Yang Terluka

Yang Terluka
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Setelah ucapan pedas yang Radit lontarkan kepada papihnya, Radit tidak kembali ke apartmentnya. Semua panggilan dari sang Papih pun tak pernah Radit jawab. Ada kekecewaan yang sangat besar yang Radit rasakan.


Radit bukanlah anak nakal ataupun pembangkang. Tapi, Radit sudah lelah dengan apa yang dia hadapi lebih dari 20 tahun ini. Tidak mengenal sosok ibu sama sekali, membuat Radit memiliki hati yang sedikit rapuh. Seperti hati anak perawan yang tidak bisa tersenggol meskipun hanya sedikit.


Memendam semua keinginan dan berusaha terlihat baik-baik saja meskipun ditindas membuat Radit muak dengan keadaan. Ketika Radit merajuk seperti ini, sang Papih pasti akan menyesal. Tapi setelah itu, papihnya akan kembali membela anak kebanggaannya.


Bukannya Radit iri, hanya saja Radit ingin papihnya itu membuka mata. Anak yang papihnya banggakan itu tidaklah se-membanggakan yang ada di benak sang Papih.


Radit terus menghela napas kasar ketika dia keluar dari sebuah ruko. Dia menatap lamat-lamat ruko tersebut.


"Ya, aku pasti bisa menyewa ruko ini untuk membuka praktek," gumam Radit menyemangati diri sendiri.


Sebenarnya harga sewa ruko yang Radit datangi tersebut tidaklah mahal. Hanya saja, Radit tidak ingin memakai uang yang selama ini Papihnya berikan kepadanya. Dia lebih memilih untuk menggunakan uang dari hasil gaji di rumah sakit tempat dia praktek.


Radit menyusuri setiap jalan dan dia mengakhiri langkahnya di rumah besar. Rumah di mana dia menemukan kasih sayang yang tulus. Di mana dia bisa mencurahkan keluh kesahnya tanpa harus takut jika orang yang menjadi pendengar akan menyudutkannya. Di sinilah rumah yang sangat nyaman bagi Radit.


"Benar yang dikatakan orang-orang. Keluarga sendiri seperti orang lain, dan orang lain seperti keluarga sendiri," batinnya.


"Udah pulang, Dit?"


Ternyata Kakek yang baik hati sudah menungu dirinya sedari tadi.


"Iya Kek, tadi aku keliling dulu cari tempat untuk buka praktek," jawab Radit.


"Udah dapat?" Radit pun menggeleng.


"Ada yang pas tapi uangnya gak pas," kekeh Radit.


Sang kakek hanya tersenyum melihat kekehan dari Radit yang sangat amat terpaksa.


"Kakek punya satu ruko kecil tak jauh dari sini. Itu bisa kamu tempati," ujar Kakek.


"Tidak Kek, aku ingin berusaha dengan kemampuanku sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang lain."


Kakek meletakkan iPad yang tengah dipegangnya. Dia menatap manik mata Radit dengan tajam.


"Apa kamu masih menganggap Kakek ini orang lain?"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu maksudnya, Kek. Sebenarnya uang saku yang papih berikan sangatlah cukup jika untuk menyewa ruko itu. Tapi, aku ingin berusaha sendiri, dengan uangku sendiri."


"Kalo itu mau kamu, kamu bisa menyewa tempat itu kepada Kakek. Kakek jamin kamu suka tempat itu," jelas Kakek.


"Sekarang, kamu mandi lalu makan dan kita pergi ke ruko kecil milik Kakek."


Radit seakan terhipnotis akan perkataan yang Kakeknya lontarkan. Dia tidak akan pernah bisa menolak sedikit pun.


Satu jam kemudian, mereka menuju ruko yang Kakek maksud. Alangkah terkejutnya Radit, ketika ruko yang Kakek itu datangi adalah ruko yang dia ingin sewa.


"Ini ruko Kakek. Kamu boleh memakainya," imbuh kakek yang sudah masuk ke dalam ruko tersebut.


"Ta-tapi, aku tidak bisa menyewanya Kek. Uangku tidak cukup," lirih Radit.


Genta menepuk pundak Radit. Lalu merangkulnya.


"Kakek tidak akan mematok harga sewa ruko ini. Berapapun yang kamu punya, akan Kakek terima," tukasnya.


Radit yang awalnya murung kini dapat kembali tersenyum ketika mendengar ucapan tulus sang kakek.


"Kalo boleh Kakek tahu, untuk apa kamu menyewa ruko ini?"


"Aku ingin membuka praktek psikiater Kek. Sekarang aku harus memikirkan masa depan, aku takut jika hasil tes DNA itu positif. Setidaknya aku memiliki penghasilan untuk menghidupi anakku," lirihnya.


"Hanya anakmu?" tanya Kakek.


"Iya, bagaimana pun anak itu tidak berdosa. Biarkanlah aku hidup dengan anakku saja tanpa harus hidup bersama dengan ibunya. Aku tidak mencintainya, Kek. Aku hanya mencintai kekasihku," jelas Radit.


"Jika hasil tes itu menyatakan negatif? Apa kamu akan tetap membuka praktek ini?" Radit pun mengangguk cepat.


"Aku ingin menjadi pria yang mandiri dan aku juga harus memantaskan diri untuk kekasihku. Yang aku tahu, kekasihku itu cucu dari seorang pengusaha ternama. Dan aku yakin, akan sangat sulit untuk menembus dinding keluarga kekasihku itu jika, aku masih menjadi anak yang selalu meminta kepada orangtua."


Lengkungan senyum lebar hadir di bibir sang kakek. Dia benar-benar sangat bangga terhadap Radit. Laki-laki yang selalu dia awasi dari jauh dan ternyata Radit adalah anak yang baik dan penuh tanggung jawab.


Bukan harta atau tahta yang menjadi syarat untuk menjadi calon cucu menantunya. Tapi, tanggung jawab, kebaikan serta keseriusan yang menjadi syarat utama untuk bisa masuk ke dalam bagian dari keluarganya.


Hari-hari Radit disibukkan dengan menata ruko yang akan dia tempati. Hingga waktu pun cepat sekali berlalu. Besok adalah hari di mana akan menjadi penentuan hidup Radit. Menikahi wanita yang sama sekali tidak dia cintai karena anak yang ada di dalam kandungannya anak Radit. Atau kembali mengejar cinta yang terpaksa kandas di tengah jalan karena sebuah kesalahpahaman.

__ADS_1


Radit memutuskan untuk tinggal di ruko itu. Malam ini dia menatap langit malam dari balik jendela kamar. Langit yang cukup indah yang membuat Radit rindu akan wanita pujaannya.


"Besok adalah hari yang menegangkan untukku. Apakah aku harus terbunuh karena kenyataan atau aku selamat dari jebakan yang mematikan?" ucapnya pada langit malam.


Radit sudah berpasrah dengan keadaan. Karena sesungguhnya Radit tidak tahu apa yang sudah terjadi dengannya dan juga Fani di malam itu. Yang Radit tahu hanyalah bogem mentah yang dilayangkan oleh papa sambung kekasihnya.


Keesokan harinya, sang kakek sudah menjemput Radit di rukonya. Wajah Radit nampak datar dan tidak ada keceriaan yang biasanya dia tunjukkan.


"Kamu takut?" Radit hanya mengangguk pelan.


"Apapun hasilnya, kamu harus tetap jadi pria bertanggung jawab." Radit pun mengangguk lemah.


Mereka menuju rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA yang dua Minggu lalu Radit lakukan terhadap kandungan Fani.


Dokter Steve yang memberikan hasil tes DNA langsung kepada Radit yang didampingi oleh kakeknya. Ada keraguan dan juga ketakutan yang Radit pancarkan.


Sebelumnya, Radit sudah menghubungi papihnya serta abangnya untuk berkumpul di apartment Radit. Dengan alasan hasil tes DNA itu positif. Dan Radit ingin membicarakan perihal pernikahannya dengan Fani.


Ada seseorang yang tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Radit. Padahal sesungguhnya Radit pun belum tahu hasil tes DNA itu seperti apa.


Tibanya di apartment, senyum tipis Rindra tunjukkan untuk Radit. "Sebentar lagi jadi bapak dong," ledeknya.


Tak Radit hiarukan ucapan dari abangnya itu. Radit menghampiri Papihnya yang sudah menatapnya dengan wajah serius.


Radit menghampiri Addhitma dan menyerahkan amplop hasil tes DNA yang baru saja dia ambil kepada Addhitama.


Tanpa ragu, Addhitama menerima amplop itu. Lalu, dia membukanya. Keningnya mengkerut ketika di dalam amplop tersebut ada dua lembar hasil tes DNA.


Dia menatap ke arah Radit, tapi Radit terus menunduk. Addhitama membuka kertas yang yang pertama.


Di kertas itu tertulis nama lengkap Radit. Matanya melebar ketika melihat hasil yang tertulis di kertas tersebut. Kini, Addhitama beralih ke kertas kedua. Matanya hampir jatuh dari tempatnya ketika dia melihat nama yang tertera di kertas itu. Dan ketika Addhitama membaca hasil yang tertulis dari tes DNA yang ada di tangannya, seketika wajah Addhitama memerah, rahangnya mengeras dan urat-urat kemarahan terlihat di wajahnya.


"Rindra!"


****


Ada notif Up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.

__ADS_1


__ADS_2