Yang Terluka

Yang Terluka
Belum Puaskah?


__ADS_3

Mata Radit tak berkedip ketika mendapat perlakuan manis dari Echa. Dengan cepat Radit merengkuh pinggang Echa dan berbisik, "satu lagi."


Tatapan jengah yang Echa berikan kepada Radit. Sedangkan Fani melihat mereka iri. Ingin sekali dia dipeluk oleh Radit. Tapi, pada nyatanya Radit malah memeluk bocah ingusan.


"Apa kurangnya aku sih, Dit?"


"Kamu terlalu bodoh, Fani,"ejek Echa.


Tangan Fani sudah melayang ke atas. Namun, dengan sigap Radit mencekal pergelangan tangan Fani.


"Seidkit saja kamu berani menyentuh kekasihku, akan aku pastikan kamu melahirkan di balik jeruji besi," ancamnya.


Echa terdiam mendengar ancaman Radit yang sangat serius ini. Baru kali ini, Echa melihat wajah Radit yang memerah menahan marah.


"Ayo, Sayang. Kita lanjutkan di atas."


Pikiran Fani sudah bergerilya ke sana ke mari. Dalam pikiran Fani, ternyata Radit dan si bocah ingusan itu tidak sebaik yang dia kira.


Fani segera menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk datang ke tempat praktek Radit. Seringai licik pun terlihat di wajah Fani.


Setengah jam kemudian, Addhitama datang bersama Rindra. Dan tanpa suara dia naik ke lantai atas. Hati Rindra bergemuruh ketika sang Papih mengatakan jika Echa dan Radit sedang berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.


Dengan sedikit keras Addhitama membuka pintu kamar atas Radit. Tidak ada Radit di sana. Namun, suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas. Dan tubuh Echa sudah terbaring di atas tempat tidur dengan terbalut selimut.


Addhitama sudah tidak bisa berpikir jernih. Cukup Rindra yang mencoreng nama baiknya. Dan jangan ada lagi putra dari Addhitama yang menghancurkan citranya.


Pintu kamar mandi terbuka dan Addhitama segera menarik kaos Radit.


"Jangan permalukan Papih," bentaknya.


"Apa maksud kalian?"


"Jangan pura-pura bodoh, kamu. Kamu sudah tidur dengan Echa, kan," sentak Rindra.


"Cih, picik sekali pikiran kalian," jawab Radit.


"Lebih baik kalian keluar, jangan ganggu kenyamanan tidur kekasih saya," usir Radit.


"Anak kurang ajar!"

__ADS_1


Bugh!


Satu tonjokan mengenai wajah Radit sehingga Radit tersungkur. Addhitama sudah ingin memukul wajah Radit lagi tapi, pekikan dari seorang perempuan membuat Addhitama menurunkan tangannya.


"Kenapa Om melakukan itu kepada Kak Radit? Apa salah dia?" bentak Echa yang kini menghampiri Radit yang masih tersungkur dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah segar.


"Belum cukupkah kalian memisahkan kami? Belum cukupkah kalian memfitnah Kak Radit? Apa mau kalian?" teriak Echa.


"U-dah, Yang. Aku gak apa-apa," ujar Radit seraya mengusap lembut pipi Echa.


"Sebenarnya Kak Radit itu anak kandung Om apa bukan? Kenapa Om gak pernah bersikap baik terhadap Kak Radit? Kenapa Om?" tanya Echa dengan berlinang air mata.


"Aku pembunuh, Bhul. Pembunuh," lirihnya.


Mendengar ucapan Radit, Addhitama tersadar akan trauma yang dialami Radit sejak kecil. Dan kata itu yang tidak ingin Addhitama dengar tapi, kali ini diucapkan oleh Radit di hadapannya.


"Apa maksud kamu, Bhal?" tanya Echa.


"Kata orang-orang, aku yang membunuh Mamih. Makanya mereka benci sama aku yang seorang pembunuh." Suara Radit terdengar sangat berat.


Echa memeluk tubuh Radit dan Radit pun menangis di dalam pelukan Echa.


Addhitama membeku, hatinya sangat sakit mendengar penuturan dari Radit, putranya.


"Radit."


Radit melonggarkan pelukan Echa dan menatap datar ke arah Addhitama.


"Jika, kalian ingin membunuhku. Bunuhlah aku di depan kekasihku. Biar aku pergi dengan tenang."


"Bhal, jangan bicara seperti itu." Echa memeluk tubuh Radit dari samping dengan air mata yang berjatuhan.


"Selama berita di luar beredar tentang aku yang memperkosa Fani, apa aku protes kepada kalian? Aku diam, biarkanlah namaku yang jelek dan menjaga nama baik keluarga. Biarkanlah hati aku yang terluka karena Echa pergi, yang penting kalian bahagia. Masih kurang kah pengorbananku selama ini?"


"Aku lelah ... andai saja aku bisa meminta waktu kematian kepada Tuhan. Tolong cabut nyawaku sekarang, Tuhan."


Echa menangis mendengar ucapan Radit. Echa baru mengetahui ada sisi lemah dari Radit yang terlihat kuat dan tegar.


"Papih, coretlah aku dari kartu keluarga. Aku janji tidak akan mengganggu Papih dan tidak akan menampakkan diri di hadapan Papih. Biar aku bahagia, biar Papih juga bahagia. Buanglah aku, Papih. Lebih bahagia hidup sendirian daripada hidup di dalam keluarga yang hanya dianggap sebagai kesialan," jelas Radit.

__ADS_1


Ucapan Radit sangat menusuk hati Addhitama. Sudah sepuluh tahun Radit tidak seperti ini, dan sekarang Addhitama melihat psikis Radit yang sedikit terguncang.


"Papih, anak yang harusnya Papih berikan kasih sayang berlebih itu Radit. Dia tidak mendapat kasih sayang dari Mamih jadi, Papih harus bisa memberikan itu. Bukan seperti ini terus, membela Abang yang selalu dianggap benar oleh Papih. Anak Papih itu bukan hanya Abang. Ada aku dan Radit juga. Hargai perasaan kami, Papih."


Perkataan Rival tengiang-ngiang di kepala Addhitama. Apa yang diucapkan Rival itu benar adanya. Addhitama selalu menganak emaskan Rindra. Meskipun, dia salah tetap saja Addhitama bela.


"Maafkan Papih, Dit," ucap tulus Addhitama.


Radit hanya tersenyum tipis. "Maaf memang mudah diucapkan. Akankah itu akan menjadi kata maaf yang terakhir yang Papih ucapakan kepadaku?"


Addhitama hanya diam mendengar ucapan Radit. Hatinya hancur sungguh hancur. Apalagi melihat mata Radit dengan tatapan kosong.


"Kak Rindra, apakah Kak Rindra juga tidak ingin meminta maaf kepada Kak Radit?" tanya Echa dengan suara meninggi.


"Aku bukan adiknya. Bukan," sahut Radit dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin orang yang sempurna seperti dia memiliki adik seorang pembunuh seperti aku," jawab Radit dengan senyum menahan sakit.


"Bhal ...."


Radit memeluk tubuh Echa dan menangis pilu di bahu Echa.


"Hati aku sakit, Bhul, sangat sakit. Aku iri sama Abang dan Kakak, mereka mendapatkan kasih sayang dari Mamih. Dipeluk Mamih sedangkan aku ... dari lahir hingga aku sekarang aku tidak pernah mendapatkannya."


"Sentuhan lembut kamu yang membuat aku tenang. Aku merasakan tangan halus Mamih ada pada tangan kamu. Setiap kali kamu mengusap lembut kepalaku, seperti usapan hangat seorang ibu untuk anaknya."


Addhitama menunduk dalam mendengar ucapan Radit. Anak yang dia anggap sembuh ternyata masih menyimpan pedih yang tidak dia ketahui.


Dan Rindra, seakan dia dipermalukan oleh Radit di depan Echa. Tangannya mengepal dengan keras dan menganggap ini hanyalah akting dari Radit.


"Gak usah akting, kamu. Kamu menangis seperti itu hanya ingin mendapat perhatian dari Papih dan Echa, kan," bentak Rindra.


Perlahan Radit menatap ke arah Rindra. Dia berdiri dan mendekat ke arah Rindra. Terlihat jelas air mata yang membasahi pipi Radit.


"Perhatian dari Papih? Bukankah perhatian Papih sudah Abang rampas semua dari aku?"


"Bukankah hasutan Abang ke keluarga Mamih membuat aku dijauhi layaknya orang yang menjijikan? Belum puaskah Abang melakukan semua ini kepadaku?"


...----------------...

__ADS_1


Semoga menghibur ....


__ADS_2