Yang Terluka

Yang Terluka
Kencan Buta


__ADS_3

Bagi Gio dan Arya mereka sudah kapok untuk keluar tanpa sang istri. Mereka harus rela berdiri selama dua jam dengan telinga mereka yang merah. Belum lagi mereka harus puasa selama dua minggu.Sungguh malang nasib mereka. Berbeda dengan Rion yang seolah tidak menanggung beban apapun. Hanya putri sulungnya lah yang mendiamkannya.


"Ayah berangkat, ya." Tidak ada jawaban dari Echa. Dia masih fokus dengan sarapannya. Radit memberikan kode agar sang ayah menjauh.


Bahaya jika istrinya tiba-tiba mengamuk. Semua orang pasti akan kena imbasnya.


Rion datang ke kantor dengan wajahnya yang lesu. Arya sudah bisa menebak jika Rion masih bermasalah dengan putrinya. Secara Rion adalah duda yang memiliki anak perempuan yang sangat posesif.


"Masih marah tuh bocah." Dengan lemah Rion mengangguk.


"Anak lu yang satu itu lebih dari batu," geram Arya.


"Bukan hanya Echa yang marah. Aleeya pun gak mau gua gendong," keluhnya.


"Sungguh malangnya nasibmu wahai duda dua kali." Tawa renyah pun Hadi dari mulut Arya. Sedangkan Rion tengah mengerang kesal mendengar ejekan yang dilontarkan oleh sahabat laknatnya.


Rion dan Arya fokus pada pekerjaan mereka. Suara ketukan pintu membuat Rion mendengus kesal. Security datang dan memberitahukan bahwa ada wanita yang ingin bertemu dengan Rion.


"Siapa? Saya tidak kenal," sahut Rion setelah security menjelaskan ciri-ciri wanita tersebut.


"Lu temuin aja gih di bawah. Ayo gua temenin." Sungguh Arya sahabat yang menjerumuskan. Belum reda peperangan dingin yang Echa lakukan.


Rion bagai sapi yang dicokok hidungnya. Menurut apa saja yang diucapkan oleh sahabatnya yang gendeng ini.


Rion memicingkan mata melihat ke arah wanita yang sedang duduk di lobi. Langkahnya semakin mendekat hingga senyuman manis terukir di wajah perempuan cantik itu.


"Bhuset, bening banget kayak porselen," kata Arya tanpa sadar.


Namun, Rion masih menatap perempuan itu dengan tatapan datar. Begitulah Rion Juanda, sok jual mahal terlebih dahulu.


"Hai, Om. Masih ingat aku?" ucap perempuan itu.

__ADS_1


Rion menggeleng dengan cepat. Dia memang tidak mengingat perempuan yang sedang berada di depannya.


"Om pernah kasih kartu nama ini ke aku." Si perempuan itu meunjukkan kartu nama Rion.


"Anjiirr, gerak cepat dia," seloroh Arya.


"Lalu, mau apa kamu ke mari?" Rion masih menunjukkan wajah serius.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa ini benar kantor Om, dan Om tidak berbohong padaku." Rion hanya berdecih.


"Kalo tidak ada hal yang lebih penting lagi silahkan pergi. Saya masih banyak pekerjaan."


Perempuan itu nampak terpesona melihat keseriusan Rion dalam berbicara. Meskipun sudah tidak muda, tetapi wajahnya masih terlihat sangat tampan.


"Aku hanya ingin meminta nomor ponsel, Om. Jika, Om tidak memberitahunya, aku akan tetap menunggu Om di sini." Bukan Rion yang bergerak cepat, melainkan Arya.


"Biarin aja, kita ada meeting penting hari ini."


Semenjak pertemuan Rion dengan perempuan muda yang bernama Dena, hubungan mereka semakin dekat meskipun hanya lewat udara. Kesibukan Rion yang membuatnya tidak memiliki waktu keluar. Weekend pun dia masih harus pergi ke kantor. Namun, sesekali Dena datang ke kantor Rion jika Rion tengah sendiri. Membawakan makanan untuk Rion. Kelembutan dan kecantikan Dena membuat Rion terbuai. Apalagi Dena daun muda yang sangat agresif. Setidaknya, dia memiliki wanita yang perhatian terhadapnya. Setelah Echa sibuk mengurus ketiga buah hatinya dan Riana yang sibuk dengan buku pelajarannya.


"Ya udah."


Radit adalah pria sabar yang akan mengikuti ke mana langkah Echa menuju. Mengambil ini dan itu, membandingkan harga ini dan itu sudah kebiasaan Echa semenjak berumah tangga. Awalnya Radit tidak suka, lama kelamaan dia sudah terbiasa.


Setelah semuanya di dapat, giliran Radit lah yang membayarnya. Itu sudah kebiasaan sang istri. Padahal uang belanja dan segala macam sudah Radit serahkan kepada Echa. Radit mencubit pipi istrinya yang masih chubby.


"Kebiasaan." Echa hanya memberikan cengiran dan memeluk pinggang sang suami.


Di sinilah Radit merasa bahagia. Walaupun ada udang di balik batu, tetapi Radit tidak mempermasalahkannya.


"Kamu mau beli tas yang kemarin kamu kirim itu ke aku?" Radit sudah merangkul tubuh sang istri. Semua barang belanjaannya dia titipkan dahulu di tempat penitipan barang. Mereka memilih untuk berkeliling mall. Sekalian jalan-jalan tanpa buah hati. Jadi, bisa mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Tabungannya belum cukup, Ay. Mungkin enam bulan lagi baru bisa beli," jawab jujur Echa.


"Kenapa harus nunggu enam bulan? Kalo kamu mau beli sekarang." Semudah itu Raditya berbicara. Echa hanya menggelengkan kepala. Tas branded yang Echa inginkan bukan tas tanah Abang.


"Ay, nanti aja." Echa menahan lengan Radit yang hendak masuk ke toko yang Echa inginkan.


"Kenapa?" Radit menatap manik mata Echa.


"Sayang uangnya. Itu cukup nguras dompet kamu, Ay. Biar aku beli dari usahaku sendiri," terang Echa.


Radit mengusap lembut pipi sang istri. Senyuman melengkung indah di wajahnya.


"Apapun yang kamu mau pasti akan turuti, Sayang. Jangan khawatir, uangku masih lebih dari cukup jika hanya membeli tas itu," balas Radit.


"Sekarang kita masuk, ya. Lagi pula, kamu sangat jarang beli tas branded. Selama kita menikah, baru satu kali 'kan kami beli tas branded. Sekarang sudah waktunya, Sayang."


Perlakuan manis Radit mampu mengalahkan keteguhan hati Echa. Dia pun menerima tawaran sang


suami. Mereka masuk ke dalam toko. Ketika Echa menunjukkan tas yang dia inginkan, pihak toko mengatakan bahwa tas itu sudah sold out.


Gurat kecewa terlihat jelas di wajah Echa. Radit menanyakan siapa yang telah membeli tas itu. Seorang SPG pun menunjuk ke arah seorang epua. yang sedang memilih dress.


Mata Echa dan Radit melebar ketika melihat Rion merangkul mesra pundak si perempuan. Bisa dilihat perempuan itu seusai Riana.


"Itu 'kan ...."


Echa segera menghubungi seseorang. "Bekukan sekarang juga. Semuanya." Itulah yang D ha ucapkan.


Echa dan Radit hanya menatap sang ayah dari kejauhan. Ayah dan perempuan itu sudah berada di kasir untuk membayar. Setelah selesai kasir menyebutkan nominal yang harus Rion bayar. Rion mengeluarkan kartu debit.


"Maaf, Pak ini tidak bisa." Kasir mengembalikan kartu milik Rion. Sehingga Rion harus mencoba kartu yang lainnya. Namun. tetap tidak bisa. Dena mantap kesal arah Rion.

__ADS_1


"Jika, tas itu tidak jadi kalian beli lebih baik aku saja yang membayarnya."


Suara yang sangat Rion kenali. Tubuh tegapnya berbalik arah. Matanya membola ketika melihat siapa yang ada di belakang.


__ADS_2