
Aleesa pun dipindahkan ke ruang rawat inap. Aleesa menolak ketika jarum infus akan ditusukkan ke tangannya.
"Dak au!" serunya.
"Kakak Sa, harus diinfus, ya. Kalau Kakak Sa nolak, kita gak jadi lihat pinguinnya."
Echa mulai membujuk Aleesa dengan sangat lembut. Walaupun, Aleesa bukanlah anak yang dengan mudah diimingi-imingi apapun.
"Coba sini bilang ke Opa, apa yang Aleesa inginkan." Addhitama mulai mendekat ke arah Aleesa. Sedangkan tangan yang satu diraih oleh dokter.
"Au es klim, totelat, totis, dula-dula--" Aleesa pun menyebutkan keinginannya satu per satu. Jika, ditulis akan lebih dari satu lembar kertas folio.
"Huwa!" Aleesa pun menangis ketika mendapati tangannya sudah terpasang jarum infus.
Semua orang tertawa, Addhitama mengalihkan pikiran Aleesa sehingga dia tidak merasakan sakit ketika jarum infus ditusukkan.
"Jangan nangis dong, nanti Om beliin boneka yang paling besar," imbuh Rifal.
"Tata Na au, Om."
"Dedek Ya, uga."
"Iya, nanti semuanya Om belikan. Asalkan Aleesa jangan nangis." Rifal mengusap lembut kepala Aleesa.
Semua keluarga Echa dan Radit sangat bahagia melihat Aleesa hidup kembali. Bisa dikatakan, dia hanya mati suri. Takdir Tuhan memang tidak bisa kita duga.
"Sayang, kamu istirahat dulu, ya." Radit tidak tega melihat wajah Echa yang sembab dengan mata panda yang melingkar di bawah matanya.
"Enggak, Ay. Aku mau jagain Aleesa."
"Kak, kamu harus sehat gak boleh maksain diri. Kasihan anak-anak kamu loh. Mereka masih membutuhkan kamu."
"Papih akan memindahkan Aleesa ke ruang VVIP yang lebih besar. Biar ada tempat tidur lagi buat istri kamu dan ketiga anak kamu," ujar Addhitama.
Semuanya akan Addhitama lakukan. Apalagi, masih ada dua anak Echa yang lain yang membutuhkan Echa dan tidak bisa jauh darinya. Semua yang diminta Aleesa dituruti oleh semua orang. Ingin ini dan itu selalu mereka belikan. Bukannya Aleesa yang menikmati, tetapi kedua saudaranya lah yang asyik menikmati makanannya.
"Echa tidur, Dit?" Ayanda bertanya kepada menantunya yang baru saja keluar dari kamar khusus untuk Echa.
"Iya, Mah. Kasihan, dia lelah banget."
Radit mendudukkan dirinya di sofa. Dia menatap Aleesa yang tengah tertidur dengan diapit oleh kedua saudaranya yang lain.
"Tidak mudah mengurus anak kembar tiga. Beda kasusnya dengan Mamah. Meskipun Echa sakit, tetapi Mamah tidak memiliki anak yang lain."
Radit mengangguk mengerti. Tatapannya masih tertuju pada ketiga putrinya.
"Radit takut, Mah. Ketika Aleesa dinyatakan tidak selamat, satu hal yang Radit takutkan. Echa trauma kembali," terangnya.
Ayanda mengangguk mengerti. Dia menghela napas berat, tangannya mengusap lembut pundak Radit.
"Jangan pernah tinggalkan dia. Apalagi sampai mengecewakan dia. Sedikit saja luka yang kamu goreskan, akan membuat semua orang murka. Kamu tahu 'kan, Echa adalah anak yang disayangi banyak orang. Tanpa kamu pun, untuk mengurus ketiga anaknya Echa masih mampu. Jangan lakukan kesalahan yang akan membuat Echa sakit terlalu dalam."
"Kamu lihat bagaimana perjuangan Echa ketika melahirkan ketiga anakmu. Kamu masih ingat 'kan bagaimana perjuangan Echa setiap malam. Dari usia kandungan Echa enam bulan, geraknya sudah sangat terbatas."
Ingatan Radit kembali ke dua tahunan yang lalu. Di mana sang istri tidak bisa tidur setiap malam. Tidak bisa memakai celana dan berlama-lama duduk.
"Sayang, kok kamu belum tidur?" Echa yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang hanya dapat menggeleng.
Bukannya dia tidak mengantuk, tetapi perutnya yang semakin membuncit membuatnya serba salah. Apalagi, tendangan ketiga anaknya cukup membuat dia meringis kesakitan.
"Sayang," panggil Radit yang kini ikut bersandar di kepala ranjang.
"Aku gak bisa tidur, Ay. Engap."
Radit terkejut ketika mendengar ucapan Echa.
"Setiap malam kamu seperti ini?" Echa mengangguk.
"Kenapa gak bilang sama aku?" sergah Radit.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membangunkan kamu, Ay. Kamu udah capek kerja. Aku gak mau bikin kamu kurang tidur."
Hati Radit sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Echa. Dia berhambur memeluk tubuh istrinya. Mengecup ujung kepala Echa berkali-kali. Mulutnya tak henti mengucapkan kata maaf.
"Sayang, aku berhak tahu apa yang tengah terjadi dengan kamu dan juga ketiga anak kita. Jangan sembunyikan apapun dari aku, ya."
Tatapan memohon Radit membuat mata Echa berkaca-kaca. Sangat beruntung memiliki suami seperti Radit ini. Pengertian, perhatian dan sangat baik.
"Sekarang kamu tidur, ya."
"Aku gak bisa rebahan seperti itu, Ay," tolak Echa.
Dia menurunkan kedua kakinya. Langkahnya tertatih menuju sofa. Radit pikir, Echa akan duduk di atas sofa. Ternyata salah, istrinya duduk di karpet bawah sofa. Menyusun bantal sofa untuk menyangga pinggangnya. Radit segera turun dan duduk di hadapan sang istri. Meminggirkan meja yang ada di sana.
"Sayang, nanti leher kamu pegal."
"Hanya dengan seperti ini aku tidur, Ay." Mata Radit melebar. "Jadi--"
"Setelah kamu terlelap, aku akan pindah ke sini. Tidur di sini. Itu pun hanya beberapa jam. Tendangan anak-anak kita membuat aku selalu terjaga. Inilah alasannya jika siang aku gak bisa membuka mata. Kalau siang mereka sangat anteng, tetapi kalau udah tengah malam seolah mereka ingin bermain denganku."
Radit benar-benar menyesal mendengar ucapan Echa. Pernah dia memarahi Echa karena Echa sama sekali malas bergerak dan hanya berbaring di kamar.
"Kenapa kamu malas banget sih. Ibu hamil itu harus banyak gerak," bentak Radit pada waktu itu.
Echa yang baru saja memejamkan mata terpaksa harus membuka matanya kembali. Sorot mata penuh kemarahan terlihat jelas di wajah Radit.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Echa ucapkan.
Radit memaksa Echa untuk bangkit dan mengajaknya berkeliling komplek. Baru saja beberapa langkah, sebenarnya Echa sudah tidak kuat. Namun, dia tetap memaksa dan pada akhirnya timbul kontraksi palsu dan membuat Radit ketakutan. Setelah dokter menjelaskan semuanya, lagi-lagi Radit membentak Echa. Menyuruhnya untuk tidak menjadi ibu hamil pemalas.
Bentakan Radit menimbulkan kesakitan yang cukup mendalam. Akan tetapi, Echa mencoba untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak mau jika emosinya berdampak buruk kepada ketiga buah hatinya. Setiap malam, Echa tidak bisa tidur dan setiap siang juga Echa tidak boleh tidur oleh sang suami dan harus banyak bergerak katanya.
Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Radit jika harus mengingat semuanya. Penyesalan dan kebodohannya hampir saja mencelakai istri dan ketiga anaknya.
***
Pesan sang mamah mertua akan selalu Radit ingat. Malam ini, hanya Radit dan Echa yang menemani Aleesa di rumah sakit. Ada juga Aleena dan Aleeya yang tidak ingin jauh dari Aleesa.
Kebiasaan mereka tidur bertiga membuat mereka tidak ingin terpisahkan.
"Biarin aja, Ay. Kasurnya sangat muat kok untuk mereka bertiga."
Mereka pun terlelap setelah Radit membacakan dongeng sambil meminum susu.
Sedangkan Echa, dia sudah terlelap di sofa. Wajah lelahnya sangat terlihat jelas, gurat-gurat kesedihan masih membekas di wajahnya. Radit sedih melihat wanita yang dia perjuangkan mati-matian harus menderita seperti ini.
"Setelah Aleesa sembuh, aku akan membawa kamu berlibur. Merubah wajah sendu kamu menjadi wajah yang penuh dengan keceriaan. Aku janji, Sayang."
Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Dia menyelimuti tubuh Echa yang sudah terlelap. Sedangkan dia, menyandarkan tubuhnya di pinggiran sofa sambil melihat ke arah ketiga anaknya.
Pintu kamar perawatan Aleesa terbuka, Rifal yang tidak bisa tidur memutuskan untuk menemani keponakannya di rumah sakit. Dia melihat pemandangan yang sangat mengharukan. Di mana ketiga keponakannya tertidur dengan saling memeluk dan sang adik, tidur dengan bantal yang sama dengan istrinya. Meskipun, posisi Radit tidur dengan posisi duduk di lantai. Tangan Radit berada di atas kepala Echa seperti sedang mengusap lembut rambut istrinya.
"Gua senang, sekarang lu bisa mendapatkan kebahagiaan."
Bibir Rifal melengkung dengan sempurna. Dia lah yang menjadi saksi bisu akan kemalangan yang menimpa Radit sedari kecil hingga dia remaja sebelum bertemu dengan Echa. Doa yang selalu dia panjatkan adalah menginginkan adiknya terlebih dahulu menikah dari pada dia yang menikah. Bukan tanpa alasan, jika Rifal yang menikah duluan, dia tidak akan bisa memperhatikan Radit dengan sepenuhnya. Tanpa siapapun tahu, Rifal lah yang selalu memantau Radit dengan mata-mata yang dia kirim. Rifal menginginkan Radit bahagia dan tidak mendapatkan luka tak kasat mata lagi.
Karena alasan itulah, Rifal ditinggalkan oleh mantan kekasihnya dan lebih memilih menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Rifal mengerti, wanita butuh kepastian. Sedangkan dia tidak berani memberikan sebuah kepastian karena adiknya belum mendapat kebahagiaan.
Ditambah lagi, abangnya pun sudah mendapatkan kebahagiaan. Menikahi gadis yang Rifal acungi empat jempol karena sudah sabar bertahan dengan pria yang sangat berengsek. Ditambah kehadiran Rio membawa perubahan yang sangat besar untuk abangnya.
"Sekarang, sudah saatnya gua bahagia," gumamnya pelan.
Rifal mendudukkan diri di sofa single sambil menatap ke arah tiga keponakannya yang sangat menggemaskan. Dia juga tidak menyangka bahwa Aleesa bisa hidup kembali. Seperti di film-film horor. Perlahan, mata Rifal pun terpejam dengan posisi duduk.
Pagi harinya, Radit dan Echa terkejut sudah ada Rifal tertidur di sofa single dengan dengkuran kerasnya.
"Kapan datangnya?" Radit mengangkat bahunya menandakan dia juga tidak tahu.
"Untung anak-anak gak kebangun ngedenger dengkuran gorilla ini." Echa terkekeh mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Kamu bangunin Kak Rifal, kasihan. Pegal kalau lama-lama tidur seperti itu. Aku mau mandi dulu," ujar Echa.
"Masih pagi banget, Yang."
"Gak apa-apa, Ay. Sekalian aku mau sholat subuh."
Jam enam pagi, ketiga anaknya bangun dengan wajah yang sangat ceria. Radit dan Echa pun ikut senang melihat ketiga anaknya seperti ini.
"Bubu, mam bubuy."
Echa pun tertawa mendengar permintaan Aleesa. Bangun tidur yang dia minta adalah makan.
"Kakak Sa lapar?" Aleesa mengangguk.
"Akan Baba belikan ya, tapi kalian harus dilap dulu biar gak bau asem." Radit mencium ketiga anaknya yang dan pura-pura kebauan, sehingga membuat anaknya tertawa bahagia.
"Jangan berisik, Nak. Om sedang tidur," tunjuk Echa ke arah Rifal yang sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
Setelah mengelap tubuh ketiga anaknya, Radit pergi ke luar rumah sakit untuk membeli bubur pesanan Aleesa. Ketika dia kembali ke kamar perawatan Aleesa, matanya melebar ketika sudah tidak ada ketiga anaknya di sana. Hanya ada si gorilla yang sedang mendengkur keras.
Wajah Radit mendadak cemas, dia segera menghubungi sang istri. Namun, tidak ada jawaban. Radit meletakkan bubur ayam begitu saja. Dia bergegas mencari ketiga anaknya dan juga istrinya. Rasa takut sudah menyelimuti hatinya.
"Kalian ke mana?" gumam Radit.
Tak sengaja, dia berpapasan dengan seorang perawat yang sering memeriksa Aleesa.
"Sus, pasien anak atas nama Aleesa ke mana ya? Di kamarnya tidak ada."
Ucapan Radit tidak ada titik dan koma membuat perawat itu mengulum senyum. Apalagi wajah tampan Radit yang sedang panik membuatnya semakin cute.
"Jangan khawatir, Pak. Anak-anak Bapak sedang berjemur di taman. Sama mamahnya juga kok."
Radit berlalu begitu saja meninggalkan perawatan yang hanya bisa menggelengkan kepala. Tibanya di taman, hati Radit sangat lega. Apalagi melihat kedua anaknya tengah berlarian sedangkan Aleesa harus duduk di kursi taman karena di punggung tangannya masih tertancap jarum infus.
"Kenapa gak hubungin aku?" Sebuah kecupan mendarat di ujung kepala Echa.
"Aku gak bawa ponsel, Ay."
Radit jongkok di depan Aleesa. Mengecup punggung tangan Aleesa dengan penuh cinta.
"Kakak Sa mau makan di sini?" Aleesa mengangguk.
"Baba belikan lagi, ya." Aleesa tersenyum, kemudian merangkul leher sang ayah dan mencium pipinya.
"Tata Sa, tayang Baba."
Kalimat sederhana yang mampu membuat Radit berkaca-kaca.
"Baba juga sayang Kakak Sa." Radit memeluk tubuh putri kecilnya ini.
Echa mengusap ujung matanya yang tiba-tiba berair. Pemandangan yang sangat mengharukan.
"Aku beli bubur lagi, ya." Dahi Echa mengkerut. "Bukannya tadi udah beli?"
"Aku taruh di kamar perawatan. Dari pada balik ke sana mending aku beli lagi." Echa menerima kecupan hangat lagi dari suaminya.
Radit membawa bungkusan yang berisi beberapa steroform bubur ayam untuk anak dan istrinya makan. Radit menyuapi ketiga anaknya dengan sangat telaten. Dia juga menyuapi istrinya.
"Aku janji, setelah Aleesa sembuh total kita akan menikmati waktu berlima bersama anak-anak."
Echa memeluk tubuh Radit begitu juga dengan ketiga anaknya yang ikut memeluk tubuh sang ayah.
Dari kejauhan, Ayanda, Rion dan Gio mengukirkan senyum penuh kebahagiaan. Mereka belum siap kehilangan salah satu cucu mereka. Melihat anak kesayangan mereka yang sangat bahagia dengan suami dan ketiga anaknya membuat mereka lega. Echa si anak yang banyak menyimpan luka, kini menemukan pendamping hidup yang sangat sempurna. Mampu mencintai Echa dengan sangat tulus. Menerima kekurangan Echa dan mampu menyempurnakannya dengan kelebihan yang Radit miliki.
Sedangkan di ruang perawatan Aleesa, Rifal menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Dia melihat jam di tangannya. Sudah terlambat memang, tetapi hari ini dia sangat malas untuk pergi ke kantor. Memilih bolos kerja dan bermain bersama ketiga keponakannya. Penampilan yang acak-acakan setelah bangun tidur tak dia hiraukan. Dia malah menyandarkan tubuhnya di kepala sofa dengan mata yang terpejam.
Suara pintu terbuka membuat Rifal acuh. Siapa lagi jika bukan adiknya yang masuk ke kamar ini, pikirnya.
"Kak Rifal?"
__ADS_1
Suara itu membuta Rifal segera membuka mata. Ada empat orang yang sudah berdiri di depan pintu. Mereka sudah menggelengkan kepala.