
"Coba kamu ulang apa yang kamu omongin tadi," imbuh Rion.
"Radit ingin meminang Echa, Om. Sebentar lagi 'kan Echa lulus kuliah," jawab santai Raditya Addhitama.
"Emangnya kamu punya apa mau melamar anak saya? Kalo cinta doang mah ke laut aja kamu," sarkas Rion.
Radit malah terkekeh mendengar ucapan sang calon mertua yang mulutnya terkadang membuat orang bisa sakit hati mendengarnya.
"Cinta Radit mah gak usah diragukan lagi, Om," timpal Radit.
"Saya tidak meragukan cinta kamu. Yang saya ragukan isi dompet kamu," balas Rion.
"Ngapain lu pusing sih. Bapaknya aja tajir melintir pasti warisannya banyak," ujar Arya yang merasa kesal terhadap dua orang di depannya.
"Om Arya pintar." Radit mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum.
Sedangkan Gio hanya tertawa. Dia tahu Radit bukanlah laki-laki susah. Radit terkenal sebagai psikolog muda yang memiliki prestasi banyak di Canberra. Hingga dia membuka praktek dan selalu banyak yang datang ke tempat prakteknya. Hingga dia memerlukan bantuan orang lain untuk membantunya. Belum gajinya di rumah sakit ternama di sebuah rumah sakit di sana.
"Sebelum kamu menjadi milyarder. Jangan mimpi untuk meminang anak saya," tukas Rion.
"Kalo Radit udah jadi milyarder. Berarti boleh dong ya langsung kawinin anak Om," tutur Radit.
"Nikah dulu baru kawin," imbuh Rion sambil memukul lengan Radit. Membuat Radit tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kalo Tante minta acaranya tujuh hari tujuh malam. Kamu sanggup gak?" tanya Ayanda yang baru saja bergabung dengan keempat pria tersebut.
"Jangankan tujuh hari tujuh malam, Tante. Empat puluh hari empat puluh malam aja Radit sanggup. 'Kan ada Om Rion sama Om Gio yang akan ngeluarin dananya," terang Radit. Sontak Gio dan Rion memukul Radit dari arah kiri dan kanan.
"Calon mantu lu gua kira cool. Ternyata lebih gila dari gua," sindir Arya.
"Gua kira juga begitu. Ternyata lebih somplak dari lu," sahut Rion.
Inilah cara Radit untuk menghilangkan rasa kesalnya terhadap sang Abang. Untungnya Radit memiliki calon mertua yang sok-sok galak jika menyangkut anaknya. Akan tetapi, Rion adalah laki-laki yang menyenangkan dan bisa diajak bercanda.
"Kamu kapan kembali ke Ausi?" tanya Amanda.
"Sepertinya besok sore, Tante. Soalnya anak Om dan Tante sudah merindukan Radit," ucapnya percaya diri.
"Gak usah ngadi-ngadi, Radit," geram Rion.
Radit segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Dan panggilan video tersebut terhubung. Teriakan seorang perempuan terdengar. "Sayang, kapan balik ke sini. Aku kangen."
Mata Rion membola ketika mendengar suara yang sangat dia kenali. Dia segera merampas ponsel Radit dan menunjukkan wajah garangnya kepada sang putri.
"Sejak kapan kamu menjelma jadi wanita lenjeh, Dek?" Ucapannya penuh dengan tekanan dan membuat semua orang tertawa.
"Ayah ngapain sih. Echa ingin melihat wajah pacar Echa bukan wajah Ayah," sahutnya sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Arya tertentu terbahak-bahak mendengar penuturan Echa. Baru kali ini si bocah Bangor tidak ingin melihat wajah ayahnya.
"Hubungan kamu udah sejauh mana sama si bocah nyebelin ini? Kok Ayah jadi curiga," imbuh Rion yang masih menguasai ponsel Radit.
"Sejauh mata memandang," balas Echa sekenanya.
"Apa Radit sudah menebar benih?" Rion sudah berbicara tidak karuhan karena ketakutan melanda hatinya.
"Tiap hari malah, Om." Seketika Rion melotot ke arah Radit. Mencengkeram kerah kaos yang dia gunakan.
"Apa maksud kamu?" Suara Rion sudah terdengar sangat murka. Namun, Arya dan Gio tidak berniat untuk memisahkan.
"Ya iya, nanam benihnya tiap hari." Tangan Rion sudah melayang ke atas.
"Nanam benih bunga matahari, Ayah," teriak Echa di sambungan video call.
...****************...
Komen mana komen?
Aku mau memperkenalkan karya baruku, insha Allah up tiap hari. Dan karya Yang Terluka pun aku usahakan up tiap hari. 👇 ya cerita baruku, yuk sok mangga dibaca lalu dilopein. Tinggal klik profil aku dan di situ muncul semua karyaku. Bisa juga kalian searching dan ketik JODOH RAHASIA dan cari yang memiliki cover seperti di bawah ini 👇
__ADS_1