
Hari ini mereka sudah berkumpul di Bandara. Sebelumnya, terjadi drama antara Rion dan ketiga cucunya.
"Jangan lama-lama, ya." Ucapan Rion mampu membuat tiga anak Echa bersedih. Berhambur memeluk tubuh sang engkong.
"Ton, itut ya," ajak Aleeya.
(Engkong, ikut ya)
"Tidak Aleeya ... Engkong harus ke kantor Bubu karena Bubu 'kan sedang liburan bersama kalian," terang Rion.
"Tata Na inin tama enton," imbuh Aleena.
(Kakak Na ingin sama Engkong)
"Nanti ya, kita liburan sama Om kecil dan juga Aunty Ri. Mau?" Ketiga kurcaci itu mengangguk.
Echa menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga anaknya yang sangat menggemaskan. Mereka sangat menyayangi kakeknya melebihi apapun.
"Echa berangkat ya, Yah." Echa mencium tangan sang ayah. Begitu juga Radit dan si triplets.
"Hati-hati, Dek. Kalau sudah sampai sana hubungi Ayah." Echa mengangguk dan tersenyum ke arah Rion.
Ketiga anak Echa menangis karena tidak mau berpisah dengan Rion. Sungguh banyak drama ketiga anak ini. Radit lah yang kewalahan karena mereka tidak mau lepas dari sang ayah. Radit bagai tempat bersandar paling nyaman untuk si triplets.
"Kakak Na sama Bubu, ya." Aleena menggeleng.
Baru saja mulut Echa terbuka, Aleesa dan Aleeya pun menggeleng juga. Radit pun tertawa.
"Kenapa gak mau sama Bubu?" tanya Radit.
"Ti Bubu ati malah," bisik Aleeya.
(Nanti Bubu pasti marah)
Radit tertawa kembali mendengar celotehan Aleeya. Tidak dipungkiri, Echa memang keras kepada ketiga anaknya. Jika, mereka salah pasti Echa hukum dengan cara yang mendidik. Namun, mampu membuat ketiga anaknya kapok.
Wajah murung ketiga anak Echa berubah ketika mereka tiba di Bandara. Ada kakak sepupu mereka yang sudah menyambut si triplets dengan senyuman menawan.
"Ta Iyo!" panggil mereka bertiga.
Mereka meminta untuk diturunkan dan berlari ke arah Rio. Sedangkan Radit menggeleng tak percaya dengan senyum yang mengembang.
"Gak kangen sama Om?" Mendengar suara Rifal si triplets nemplok bagai cicak di tubuh Rifal.
"Biyi ainan, ya."
(Beli mainan, ya)
Rifal pun tertawa mendengar ucapan si triplets. Dia terlalu memanjakan keempat keponakannya hingga dia selalu menjadi target palak oleh keempat keponakannya.
"Siap, tapi nanti duduknya sama Om, ya." Mereka bertiga mengangguk.
Sebagai adik dari Rifal, Radit bangga kepada sang kakak. Mampu bersikap lembut kepada anak kecil. Apapun yang Rio dan si triplets minta, pasti akan Rifal kabulkan tanpa alasan. Terkadang, Radit membayangkan bagaimana kehidupan sang kakak ketika sudah membina rumah tangga. Pasti akan lebih menyayangi anaknya.
Ini kali pertama si triplets naik pesawat. Jika, hanya melihat-lihat atau bermain-main di dalam pesawat Gio sering mengajak mereka jika waktunya sedang senggang. Namun, untuk terbang ini kali pertama untuk mereka. Sehari sebelum keberangkatan, Echa dan Radit memeriksakan kondisi kesehatan ketiga anaknya terlebih dahulu sebelum diajak terbang. Jadi, tidak ada yang mesti dikhawatirkan lagi.
Pesawat pun mengudara, minus Addhitama. Keempat keponakan Rifal sangat lengket bagai perangko kepada Rifal. Sedangkan para orang tua anak-anak itu sedang bermesraan membuat Rifal mendengus kesal.
Tiba sudah mereka di Bandara Singapura. Mereka segera menuju rumah milik Addhitama yang berada di Singapura. Rumah mewah yang didesain sangat modern.
"Enak banget, ya," ujar Nesha.
Berbeda dengan Echa, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar. Setelah diterjang oleh kapal selam milik sang suami semalam, tubuh Echa masih sangat lemas. Sesuai dengan ucapannya, dia hanya ingin istirahat di Singapura.
Ketiga anak Echa sudah sangat bahagia karena di sana terdapat kolam renang mini. Sepertinya sengaja Addhitama bangun untuk keempat cucunya.
"Baba, boyeh?" tanya Aleesa.
Mereka ingin berenang, tetapi Radit masih ragu karena Echa sudah pasti melarangnya. Sedangkan Rio sudah menyeburkan diri ke kolam yang hanya dalamnya setengah lutut orang dewasa.
"Baba ...."
Rengekan ketiga anaknya membuat Radit menganggukkan kepala. Si triplets nampak bahagia ketiga tubuh mereka berada di dalam air. Radit hanya memperhatikan dari pinggiran kolam.
"Echa ke mana, Dit?" tanya Rindra yang baru saja mengambil minuman kaleng di dalam.
"Tidur, kecapean," ujar Radit.
Rindra menggelengkan kepalanya karena merasa tidak percaya. Adiknya yang terlihat kalem ternyata maniak juga.
"Sah-sah aja lah, Bang. Sama istri sendiri ini. Mau gaya cicak, guguk, kuda bisa semuanya dicoba. Bayangin aja lah, setahun loh puasa," tuturnya.
Rindra hanya tertawa sedangkan Rifal sudah menoyor kepala Radit dengan cukup keras.
"Hargai gua yang jomblo," sentaknya.
__ADS_1
Bukannya marah Radit dan dan Rindra malah tertawa terbahak-bahak. Mereka berbincang dan menyusun rencana. Namun, si penunjuk arah belum siuman juga. Masih tenggelam dalam lautan mimpi indah.
Radit mencoba membangunkan istrinya di saat senja mulai menampakkan dirinya.
"Bangun, Yang. Udah sore." Echa mencoba membuka matanya yang masih rapat. Menatap suaminya dengan tatapan memohon.
"Anak-anak ingin bermain sama kamu." Mendengar kata anak-anak membuat Echa membuka matanya.
"Masih sakit?" tanya Radit.
"Sedikit. Kamunya makin ke sini makin parah," keluh Echa.
"Wajar, Yang. Setahun loh." Echa mengerucutkan bibirnya membuat Radit terkekeh.
Setelah membersihkan tubuhnya, Echa menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga bersama anak-anaknya.
"Putri tidur baru bangun," cela Rifal.
Echa tidak menggubris, membiarkan kakak iparnya itu mengoceh. Lagi pula sekarang Echa yang menjadi penggeraknya.
"Makan dulu, Cha," ucap Nesha.
"Iya, Mbak," balas Echa yang malah menyandarkan tubuhnya di bahu sang suami.
Jika, sudah seperti ini Echa sedang ada maunya. Tatapan Radit mampu membuat Echa tersenyum. Radit sangat gemas kepada istrinya ini. Mereka berdua ke dapur dan dengan telaten Radit menyuapi istri yang manjanya ini.
"Lu ngapain manja-manjaan di sini coba? Bantu gua," seru Rifal.
"Besok aja lah, Kak. Echa bilangnya ke Kak Kano besok main ke rumahnya. Sekalian ngerayain ulang tahun Kaza katanya," jawab Echa.
Rifal menarik kursi untuk dia duduki. Dia menatap ke arah adik serta adik iparnya.
"Apa yang gua lakuin itu salah, ya?"
Pertanyaan bodoh yang pria dewasa lontarkan, Echa dan Radit menatap jengah ke arah Rifal.
"Udah tahu salah, masih aja ngeyel," sungut Echa.
"Sekarang gini aja, Kak. Percaya dengan pepatah seperti ini. Wanita selalu benar dan pria selalu salah."
"Itu mah lu!" ejek Rifal.
"Ih, kenapa sih Kakak ini selalu ngeyel kalau dibilangin. Apa yang diucapkan suami Echa benar Kak." Rifal mulai mencebikkan bibirnya. Drama rumah tangga dimulai.
"Sekarang Echa mau nanya sama Kakak. Setiap Kakak hubungin Keysha, Kakak ngobrolin apa?" Rifal terdiam sejenak mendengar pertanyaan Echa.
Echa dan Radit menepuk jidat mereka masing-masing. Kenapa pria dewasa di depannya ini sangat kaku bagai kanebo kering.
"Kalau nge-chat?" tanya Radit.
"Biasanya dia yang duluan kirim pesan. Nanya lagi di mana? Nanya kabar."
"Coba liat hp Kakak." Hanya Echa yang mampu menodong sang kakak ipar.
Ketika Echa membuka aplikasi chat dan dia cari nama Keysha, Echa benar-benar ingin memakan Rifal hidup-hidup.
*Kak, udah pulang belum?
Udah*.
Hati-hati ya di jalan.
Iya.
Udah makan belum?
Udah.
Echa meletakkan ponsel Rifal dengan kasar. "Kalau aku jadi Keysha udah aku putusin Kakak dari hari pertama jadian," omel Echa.
Radit yang penasaran melihat hp sang kakak. Dia menggeleng tidak percaya.
"Kaya belum pernah ngerasain pacaran aja, sih," imbuh Radit.
"Bukan begitu, gua gak suka dengan hubungan yang diatur-atur," jawab Rifal.
"Hei! Kakak iparku yang sangat cerdas. Ini ngaturnya di mana? Keysha itu sedang memberikan perhatian kepada Kakak. Berarti dia juga ingin diperlakukan seperti itu, wahai Kak Rifal Addhitama," geram Echa.
"Aku 'kan udah bilang, LDR itu gak semudah yang dibayangkan. KOMUNIKASI itu modal yang paling utama. Kalau komunikasinya aja begini jangan harap hubungan Kakak akan berlanjut," terang Radit.
"Urus deh Kakak kamu. Pantas aja gak dapat-dapat jodoh." Umpatan demi umpatan keluar dari bibir Echa. Dia merasa bahwa kakak iparnya sangatlah bodoh.
Echa mendudukkan diri dengan kasar di samping Nesha. Rindra dan Nesha yang sedari tadi bermesraan terkejut dengan kehadiran Echa yang tak indah dipandang.
"Radit ngapain kamu?" Ucapan Rindra mampu membuat Nesha sedikit cemburu. Apalagi tatapannya yang penuh dengan kepedulian. Namun, Nesha segera menepisnya. Rindra hanya mencintainya. Begitu juga Echa yang hanya mencintai Radit.
__ADS_1
"Bukan Kak Radit, tapi Kak Rifal," adunya.
Rindra mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Echa. Begitu juga Nesha, tetapi dia dapat bernapas lega karena kecemburuannya tidak terbukti.
"Kenapa sama Rifal?" tanya Rindra penasaran.
"Abang 'kan mantan pria berengsek." Ucapan Echa mampu membuat Nesha tersenyum. "Tolong kasih tutorial gimana caranya peka sama pasangan," sungut Echa.
Nesha dan Rindra tertawa mendengar Omelan Echa. Rindra bangkit dari duduknya menemui Rifal. Ternyata di dapur Rifal tengah mendapat kuliah tujuh menit.
"Butuh tambahan kultum gak?" Rifal mendengus kesal. Namun, dia juga mengangguk pelan.
Keesokan paginya, mereka jalan-jalan ke tempat wisata anak-anak. Semua orang bergembira kecuali Rifal yang tengah gundah gulana. Nomor ponsel Keysha sudah tidak pernah aktif semenjak dia mengirimkan pesan untuk pisah.
Malam pun tiba, mereka semua datang ke kediaman Kano. Rumah yang sangat megah dan bernuansa modern. Bagai rumah sultan. Tak disangka di sana sudah ada Beby dan juga Arya serta Beeya.
Kedatangan Echa disambut Sheza dan juga Kano dengan sangat bahagia.
"Kangen banget nih sama sugar daddy Echa," kelakarnya sambil memeluk erat tubuh Kano.
"Miss you too." Beginilah kegilaan yang tercipta jika Kano sudah bertemu Echa.
"Ayo masuk, Mbak," ajak Sheza kepada Nesha.
"Kamu gak kangen Kakak?" Keysha tersenyum dan memeluk tubuh Echa.
"Makin cantik aja," puji Echa.
"Makasih. Riana gak ikut?" Echa menggeleng. Wajah Keysha nampak sendu.
"Jangan sedih, Kakak bawa hadiah buat kamu," imbuhnya. Keysha mengernyitkan dahinya tak mengerti.
Tiga orang pria masuk ke dalam rumah Keysha dan disambut hangat oleh Kano. Namun, Keysha terlihat terkejut melihat kedatangan Rifal.
"Suatu kehormatan kedatangan tamu luar biasa. Tiga R dari keluarga Addhitama," ucap Kano.
"Key, tolong buatkan kopi, ya." Keysha mengangguk tanpa mempedulikan Rifal. Hatinya seakan sudah dia tutup.
Rifal hanya dapat melihat punggung wanita yang dia cintai semakin menjauh dan tak terlihat. Akhirnya, dia memutuskan menanyakan kamar mandi kepada Kano. Untung saja Kano dan Sheza tidak curiga.
Bukannya ke toilet, Rifal malah menghampiri Keysha di dapur.
"Kenapa kamu menyudahi semuanya?" Pertanyaan Rifal membuat air panas yang dia tuangkan mengucur ke kaki Keysha.
"Aw, panas-panas," ujarnya sambil mengibaskan kakinya.
Tanpa banyak bicara, Rifal menggendong tubuh Keysha menuju sofa yang berada tak jauh dari dapur. Tidak Keysha duga, Rifal meniup-niup punggung kaki Keysha. Keysha memandang wajah Rifal yang terlihat cemas.
"Aku ...." Rifal tidak melanjutkan bicaranya. Dia memilih untuk menatap manik mata indah Keysha.
Lama mereka berpandangan, akhirnya Keysha memutuskan pandangan itu. Dengan pelan, Keysha menurunkan kakinya yang berada di pangkuan Rifal. Perlahan Keysha berdiri dan melangkah menjauhi Rifal dengan langkah tertatih. Namun, Rifal mencekal tangan Keysha dan menariknya hingga Keysha masuk ke dalam dekapan hangat Rifal.
"Maafkan aku." Rifal berkata Rifal dengan tangan yang memeluk erat tubuhku Keysha.
Hati Keysha menghangat mendengar ucapan Rifal. Dia segera tersadar bahwa dia dengan Rifal sudah tidak ada hubungan apa-apa. Keysha melepaskan diri dari pelukan Rifal. Menatap mata Rifal dengan tatapan sulit diartikan.
"Berkali-kali Kakak meminta maaf, tetapi selalu saja mengulang kesalahan yang sama. Permintaan ku itu mudah. Saking mudahnya Kakak menyepelekannya," tuturnya.
"Aku memang masih kekanak-kanakan, aku juga bukan wanita yang mampu mengerti Kakak. Dari pada saling menyakiti, lebih baik kita jalan sendiri-sendiri." Keysha benar-benar dengan ucapannya. Ketegasannya terpancar jelas.
"Key," panggil Sheza.
Rifal buru-buru masuk ke dalam kamar mandi sambil mencuri dengar dari dalam.
"Lama amat?" tanya Sheza.
"Maaf, Mih. Kaki Key kesiram air panas tadi." Perkataan Keysha membuat wajah Sheza khawatir. Dia segera memeriksa keadaan kaki Keysha.
"Ya ampun, Key. Ini harus segera diobati. Mumpung di depan ada Sandy, minta antar ke rumah sakit, ya."
Rifal terdiam sejenak ketika mendengar nama Sandy. Dia sedang menerka-nerka siapa Sandy. Ketika Rifal masuk ke ruang keluarga, dia disuguhkan pemandangan yang sangat menyayat hati.
"Sakit gak?" Keysha mengangguk sambil memegang lengan Sandy.
"Aku beliin salep luka bakar dulu, ya. Sama obat dalamnya." Usapan lembut tangan Sandy di kepala Keysha membuat mata Rifal menunjukkan kilat yang menyeramkan.
"Kak, itu siapa? Ganteng juga." Echa sengaja memancing Sheza karena dia tahu Rifal tengah mencuri dengar meskipun dia sudah bergabung dengan para pria.
"Teman Keysha yang sekolah di universitas kedokteran terbesar di sini," jelas Sheza.
"Calon mantu?" Sontak mata Rifal membuka mendengar ucapan Echa.
"Bukan Kak, cuma teman." Keysha merasa tidak enak karena sudut mata Rifal menatap ke arah Keysha.
"Teman tapi mesra? Atau teman tapi menikah?" Keysha pun tertawa diikuti oleh Sheza dan juga Nesha.
__ADS_1
"Gak ada pacar-pacaran deh, kalau inginnya Kakak. Siapa yang berani meminang anak Kakak, insha Allah akan Kakak terima. Namun. dengan syarat dan ketentuan berlaku."