Yang Terluka

Yang Terluka
Aksi Berhasil


__ADS_3

Arya memijat kepalanya yang sudah pusing kini malah semakin pusing. Sepuluh anak ini tidak ingin pergi dari rumahnya. Mulut Arya terus mengumpat kesal kepada putri semata wayangnya.


Di kediaman Giondra, Beeya sudah berpamitan kepada Gio dan Ayanda. Beeya datang ke rumah Aska seorang diri karena sang ibu sedang berada di Singapura untuk mengurus perusahaan kakeknya.


"Kak, antar Beeya gih. Dia disuruh pulang sama papahnya."


Aska yang mendapat perintah dari sang mommy segera bangkit dari duduknya. Dia meninggalakan Ken dan Juno yang baru saja datang. Christina hanya memandangnya dengan tatapan sinis. Christo pun merasa bahwa Aska semakin menjauhi Christina ketika dia mengatakan tujuannya sebenarnya.


Sesampainya di kediaman Arya, Beeya dan Aska saling tatap.


"Pacar-pacar kamu?" tanya Aska.


"Ya, sepuluh pacar Bee."


Mulut Aska menganga mendengar penuturan Beeya. Sepuluh? Sungguh luar biasa adik sepupunya ini. Ada ide jahil di otak Askara. Ketika Beeya sudah turun dari mobil, dia ikut turun juga.


Beeya segera dihampiri oleh sepuluh anak laki-laki tersebut, membuat Beeya berdecak kesal.


"Mundur!"


Kesepuluh anak itu pun bagai anak ayam. Mereka mematuhi ucapan Beeya. Aska datang dan merangkul pundak Beeya.


"Ayo, Sayang."


Sontak mata kesepuluh anak laki-laki tersebut melebar. Apalagi mereka melihat bahwa pacar kesebelas Beeya lebih dewasa dan lebih tampan dari mereka. Kendaraan yang dibawanya pun mobil mewah.


Tanpa rasa bersalah dan tanpa berucap sepatah dua patah kata pun, Beeya masuk ke dalam rumahnya dan segera mengunci pintu. Aska pun tertawa terbahak-bahak, tetapi seorang pria dewasa tengah menatap putrinya dengan tatapan tajam.


"Jelaskan!"


Beeya hanya berdecak kesal. Wajah Arya di mata Beeya tidak ada garang-garangnya. Dia lebih takut kepada ibunya dibandingkan kepada ayahnya.


"Kayak gak pernah muda aja," jawab Beeya.


"Tapi itu sepuluh, Bee," tekan Arya.


"Lalu? Apa salahnya? Hanya status saja," terang Beeya.


Arya menghela napas kasar. Apa yang dikatakan oleh Beeya memang benar. Beeya memiliki sepuluh pacar, tetapi anak yang sering menjemput dan mengantar Beeya hanya satu orang. Anak itu tidak ada dalam gerombolan anak-anak di depan.


"Papah 'kan tahu, Bee itu gak enakan orangnya. Ketika ada yang suka sama Bee, terus nembak Bee ya udah Bee terima. Asal dia mau menjadi pacar Bee yang kesekian, simple 'kan."


Arya mengurut keningnya yang sangat pusing. Sugguh dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Beeya. Ketika ngidam memang dia senang mengerjai Echa, tetapi Echa adalah anak yang sangat berhati-hati ketika dekat dengan laki-laki. Sedangkan putrinya?


Aska tertawa melihat anak dan ayah ini tengah berdebat kecil. Dia malah memilih masuk ke dapur mengambil minuman dingin yang selalu tersedia di lemari pendingin Arya.


"Kamu pasti ngikutin playboy tengik ini 'kan," hardik Arya, sambil menunjuk Aska.


"Ngapain Adek dibawa-bawa," decak Aska.

__ADS_1


"Itu anak Papah,” sergah Arya lagi.


"Dengar ya, Pah. Di keluarga Wiguna ada playboy tengik, me Askara. Di keluarga Winarya ada playgirl somplak, Beeya. Bukankah itu lengkap?"


"Sompral!!" Pekik Arya dan membuat Beeya dan Aska tertawa.


Di kediaman Gio Christina masih menunggu Aska, tetapi Aska tak kunjung kembali. Lagi-lagi hatinya kecewa. Raut wajahnya pun sudah murung. Melihat putrinya seperti ini, Christo berinisiatif untuk mendatangi Genta. Dia pasti akan bertindak.


Tengah malam, Aska baru kembali ke rumah. Gio sudah menunggunya di ruang tamu.


"I don't like her."


Sebuah kalimat yang Aska berikan. Gio juga melihat bahwa Aska sedikit tertekan dengan keadaan ini.


"Try," balas Gio.


"Apa cinta untuk dicoba-coba?" tanya Aska.


"Adek gak suka dengan yang namanya perjodohan. Sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya. Adek juga masih kuliah, Adek masih ingin mengembangkan usaha. Adek akan menikah setelah Abang bahagia, itu pun dengan wanita pilihan Adek sendiri."


Aska meninggalakan ayahnya begitu saja. Gio hanya sedikit berbicara, tetapi Aska mampu membaca semuanya. Dia pun tidak ingin berdebat dengan sang ayah di tengah malam begini.


Aska merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Dia memejamkan mata karena masih terngiang akan ucapan pengacara Christo.


"Selalu menggunakan kekuasan," dengusnya kesal.


Inilah alasan Aska tidak ingin dikenal oleh para kolega dari ayahnya. Pasti banyak yang akan melakukan hal ini. Aska sangat membencinya.


"Huhuhu."


Suara tangisan yang Aska dengar dari balik sambungan telepon. tersebut. Dahi Aska mengkerut, dia bingung dan cemas. Dia sangat hafal bahwa itu suara dari ketiga keponakannya.


"Dek, ke rumah Abang sebentar," pinta Radit.


"Mereka kenapa?" tanya balik Aska.


"Ke sini aja dulu. Kasihan Kakakmu sudah kelelahan mengurusi tiga anak ini."


Aska segera keluar kamar dan menuju rumah sang kakak yang berada di samping rumahnya. Ketika dia masuk, Kakaknya sudah memakai koyo di pelipisnya karena tangis ketiga keponakannya sungguh mengganggu.


"Kenapa kok nangis?"


Si triplets segera memeluk tubuh Aska dan menangis di dalam pelukan sang paman.


"Jangan menikah dengan perempuan itu. Kakak Na gak suka," ujar Aleena.


"Dia gak baik untuk Om," tambah Aleesa.


"Dia B Aja untuk Om," timpal Aleeya.

__ADS_1


Aska mengulum senyum mendengar protesan ketiga keponakannya ini. Sungguh di luar nalar Aska. Dia mulai mengurai pelukan ketiga keponakannya. Tangannya mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi mereka.


"Dengar Om, ya. Itu hanya rencana. Om juga belum menjawabnya 'kan." Ketiga anak Echa terdiam.


"Tapi, Kakak Na gak suka," tolaknya lagi.


"Kakak Na, apa Kakak Na melihat Om menyukai perempuan itu?" tanya Aska serius.


Aleena hanya menggedikkan bahunya. Menatap Aska tajam.


"Om 'kan buaya. Kakak Na Mana tahu."


Jawaban Aleena mampu membuat Echa dan Radit tertawa terbahak-bahak. Jenius sekali anak pertama mereka.


Di lain tempat, Christo tengah menghubungi Genta. Membahas perihal Christina dan juga Askara.


"Hahahaha ... kita berbeda," tukas Genta.


Inilah yang tidak Christo suka, Genta pasti akan membahas hal teramat sensitif. Padahal banyak di luaran sana yang menikah berbeda agama. Akan tetapi, Genta tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia ingin cucunya dan pasangannya sejalan dan seiringan. Bukan malah berbeda jalan.


Keesokan paginya, ketika Aska sedang menikmati sarapan pagi datanglah Christina dengan membawa puding di tangannya.


"Tumben sekali?" tanya Ayanda.


"Iya, sekalian lewat, Tante."


Aska hanya menghela napas kesal, dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran Christina.


"Mau minum apa?" tanya Ayanda kepada Christina.


"Teh aja, Tante."


Secantik apapun Christina bersolek, dia tidak pernah ada di mata Aska. Seakan mata Aska sudah buta akan semuanya. Ayanda menyuruh pelayanan untuk membuatkan teh hangat. Ternyata tiga keponakan Aska sudah berada di dapur karena tadi mereka ikut pelayan yang datang ke rumah mereka.


"Anak-anak baik, Mbak bikin teh dulu buat calon istri dari den Askara, ya."


Mendengar kata calon istri, si triplets mengintip sedikit. Apa yang dikatakan oleh Mbak pelayan ini benar, ada Christina di ruang makan. Teh sudah diletakkan di atas nampan. Akan tetapi, pelayan itu harus membuatkan Susu untuk Aleeya yang sudah merengek. Aleena melihat ada botol putih plastik yang atasnya mengerucut. Dia ingat, itu cairan yang suka ada di pedangan bakso.


"Jangan pakai ini, ya. Ini asam."


Aleena masih ingat akan ucapan sang bubu, dengan senyum penuh kelicikan dia menuangkan cairan itu sesuka hatinya. Dia menutup mulutnya yang tengah tertawa. Setelah pelayan membuatkan susu untuk Aleeya, dia kemudian membawa nampan tersebut ke ruang makan. Memberikannya kepada Christina.


"Cepetan minum!" titah Aska.


Ya, sudah Aska tebak bahwa kedatangan Christina hanya untuk menumpang kendaraan kepada Aska. Wajah tidak suka nampak terlihat jelas.


Christina meminum teh yang dibuatkan pelayan. Matanya melebar ketika rasa teh itu sangat kecut. Dia segera berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Ayanda segera berlari mengikuti Christina, tidak dengan Aska yang tidak peduli.


Ketiga anak yang bersembunyi di bawah kolong meja yang berada di dapur malah bertos ria. Aksi mereka berhasil.

__ADS_1


"Syukulin!"


__ADS_2