Yang Terluka

Yang Terluka
Tidak Sanggup


__ADS_3

"Pagi," sapa Radit pada Echa yang baru saja menuruni anak tangga.


Tidak ada jawaban dari Echa. Dia masih diam dan matanya masih memperlihatkan kekecewaan yang mendalam kepada Radit.


"Makan dulu, Cha. Setelah itu ikutlah bersama Radit," ucap Genta.


"Tapi, Kek ...."


"Tidak ada penolakan, Sayang."


Wajah Echa merengut kesal mendengar ucapan dari Genta. Berbeda dengan Radit, senyum mengembang di bibirnya.


Setelah selesai sarapan, Radit dan Echa pergi ke salah satu rumah sakit. Hari ini jadwal pemeriksaan kesehatan Echa karena Genta takut penyakit Echa kambuh kembali.


Echa berjalan di belakang Radit. Membuat langkah Radit terhenti dan menunggu Echa yang masih ada dijarak dua meter di belakangnya.


"Jangan jauh-jauh. Nanti ilang," ucap Radit seraya menggenggam tangan Echa.


Echa mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Radit. Namun, tenaga Radit lebih kuat. Sehingga terpaksa Echa harus mengalah.


Di lorong rumah sakit banyak yang menyapa Radit. Dari para perawat, dokter serta pegawai kebersihan di sana. Hingga langkah Echa terhenti ketika dia melihat wanita yang tidur bersama Radit dengan perut yang sudah membesar menghampiri Radit.


Segera Echa menghempaskan tangan Radit dan berlari meninggalkan Radit. Dengan cepat Radit pun mengejar Echa dan memeluknya dari belakang,


"Jangan takut, Sayang. Dia bukan siapa-siapa aku," ucap Radit.


"Lepas Radit! Lepas!"


Echa terus meronta-ronta dan berteriak dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Sungguh sakit Radit mendengarnya. Wanita itu membuat Echa mengalami trauma kembali. Anak yang sering menyimpan semua perasaannya sendiri cenderung lebih sering terkena trauma dibanding dengan mereka yang selalu meluapkan segala yang mereka rasakan.


"Aku benci kamu, Radit. Benci."


Tubuh Echa pun luruh, Radit terus memeluknya dan mengusap lembut punggung Echa.


"Dengar Sayang, aku sangat mencintaimu. Hanya kamu yang aku sayangi," kata Radit dengan nada yang sangat-sangat serius.


Isakan tangis lirih yang menjadi jawaban atas pernyataan yang Radit berikan. Hati Echa masihlah sangat sakit. Apalagi melihat wajah wanita yang sudah tidur dengan Radit. Seakan apa yang dia lihat di satu tahun silam kembali terukir di kepalanya.

__ADS_1


Radit membawa tubuh Echa yang sudah lemah ke rumah Genta. Perlahan Radit akan mengobati trauma Echa dengan penuh kesabaran. Jujur, bukan hal mudah untuk mengembalikan Echa seperti dulu lagi.


"Kamu tidur, ya. Jangan banyak pikiran. Kalo mau apa-apa, minta sama aku. Aku di kamar sebelah."


Ucapan panjang lebar Radit tidaklah dijawab oleh Echa. Echa tidak ingin mencintai laki-laki yang telah dimiliki orang lain. Ya, dia harus melupakan Radit. Sebentar lagi, Radit pun akan mendapatkan seorang anak. Melihat perut Fani yang semakin membuncit.


Dua jam sudah, Echa berada di dalam kamar. Radit selalu memantaunya melalui kamera CCTV Yang terhubung dengan laptopnya. Selama Echa ada di sini, Radit akan tinggal di rumah Genta. Dan meninggalkan semua kegiatannya. Dia hanya akan fokus pada kekasih hatinya,


"Maafkan aku, Bhul," lirihnya.


Dilihatnya Echa sedang menelungkupkan wajahnya di atas kaki yang dia tekuk. Tubuhnya bergetar menandakan dia sedang menangis. Dan di sampingnya terdapat foto Rion.


Hanya helaan napas kasar yang Radit lakukan. Mengalami trauma baru dan sekarang Echa membutuhkan kehadiran sosok seorang Ayah. Karena hanya ayahnya yang bisa meredam semua rasa sakitnya, Namun, sepertinya Tuhan tidak adil. Di saat seperti ini, Ayahnya seakan tidak memiliki waktu untuknya. Padahal dulu, Ayahnya yang selalu meminta kepada Echa supaya terbuka kepadanya. Tapi sekarang? Sudah tidak ada tempat untuk Echa mengadu.


Radit mengetuk pintu kamar Echa dengan nampan yang dibawanya.


"Makan dulu, ya. Nanti kamu sakit."


Perhatian masih Radit tunjukkan kepada Echa. Meskipun, Echa sama sekali tidak meresponnya. Radit sadar, Radit memang bodoh. Dia terlalu mudah untuk dicurangi oleh kakaknya sendiri.


"Jangan nangis lagi, hati aku sakit melihat kamu kayak gini terus," imbuh Radit.


Perlahan Echa mendongakkan wajahnya menatap Radit dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.


"Kenapa kamu masih perhatian padaku? Apa kamu tidak melihat wanita tadi lebih membutuhkan perhatian kamu daripada aku," kata Echa.


"Pergi Radit! Pergi!" usir Echa.


"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Aku akan menyembuhkan setiap lukamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, Bhul," tutur Radit.


"Aku tidak ingin melihat wajah kamu Radit. Semakin kamu mendekat, rasa sakit di hati aku semakin bertambah. Aku tidak sanggup Radit. Sungguh aku tidak sanggup," ujar Echa.


"Aku mohon, menjauhlah dariku. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit dan terluka. Aku akan baik-baik saja. Aku lebih tersiksa jika, kamu selalu ada di hadapan aku. Biarkan lukaku sembuh dengan seiring berjalannya waktu," ungkap Echa.


Echa beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Air matanya mengalir deras seperti air yang keluar dari shower. Sungguh hatinya sakit mengatakan semua itu. Kehadiran Radit membuat hatinya tenang. Tapi, terkadang membuat hatinya sakit. Bayang-bayang Radit bersama wanita lain sangatlah jelas di pikiran Echa.


Di dalam kamar Echa, Radit terduduk lesu di lantai. Sakit rasanya mendengar ucapan dari Echa tadi. Sesungguhnya dia tidak bisa untuk jauh dari Echa. Apalagi keadaan Echa yang membutuhkan pendampingan.

__ADS_1


Genta yang baru saja datang menghampiri Radit dan membawanya ke ruangan kerja milik Genta.


"Bersabarlah, Kakek yakin Echa masih menyayangi kamu. Namun, ketakutan di hatinya masih ada. Pelan-pelan untuk meyakinkan Echa. Jika, kamu semakin memaksa dia akan semakin terluka."


Radit mengangguk mengerti. Lagi pula, dia juga masih bisa memantau Echa dari rumah Genta. Asalkan dia tidak menunjukkan diri di depan Echa.


Tiga hari sudah Radit hanya memantau Echa dari kamarnya. Kondisi Echa terlihat semakin membaik. Setelah ada dokter khusus jantung yang memeriksa kondisinya. Akan tetapi, kondisi psikisnya masih terguncang. Setiap hari, Radit selalu mendapat kabar akan kondisi Echa dari psikiater yang menangani Echa.


Selama tiga hari ini, mata Echa selalu mencari-cari sosok yang sebenarnya dia rindukan. Akan tetapi, rasa sakitnya lebih mendominasi dibanding dengan rasa rindunya.


"Kamu cari siapa?" tanya Genta.


"Eh, ng-nggak kok," elak Echa.


"Kan kamu sendiri yang ingin Radit pergi. Jadi, terbiasa lah tanpa kehadiran Radit. Fokus kepada kesembuhan mu," ujar Genta.


Echa hanya terdiam mendengar ucapan dari Genta. Selera makannya sudah hilang.


Genta menyunggingkan senyuman tipis ketika melihat raut wajah Echa yang berubah. Cucunya masih mencintai Radit. Namun, Echa masih menganggap jika Radit sudah menikah. Genta belum cukup memiliki bukti untuk diperlihatkan kepada Echa. Karena Echa bukanlah orang yang mudah untuk mempercayai sesuatu.


Malam pun tiba, perut Echa terasa lapar. Dia turun ke lantai bawah dan menuju dapur. Echa menghela napas kasar ketika dia tidak melihat mie instan di sana.


"Lapar," gumamnya.


Hanya ada telur di sana, sedangkan para pelayan sudah tertidur. Dia tidak akan mengganggu waktu istirahat para pelayan. Dibukanya YouTube dan mencari tutorial membuat nasi goreng. Dari pada kelaparan, begitulah pikirnya.


Semua bahan sudah tersedia, Echa memulai mengiris bawang-bawangan.


"Aw," ringisnya.


Darah mengucur di jari telunjuknya. Ya, tangan Echa teriris. Maklumlah ini kegiatan pertama yang Echa lakukan seumur hidupnya. Karena sang Mamah tidak akan membiarkan Echa untuk masuk ke dapur dan menggunakan perabotan dapur.


"Makanya kalo gak bisa masak jangan sok-sokan masak," omel seseorang yang kini sudah menghisap darah di jari telunjuk Echa agar darahnya tak terus keluar.


...----------------...


Semoga bisa menghibur waktu ngabuburit kalian ...

__ADS_1


__ADS_2