bersikap sopan kepada Azkano.
"Selamat siang Pak Rifal," sapa sopan Kano.
"Selamat siang, Pak. Silahkan duduk."
"Saya ke sini mau mengucapakan terima kasih. Anda sudah menyelamatkan putri saya. Dan maaf, jika putri saya merepotkan Anda."
__ADS_1
Hati Rifal benar-benar lega mendengarnya. Senyum pun terukir di wajah Rifal.
"Sama-sama Pak. Kebetulan saya sedang lewat. Saya juga kenal dengan Keysha," jawab Rifal.
"Bukan kenal lagi, malah dijadiin inceran," gumam Sandi.
Mata Rifal melebar ke arah Sandi. Sedangkan Kano hanya mengulum senyum.
"Sebagai ucapan terima kasih saya dan istri saya. Saya mengundang Pak Rifal untuk makan malam di rumah saya besok malam. Itu pun jika Pak Rifal tidak keberatan."
Sungguh gak keberatan. Meskipun ada jadwal padat pasti akan saya batalkan.
Ingin rasanya Rifal menjawab seperti itu. Namun, dia tidak berani. Lebih baik menghadapai sepuluh pesaing bisnis dari pada menghadapi satu calon mertua.
"Bagaimana Pak Rifal?" ulang Azkano. Dari tadi Rifal hanya tersenyum tipis.
"Saya usahakan, Pak."
Jawaban yang terdengar biasa. Namun, hatinya sedang meloncat kegirangan luar biasa.
Ya, harus dilanjutkan perasaan ini.
Persiapan makan malam seperti hendak persiapan lamaran saja. Itulah yang dilakukan oleh Rifal. Mengajak adik iparnya, pergi ke mall untuk memilihkan baju yang cocok untuknya pakai.
"Tumben banget, mau ada acara apa emang?" tanya Echa yang keheranan.
"Ada lah. Lu cukup temenin gua. Pilihin yang terbaik buat gua." Echa hanya mencebikkan bibirnya.
Berkeliling ke sana ke mari. Mencari apa yang cocok untuk Rifal. Keperluan dari ujung kaki hingga ujung rambut Rifal beli semua.
"Kak, emang jadi lamaran?" Pertanyaan Echa membuat Rifal mengerutkan dahinya.
"Lamaran sama anak temannya Papih." Rifal menoyor kepala Echa.
"Kalo gua udah nolak berarti udah gak jadi. Itu otak kaya si Patrick temannya Spongebob." Echa hanya mendengus kesal. Ingin rasanya dia mencekik leher sang kakak ipar.
Setelah mencoba semua barang yang dipilihkan Echa. Rifal terus memutar dirinya di cermin.
"Beda banget, keliatan lebih muda," gumamnya.
Rifal pun keluar dan menunjukkan pada Echa. "Wow, tampan sekali kakak iparku ini," puji Echa dengan mata yang berbinar.
"Serius?" Echa mengangguk dengan cepat.
"Bayar sekarang, Echa mau pulang. Gak enak nitip si triplets terus ke Mbak Nesha." Rifal mengangkat kedua jempolnya.
Setelah sampai parkiran mobil, langkah Rifal terhenti. Membuat Echa menghentikan langkahnya juga.
"Ada apa?"
"Bayaran lu gimana? Katanya lu mau tas Lenteng Agung," ujar Rifal.
"Gampang itu mah. Lain kali aja, kita pulang aja sekarang."
"Tapi ...."
"Echa ikhlas kok bantuin Kakak. Semoga sukses kalo emang bener lagi deketin cewek," potong Echa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Nih anak, pantas aja si Radit gak bisa berpaling dan memilih menunggu. Seribu satu wanita yang kaya gini. Radit sangat beruntung.
"Ayo, Kak." Echa menarik tangan Rifal.
Waktu seakan cepat sekali berputar. Rifal sedari tadi berdiri di depan cermin. Memastikan penampilannya sempurna di malam ini.
Sudah berapa kali dia menyemprotkan minyak wangi ke bajunya. Baju semi formal yang Rifal pakai. Kemeja berwarna abu slim fit yang digulung hingga siku. Serta celana Chino yang berwarna cokelat sungguh menambah ketampanannya.
"Perfect," ucapnya setelah merapihkan rambutnya.
Baru saja turun dari anak tangga. Sebuah lagu ejekan sedang diputar oleh Rindra yang tengah berkaraoke ria.
🎶
Biasanya tak pakai minyak wangi
Biasanya tak suka begitu
"Berisik!"
Rindra dan Nesha hanya tertawa melihat Rifal kesal. Addhitama hanya menggelengkan kepala sambil bermain bersama Rio.
"Mau ke mana? Nge-date?" Kini Addhitama yang bertanya.
"Urusan anak muda, Pih," sahutnya.
"Anak tua bukan anak muda," balas Rindra sambil tertawa.
"Abang laknat!" dengus Rifal. Dia pun segera melangkahkan kaki menuju mobil.
Di dalam mobil Rifal selalu bersenandung. Menandakan hatinya tengah berbahagia. Mobilnya masuk ke salah satu rumah mewah. Di mana di halaman rumah tersebut sudah banyak berjejer mobil-mobil mewah. Kening Rifal pun mengkerut.
Apa ada acara dengan kolega yang lain?
Rifal membenarkan penampilannya terlebih dahulu. Barulah dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ternyata oh ternyata, keluarga Wiguna sudah ada di sana dan tak kalah membuat Rifal terkejut adiknya pun ada di sana.
Mampoes!
"Selamat malam Pak Rifal," sapa Kano.
"Acara baru saja akan dimulai." Kano membawa Rifal menuju meja yang penuh dengan makanan. Dia disambut senyuman penuh arti oleh kedua adiknya. Siapa lagi jika bukan Radit dan Echa.
Sialan!
Tatapannya tidak bisa terlepas terhadap perempuan cantik yang terlihat murung. Seperti sedang dirundung sedih yang mendalam.
__ADS_1
"Acara malam ini sebagai acara perpisahan." Ucapan Kano membuat Rifal melebarkan matanya.
"Keysha akan melanjutkan study-nya di Singapura."