Yang Terluka

Yang Terluka
Nambah Lagi, Ya?


__ADS_3

Harap baca di samping pasangan!!


...****************...


Echa anak khawatir ketika sang ayah tidak menjawab panggilan video darinya. Dia pun mencoba menghubungi Mbak Ina. Namun, Mbak Ina sedang tidak ada di rumah. Semalam Echa menugaskan kepada Mbak Ina untuk membeli bumbu-bumbu untuk masakdi pasar,


"Ayah sedang ke mana?" gumamnya.


"Jangan bengong aja, kesambet lu," ujar Arya.


"Echa kangen anak-anak," ungkapnya.


Arya kini duduk di hadapan Echa. Menatap Echa sedikit iba.


"Laki lu ngijinin lu kerja?" Pertanyaan yang selalu melintas di kepala Arya. "Secara 'kan duit Radit banyak, warisan juga berlimpah."


Echa hanya menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Dari matanya sih gak ngijinin, tetapi dia juga seakan gak bisa ngelarang. Tidak ada penerus dari kepemilikan toko ini, kecuali Echa. Riana serta Iyan masih belum mengerti akan masalah toko sebenarnya." Arya mengangguk paham. Dia masih menjadi pendengar setia untuk keponakan tercintanya.


"Berbagai alasan sudah Echa berikan kepada Ayah. Namun, Ayah tidak terpengaruh. Sepertinya memang Ayah ingin beristirahat dan menikmati masa tuanya bersama ketiga cucunya."


"Lu ikhlas jalanin ini semua?" tanya Arya.


"Harus ikhlas, Om. Echa juga sudah bertekad akan membahagiakan Ayah semampu Echa. Mungkin ini salah satu caranya," terang Echa.


"Gua tahu lu anak baik dan juga anak yang berbakti. Lu adalah anak yang sangat beruntung karena mendapat didikan langsung dari Genta Wiguna. Ilmu yang lu peroleh bisa lu praktekan di toko ini. Toko milk lu." Echa tersenyum mendengar ucapan Arya.


"Sekarang kerja lagi. Pas jam istirahat lu hubungin lagi ayah lu." Echa mengangguk.


Benar kata Arya, dia adalah anak yang sangat beruntung. Bagaimana tidak, dia memiliki kakek seorang pengusaha bertangan dingin. Dididik dari keluarga pengusaha semua. Didikan dari sang ayah, mamah serta papa sambungnya membuat Echa memahami dunia bisnis. Dunia yang terbilang kejam dan tak memandang bulu. Saling sikut, saling menjilat itu adalah hal biasa.


Jam makan siang tiba, lima belas menit sebelum jam istirahat Radit menghubungi Echa bahwa akan ada sopir kantor yang akan menjemputnya. Radit ingin makan siang bersama.


Echa pamit kepada Arya dan menaiki mobil yang telah menunggunya.


"KIta mau ke mana, Pak?" tanya Echa.


"Ke kantor Pak Radit, Bu," jawsab sopir.


Ini kali pertama Echa menginjakkan kaki di gedung besar yang menjadi kantor sang suami. Selama di Indonesia dia hanya sering mengunjungi rumah sakit tempat Radit bekerja. Itu pun hanya untuk cek kesehatan.


"Bapak di lantai dua puluh." Echa mengangguk.


Kedatangan Echa membuat semua mata para karyawan memandang kagum sekaligus sinis terhadap Echa. Sebaliknya, Echa menggelengkan kepala ketika melihat pakaian para karyawan perempuan yang seakan kekecilan.


Melihat pandangan para karyawan yang seakan mengulitinya hidup-hidup. Echa segera menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Aku udah di lobi. Ke bawah sekarang." Enggan rasanya untuk naik ke lift bersama para karyawan suaminya.


"Gak tahu apa, gua ini istri dari bos kalian," sungutnya pelan.


"Maaf, Mbak. Di sini tidak menerima karyawan baru." Ingin sekali Echa menggigit orang yang berkata seperti itu kepadanya.


"Hei! Gua pemilik toko roti terkenal yang sudah go internasional."


Ingin Echa berteriak seperti itu. Namun, dia hanya tersenyum. Tak menanggapi manusia tidak waras. Bangga hanya karena dasi di leher.


Derap langkah kaki terdengar. Semua karyawan menunduk hormat kepada pria yang baru saja keluar dari lift.


"Kenapa gak langsung ke atas?" Radit memeluk istrinya dan memberikan kecupan manis di kening sang istri.


Semua karyawan wanita yang ada di sana melebarkan mata mereka. Sekarang Echa yang tersenyum mengejek. Dia lah Pemenangnya.


Tangan Radit terus menggenggam tangan sang istri melalui lift khusus petinggi. Tibanya di lantai dua puluh, seroang perempuan cantik yang akan mendekati Radit menghentikan langkahnya. Aneh sekali melihat Radit yang seperti papan bangunan kini tersenyum lebar bersama wanita yang dia gandeng.


"Jangan ganggu saya karena saya ingin menghabiskan waktu makan siang dengan istri saya."


Istri?


Pintu ruangan pun tertutup, sekretaris Radit pun hanya mematung tak bisa berkata apa-apa.


DI lantai bawah, bisik-bisik antar para karyawan terdengar, Dia membicarakan istri dari atasan mereka. Ada yang bilang istri Radit itu sempurna. Ada juga yang nyinyir bahwa Radit mencari istri dengan standar yang sangat payah.


"Sekali-kali, Sayang. Lagian kamu gak pernah datang ke kantor ku. Tidak seperti Mbak Nesha," jelasnya.


"Apa semua karyawan di sini memang diharuskan memakai baju dan rok kekecilan?" Radit pun tertawa mendengar pertanyaan Echa.


"Apalagi mulut mereka bagai tetangga yang doyan nyinyir," sungutnya.


Radit merengkuh pinggang sang istri. mengecup pipi Echa dengan lembut.


"Mau mereka tak memakai baju sekali pun, aku tidak akan pernah tergoda. Untuk masalah mulut nyinyir mereka. akan aku kasih peringatan."


Echa merebahkan kepalanya di pundak sang suami dengan tangan memainkan dasi di leher Radit.


"Aku rindu anak-anak." Radit semakin mengeratkan pelukannya.


"Mereka akan baik-baik saja," imbuh Radit.


"Aku ingin memulai petualangan yang sudah terjeda satu tahun. Aku ingin memulainya di hotel." Mata Echa melebar ketika mendengar ucapan sang suami.


"Aku harus kembali ke kantor, Ay."


Radit meletakkan bibirnya di ceruk leher sang istri. Menyusuri leher jenjang Echa dengan bibirnya. Echa pun tak kuasa menahan gejolak yang muncul.

__ADS_1


"Ay." Echa mencoba menghentikan gerakan sang suami. Namun, Radit tidak akan terkalahkan dalam hal ini.


"Mau, ya?" Manik mata Radit seakan memohon dengan sangat. Echa pun tak kuasa menolak. Jujur, dia juga sangat menginginkannya.


Radit sudah mengulurkan tangannya. Perihal kantor, Radit menyerahkannya kepada Rifal. Sedangkan Echa dia tidak perlu khawatir. Radit sudah meminta ijin kepada Arya dengan menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sehingga Arya mengijinkannya.


Radit terus berjalan sambil menggenggam tangan sang istri. Sungguh sepasang suami-istri yang sangat serasi. Namun, langkah Radit terhenti ketika sudah di lobi.


"Ini adalah istri saya Elthasya Addhitama. Siapa orang yang sudah nyinyir istri saya. Saya tak segan mengeluarkan surat pemecatan kepada kalian. Kalian yang merasakan sok cantik kalah dengan kecantikan alami yang istri saya miliki," tegasnya.


Echa menarik tangan Radit, menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak akan membiarkan istriku diinjak-injak harga dirinya. Tegakkan kepala kamu. Tunjukkan siapa kamu," ucap Radit.


Semua karyawan wanita tertunduk. Ini adalah baru seperempat dari kemarahan Radit. Jangan ditanya bagaimana Radit jika sudah murka.


Echa mencoba menenangkan suaminya. Mengusap lembut pundak Radit hingga membisikkan sesuatu yang membuat kemarahan Radit sirna.


Kita coba semua gaya agar kita mencapai kenikmatan bersama.


Di kediaman Echa, ketiga cucu Rion sudah terlelap. Rion pun menghembuskan napas lega. DIa keluar dari kamar si triplets menuju meja makan. Namun, makanan yang tersedia di sana hanya makanan yang membosankan. Ayam cah jamur, gurame pedas manis serta bakwan udang.


"Pengen ikan asin," ucapnya.


Dia mencari-cari ikan asin, tetapi tidak ada. Dia menghela napas kasar. Makanan enak terkadang membuatnya bosan. Malah sekarang dia merindukan masakan kampung. Ikan asin, sambal dadakan dan lalapan sepertinya nikmat sekali.


Berhubung tidak ada, terpaksa Rion memakan apa yang sudah tersedia di meja makan. Makan pun seperti orang yang dikejar-kejar banci. Dia tidak ingin ketiga cucunya menangis lagi seperti kemarin. Usut punya usut, ternyata ketiga cucunya jika tidur siang harus ditemani oleh sang ibu. Ketika Echa tidak ada di samping mereka, sudah dipastikan mereka akan menangis keras.


Setelah selesai, dia cuci piring bekas makannya terlebih dahulu. Kemudian kembali ke kamar ketiga kurcaci. Mereka tertidur dengan gaya mereka masing-masing. Membuat Rion terkekeh melihat mereka.


Sedangkan di sebuah kamar hotel yang mewah. Sepasang suami-istri bagai pengantin baru. Melakukan ritual mengasyikan dengan sangat pelan dan hati-hati. Rindu yang menggebu yang dirasakan dua benda keramat membuat mereka semakin terbuai. Tidak saling mengalah seolah mereka sedang lomba mencapai titik kepuasan yang telah lama tidak mereka dapatkan.


Mereka bagai orang yang kehausan, yang tak peduli air apa yang mereka hisap. Alunan melodi sangat syahdu mendayu-dayu. Berbagai jejak mereka tinggalkan pada lahan garapan mereka masing-masing. Tidak peduli jeritan kecil yang keluar. Tidak peduli keringat yang bercucuran. Mereka berdua terus berpacu dan berpacu.


Dua jam mengarungi samudera luas, tak cukup mereka puas. Mereka bagai orang yang kelaparan, apapun yang mereka temui akan digigit kecil hingga menghasilkan rintihan yang menggoda dan membangunkan bulu kuduk yang ada.


Terus menyatu seakan ada perekat pada tubuh mereka. Terus memacu bagai menunggangi kuda balap dan terus mempercepat gerakan seakan mereka akan sampai pada tujuan.


Tubuh yang bermandikan keringat serta napas yang terengah-engah menandakan mereka sudah mencapai garis finis. Garis kemenangan yang sangat nikmat dan tidak bisa diutarakan.


"Makasih, Sayang." Kecupan lembut mendarat di kening Echa. Kemudian, turun ke bibir merah cherry yang terlihat sedikit membengkak.


"Nambah lagi, ya?" Sontak mata Echa melebar mendengar keinginan suaminya.


Napasnya saja masih tersengal, keringatnya belum kering dan suaminya masih kuat untuk menantangnya. Ingin rasanya Echa menolak, tetapi dia juga tak kuasa menahan sentuhan lembut suaminya.


Hingga pada akhirnya, mereka berpacu dalam kenikmatan syurgawi dan melupakan ketiga anaknya yang berada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2