
"Radit," teriak Echa yang langsung berlari menghampiri Radit.
"Bangun, Dit," ucapnya.
"Jangan buat aku takut, Dit."
Ayanda sudah memanggil beberapa pelayan untuk membawa tubuh Radit ke sofa ruang keluarga. Wajah Radit nampak pucat.
"Mah ...."
"Radit sedari tadi belum makan, Kak. Dia hanya ingin nunggu kamu di sini. Ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," jelas Ayanda.
"Dari tadi Mamah sudah menyuruhnya makan, tapi dia tidak mau. Dia hanya ingin kamu."
"Dit, aku mohon bangun," ucap Echa yang sudah menahan air matanya.
"Berikan minyak angin ini, nanti juga dia bangun," ucap Ayanda.
Selang lima menit Radit mengerjapkan matanya, dan dia melihat Echa sedang menyeka ujung matanya.
"Bhul," panggilnya dengan suara berat.
Echa menatap Radit dengan air mata yang sudah ingin terjatuh. Radit berusaha untuk bangkit dari posisinya tidurnya. Lalu, dia mengusap air mata di wajah sendu Echa.
"Jangan nangis," ucapnya.
Echa bangkit dari duduknya dan dengan cepat Radit menarik tangan Echa. "Jangan pergi. Aku bisa ...."
"Aku mau ngambil makanan dulu buat kamu," sahut Echa.
Echa pun meninggalkan Radit dan mengambilkan makanan untuk kekasihnya. "Radit udah sadar?" Echa hanya mengangguk.
"Jika ada masalah bicarakan baik-baik, Kak. Tanya dulu baik-baik. Jangan main marah-marah aja. Siapa tahu itu hanya salah paham," ujar Ayanda.
Echa pun meninggalkan ruang makan dan duduk di samping Radit yang sedang menyandarkan tubuhnya di kepala sofa dengan mata yang terpejam.
"Makan dulu," titah Echa.
Echa pun dengan telaten menyuapi Radit. Wajah Radit yang pucat kini sudah kembali segar. Setelah Echa menaruh piring kotor, Radit menatap Echa dan menggenggam tangannya.
"Wanita yang bersama aku tadi adalah sekretaris Bang Rindra," jelasnya. Echa hanya menghela napas kasar. Radit pun menjelaskan semuanya.
# flashback on.
Sekitar jam 10 Radit ditunggu Rindra di ruangannya. "Ada apa?" tanya dingin Radit.
"Antar Sisi ke toko buku, ada yang harus dia beli untukku," titah Rindra.
"Kenapa harus aku?" tanya Radit kembali.
"Rival sedang meeting di luar, jadinya kamu yang harus menjaga sekretaris aku," jawabnya.
Radit tidak mau berdebat, akhirnya dia mengantarkan Sisi ke toko buku. Radit tahu, Sisi menyimpan hati kepadanya. Namun, Radit selalu bersikap acuh kepada semua wanita di kantor. Yang dia lakukan hanya fokus bekerja untuk menggantikan ayahnya.
Setelah sampai di toko buku, Radit mengekori Sisi yang entah sudah berapa jam hanya melihat-lihat buku tanpa membelinya. Radit sudah bosan sebenarnya, tapi sedari tadi Rindra terus menghubungi Radit agar tidak meninggalkan Sisi, sekretaris kesayangan abangnya.
Sisi ingin meraih buku di rak yang paling atas. Namun, dia tidak sampai dan akhirnya dia berjinjit lalu hampir terjatuh karena tubuhnya tidak seimbang. Jika, tidak ada Radit tubuhnya sudah dipastikan akan terjatuh.
Ternyata, di toko buku itu ada Echa yang melihat jelas adegan Radit yang sedang merengkuh tubuh Sisi. Sehingga terjadilah kesalah pahaman ini.
# flashback off.
__ADS_1
"Gitu Bhul ceritanya."
"Jangan marah lagi, aku gak akan bermain di belakang kamu. Jika ada apa-apa, tanya dulu kebenaranya." Echa pun mengangguk.
Hubungan mereka pun sudah menghangat kembali. Radit menarik tangan Echa dan mendekap hangat tubuhnya.
Masa lalu mereka yang hampir sama membuat mereka merasa sangat nyaman dengan hubungan mereka saat ini. Seolah Radit menemukan pasangan yang cocok untuknya.
"Besok bisa hadir ke acara pensi?"
"Aku usahain ya. Kalo gak bisa gak apa-apa kan?" Echa mengangguk pelan.
Keesokan harinya, acara pensi dimulai. Semua siswa ikut bergembira apalagi Riza menjadi penyanyi pembuka membawakan lagu rindu dalam hati.
Echa tercengang mendengarnya, semua siswa bersorak keras karena melihat tatapan Riza hanya ke arah Echa. Wajah Tere sudah memerah bak udang rebus. Dia benar-benar malu karena ternyata Riza masih mengharapkan Echa.
Echa hanya menghela napas kasar. Ingin sekali dia membenamkan tubuhnya ke laut merah. Dia benar-benar menjadi pusat perhatian semua murid dan juga para guru.
Sekarang giliran Echa yang bernyanyi, Doni yang sangat antusias. Karena Echa sama sekali tidak membocorkan lagu apa yang akan dinyanyikannya di panggung pensi.
🎶
Dalam perjalanan cinta
Siapa yang tak terluka
Jika segala yang ku beri
Tak pernah ada arti
Hingga akhirnya
Kau memilihnya
Jika ingin pergi
Kau tak pernah mengerti hati
Tak mungkin lanjutkan ini
Harusnya memberi
Bukan saling benci
Bukan patah hati
Semoga cinta terurai
Cinta telah selesai
Semua murid berteriak. "Lagu balasan yang sangat menohok," teriak salah satu murid.
Semua daya aku coba
Tuk pertahankan kita
Hingga akhirnya
Kau memilihnya
Jika kau bukan untukku
__ADS_1
Ku hanya ingin kau tahu bahwa
Setidaknya ku mencintai
Bukan tuk melukai
Tepuk tangan gemuruh dari paras siswa dan juga guru. "Mantap banget lagunya," teriak siswa laki-laki.
"Nyesek banget boy," timpal siswa yang lain.
"Ending of love." Semua siswa tertawa. Riza hanya dapat menahan malu. Karena siapa yang tidak tahu hubungan Riza dan Echa kandas karena orang ketiga dari pihak Riza.
Setelah Echa selesai tampil, Mima dan Sasa langsung memeluk tubuh sahabatnya. "The best," puji Sasa.
Echa mengecek ponselnya. "Maaf, aku gak bisa hadir. Aku sibuk banget hari ini." Ini adalah pesan dari Radit. Hati Echa sedikit kecewa.
Acara terus berlanjut, hingga penyanyi terkenal pun mempersembahkan suara merdunya. Mereka semua sangat menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh salah satu penyanyi ibukota. Tidak dengan Echa, ada kesedihan di hatinya.
"Kamu beneran gak datang?" Echa mengirimkan pesan kepada Radit
Namun, Radit tak kunjung membalas. Echa hanya menghela napas kasar.
Acara sudah akan berakhir, ternyata Radit tidak bisa hadir. Padahal Echa sangat menantikan kehadirannya. Setelah menyanyikan lagu cinta selesai dari Mahen hatinya kembali tidak baik-baik saja.
Ijinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa ... haa
Echa menoleh ke belakang dan matanya nanar melihat seseorang yang dia tunggu-tunggu sudah ada di atas panggung.
Ijinkan ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Tuk menemanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Semua siswa pun bertepuk tangan mendengar suara Radit. Apalagi tatapan mata Radit yang tak berhenti menatap Echa.
Pak Frans mendorong Echa untuk baik ke atas panggung. Suara sorak para siswa dan guru pun sangat terdengar.
"Mantanku sudah punya pacar baru," teriak salah seorang siswa.
"Karma tidak memandang waktu,"
Suara riuh pun sangat terdengar. Gelak tawa pun juga tak kalah terdengar. Riza hanya menatap Echa dan Radit dengan hati yang sangat terluka.
Hanya wajah bahagia yang Echa dan Radit pancarkan. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk mereka. Tanpa mereka sadari mereka hanya tenggelam dalam kebahagiaan yang semu.
Karena cepat atau lambat akan ada air mata yang menetes, hati yang patah dan juga akan ada hati yang terluka.
****
Happy reading ..
Up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.
__ADS_1