Yang Terluka

Yang Terluka
Perayaan dan Penjagaan


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, Rifal," ucap Rion.


"Makasih, Om." Senyuman melengkung di bibirnya.


"Mana nih kadonya? Masa iya udah ngerjain aku pada gak bawa kado," oceh Rifal.


"Justru kami ke sini mau minta traktiran kepada kamu, Fal," imbuh Gio.


"Etdah!" Rifal menepuk keningnya diikuti tertawa renyah oleh semua orang.


"Selamat ulang tahun anak bujang lapuk, Papih." Rifal mendengus kesal mendengar ucapan dari sang Papih.


Sedangkan yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak.


"Apa sih doa Papih untuk adik kesayangan Abang ini?" Rindra memulai mengompori sang Papih.


"Pastinya cepat nikah. Papih udah tua, Papih ingin menimang cucu hasil maha karya kamu dengan istri kamu," jawab Addhitama.


"Kompor terus ... kompor!" seru Rifal.


"Doa yang sama yang Abang dan Radit panjatkan juga. Semoga Rifal cepat melepas masa bujang lapuknya. Tolong aminkan yang keras."


"Amin ...." jawab semua orang dengan suara yang menggema.


"Aku tuh lagi ulang tahun, kenapa malah aku yang ditindas?" keluhnya.


"Kalau sudah ada calon, cepat kenalkan pada Papih," ujarnya.


Rifal hanya terdiam, dia tidak menjawab apa yang dikatakan oleh sang Papih. Biarlah hubungannya dengan Keysha hanya dikonsumsi oleh adik dan kakaknya serta para iparnya. Harus dirahasiakan terlebih dahulu dari ayahnya. Rifal tidak mau semakin ditekan oleh sang Papih.


Akhirnya, Rifal mentraktir orang-orang yang masih terjaga dengan nasi goreng gerobakan yang melewati rumahnya. Makan dengan gelak tawa dan membahas ini dan itu. Perayaan yang sederhana hingga dia lupa akan sesuatu. Keysha.


Keesokan paginya, tiga tuyul sudah cantik dan sudah membawa tas kecil yang mereka beli di Singpura. Mereka akan pulang karena kedua orang tuanya harus pergi bekerja.


"Nanti main lagi, ya." Tiga tuyul pun mengangguk.


"Opa." Aleeya sudah menengadahkan tangannya kepada Addhitama.


Mata Echa melebar ketika melihat tingkah anak ketiganya. Sedangkan Addhitama malah tertawa.


"Dedek Ya, diajarkan siapa begitu?" sergah Echa.


"Om Ipang."


Echa mendelik kesal ke arah Rifal yang sudah terkekeh. Sedangkan Radit memukul bahu sang kakak karena sudah mengajarkan hal yang tidak baik kepada ketiga anaknya.


"Opa gak punya uang cash. Mau ikut Opa dulu gak ke minimarket buat ambil uang cash?" Ketiga tuyul itu pun mengangguk cepat. Menarik tangan Addhitama agar cepat berdiri.


"Sabar dong," kekeh Addhitama.


Echa menggelengkan kepala melihat ayah mertuanya selalu memanjakan ketiga anaknya. Bukan hanya Addhitama, Gio pun selalu menuruti apa yang diinginkan si triplets. Terkecuali, ayahnya yang bisa dibilang pelit. Sebenarnya bukan pelit, Rion tahu betul apa yang sudah dimiliki oleh si triplets dan apa yang belum mereka punyai.


"Kak."


Kali ini Echa yang menengadahkan tangannya ke arah Rifal. Rifal melirik sekilas ke arah tangan Echa.


"Ogah gua ngasih ke lu. Duit lu aja lebih banyak dari gua," ketusnya.


"Kata siapa?"


"Kata gua lah," ucap Rifal tak mau kalah.


"Dasar pelit!"


"Eh, Echa sureca ayo kita itung-itungan. Semua biaya hidup anak lu ditanggung sama gua, Papih, Akinya sama Engkongnya. Sedangkan lu bermodal apaan?" tanyanya.


"Susu dan popok gua yang beli. Baju branded dari Papih dan juga akinya. Susunya dari emak lu. Terus lu sama Radit biayain apaan? Sekolah anak-anak lu aja udah Papih tanggung." Echa hanya memperlihatkan deretan giginya membuat Rifal semakin kesal terhadap adik iparnya ini.


Sedangkan di minimarket, bukan hanya menarik uang tunai. Ketiga cucunya malah asyik berbelanja apa yang mereka mau. Addhitama terus melengkungkan senyum ke arah si triplets. Mengikuti kemana saja mereka melangkah. Setelah selesai, Addhitama lah yang membayar semuanya.


Ketika keluar dari minimarket, Aleena masih mematung di tempatnya. Dia melihat ke arah anak yang tengah ikut bersama badut tak jauh dari minimarket.


"Aleena, ayo!" ajak Addhitama.


Aleena menggeleng, kemudian dia menengadahkan tangannya ke arah Addhitama.


"Opa, Tata Na nta uan," imbuhnya.


(Opa, Kakak Na minta uang)


"Untuk apa?" Aleena tidak menjawab. Namun, tatapannya terus melihat ke arah badut dan juga anak laki-laki yang usianya di bawah Rio.


Addhitama mengikuti arah pandang Aleena, sejurus kemudian lengkungan. senyum terukir dari bibirnya.


"Ini." Addhitama memberikan Aleena uang kertas berwarna merah.


"Kakak Na mau ngasih ke badut itu?" Aleena mengangguk.


"Kasihlah, Opa tunggu di sini." Aleena menerima uang dari Addhitama dan berjalan menuju badut tersebut.


"Hai!" sapa Aleena dengan memperlihatkan giginya yang belum lengkap.


"Ini." Aleena memasukkan uang ke dalam plastik yang badut itu bawa.


Badut itu melihat ke arah plastik dan matanya melebar melihat uang seratus ribu yang anak kecil itu berikan.


"Terima kasih, Dek." Mata badut itu sudah berkaca-kaca karena kebaikan Aleena.


"Tama-tama anteu adut," jawab Aleena.


"Hai!" sapa Aleena pada anak Tante badut. Anak laki-laki itu bersembunyi di balik tubuh sang ibu. Anak itu seperti ketakutan.


Tidak ada respon dari si anak laki-laki itu, Aleena memilih untuk pergi. Tidak lupa dia melambaikan tangannya kepada tante badut dan juga putranya. Aleena menghampiri Addhitama dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Sudah?" Aleena mengangguk.


Dari kejauhan Tante badut itu mengatupkan kedua tangannya ke arah Addhitama. Mulutnya mengatakan terima kasih yang mampu Addhitama baca. Addhitama mengangguk pelan dengan lengkungan senyum teduh.


"Terima kasih, Tuhan. Hari ini kita bisa makan tidak hanya dengan nasi dan kerupuk," ujar Tante badut kepada putranya.


"Nak, kalau kamu melihat anak itu lagi. Jangan lupa ucapakan terima kasih, ya. Dia adalah anak yang memiliki ketulusan yang tinggi." Sang putra pun menganggukkan kepalanya.


"Aleena, boleh Opa tanya kenapa Aleena memberikan uang kepada badut itu?" tanya Addhitama sembari menuntun ketiga cucunya.


"Tatian," jawabnya.


(Kasihan)


Addhitama mengusap lembut rambut cucu pertamanya ini. Hati dermawannya sudah terlihat sejak dini. Bangga sudah pasti Addhitama rasakan. Baru menginjak dua tahun, sudah memiliki hati seperti ini.


Tibanya di rumah, Addhitama menceritakan semuanya kepada Echa, Radit dan Rifal. Om-nya tercengang mendengar penuturan sang Papih. Dia segera memangku Aleena dan mengecup pipi gembilnya.


"Keponakan Om pintar, ya." Aleena hanya tersenyum.


Aleena Addhitama, putri pertama Raditya Addhitama dengan Elthasya Afani adalah anak yang lebih cenderung pendiam dan tidak banyak bicara. Namun, semuanya dia lakukan dengan tindakan. Ketika Aleena marah, Aleena hanya diam. Sama halnya dengan tindakan yang baru saja Aleena lakukan. Jika, sedang bepergian, Echa selalu mengajarkan ketiga anaknya untuk berbagi jika ada pengamen di lampu merah. Hal kecil itulah yang Aleena tangkap dan mampu Aleena praktekkan. Setiap kali keluarga mereka bepergian, Aleena selalu meminta duduk di pangkuan Echa tidak mau duduk bersama kedua adiknya di kursi belakang.


"Kakak Sa dan Dedek Ya harus contoh Kakak Na, ya." Mereka pun mengangguk.


Akhirnya si triplets balik lagi ke kandang. Di mana penjaga kandang sudah menyambutnya dengan antusias. Siapa lagi jika bukan Rion Juanda.


"Enton!" Mereka bertiga berlari dan ingin memeluk tubuh Rion.


"Kangen gak sama Engkong?" Si triplets pun mengangguk.


"Ain uda-udaan yuk," ajak Aleeya.


(Main kuda-kudaan yuk)


"Ain oneta aja," timpal Aleena.


"No, ain matat-matatan," ajak Aleesa.


Tubuh Rion kini ditarik oleh ketiga cucunya membuat dia terhuyung ke sana ke mari. Sedangkan Echa malah tertawa dan tidak ada niat untuk membantu.


"Selamat bersenang-senang, Yah." Echa berlalu meninggalkan ayahnya dan ketiga cucunya. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


"Dit, tolong Ayah," pintanya.


"Nikmati aja ya, Yah. 'Kan tadi Ayah yang minta anak-anak disuruh pulang cepat," ujar Radit.


"Anak dan mantu gak ada akhlak!" pekiknya.


Plak!


Aleeya memukul tangan Rion, menatapnya dengan tatapan yang sangat menakutkan.


"Dak oyeh kacal!" Peringatan yang terlontar dari bibir mungil Aleeya.


"Maaf."


Radit dan Echa sudah berganti pakaian, tetapi drama antara ketiga anaknya yang memperebutkan sang kakek masih berlangsung.


"Anak-anak Bubu, gak boleh nakal dong," imbuh Echa.


"Tonnya dak au Tata Sa ajak main," adu Aleesa.


"Begini saja, Aleeya naik di punggung Engkong sama boneka Kakak Na. Terus ... Kakak Sa suapin Engkong dengan masakan Kakak Sa. Gimana?" Ide gila yang keluar dari mulut Echa membuat Rion melebarkan mata.


"Dalan!" Ternyata Aleeya sudah naik di punggung Rion. Ditambah boneka besar milik Aleena. Aleesa menggiring Rion menuju halaman samping di mana tempat main mereka masak-masakan adalah di bawah pohon mangga.


Echa dan Radit terkekeh melihat sang ayah dan mertua disiksa oleh ketiga anak-anaknya.


"Kemarin nyuruh si triplets cepat balik, sekarang aja ngeluh," kata Echa.


"Anak-anak Bubu dan Baba, Bubu dan Baba berangkat kerja dulu, ya."


"Iya," jawab mereka serentak.


Setelah Echa dan Radit berangkat kerja, Rion masih harus mengelilingi pohon mangga sambil merangkak.


"Agi Ton, Agi."


(Lagi Kong, lagi)


"Ton, mam yuyu," ujar Aleesa, yang kini menyuapi Rion bohongan.


Ya ampun, berasa kayak kuda beneran. Gerutunya dalam hati.


Dev dan Om Uwo tertawa melihat Rion yang sedang dikerjai oleh ketiga cucunya.


"Lucu, ya." Mata Dev tak terlepas pada si triplets dan juga Rion.


"Mereka bahagia banget," balas Om Uwo.


"Dev ingin seperti mereka," lirih Dev, dan kini dia menunduk dalam.


Om Uwo mengusap lembut kepala Dev. Hatinya merasa sedih jika Dev seperti ini. Ketika Dev melihat ada keluarga bahagia, wajahnya akan murung.


"Kenapa Dev tidak bisa seperti mereka?" tanya Devandra.


Om Uwo tidak bisa menjawab pertanyaan Dev. Hanya ibu yang bisa memberikan penjelasan kepada Dev. Hanya Iyan yang bisa menenangkan Dev.


"Papih Dev selalu menangis jika melihat foto Dev yang terpasang banyak kabel dan diletakkan di dalam kotak. Hanya itu yang Papih Dev punya. Sebuah foto yang akan selalu membuatnya menangis. Dev sedih, Om." Aleesa yang sedang asyik bermain pun kini melihat ke arah atas pohon mangga. Di mana Dev sedang menangis bersama Om Uwo.


"Dev," gumam Aleesa.


Aleesa memicingkan mata ketika melihat wajah Dev yang berubah. Wajah Dev yang hancur dan rata.

__ADS_1


"Huwa ...."


Tangis Aleesa pun pecah. Rion tersentak begitu juga dengan Aleena dan juga Aleeya. Rion menurunkan Aleeya yang sedang berada di atas punggungnya. Menghampiri Aleesa yang seperti tengah ketakutan.


"Aleesa, kenapa?" tanya Rion.


"Tata Sa, atut." Tubuh Aleesa bergetar begitu juga suaranya. Tangannya menunjuk ke atas pohon.


Rion, Aleeya dan juga Aleesa melihat ke atas pohon. Hanya ada dahan dan ranting pohon.


"Tidak ada apa-apa, Sa," ucap Rion sambil menenangkan Aleesa.


Tangisan Aleesa semakin keras dan Rion membawa ketiga cucunya masuk ke rumah.


"Aleesa kenapa, Pak?" tanya Mbak Ina yang menghampiri Rion serta ketiga cucunya.


"Dia bilang takut, dan tangannya menunjuk ke arah atas pohon mangga." Mbak Ina bergegas mengambil air minum khusus si triplets.


"Minum dulu, ya." Aleesa menengguk air mineral berukuran botol kecil. Namun, dia masih ketakutan memeluk tubuh Rion dengan sangat kencang.


"Kakak Na dan Dedek Ya main sendiri, ya. Engkong bawa Kakak Sa ke kamar dulu." Kedua anak Echa yang lain tidak mau, malah mengikuti Rion menuju kamar mereka.


"Cuci tangan dan kaki dulu, ya." Aleena dan Aleeya mengangguk.


Ketika salah satu dari mereka ada yang sakit atau menangis karena sesuatu, mereka akan menjelma menjadi anak yang penurut dan akan selalu menjaga satu sama lain.


"Kakak Sa mau susu?" Aleesa menggeleng. Tangannya masih memeluk erat leher Rion. Diturunkan pun dia tidak mau.


"Kakak Na dan Dedek Ya mau susu?" Mereka berdua pun menggeleng.


Aleena dan Aleeya mengusap lembut kepala dan punggung Aleesa. Kemudian, mereka berdua memeluk tubuh Aleesa.


"Anan atut, ada Tata Na dan Dedek Ya," ujar Aleeya.


Melihat ketiga cucunya saling menyayangi membuat Rion tersenyum bahagia. Hatinya benar-benar menghangat. Benar kata orang, jika anak kembar itu tidak bisa dipisahkan. Sakit satu pasti sakit semua.


Kini, Rion memangku ketiga cucunya dengan tubuh yang bersandar di pinggiran tempat tidur. Menepuk-nepuk dan mengusap punggung ketiga cucunya secara bergantian. Sesekali melantunkan lagu Nina Bobo. Perlahan-lahan mata mereka terpejam dengan tangan yang memeluk tubuh Aleesa.


"Kalian adalah permata berharga yang Engkong miliki. Jangan cepat besar, jangan tinggalkan Engkong. Kalian lah yang membuat hari-hari Engkong berwarna dan ramai. Hati Engkong yang tandus dan kering, terasa subur ketika kalian ada di samping Engkong. Engkong sangat menyayangi kalian," gumamnya.


Sedangkan di atas pohon mangga, Dev sedang ketakutan karena telah menangis di depan Aleesa. Dia merasa sangat bersalah.


"Om, Dev takut. Dev--"


"Nanti kita minta bantuan kepada Iyan dan juga Jojo." Dev mengangguk.


"Dev, lanjutkan ceritamu yang tadi," ucap Om Uwo.


"Tidak, Om. Cerita itu hanya cerita pilu. Tidak berkesan ataupun menyimpan kenangan," lirihnya lagi.


"Dev--"


"Dev ingin merasakan pelukan Papih. Dev ingin menghapus air mata Papih. Dev tidak ingin membuat Papih bersedih." Bukan air mata yang keluar dari mata Dev, melainkan darah.


"Ketika Aleesa dan dua saudaranya ulang tahun. Papih pasti akan menangis meraung-raung di tempat peristirahatan Dev yang terakhir. Dev sedih, Om. Dev, ingin Papih bahagia meskipun Dev sudah tidak bisa bertemu dengan Papih lagi. Tidak bisa menyentuh Papih lagi dan tidak bisa ... dipeluk Papih lagi." Dev menunduk dalam. Darah menetes sangat deras. Wajahnya sudah tak beraturan.


"Andai ... Dev masih hidup, pasti Papih tidak akan kesepian," ucapnya dengan pelan.


"Kalau kamu masih hidup, keluarga Iyan tidak akan bahagia. Apalagi ayah Iyan. Kamu mau menjadi orang yang dibenci oleh ayah Iyan seumur hidup kamu?" Dev terdiam.


"Tuhan memanggil kamu karena Tuhan memiliki rencana baik. Tuhan tidak ingin keluarga Iyan hidup penuh dengan dendam. Jika, kamu tidak meninggal pasti kamu tidak akan pernah bertemu dengan Iyan, Jojo, Om Uwo, Ibu serta Aleesa 'kan."


"Tapi ... Dev masih berteman dengan Aleesa," imbuhnya.


"Apa orang tua Aleesa akan mengijinkannya berteman dengan kamu? Apa kamu yakin jika kamu tidak akan dibawa oleh ayahmu ke tempat yang akan menjadi rumah baru untuk kamu? Dengan alasan ayahmu ingin melepaskan kamu dalam segala tekanan."


Dev tidak bisa menjawab. Dia berpikir jauh ke depan. Satria adalah orang yang berada. Apapun bisa dia lakukan. Termasuk membawa Dev pergi dari kota ini ataupun negeri ini.


"Apapun yang sudah terjadi pasti ada hikmahnya, Dev. Sekarang kamu memiliki keluarga baru di sini. Iyan yang mau menerima kamu tanpa mempermasalahkan siapa kamu. Ibu yang sangat menyayangi kamu dan juga Jojo yang selalu melindungi kamu. Kamu juga masih bisa melihat Papih kamu 'kan, meskipun dari kejauhan." Dev menatap Om Uwo dengan mata yang nanar.


"Kami adalah keluarga kamu. Jangan merasa sendiri, ada kami yang sayang sama kamu, Dev. Kamu mau bermain kuda-kudaan seperti yang Aleesa mainkan. Kamu bisa naik ke pundak Om Uwo. Akan Om Uwo ajak kamu keliling-keliling komplek ini. Menemui aneka macam hantu yang ada." Senyum tulus tersungging di wajah Om Uwo, begitu juga Dev yang kini tertawa.


"Om Uwo baik. Dev sayang Om Uwo," ucapnya seraya memeluk tubuh Om Uwo.


Wangi melati sudah menyeruak, itu bertanda Ibu telah datang. Ibu tersenyum ke arah Dev yang sedang bersusah payah merubah wajahnya. Satu hal yang tidak bisa Dev lakukan, yaitu membohongi Ibu.


"Ma-maaf, Bu. Dev ingkar janji lagi," ujarnya.


"Tidak apa-apa, Dev. Ibu mengerti." Ibu memeluk tubuh Dev dengan sangat erat. Membuat Dev merasakan pelukan hangat seorang ibu yang tak pernah dia rasakan seumur hidupnya.


"Wo, makasih sudah menjadi teman yang baik untuk Dev." Om Uwo tersenyum tulus ke arah ibu.


"Mereka juga sudah baik kepada saya, Bu. Jadi, saya harus membalas kebaikan mereka. Begitu juga dengan keluarga Iyan. Saya janji, akan menjaga rumah dan lingkungan ini dari gangguan manusia-manusia jahat dan jin-jin yang ingin merusak keluarga ini."


"Terima kasih, Wo."


Uwo adalah penunggu tertua lingkungan kompleks yang Echa tempati. Ketika pembangunan kompleks ini rumahnya diobrak-abrik oleh pihak pembangunan hingga dia murka. Banyak korban yang berjatuhan karena ulahnya. Lingkungan tempat tinggal yang Echa tempati memang lingkungan mewah, tetapi menyeramkan. Namun, setelah bertemunya Uwo dengan Iyan yang ikut dengan Radit mencari rumah. Uwo terkejut karena Iyan bisa melihatnya. Ketika Uwo menakut-nakuti Iyan pun Iyan bergeming. Dia malah meniupkan sesuatu ke wajah Uwo hingga wajah Uwo seperti panas terbakar.


Jangan jahat! Aku ke sini hanya ingin membantu abangku mencari rumah yang nyaman. Apa kamu bisa bantu?


Dari situlah Uwo terkejut, dia yang akan mencelakai Iyan malah mendapat perlakuan baik dari Iyan. Uwo pun mampu melihat Jojo yang setia berada di samping Iyan.


"Kamu mau bantu aku gak? Kakakku punya anak tiga dan aku ingin rumah yang tidak memiliki penghuni jahat. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan keponakanku."


Lagi-lagi Uwo tercengang mendengar penuturan Iyan. Anak sekecil Iyan sudah memiliki pikiran yang luar biasa. Uwo pun luluh dan mengajak Iyan masuk ke dalam rumah yang berada di samping rumah Gio.


"Di sini saja. Aku yang akan menjaga kalian," ujar Uwo.


"Tapi ... aku tidak ingin ada tumbal-tumbalan," pinta Iyan.


"Tidak, aku ikhlas menjaga kalian. Aku senang melihat manusia baik seperti kamu. Memperlakukan makhluk seperti ku dengan sangat baik dan sopan." Iyan pun tersenyum.


Itulah awal perjumpaan Uwo dengan Iyan, yang kini menjadi teman Aleesa dan penjaga si triplets jika mereka berada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2