
"Lebih baik istrimu di rawat di sini untuk beberapa hari ke depan. Aku takut, jika kamu bawa pulang akan kamu serang kembali," kekeh dokter Firman.
Radit hanya mendelikkan matanya ke arah dokter Firman, yang tak lain adalah teman Radit. Radit dan Firman sama-sama berasal dari Indonesia.
"Lakukan yang terbaik untuk istriku." Dokter Firman hanya mengangguk patuh.
Dokter Firman meninggalkan Radit serta istrinya. Radit masih menggenggam tangan istrinya yang masih lemah. Mata Echa masih sulit untuk terbuka.
"Bangunlah, Sayang. Maafkan aku," lirih Radit yang terus mengecup tangan Echa.
Echa mampu mendengar, tetapi matanya tidak dapat terbuka. Rasa pusing pun masih menjalar di kepalanya. Satu jam sudah berada di ruang IGD, akhirnya mata Echa mulai terbuka pelan. Lengkungan senyum penuh penyesalan yang Radit berikan untuk istrinya ketika membuka mata.
"Kamu harus dirawat dulu di sini, ya. Aku tidak ingin kondisimu semakin memburuk." Echa hanya mengangguk lemah.
Echa pun dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Bukan karena Radit seorang dokter di sini yang mendapat penanganan khusus. Memang Radit yang meminta semua fasilitas ini. Dia pun harus membayar sesuai dengan prosedur yang ada.
Tubuh Echa masih lemah dan wajah pucatnya pun masih terlihat jelas. Radit terus mendampingi istrinya dengan sangat setia.
"Kenapa kamu gak bilang kalo kamu gak enak badan, Yang?" Pertanyaan yang Radit berikan ketika Echa meminta minum.
"Aku kira hanya pusing biasa atau masuk angin," balasnya.
"Jika, kamu pusing atau lemas kamu harus bilang sama aku. Jangan kamu rasakan sendiri. Aku ini suami kamu. Aku harus bisa menjaga kamu, memberikan yang terbaik untuk kamu. Kamu sakit seperti ini membuat hatiku juga sakit," terang Radit.
Mata Echa mulai berkaca-kaca mendengar penuturan dari Radit. Manik mata Radit pun memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Setelah kamu pulang dari rumah sakit, kamu tidak boleh masak untuk aku. Kecuali di hari libur. Kamu cukup menemani aku sarapan dan makan malam. Tanpa ada acara masak-masakan ataupun kelelahan," tegas Radit.
"Tapi, Ay ...."
"Sayang, kita sedang melakukan program hamil. Kamu tidak boleh kecapean. Nutrisi kamu pun harus terpenuhi. Jadi, jangan bandel." Echa pun mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan dari Radit.
Radit merasa gemas dan mengecup bibir Echa dengan lembutnya. Mereka pun terbuai. Deheman seseorang membuat adegan mereka harus terhenti. Sudah berdiri Firman di depan pintu sambil menggelengkan kepala. Sedangkan perawat perempuan yang bersama Firman hanya tersenyum malu melihat adegan yang tidak cocok untuk dilihat anak di bawah umur.
"Tadi saya bilang apa dokter Raditya," imbuh Firman.
Radit hanya berdecak kesal ketika Firman mendekat ke arahnya dan juga Echa. Sedangkan Lala, perawat yang bersama Firman hanya tersenyum mengejek ke arah Radit.
"Saya kira dokter Radit datar. Ternyata buas juga," kekeh Lala.
Lagi-lagi Radit mendelik kesal. Sedangkan Echa tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya karena malu.
Firman mengecek kondisi tubuh Echa. Semuanya dia cek secara teliti agar tidak mendapat protes dari sahabatnya. Jika, sudah menyangkut Echa, Radit akan menjadi pria over posesif.
"Kamu masih lemah, Cha. Kalo Radit minta yang aneh-aneh, jangan takut untuk menolak." Echa hanya mengangguk.
"Ya sudah, istirahat dan jangan luapan minum obatnya. Dan Anda dokter Radit. Jaga sikap Anda. Ini rumah sakit," ucap Firman seraya mengejek Radit.
Setelah dokter Firman menghilang, Echa menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Ingat tempat, Ay," ucap Echa.
"Makanya jangan sakit. Aku 'kan jadi harus puasa," keluhnya. Sukses mendatangkan cubitan yang pans dan teramat sakit di lengan Radit.
"Ampun, Sayang."
Ketika Echa terlelap dengan jarum infus di tangan, serta wajah yang masih pucat membuat rasa bersalah itu hadir kembali.
Banyak rekan-rekan sejawat Radit yang menjenguk istrinya ketika jam pulang kerja tiba. Mereka sangat iri karena Radit yang terus merengkuh tubuh istrinya yang tengah duduk di atas brankar. Sisi lain yang tidak pernah teman-temannya ketahui. Radit di pria datar ternyata bucin luar biasa.
Wajar saja, Radit memiliki istri yang sangat cantik. Benar-benar pasangan ideal. Namun, ada wajah seorang dokter yang sedikit ditekuk karena melihat perlakuan Radit kepada Echa. Dia adalah dokter Karina. Dokter anak yang diam-diam menyukai Radit. Namun, dia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun. Sehingga dia hanya memperhatikannya dalam diam tanpa mencari tahu Radit sudah memiliki kekasih atau belum.
Ketika para dokter dan perawat menerima undangan dari Radit. Hanya Karina yang tidak terlihat gembira. Sedangkan teman-teman Radit yang lainnya sangat bahagia. Meskipun mereka tidak bisa datang ke acara resepsi Radit dikarenakan mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan.
"Apa Radit semanja itu?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Dani, perawat laki-laki yang sama-sama berasal dari Indonesia. Hampir semua teman Radit berasal dari Indonesia. Itulah yang membuat Radit nyaman ketika hangout bersama mereka.
__ADS_1
"Kalian lihatnya seperti apa?" Suara lembut Echa membuat Karina sedikit terhenyak. Bukan hanya cantik, Echa juga bersuara lembut.
"Ya, kali aja dia datar-datar aja kayak papan." Ucapan Dani membuat mereka yang ada di ruang perawatan Echa.
Tawa mereka terhenti ketika seorang security membawakan dua jinjingan plastik besar. Radit segera mengambilnya dan memberikan satu kotak makanan kepada security.
"Thank you." Radit hanya mengangguk pelan.
Radit menyerahkan dua jinjingan plastik itu kepada teman-temannya. Membuat mereka sedikit mengerutkan dahi.
"Makanlah, istriku yang memesankannya untuk kalian." Mereka pun bersorak gembira. Apalagi fast food yang Echa pesan sangatlah lengkap.
"Kalo gak abis, boleh bawa pulang 'kan, Dit?" Pertanyaan dokter Firman langsung dibalas sorakan oleh yang lainnya.
"Dokter pelit," ejek Lala.
Radit hanya menggelengkan kepala. Dia mengambil kotak berisi ayam cepat saji beserta nasi, burger, kentang goreng serta lemon tea.
"Kok ngambilnya cuma satu?" ujar Dani. Sedangkan sisa makanan itu masih banyak.
"Aku terbiasa makan berdua," sahut Radit. Membuat Dani mendelik kesal. Sedangkan yang lainnya sudah menikmati makanan yang mereka ambil.
Hanya Karina yang masih memegang makanan tanpa membukanya. Matanya tertuju pada Radit yang sedang menyuapi Echa dengan mesranya.
"Aku kira dokter Radit berbohong, ternyata benar," imbuh Lala. Semua mata pun tertuju pada pasangan pengantin baru di depan mereka. Dani tersedak melihat pemandangan romantis dan manis.
"Sweet banget," ucap Nina perawat yang lain.
"Echa itu susah makan, dia akan makan jika sama-sama."
"Manja," celetuk Karina. Sontak semua mata menatap Karina.
"Wajar kalo manja, mereka sudah halal. Mau ngapain aja bebas," balas Dani.
Echa menatap Radit, Radit hanya membalasnya dengan senyuman. "Mau semanja apapun kamu sama aku. Aku tidak akan pernah merasak risih. Malah aku bahagia."
"Dokter Radit ini membuat jiwa jomblo ku meronta-ronta," ucap Lala.
Setelah puas bergurau, becanda dan tertawa. Mereka pamit pulang, Hanya Karina yang berwajah masam. Dia bersikap manis kepada Radit. Namun, dia sangat masam ketika berpamitan kepada Echa.
"Minum obat, ya." Echa tidak menjawab. Dia masih memikirkan sikap Karina kepadanya.
"Sayang." Echa pun tersadar ketika Radit menyentuh bahunya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Radit. Dengan cepat Echa menggeleng. Namun, Radit tidak semudah itu untuk percaya.
"Aku sudah bilang, jangan sembunyikan apapun kepadaku," katanya sambil menarik Echa ke dalam pelukannya.
"Aku merasa dokter Karina menyukaimu." Radit hanya tertawa mendengar ucapan Echa. Dia menangkup wajah Echa dan menatap dalam manik mata Echa.
"Biarkan Karina menyukaiku, yang paling penting aku tidak menyukainya," ucap serius Radit.
"Jika, aku tertarik pada wanita lain. Sudah pasti aku akan meninggalkan kamu. Enam tahun lebih menunggu kamu bukanlah waktu yang singkat. Banyak yang lebihi cantik dari kamu, tetap kamu yang aku cintai serta sayangi. Hatiku pun hanya terkunci pada dirimu." Echa pun tersenyum dan memeluk tubuh suaminya.
"Jika, aku lihat kamu dengan wanita lain. Aku akan pulang ke Indonesia, dan selamanya aku tidak ingin bertemu dengan kamu lagi."
"Aku janji, itu tidak akan terjadi. Aku ingin menua bersama kamu. Merawat anak-anak kita dan menyaksikan mereka tumbuh dewasa," balas Radit.
Dua hari sudah Echa dirawat di rumah sakit tempat suaminya bekerja. Hari ini Echa sudah diperbolehkan untuk pulang. Ketika Radit sedang mengurus administrasi serta harus bertemu dengan dokter senior terlebih dahulu, Echa masih betah duduk di tepian ranjang pesakitan dengan menggenggam ponselnya.
Suara pintu terdengar, senyum yang sudah dia ukirkan sirna begitu saja. Ketika yang masuk ke dalam ruang perawatannya adalah Karina. Echa masih bersikap tenang, serta menyapanya dengan senyum penuh kepura-puraan.
"Aku mencintai suamimu." Tanpa basa-basi Karina mengatakan hal itu kepada Echa.
Di luar dugaan Karina. Echa menanggapinya dengan senyum tipis. Apa yang Echa rasakan ternyata benar.
"Hanya kamu 'kan yang mencintai suamiku? Tidak dengan suamiku." Begitu tenang jawaban yang Echa lontarkan.
__ADS_1
Karina pun terdiam mendengar jawaban Echa. Padahal dia berharap Echa akan marah dan bertengkar dengan suaminya.
"Kejar suamiku jika dia mau denganmu. Jangan salahkan aku jika dia menolakmu dan bisa membuatmu gila dengan perkataannya," tambah Echa.
"Sial!" batin Karina.
Nina mencoba menghubungi Radit, begitu juga dengan Dani. Karena mereka berdua baru mengetahui bahwa Karina menyukai Radit. Sekarang, Karina sedang ke ruang perawatan Echa. Dia berniat untuk mengatakan perasaan yang dia miliki untuk Radit kepada Echa. Nina dan Dani takut, jika Echa akan menangis.
Lima menit berselang, Radit menelpon Dani. Ketika Dani mengatakan semuanya, Radit segera berlari menuju kamar perawatan sang istri. Radit benar-benar takut jika Echa akan terpancing oleh ucapan Karina.
"Sayang," panggil Radit yang sudah masuk ke dalam kamar perawatan Echa.
Echa dan Karina pun menoleh ke arah Radit. Radit segera menuju ke arah Echa dan memeluknya.
"Kamu tidak apa-apa?" Echa menggeleng sambil memeluk pinggang suaminya.
"Ay, kamu lihat dokter wanita itu," tunjuk Echa ke arah Karina.
"Dia mengatakan kepadaku, jika dia mencintai kamu," terang Echa.
"Dengan percaya dirinya dia mengatakan bahwa kamu juga mencintainya," lanjut Echa lagi.
Radit tersenyum ke arah sang istri yang tengah mendongakkan kepalanya menghadap Radit.
"Sejak kapan aku mencintai wanita lain selain kamu? Semesta pun tahu jika aku hanya mencintai kamu." Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Tak dia pedulikan Karina sedang menahan marah serta malu.
"Jangan percaya apa kata orang. Kamu juga bisa merasakan seberapa besarnya cintaku untuk kamu." Echa tersenyum dan memeluk tubuh suaminya. Lidahnya sedikit menjulur ke arah Karina.
"Jika, mau mengada-ada harus pakai logika," sindir Echa.
Radit pun tertawa, suara langkah kaki membuat Radit dan Echa menoleh. Senyum mereka tersungging ketika melihat Addhitama.
"Kamu bilang ke Papih?" tanya Echa.
"Radit hanya dilarang untuk menghubungi orang tua kamu. Bukan dilarang menghubungi Papih," jawab Addhitama.
Echa tersenyum kikuk dan menatap suaminya dengan tatapan sedikit kesal.
"Tidak apa, Cha. Papih juga berhak tahu bagaimana kondisi kamu. Ingat, kamu sedang proses hamil. Jangan terlalu lelah." Echa pun hanya mengangguk patuh.
Addhitama kini beralih pada Karina. Dahinya mengerut melihat Karina yang masih mematung di hadapan anak dan menantunya.
"Dokter Karina, kenapa Anda masih di sini? Bukankah Anda sedang ada praktek," tegur Addhitama.
Karina tersentak mendengar ucapan Addhitama. Selama dia bekerja, Addhitama adalah dokter senior sekaligus pemilik saham cukup besar di rumah sakit ini. Tidak pernah dia berkata kepada juniornya.
"Sa-saya permisi, Dok." Dengan cepat Karina pergi dari kamar perawatan Echa dengan wajah ketakutan. Sedangkan di depan Nina dan Dani tertawa melihat wajah Karina yang nampak seperti dikejar hantu.
Setelah berbincang sebentar dengan sang Papih. Mereka berdua meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di rumah, pelukan lembut dari kedua asisten rumah Radit membuat Echa merasa nyaman. Dia merasa memiliki keluarga di sini.
"Bi, buatkan istriku bakso, ya. Sama jus alpukat." Kedua asisten itu pun mengangguk patuh.
Radit terus menggandeng tangan Echa menuju kamarnya. Membantu membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur.
"Aku mandi dulu, ya." Echa mengangguk pelan.
Banyak sekali pesan dari sang mamah. Namanya seorang ibu pasti bisa merasakan apa yang sedang putrinya rasakan.
"Maafkan Echa, Mah."
Lebih baik menyimpan kondisi sebenarnya dari pada keluarganya khawatir. Itulah yang selalu Echa terapkan semasa kuliah di Ausi. Masih dalam pengaruh obat, dia pun terlelap.
Radit yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum bahagia melihat istrinya tidur dengan nyamannya. Setelah dia berganti pakaian, dia ikut terbaring di samping Echa. Memeluk tubuh sang istri dan tak lupa mengecup kening sang istri sangat dalam.
"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah mengkhianati kamu."
Echa tidur dengan posisi kepala di atas lengan Radit. Sedangkan wajah Echa sudah menelusup di dada bidang Radit dengan begitu nyaman. Tangan mereka pun sudah saling memeluk. Seperti tidak ingin dipisahkan.
__ADS_1
Dua jam mereka terlelap, Echa mulai mengerjapkan matanya. Ketika dia membuka mata yang pertama kali dia lihat adalah Raditya Addhitama yang masih tidur dengan damainya. Senyuman pun merekah di bibir Echa. Dia menyentuh pipi mulus suaminya dengan lembut. Kemudian, dia semakin menelusupkan wajahnya ke dada bidang Radit. Memilih memejamkan matanya kembali karena sudah terlalu nyaman berada di dalam pelukan sang suami.
...****************...