Yang Terluka

Yang Terluka
Seamin Tak Seiman


__ADS_3

Wajah Christina tampak bahagia ketika mendengar ucapan Aska.


"Serius?" Aska mengangguk pelan.


Christina mengeluarkan tisu dari dalam tasnya, dia berniat untuk mengelap wajah Aksa. Namun, tangan Beeya lebih dahulu membersihkan wajah Aska.


"Sepertinya Kakak harus cuci muka. Makanan ini juga udah gak bisa dimakan. Lebih baik Bee antar Kakak cuci muka terus kita cari baju untuk Kakak." Aska menyetujuinya ucapan Beeya. Mereka berdua meninggalakan Christina begitu saja.


"Cewek si Alan!" seru Aska.


Beeya hanya tersenyum, sungguh terlihat jelas penderitaan saudaranya ini. Tidak mereka sangka Christina menunggu mereka di luar restoran.


"Aku ingin pulang bareng kamu, Sayang."


Sungguh kalimat yang menjijikan yang Aska dengar.


"Tidak semudah itu Maesaroh!" balas Beeya.


"Mata lu pecak! Nih orang bajunya basah semua gara-gara makhluk antah berantah macam lu!" sergah Beeya.


Beeya dan Aska memliki sifat yang sama. Ketika mereka tidak suka dengan orang lain, mereka akan melupakan yang namanya sopan santun. Mulut mereka sama-sama pedas.


"Jaga mulut lu, ya!" tantang Chrsitina.


"Percuma lu sekolah tinggi, tapi mau merendahkan diri buat seorang laki-laki."


Jleb!


Sangat menusuk sekali ucapan dari Aska ini. Mulut Christina terkunci mendengar ucapan Aska, sekarang Aska sudah menjauh darinya bersama Beeya.


Christina belum tahu saja bagaimana Aska jika berpacaran. Tidak akan ada yang namanya nge-date ataupun jalan berdua. Hanya sekedar status belaka.


"Kenapa gak suka malah diterima aja?" tanya Beeya penasaran, sambil menunggu Aska memilih baju.


"Dari pada pusing dan dipermalukan di depan umum," jawabnya santai.


Setelah selesai, mereka memilih untuk meninggalkan mall tersebut. Makan makanan pinggiran jalan lebih nikmat. Membantu Beeya sudah selesai, kini waktunya Aska kembali ke rumah setelah Beeya sudah dia antarkan pulang.


Tibanya di rumah, mata Aska melebar ketika melihat Christina sudah ada di rumahnya. Senyuman manis Christina berikan untuk Aska. Namun, Aska hanya bersikap datar.


"Kalian sudah pacaran?" tanya Ayanda heran.


"Sudah, Tante." Christinalah yang menjawab.


Aska menghela napas kasar, dia memilih meninggalakan ibu dan perempuan gila menurutnya. Pusing jika harus melihat wajah Christina setiap hari.


Baru selesai membersihkan tubuhnya, ponsel Aska berdering.


"Dek, tolong jemput si triplets di rumah Opanya, ya."


Suara sang kakak lah yang berada di balik sambungan telepon tersebut.


"Oke, Kak."


Aska akan sangat senang ketika harus menjemput ketiga keponakannya ini. Pelipur lara untuknya. Dia sudah rapi dan membawa kunci mobil di tangannya.


"Mau ke mana?" tanya Ayanda yang melihat putranya selonong boy.


"Jemput si triplets. Abang belum pulang meeting, Kakak masih di Bekasi dan opa mereka ada panggilan dadakan dari rumah sakit."


Ayanda mengangguk mengerti, kesibukan orang tua si triplets kadang membuat ketiga anak itu harua berkelana ke rumah keluarga mereka. Dititip ke sana dan ke sini. Akan tetapi, si triplets malah bahagia.


"Aku ikut, ya."


"Enggak!" tegas Aska.


"Mom, Adek jemput berangkat dulu, ya."


Aska bersikap sangat lembut kepada ibunya, tetapi pada Christina satu patah kata pun sangat sulit untuk Aska ucapkan.


Banyak pertanyaan yang Christina tanyakan kepada Ayanda perihal Aska. Ayanda hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Chrsitina. Bagaimanapun Ayanda tahu Aska seperti apa. Dia tidak akan menerima seorang wanita secara asal-asalan. Apalagi Ayanda melihat sendiri Aska yang bersikap acuh kepada Christina.


Sesampainya di kediaman Addhitama dia bertemu dengan kakak ipar Echa.


"Mau jemput anak-anak?" Aska mengangguk seraya tersenyum.


"Mbak panggilin dulu, ya." Aska pun mengangguk.


Tak berapa lama, ketiga bocah Badung keluar dengan wajah yang sangat gembira.


"Beli es klim," pinta Aleeya.


"Om, gak bawa uang," dustanya.


"Dedek yang bayalin," ucap Aleeya dengan sombongnya.


Aska pun tertawa, jika dari rumah Addhitama pasti ketiga anak ini akan membawa pulang uang cukup banyak.

__ADS_1


"Mbak, aku pulang dulu, ya."


Nesha mengangguk sopan, si triplets pun mencium tangan Nesha.


"Dadah Anteu Mamih," ucap mereka bertiga.


Ketiga bocah itu menentukan sendiri tempat es krim yang ingin mereka datangi. Tak tanggung-tanggung, es krim yang harganya ratusan ribu yang ingin mereka beli.


"The real cucu Sultan," gumam Aska seraya tertawa.


Aska membiarkan ketiga keponakannya memilih es krim apapun yang mereka suka. Topingnya pun sesuka hati mereka.


"Empat ratus sembilan puluh tiga ribu," ucap kasir.


Sungguh luar biasa untuk harga es krim yang mereka makan.


"Uangnya ada di tas Dedek," ucap Aleeya.


Aska membuka tas Aleeya dan paman dari si triplets tersebut menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Sepuluh juta," gumamnya.


Tangan Aska mengambil lima lembar uang lembaran merah dari tas Aleeya untuk membayar empat porsi es krim.


Aska melihat ketiga keponakannya sangat menikmati es krim di sini. Aska akui, es krimnya sangat enak.


"Kalian tahu tempat ini dari mana?" tanya Aska.


"Opa selalu bawa kami ke sini."


Jawaban dari Aleesa membuat Aska tercengang. Kasih sayang yang tiga keponakannya terima sangatlah sempurna.


Setengah jam berlalu, mereka ingin ke toko roti milik sang kakek. Aska mengikuti mereka saja. Toh, mereka bertiga mempunyai uang untuk membeli apa yang mereka inginkan.


Mereka masuk ke A&R bakery. Namun, para pekerja di sana tidak mengetahui bahwa tiga anak balita ini adalah cucu dari pemilik utama toko bakery di mana mereka bekerja.


Echa memang sengaja tidak mempublikasikan ketiga anaknya. Dia tidak ingin ketiga anaknya merasa tertekan akan pekerjaan orang tua mereka.


Lagi-lagi uang yang harus mereka keluarkan sebesar lima ratus ribu. Namun, kini Aleena lah yang menyuruh Aska mengambil uangnya di dalam tas. Sebagai seorang paman dia sangat bangga, mereka saling bergantian untuk mentraktir saudara mereka.


Setelah puas jajan, Aska antar pulang ke rumah mereka. Akan tetapi, mereka menolak. Mereka ingin ke rumah mimo mereka. Ingin memberikan jus buah dan juga roti dan kue yang mereka beli.


Mereka turun dari mobil dengan wajah yang gembira. Namun, setelah masuk dan melihat Christina wajah mereka bertiga malah berubah.


"Hai!" sapa Christina.


Mereka bertiga hanya terdiam, tidak menjawab maupun mencium tangan Christina. Langkah Aska terhenti ketika melihat ketiga keponakannya malah berdiri saja.


Mereka masih bergeming. Tatapan tajam mereka tunjukkan ke arah Christina.


"Cucu-cucu cantik, Mimo," panggil Ayanda.


"Sini, Sayang," panggil Ayanda.


"Iya sini, ayo duduk sama Tante. Pacar barunya Om Aska," ujar Christina.


Sorot mata membunuh si triplets tunjukkan ke arah Aska. Aksa merasa terciduk.


"Kakak Na benci Om!"


Kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Aleena. Dia berlari keluar rumah membuat Aska dan Ayanda melebarkan mata. Langkah Aleena pun diikuti oleh Aleesa dan juga Aleeya.


Dua jinjingan di tangan mereka diletakkan di lantai begitu saja. Mereka benar-benar marah. Aska dan Ayanda berlari mengejar mereka dan menyuruh pihak keamanan rumahnya menutup pintu gerbang.


Aska berhasil menghadang mereka bertiga dan Aska berjongkok di hadapan keponakannya tersebut.


"Maafkan Om."


Mereka masih bergeming, dengan napas yang tersengal Ayanda menghampiri ketiga cucunya.


"Cucu-cucu Mimo, bahaya Sayang kalau keluar sendirian. Nanti ada yang menculik kalian lagi gimana?"


"Kakak Na ingin pulang," tukasnya.


Kedua adiknya pun mengangguk setuju. Ayanda tahu apa penyebabnya mereka menjadi seperti ini.


"Ya udah, kita pulang. Biar Mimo antar."


Ayanda menggelengkan kepala kepadal Aska, menandakan harus mengalah terlebih dahulu. Watak ketiga cucunya ini sangatlah keras. Jika, semakin dipaksa maka mereka akan semakin memberontak.


Ketika ibunya pergi mengantar keponakannya, Aska masuk ke dalam rumah dengan marah yang tak tertahan.


"Lebih baik kamu pulang sekarang!" usir Aska.


"Kenapa kamu usir aku, Aska?" tanya Christina.


"Aku ini ...."

__ADS_1


"HANYA PACAR," jawab Aska penuh penekanan.


Kepala Aska terasa mau pecah. Hubungannya dengan ketiga keponakannya pasti tidak akan berjalan dengan baik. Apalagi, mereka sudah menolak Christina dengan sangat keras.


Cukup sekali Aska berbicara, jika orang itu tidak mendengarnya dia yang akan pergi. Bagi Aska hanya akan membuang tenaga sia-sia jika meladeni orang seperti itu.


Apa yang ditakutkan oleh Aska ternyata benar. Ketiga keponakannya sudah dua hari ini tidak mau bertemu dengan Aska. Mereka tidak mau keluar kamar.


Sama halnya dengan Christina yang sama sekali tidak bisa menemui Aska. Setiap hari Christina selalu datang ke rumah Aska, tetapi Aska selalu tidak ada di rumah.


Hingga di suatu acara, Christina bertemu dengan Gio. Dia menanyakan tentang Askara kepada Gio.


"Maaf, Om jarang ada di rumah. Mungkin Aska sibuk dengan tugas kuliah serta bisnisnya."


Jawaban yang tidak membuat Christina puas. Sebenarnya, Aska sudah dipanggil oleh kedua orang tuanya. Terang-terangan Aska mengatakan memang dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Christina. Apalagi melihat sikap Christina yang pemaksa, membuat Aska semakin tidak menyukainya.


Christo pun mengajak Gio untuk mengadakan pertunangan. Namun, dengan sopan Gio menolak. Dia tidak ingin menjodohkan anak-anaknya. Dia ingin mengikuti kemauan anak-anaknya saja. Sudah bukan zamannya lagi seperti itu.


Malam ini, kesuntukan Asal terobati karena kehadiran Beeya. Wajah cerianya selalu membawa aura positif kepadanya.


"Nongkrong yuk," ajak Beeya.


Aska melihat jam di dinding kamar. Sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia menatap aneh ke arah Beeya.


"Besok 'kan libur," ucap Beeya lagi.


"Ajak Ken sama Juno boleh?" Beeya mengangguk setuju. Sepertinya berteman dengan para jomblowan sangat menyenangkan.


Setelah Ken dan Juno setuju, Beeya dan Aska berangkat ke angkringan tempat biasa mereka nongkrong.


"Emang mau nginep?" tanya Aska.


"Iya, Mamah dan Papah lagi pergi ke Surabaya. Jam tujuh tadi baru berangkat."


Ternyata Upin dan Ipin udah duduk manis di sana. Memesan susu jahe kesukaan mereka.


"Cakep banget saudara lu," ujar Ken.


Beeya hanya tersenyum, tetapi Aska mendengkus kesal.


"Deketin gua tampol lu!"


Mereka pun tertawa, sebenarnya ini bukan kali pertama mereka bertemu. Inilah cara mereka untuk memecah kecanggungan. Beeya malah langsung memilih aneka macam sate untuk dibakar. Sate kulitlah yang menjadi kesukaan Beeya. Bukan hanya itu banyak sate yang dia ambil tanpa menghitung jumlahnya. Itu bukan untuk dimakan sendiri, tatapi untuk mereka nikmati bersama.


Beeya menyeruput minuman Aska tanpa permisi. Kelakuannya ini yang kadang membuat Ken dan Juno menggelengkan kepala.


"Kalau orang gak tahu mah. Kalian disangka pacaran."


Beeya dan Aska pun tertawa bersama. Apalagi Aska yang udah membuka jaketnya dan memakaikan ke tubuh Beeya.


Sate pesanan Beeya pun datang, Ken dan Juno menggeleng tak percaya dengan pesanan Beeya.


"Udah makan, Bee yang traktir," ujarnya.


Mereka menikmati makanan sederhana ini dengan gelak tawa. Namun, semuanya berubah hening ketika seseorang berdiri di sana.


"Kamu jahat!"


Bukan hanya Aska yang kesal. Beeya juga sangat teramat kesal. Dia menarik tangan Christina agar duduk di emperan.


"Jangan buat kegaduhan," ucap Beeya.


Ken dan Juno hanya saling pandang. Mereka sama sekali tidak mengerti.


"Tadi aku ke rumah kamu, kata pernah rumah kamu gak ada. Ternyata malah di sini. Senang-senang dan ketawa-ketawa sama teman-teman kamu tanpa aku," tukas Christina.


Aska tidak menjawab, dia sama sekali tidak ingin memulai keributan. Jika dia sudah tidak suka, selamanya dia tidak suka. Beeya mendengarnya saja sudah ingin muntah. Dia sengaja membuka YouTube. Dia mencari lagu untuk memecah hawa panas yang dia rasakan.


Alunan musik melow terdengar, mereka semua pun terdiam dan mulut Beeya masih asyik mengunyah.


"Udahlah Hen, kita udahan aja. Percuma! Kita gak seiman."


Seperti sindiran keras untuk Christina. Dia pun terdiam, begitu juga dengan Aska.


"Cinta menyatukan kita yang tak sama. Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam. Berjalan salah berhenti pun tak mudah. Apakah kita salah?"


Beeya menyanyikan lirik yang ada di lagu tersebut.


"Lagu si Mahen 'kan?" Beeya mengangguk ke arah Juno.


"Oh ... yang judulnya seamin tak seiman," tambah Ken.


"Yap," jawab Beeya yang masih mengunyah.


"Kalau lu dapat pacar gak seiman gimana?" Ken malah mempertanyakan hal tersebut kepada Beeya karena Ken memang tak tahu ada hubungan apa antara Aska dan perempuan di samping Beeya.


"Tergantung sih, kalau dia mau ikut ke iman yang Bee pegang teguh sih gak masalah. Kalau dia nolak juga ya udah, lebih baik berakhir. Di dalam satu atap jika imannya hanya ada satu itu pasti akan menjadi pondasi yang lebih kuat. Sejalan dan satu arah tujuan," terang Beeya.

__ADS_1


Plak!


Seperti tamparan keras untuk Christina.


__ADS_2