Yang Terluka

Yang Terluka
Penyeselan


__ADS_3

Di balik kisah sedih Nesha, ada kisah berengsek sang suami yang semua orang pasti tahu. Jika, mengingat itu Rindra akan merasa malu dan tidak pantas bersanding dengannya. Melihat wajah tenang Nesha yang tengah terlelap, membuat rasa bersalah itu semakin hadir di hati Rindra .


#flashback Om.


Nesha diminta oleh Nugro untuk ikut dengannya ke sebuah kantor yang cukup besar di bilangan Jakarta Barat. Nugro sedikit memaksa membuat Nesha tak kuasa untuk menolaknya.


Senyum Nugro mengembang di sepanjang perjalanan. Langkah sekali dia bisa mengajak Nesha pergi hanya berdua. Berbeda dengan Nesha, dia merasa tidak enak dan juga risih. Bagaimana tidak, dia tahu Nugro menyimpan rasa kepadanya. Akan tetapi, Nesha tidak menerimanya. Alias menolak karena Nesha hanya menganggap Nugro sebagai kakaknya. Tidak lebih tidak kurang.


Mobil Nugro berhenti di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Nesha hanya mengikutinya dari belakang dengan membawa beberapa jinjingan di tangannya. Setelah berbincang dengan resepsionis, Nugro dipersilahkan masuk ke ruang direktur di lantai lima belas.


Semua mata karyawan laki-laki tertuju pada Nesha. Perempuan cantik dan menggoda di mata mereka. Melihat mata karyawan yang semakin jelalatan membuat Nugro naik pitam. Dia menarik tangan Nesha dan menggenggam hangat tangannya. Nesha terkejut, tetapi Nugro tak mengindahkan.


Aku tidak suka kamu diperhatikan seperti itu oleh para buaya belang.


Tiba sudah mereka di lantai lima belas, sambutan hangat diberikan oleh perempuan muda yang sedang duduk manis di depan laptop.


"Pak Nugro, silahkan masuk."


Nugro mengangguk sopan dan diikuti oleh Nesha. Ketika masuk ke ruangan itu, Nesha sangat kagum dengan dekorasi yang menenangkan. Nesha penasaran siapa yang menempati ruangan ini.


Matanya membola ketika melihat Rindra berdiri dan menyambut hangat Nugro. Rindra juga menyalami Nesha. Seketika jantungnya berdisko ria.


"Sepertinya kita jodoh."


Bisikan Rindra mampu membuat jantung Nesha berhenti berdetak untuk beberapa saat. Dia memberanikan diri menatap nektra  hitam milik Rindra. Sungguh dia terhipnotis oleh wajah tampan dan juga senyum yang menawan.


Makhluk yang sungguh sangat sempurna.


Nesha benar-benar terpesona, hingga teguran dari Nugro mengembalikan kesadarannya. Mereka berbincang, lebih tepatnya hanya Rindra dan juga Nugro. Nesha tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bahas. Sesekali Nesha memandang wajah Rindra.


Cukup lama mereka berbincang membuat Nesha bosan. Ingin mengeluarkan ponselnya pun dia malu. Dia hanya memiliki ponsel kentang tidak seperti dua pria yang sedang berbincang ini.


Setelah semuanya selesai, Nugro pamit pulang. Sebelum pulang, Rindra menahan lengan Nesha. Kemudian, menyerahkan ponselnya ke arah Nesha.


"Tuliskan nomor ponselmu."

__ADS_1


Nesha membeku, kenapa pria tampan ini menyuruhnya untuk menuliskan nomor ponselnya? Ada apa?


"Cepat!"


Kini, tangan Rindra suda Joh memegang tangan Nesha. Tubuh Nesha semakin menegang, dengan sedikit bergetar Nesha mengetikkan nomornya. Kemudian, pergi begitu saja meninggalkan Rindra dengan gejolak yang tiada tara.


Ya Tuhan, jantungku seperti hendak copot.


Di dalam ruangannya Rindra tersenyum lebar. Tangannya dengan lincah memberi nama kontak tersebut. Si manis.


Rindra masih terbayang wajah Nesha yang sangat cantik. Baru kali ini dia melihat wanita polos tanpa make up tetapi masih cantik. Sama seperti Echa. Pacar adiknya yang dia sukai.


Senyumannya memudar ketika seorang perempuan berpakaian seksi masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Rindra mendengus kesal, sedangkan perempuan itu duduk manja di pangkuan Rindra.


"Sayang ... aku lagi pengen banget."


Terkadang Rindra menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang selalu diminta oleh wanita ini. Namanya Fani, dia adalah wanita yang disewa oleh Rindra untuk menjebak adiknya. Akan tetapi, sekarang malah dia yang terjebak dengan wanita hyper seperti ini.


Rindra tidak bisa menolak ketika tangan Fani sudah menyentuh bagian sensitifnya.


Tanpa basa-basi Rindra membawa tubuh Fani ke dalam kamar khusus yang memang tersedia di ruangannya. Mencium setiap inchi tubuh Fani dan meninggalakan jejak di mana-mana.


Le nguhan nikmat keluar dari mulut Fani apalagi Rindra sudah menyentuh bagian yang membuat Fani melayang.


"Sayang, cepat. Aku gak tahan!"


Seruan Fani tak membuat Rindra menurutinya. Justru Rindra semakin mempermainkannya hingga jeritan cukup keras keluar dari mulut Fani.


"Kamu jahat," ucapnya manja dengan keringat yang bercucuran.


"Sekarang giliran kamu puaskan aku."


Rindra sudah menarik tangan Fani untuk menyentuh sesuatu yang sudah sangat menegang di bawah sana. Hangat dan sangat keras.


"Oh ...."

__ADS_1


Baru sentuhan saja sudah membuat Rindra melenguh. Namun, Fani tidak ingin memainkan itu. Fani ingin memuaskan dirinya karena dia sedang naik-naiknya.


Sial! Gara-gara nonton siaran langsung beginian di apartment, malah gua yang horny berat.


Fani menyuruh Rindra untuk merebahkan tubuhnya. Dia merangkak naik ke atas tubuh Rindra dan menyusuri setiap inci wajah dan tubuh kekar Rindra.


Dia sudah mengambil ancang-ancang merenggangkan kedua kakinya dan le nguhan kenikmatan keluar dari mulut Rindra.


"Terus Fan ... terus ...."


Rindra terus merancau karena kenikmatan yang Fani berikan. Cukup lama Fani bermain, akhirnya Fani semakin mempercepat gerakannya.


"Langsung copot, Fan. Aku gak pakai pengaman," ujar Rindra dengan napas yang tak teratur.


Fani benar-benar tidak mengindahkan ucapan Rindra. Ketika Rindra berkata dia ingin mencapai puncak Fani malah sengaja semakin bergoyang. Akhirnya, cairan kental putih itu keluar di dalam. Fani ambruk di atas tubuh Rindra dan menciumnya dengan ganas.


"Ternyata lebih enak tanpa pengaman, Sayang."


Bisikan Fani membuat gairah Rindra kembali lagi. Kini, dia yang mengendalikan permainan. Tidak ada kata lembut yang Rindra lakukan sekarang. Namun, Fani seolah sangat menikmatinya.


"Sa-yang ... sesekali aku ... ingin merasakan bermain bertiga," ucapnya seraya merasakan kenikmatan.


Mendengar ucapan Fani, pikiran Rindra berkelana. Dia malah membayangkan wajah Nesha dan menjadikannya imajinasinya sekarang. Permainan yang semula kasar kini berubah menjadi lembut seakan tidak ingin menyakiti Nesha. Padahal yang sedang dia setubuhi adalah Fani.


Lenguhan panjang pun keluar dari mulutnya. Tidak Rindra pedulikan benihnya susah berceceran. Dia segera membersihkan tubuhnya. Menatap dirinya di depan cermin dan bibirnya terangkat dengan sempurna.


"Kenapa gadis itu bisa menjadi imajinasiku sekarang?"


Terlintas pikiran jahat untuk mencoba Nesha. Seringai licik pun terlihat di wajahnya.


"Apa dia masih perawan?"


Di dalam mobil, Nesha masih teringat akan ucapan Rindra. Sosok pria sempurna dan pria idaman di mata Nesha. Pada nyatanya, Rindra tidak seperti itu. Dia adalah pria berengsek yang senang bermain **** dengan perempuan. Fani adalah satu-satunya wanita yang mampu mengimbangi permainan Rindra. Padahal, mereka tidak ada hubungan apapun. Hanya saling membutuhkan satu sama lain. Bagi Rindra, Fani adalah wanita yang bisa memuaskannya. Dia sudah mencoba banyak wanita, tetapi para wanita itu seperti kerupuk yang melempem. Baru digenjot sudah tak melawan dan terkapar. Berbeda dengan Fani yang sama beringasnya. Setelah kejadian ini, sudah dipastikan Fani akan menghilang bagai di telan bumi. Begitu juga dengan Rindra yang tidak peduli kepada Fani.


#off.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang." Kecupan hangat Rindra berikan di kening Nesha.


__ADS_2