
"Dokter!" teriak Radit dan Echa berbarengan.
"Aleesa, bertahan, Nak. Jangan tinggalkan Bubu."
Dokter segera berdatangan dan memeriksa tubuh Aleesa. Echa dan Radit disuruh menjauh sebentar karena pihak dokter akan melakukan penanganan.
Radit terus menggenggam tangan Echa dan memeluk istrinya. Jujur, saat ini dia rapuh sekali. Namun. dia harus terlihat kuat karena pasti istrinya akan lebih rapuh dari dirinya.
Ya Tuhan, berikan keajaiban untuk putriku.
Itulah doa yang terus Radit panjatkan. Hatinya menangis keras sedangkan wajahnya seperti sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Jangan ditanya bagaimana Echa. Isakan lirih yang keluar dari mulutnya. Air mata yang sudah mengalir deras dan matanya yang sudah sangat membengkak. Tak ada yang bisa Echa katakan.
Sedangkan di luar ruang ICU, keluarga Radit beserta Gio baru tiba di sana. Ayanda sudah menangis di dalam dekapan Gio karena melihat para dokter yang berlarian. Samar dia dengar, nama cucunya yang mereka sebut.
Wajah Addhitama sudah berubah pias. Dia terus memandang pintu ruang ICU. Ingin rasanya dia membantu menyelamatkan Aleesa.
"Pih."
Rifal mengusap lembut bahu sang Papih. Dia yakin, papihnya merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Hingga dia menjauhi mereka semua dan menghubungi seseorang.
"Selamatkan cucuku. Berapapun biayanya akan aku bayar."
Addhitama sudah kehilangan akal. Dia teringat kejadian hampir tiga puluh tahun yang lalu. Di mana dia berdiri di ruang ICU dan tak lama, dia mendapatkan kabar buruk yang menjadi kesedihannya sampai saat ini.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Mereka menunggu dengan hati yang berdegup sangat cepat. Apalagi dokter belum keluar juga.
Tiga puluh lima menit berselang, pintu ruang ICU terbuka. Echa sudah tak sadarkan diri membuat semua orang panik.
"Kenapa dengan putri saya, dok?" tanya Rion.
"Anak Bapak pingsan karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada."
"Ke-kenyataan?"
"Aleesa Addhitama meninggal dunia."
Ucapan dokter membuat semua orang tertunduk dalam dan menitikan air mata. Tidak ada yang tidak menangis. Sedangkan Echa sudah dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa lebih lanjut.
Addhitama segera masuk ke dalam ruang ICU. Langkahnya terhenti dan dadanya terasa sesak ketika melihat sang putra tengah menangis di samping jenazah cucu kesayangannya. Hatinya bagai ditusuk pisau yang sangat tajam.
Tangannya mencoba mengusap lembut pundak Radit. Tubuh Radit semakin bergetar.
"Apa sesakit ini kehilangan orang yang kita cintai, Pih?" Suara yang terdengar sangat memilukan dan penuh dengan kesedihan.
"Radit belum siap, Pih."
Addhitama tidak bisa bicara. Air matanya meluncur dengan sangat bebas. Dia tidak menyangka bahwa Radit akan bernasib seperti ini.
Radit menatap pilu wajah Aleesa yang sudah tak bernapas. Wajah tenangnya, wajahnya cantiknya dan pipinya yang gembul membuat air mata Radit tak mau berhenti.
"Kakak Sa, jangan tinggalkan Baba. Apa Kakak Sa gak sedih melihat Bubu yang sekarang malah ikut tak sadarkan diri seperti Kakak Sa? Bangun, Nak."
Air mata Radit berjatuhan membasahi wajah Aleesa. Radit si pria kuat ternyata lemah jika menghadapi kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Apalagi anak kandungnya sendiri.
"Dit, kamu harus ikhlas. Meskipun, Papih tahu ikhlas itu sulit dilakukan. Masih ada Echa, Aleena dan Aleeya yang sangat membutuhkanmu. Tegar Dit, demi mereka."
Rion, Ayanda dan Gio tidak berani mendekat. Mereka merasakan kesedihan yang Radit rasakan. Terlebih Rion yang seperti manusia bisu saat ini. Hanya bulir bening yang terus menetes membasahi wajahnya.
Ya Tuhan, bagiamana dengan perasaan putriku?
__ADS_1
Rion buru-buru keluar dari ruang ICU. Dia berlari menuju ruang IGD di mana Echa tengah dialkukan pemeriksaan.
"Ayah!"
Lengkingan suara sang putra membuat langkah Rion terhenti.
"Bagaimana dengan Aleesa?" tanya Iyan dengan napas yang tidak teratur.
"Dia sudah meninggalkan kita semua."
Tubuh Iyan luruh ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa setiap yang Iyan lihat selalu benar? Kenapa? Kenapa Aleesa harus pergi?"
Rion memeluk tubuh Iyan. Dia mencoba menenangkan Iyan yang seperti orang kesetanan.
"Jo, hidupkan kembali Aleesa. Jangan biarkan Aleesa pergi, Jo."
"Ibu ... tolong Aleesa. Iyan mohon."
Iyan terus merancau memanggil-manggil nama sahabatnya yang tak kasat mata.
"Iyan, tenang, Nak. Tenang."
Rion membawa Iyan ke depan ruang IGD. Mata Iyan memicing kepada ayahnya. Kenapa ayahnya membawa dirinya ke tempat ini?
"Ke-napa--"
"Kakak pingsan, dan sekarang ada di dalam."
Air mata Iyan luruh Kembali. Dia sangat tahu bagaimana hati kakaknya saat ini.
Dokter keluar dari ruang IGD. Rion segera menghampirinya dan menanyakan kondisi Echa.
Rion menghela napas berat dengan hati yang menangis keras.
Kenapa takdir kamu seperti ini, Dek?
Sedangkan Radit, dia menerima pelukan hangat dari semua orang yang menyayanginya. Kepalanya mampu mengangguk, tetapi hatinya masih dirundung duka yang sangat mendalam.
"Dit, temani istri kamu. Dia membutuhkan kamu. Biarkan jenazah Aleesa Papih yang urus."
Kesadaran Radit mulai pulih lagi. Dia segera keluar dari ruang ICU dan menemui istrinya di ruang IGD. Sudah ada Rion yang tengah memeluk Iyan di depan ruang IGD.
"Ayah," panggilnya.
Rion menggelengkan kepala, menandakan bahwa Echa belum sadar. Hati Radit semakin sakit, dia meminta kepada dokter jaga IGD agar dirinya diperbolehkan masuk untuk menemani sang istri.
Satu meter menuju brankar pesakitan Echa, hati Radit seakan dihujam peluru panas yang sangat banyak. Sakit sekali hatinya. Dia duduk di samping Echa dan menggenggam tangan sang istri.
"Sayang, bangun. Apa kamu tidak ingin melihat wajah putri kita untuk terakhir kalinya?" Sebuah ucapan yang meluncur begitu saja dari bibirnya. Sakit memang, tetapi inilah yang harus dia hadapi. Mungkin ini adalah suratan takdir untuk keluarga kecilnya.
Radit POV.
Rasa khawatir yang tak terkira menyerang ku ketika baru saja selesai meeting. Ternyata rasa khawatir itu menjadi pertanda buruk untuk anak keduaku. Hatiku sangat tidak karuhan pada malam itu. Suara Echa yang terus memanggil namaku terngiang-ngiang di telinga. Bayang wajah Aleesa yang tengah tersenyum terus memutari kepalaku.
Tepat pukul tiga pagi, ponsel aku berbunyi. Ketika aku hendak meraih ponselku, tak sengaja tanganku menyenggol gelas yang berisi air sehingga gelas itu terjatuh dan pecah.
"Ya ampun," gumamku.
Aku tak mengindahkannya, aku melihat nama siapa yang muncul di layar ponsel.
"Mamah?"
__ADS_1
Hati aku berdegup sangat cepat, ada rasa takut di hati. Ketika aku melihat ke arah jam dinding, mataku melebar. Tanganku dengan cepat menjawab panggilan dari mamah mertuaku. Belum juga aku berbicara, mamahku sudah membuat dadaku berhenti berdetak untuk sesaat.
"Aleesa kritis, Dit."
Tanganku seketika tidak memiliki tenaga hingga ponsel yang tengah berada di samping telingaku terlepas begitu saja. Otakku tiba-tiba berhenti berpikir. Hanya ada nama istri dan anak keduaku di kepalaku saat itu.
Aku membuka aplikasi tiket penerbangan. Sialnya aku tidak mendapat penerbangan cepat. Paling cepat jam tujuh pagi. Waktu seakan lambat sekali berputar. Mataku tidak dapat terpejam. Berkali-kali aku menghubungi istriku, tetapi tidak ada jawaban darinya.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?"
Aku sangat kepikiran dengan keadaan istriku. Apalagi sebelum aku berangkat, dia mengeluh tidak mampu merawat Aleesa seorang diri.
"Maafkan aku, Sayang. Andai aku mendengarkan ucapan kamu," lirihku.
Pukul tujuh, aku terbang dari Singapura menuju Jakarta. Keluargaku sudah aku hubungi. Namun, mereka bisa pulang setelah pekerjaan mereka selesai. Sedangkan aku, meninggalkan pekerjaan aku begitu saja. Aku tidak peduli untung dan rugi, yang aku pedulikan hanya istri dan anakku.
Di dalam pesawat pikiranku terus tertuju pada istri dan Aleesa. Dia untuk kesadaran Aleesa terus aku panjatkan. Jam setengah sepuluh pagi, aku tiba di rumah sakit. Aku segera berlari menuju ruang ICU. Hatiku sangat hancur ketika aku melihat istriku memeluk tubuh mamah mertuaku dengan berlinang air mata.
"Sayang."
Aku mulai mendekat dengan napas yang tersengal. Wajah sedih, lelah dan pilu istriku sangat terlihat jelas. Aku segera berhambur memeluk tubuh lemahnya. Sekuat apapun istriku di mata keluarganya, di mataku dia tetap wanita lemah yang pura-pura menjadi kuat.
"Maafkan aku."
Hanya kata itu yang aku ucapkan. Berulang kali aku mengecup puncak kepala istriku. Lingkaran tangannya yang sangat erat menandakan bahwa dia sangat ketakutan saat ini. Takut, jika Aleesa akan meninggalkan kita semua.
Aku menggenggam tangan istriku masuk ke dalam ICU. Ada ayah mertuaku yang tengah mengajak berbicara putri keduaku yang terbaring lemah dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya. Matanya pun tertutup rapat. Seakan mertuaku sedang berbicara dengan boneka yang bernapas.
Pemandangan seperti ini sering aku lihat ketika aku masih berprofesi sebagai dokter. Akan tetapi, ini kali pertama aku melihat anakku sendiri, buah hatiku dan darah dagingku sendiri yang dipasang beraneka macam alat bantu kehidupan. Dadaku sangat sesak, hatiku sangat sakit dan hampir saja air mataku menetes.
Sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak ingin istriku semakin sedih jika melihatku rapuh seperti ini. Apalagi dukungan dari ayah mertuaku, sedikit banyak membuat semangatku hadir kembali.
Aku tidak bisa berkata, tanganku terus menggenggam tangan Echa. Aku ingin terus ada di sampingnya, jujur bukan hanya Echa yang dilanda ketakutan. Aku pun merasa hal yang sama. Baru saja aku mengutarakan ucapan maaf ku kepada Echa, suara monitor membuatku dan Echa berteriak sangat kencang. Garis horizontal menandakan sesuatu telah terjadi pada tubuh Aleesa.
Dokter berdatangan, istriku sudah menangis histeris dan aku ... sepeti orang bisu. Mataku tertuju pada tubuh putriku yang sedang dikelilingi dokter. Suara riuh dokter membuat telingaku semakin berdengung.
Tuhan ... aku harap ini hanya mimpi belaka.
"Maaf Pak, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain."
Ucapan dokter membuat tubuhku limbung dan istriku seketika tak sadarkan diri dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya. Aku memilih untuk menghampiri Aleesa, melihat kondisinya. Menyerahkan istriku ke tangan dokter.
Ketika aku mendekat, tangis keras pun keluar begitu saja dari mulutku. Sakit, sedih dan tidak menyangka jadi satu.
"Aleesa ... jangan tinggalkan Baba, Nak."
Kalimat itulah yang aku katakan dengan derai air mata yang sudah tidak bisa tertahankan. Ini pengalaman pertamaku ditinggal pergi oleh orang yang aku sayangi. Aku memang sudah ditinggalkan oleh mamihku, tetapi rasanya tidak semenyakitkan ini karena aku belum pernah melihatnya. Sedangkan putriku?
Aku berharap, ini hanya sebuah mimpi buruk. Cepat bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Itulah teriakan ku di dalam hati.
Akan tetapi, ini semua nyata. Semua orang mengucapakan bela sungkawa kepadaku. Memelukku dengan mengatakan kata-kata yang amat memilukan. Memberikan semangat kepadaku agar aku tidak tenggelam dalam rasa kehilangan seperti ini. Ucapan Papih menyadarkan aku dari rasa sedih yang tak terkira.
Masih ada kedua anakku dan juga Echa yang membutuhkanku. Aku harus bangkit, aku harus kuat. Aku menyerahkan semua urusan Aleesa kepada keluargaku. Aku mulai menghampiri istriku yang terbaring lemah di IGD.
Rasa sesak itu hadir kembali. Apalagi, melihat wajah istriku yang sangat tak bersinar membuat aku semakin merasa bersalah. Aku terus menggenggam tangannya. Mencium tangannya dan mengatakan ribuan kata maaf. Menyuruhnya untuk bangun dari tidurnya. Agar, mereka berdua bisa melihat Aleesa dan mengantarkan Aleesa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Meskipun sakit dan sulit harus mereka jalani.
Pov End.
"Bangunlah, Sayang," lirihnya.
Radit meletakkan punggung tangan Echa di pipinya. Air matanya menerawang kembali hingga punggung tangan Echa basah. Gerakan kecil tangan Echa dapat Radit rasakan. Dia segera menatap ke arah istrinya. Mata Echa sedikit demi sedikit mulai mengerjap. Air matanya mengalir lagi.
"Aleesa ... aku ingin bertemu Aleesa."
__ADS_1