Yang Terluka

Yang Terluka
Iblis Menjelma Seperti Manusia


__ADS_3

"Tadi malam Papihmu ke sini," ucap Genta ketika Radit baru bergabung di meja makan. Tentu saja, belum ada Echa di sana.


"Dengan polisikah?" Genta menggeleng.


"Lalu?"


"Sepertinya Papihmu ingin menyuruh kamu untuk menarik berita yang sudah tersebar." Radit hanya tertawa hambar.


"Radit tidak akan melakukannya, Kek."


"Pagi semua," sapa riang Echa kepada Kakek dan juga Radit. Echa mencium pipi Genta.


"Pipi aku gak kamu cium juga?" goda Radit.


"Kakek cium nih pake garpu." Mode sangar Genta muncul dan Echa tertawa melihat wajah Radit yang ketakutan.


"Kek, Echa temani Kak Radit di tempat praktek, ya," izinnya pada Genta.


"Iya, ingat di sana ada CCTV yang tersambung ke rumah ini."


"Idih si Kakek, emangnya kita mau ngapain coba. Kak Radit mah sama pasiennya, Echa mah rebahan di kamarnya." Genta berdecak kesal.


"Rebahan di sini juga bisa, kan," sahut Genta.


"Nggak, enakan di kamar Kak Radit. Seperti kamar Echa yang ada di rumah Papa," imbuhnya.


Ya, Radit memang sengaja mendesain kamarnya mirip dengan kamar Echa yang berada di rumah Gio. Dia juga merindukan kamar itu. Kamar yang selalu mereka pakai untuk bercanda dan tertawa. Bernyanyi bersama dan meluapkan kesedihan yang ada.


"Ya sudah. Tapi, jangan keluyuran kemana-mana tanpa Radit."


"Siap Kakek," jawab Echa bersemangat.


Radit hanya tersenyum bahagia melihat wajah Echa yang tidak murung lagi. Namun, ada ketakutan di hatinya. Dia takut akan meninggalkan Echa karena dia harus berurusan dengan pihak yang berwajib.


Setelah selesai sarapan, Echa mengambil tasnya di kamar atas. Sedangkan Radit dan Genta masih ada di meja makan.


"Papihmu tidak akan menyerah begitu saja. Maka berhati-hatilah," ucap Genta.


"Echa bagaimana Kek?" Raut khawatir nampak jelas di wajah Radit.


"Ada pengawal yang akan berjaga-jaga di sekitaran tempat praktekmu. Jangan khawatir," sahut Genta.


Echa dan Radit pun pergi ke tempat praktek Radit dengan tangan Echa yang merangkul lengan Radit. Tawa Echa mengembang dengan sempurna membuat hati Radit sangat bahagia melihatnya.


Tibanya di sana, Radit langsung meletakkan jaket serta tasnya di ruang praktek. Sedangkan Echa segera menuju dapur. Ya, Echa akan membuatkan kopi panas untuk kekasihnya.


"Ini Bhal." Echa meletakkan kopi di atas meja kerjanya.


"Makasih, Sayang." Radit menarik lengan Echa dan Echa pun terjatuh di pangkuan Radit.

__ADS_1


Mata mereka saling menatap dalam. Radit memeluknya dengan erat. "Tetap di sampingku, jadi penguat untukku. Hanya kamu yang aku punya, dan hanya demi kamu aku bertahan," lirihnya.


"Iya, aku gak akan ke mana-mana. Aku akan selalu ada di samping kamu," jawab Echa.


Radit melonggarkan pelukannya, dan menatap dalam manik mata indah milik Echa.


"Kamu juga harus janji sama aku. Jangan tinggalin aku, kita sembuhkan luka kita sama-sama," pinta Echa.


Radit mengangguk lalu mengecup kening Echa sangat dalam. Radit adalah pria normal. Dia ingin mengecup bibir yang masih perawan yang Echa miliki. Namun, cintanya terlalu besar dibandingkan dengan nafsunya.


"Kamu ke kamar istirahat, kalo ada apa-apa panggil aku, ya." Echa mengangguk mengerti.


"Bhal, boleh aku pinjam ponsel kamu?" ucap ragu-ragu Echa.


Radit tersenyum tipis tanpa banyak tanya, Radit menyerahkan ponselnya begitu saja kepada Echa.


"PINnya tanggal jadian kita," kata Radit. Echa menatap Radit tidak percaya.


"Di dalam sana tidak ada apa-apanya, Sayang. Silahkan kamu periksa," tantang Radit.


"Ya udah aku bawa, ya." Sebelum Radit menjawab Echa sudah mengecup pipi kanan Radit dengan sangat cepat.


"I love you, Bhal," ucap Echa seraya meninggalkan Radit.


Radit hanya tersenyum dan memegang pipinya yang baru saja didaratkan kecupan hangat oleh kekasihnya.


Echa merebahkan diri di kamar Radit yang berada di lantai dua. Dia membuka ponsel milik Radit. Senyumnya merekah ketika melihat wallpaper ponsel Radit adalah foto dirinya yang sedang tersenyum bahagia. Dan galeri foto di ponsel Radit hanya berisi foto dirinya dan juga Radit. Malah, didominasi foto Echa.


"Sweet banget sih, Bhal. Makin sayang deh," gumamnya.


Cinta bisa membuat orang menjadi alay dan berlebihan. Itu pula yang dirasakan oleh Echa. Dia mampu melupakan kesedihan dan kekecewaan terhadap ayahnya. Hanya rona bahagia yang Echa pancarkan.


Tak terasa dua jam sudah berlalu. Echa pun mulai terlelap dengan nyenyaknya. Tiba-tiba suara bising membangunkan tidurnya. Echa mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum turun.


Alangkah terkejutnya ketika Echa sudah melihat Rindra dengan dua ajudannya menatap sinis ke arah Radit. Kedua ajudan itu sudah mendekat ke arah Radit.


"Bhal," teriak Echa.


Radit segera menoleh ke arah Echa dan ternyata dua ajudan itu menyerang Radit tiba-tiba. Hingga tubuh Radit tersungkur di lantai.


"Hentikan!" seru Echa seraya menolong tubuh Radit yang sudah lemah. Dan hidungnya mengeluarkan darah segar.


Mereka pun mengehentikan perbuatan mereka kepada Radit membuat Rindra mengerang kesal.


"Lanjutkan!" titah Rindra.


"Kalian mendekat, aku laporkan kepada Kakek," ancam Echa.


Dua ajudan itu pun mundur, dan Rindra hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apa yang Kak Rindra inginkan? Belum puaskah Kak Rindra menyakiti hati Kak Radit? Hingga fisiknya pun Kak Rindra sakiti juga?"


"Apa salah Kak Radit, Kak? Hingga Kakak menjelma menjadi Kakak kandung yang tidak memilki hati seperti ini?"


Echa memangku kepala Radit dengan mulut serta hidungnya mengeluarkan darah.


"Bhul," ucap Radit pelan.


"Lihat Kak Radit, Kak. Lihat!" teriak Echa.


"Sekejam apapun kalian dia masih bisa menahan emosinya. Tapi, kalian? Seperti iblis yang menjelma menjadi manusia," sentaknya.


Echa segera menghubungi Kakeknya agar mengirimkan ambulance ke tempat praktek. Dengan cepat Rindra ingin mengambil ponsel Echa. Tapi, kaki Radit mampu menghalau langkah Rindra hingga dia tersungkur.


Dengan sisa kekuatan, Radit mencoba bangun dengan dibantu oleh Echa. Radit menghalangi tubuh Echa dengan tubuhnya agar tidak terjamah oleh Rindra.


"Gua bilang, jangan sentuh pacar gua," bentak Radit dengan suara serak.


Ada perasaan takut di hati Echa. Apalagi, melihat Radit yang sudah lemah seperti ini.


"Masih berani kamu dengan kondisi seperti itu," cibir Rindra yang sudah bangkit.


"Kekuatanku adalah kekasihku. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi Echa," sentaknya.


"Hahaha, melindungi dengan tubuh lemah seperti ini? Apa bisa?"


"Jangan salahkan aku, jika aku akan menguasai tubuh kekasihmu." Seringai jahat muncul di wajah Rindra membuat amarah Radit naik.


Dan Echa sungguh ketakutan mendengar ucapan dari Rindra. Sedangkan ajudan Rindra lebih memilih kabur dari pada harus berhadapan dengan Genta nantinya.


Rindra mulai bersiap untuk menghantam wajah Radit. Sasarannya adalah hidung Radit. Tapi, kali ini Radit bisa menghindari pukulannya. Naasnya, pukulan kedua tepat kena sasaran hingga Radit tersungkur.


Dengan membabi-buta, Rindra menghajar wajah Radit. Berkali-kali Echa berteriak tidak diindahkan oleh Rindra. Dia semakin kejam menghajar wajah Radit.


"Rindra!" Suara seseorang bergema dan suara itu terdnegar penuh dengan kemarahan.


Baju kemeja Rindra ditarik dengan paksa dan ...


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tubuh Rindra pun tersungkur.


...----------------...


Semoga gak bosen ya ...

__ADS_1


__ADS_2