
Waktu terus berputar. Sebelas bulan sudah usia ketiga anak Echa dan Radit. Mereka sangat aktif sehinggal membuat Echa kewalahan.
"Aleeya!"
Anak Echa yang satu itu sangat aktif membuat Echa harus kejar-kejaran setiap hari. Kedua kakaknya sudah cantik, hanya Aleeya yang senang memakai popok dan kaos dalam.
"Oke, Bubu nyerah." Echa mengangkat kedua tangannya. Kemudian, mengacungkan ponsel.
"Bubu akan lapor Baba." Aleeya yang hendak kabur pun membalikkan badannya.
"Nyonyonyo." Berlari ke arah Echa dan memeluk tubuh Echa.
Itu menandakan bahwa Aleeya tidak ingin Echa melaporkan kenakalannya kepada Radit. Echa mengha napas kasar dan mencoba untuk tersenyum. Menjadi seorang ibu itu sangat tidak mudah.
Tumbuh kembang ketiga anak Echa-Radit sangat cepat. Di usia yang baru menginjak sepuluh bulan sudah mulai bisa berdiri dan berjalan sedikit demi sedikit.
"Aleeya jangan nakal. Nanti Baba akan marah sama Aleeya. Baba gak mau cium Aleeya lagi. Baba gak mau gendong Aleeya lagi. Aleeya mau begitu?" Aleeya menggeleng. Dia mengerti apa yang diucapkan oleh Echa.
"Nah 'kan udah cantik. Sekarang kalian boleh main," ujar Echa.
Ketiga kurcaci itu pun berjalan beriringan layaknya anak bebek menuju ruang televisi. Di mana ruangan itu disulap menjadi ruangan bermain dengan televisi besar yang akan menayangkan film kartun kesukaan mereka.
Echa tersenyum bahagia ketika melihat ketiga anaknya ini saling menyayangi satu sama lain. Terlebih Aleena yang selalu mengalah kepada kedua adiknya.
Aleeya si bocah cengeng yang akan terus mengganggu Aleena dan Aleesa jika mereka tengah asyik bermain. Untungnya, Aleesa pun mengerti perannya. Dia akan mengalah kepada Aleeya. Meskipun, akan membuat Aleeya menangis terlebih dahulu.
Langkah gontai seseorang membuat Echa menyipitkan mata. "Loh kok pulang lagi?" tanya Echa heran.
Baru satu jam Radit berangkat kini sudah kembali ke rumah dengan tubuh yang lemas. Radit tidak menjawab, dia mendudukkan diri di samping Echa sambil memeluk lengan sang istri.
"Kamu kenapa, Ay?" Echa membelai rambut sang suami. Ternyata suhu tubuh Radit sedikit tinggi membuat Echa sedikit panik.
"Kamu sakit?" Bukannya menjawab, Radit merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri. Membenamkan wajahnya di perut Echa.
"Cuma pusing, Yang."
"Babababa." Ketiga anak Echa sudah berdiri hendak menghampiri Radit. Namun, Echa melarang mereka.
"Jangan ya, anak-anak Bubu. Baba sedang sakit. Anak-anak Bubu tidak boleh dekat Baba. Nanti sakit seperti Baba. Mengerti?" Ketiga anak Echa mengangguk.
"Anak-anak Bubu main sama Mbak dulu, ya."
Pengertian ketiga anak Echa membuat Echa merasa lega. Dia bisa mengurus suaminya yang tengah tidak enak badan.
"Ya ampun, Ay. Suhunya tiga puluh sembilan derajat," ucap Echa. Pantas saja Radit tidak bisa membuka matanya.
Echa memberikan Radit Paracetamol sebagai pertolongan pertama. Jika, keadaannya tidak membaik juga dia akan membawa Radit ke rumah sakit.
"Kamu istirahat, ya. Aku jaga anak-anak dulu." Radit hanya mengangguk pelan dengan mata yang sudah tertutup. Echa mengecup kening Radit sebelum dia keluar kamar.
Kembali ke ruang keluarga membuatnya menghela napas kasar ketika ketiga anaknya sudah tidak mau diam. Berlari ke sana ke mari. Naik-turun ke sofa membuat kepala Echa berdenyut. Echa bangga kepada ketiga anaknya. Walaupun terjatuh, mereka tidak akan menangis. Pasti akan bangkit sendiri.
"Anak-anak Bubu belum capek? Belum mau Mimi?" Ketiga anak itu tidak mengindahkan ucapan Echa. Masih sibuk dengan dunia mereka.
Aleena yang sedang bermain dengan boneka kesayangannya. Aleesa yang tengah asyik berjoget ria mengikuti alunan lagu di televisi besar, serta Aleeya yang tengah sibuk mencopot bagian tubuh boneka Barbie. Hanya Aleeya yang membuat Echa pusing tujuh keliling. Dari mainan murah hingga mainan mahal selalu saja tidak pernah Aleeya mainkan secara benar. Dalam satu hari mainan itu sudah tidak berbentuk.
Ketika mereka sudah lelah, mereka menuju ke arah Echa. Menarik-narik baju Echa. "Mimimimi."
Echa mengusap kepala ketiga anaknya. Menggiring mereka menuju kamar. Tanpa Echa suruh, mereka sudah mengantri di wastafel mini yang berada di dalam kamar mereka. Sebelum minum susu mereka diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Dimulai dari Aleena, Aleesa lalu Aleeya. Echa selalu mengajarkan kepada ketiga anaknya untuk selalu berurutan dalam hal apapun.
Sedangkan Echa sedang sibuk membuat susu untuk ketiga anaknya. Ketika berbalik badan sudut bibirnya tersungging sempurna ketika melihat ketiga anaknya sudah tiduran di karpet bulu kesukaan mereka.
"Udah siap bobo?" Ketiga anak Echa meminta botol susu yang masih berada di tangan Echa.
Mereka menikmati susu di botol berukuran besar. Echa mengusap rambut ketiga anak-anaknya.
__ADS_1
"Kalau kalian bangun dan Bubu tidak ada di sini. Kalian bisa masuk ke kamar Bubu. Pintunya Bubu buka," tunjuk Echa ke arah pintu penghubung antara kamarnya dengan kamar ketiga anaknya.
Lima belas menit berselang, tiga kurcaci itu sudah terlelap. Botol susu yang mereka pegang, sudah jatuh ke samping mereka.
Echa mengambilnya dan segera mencuci botol susu ketiga buah hatinya agar tidak menjadi sarang bakteri.
"Selamat tidur kesayangan Bubu," ujar Echa seraya mengecup satu per satu kening anak-anaknya.
Kini, Echa beralih ke kamarnya. Di mana Radit sedang terlelap dengan damainya. Dia mengecek suhu badan sang suami. Namun, suhunya masih panas. Segera Echa mengambil wadah berisi air dan juga handuk. Meletakkan handuk itu di kening Radit agar suhu badannya turun.
Merasakan ada yang basah di keningnya. Radit mencoba membuka matanya yang terasa sulit dibuka.
"Sayang," panggilnya lemah.
"Kamu istirahat aja, ya," imbuh Echa.
Di saat seperti ini lelah Echa bertambah. Namun, dia sadar diri jika ini sudah menjadi kewajiban dan tugasnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Tidak ada kata lelah, tidak ada kata mengeluh. Semuanya harus serba bisa. Itulah prinsip hidup seorang istri.
Echa kembali ke dapur, dia membuatkan bubur untuk Radit. Dia harus merawat Radit dengan baik. Radit lah yang sudah bekerja keras untuknya dan juga ketiga anaknya.
"Biarkan Mbak yang buat, Neng," tawar Mbak Ina.
"Tidak usah, Mbak. Biar Echa saja," tuturnya.
Peluh sudah membasahi dahinya, tetapi tak dia hiraukan. Lingkaran tangan di pinggangnya membuat Echa tersentak. Radit sudah meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Kenapa udah keluar kamar? Kamu itu masih lemas, Ay."
Echa mematikan kompor, kemudian mengajak suaminya untuk duduk di kursi meja makan.
"Sebentar lagi buburnya siap. Aku goreng ayam dulu, ya." Radit tidak melepaskan Echa. Dia membenamkan wajahnya di perut sang istri.
"Kenapa gak beli aja? Kamu gak perlu capek," jawab Radit.
Radit tersenyum mendengarnya. Dia mendongakkan wajahnya ke arah sang istri dengan senyum penuh bahagia.
"Lagi pula, anak-anak bisa memakannya," lanjutnya lagi.
"Istri terbaikku," balas Radit. Echa mengecup kening Radit. "Aku selesaikan bikin bubur dulu, ya." Radit pun mengangguk.
Radit hanya memperhatikan istrinya yang tengah sibuk bergelut di depan kompor dari arah belakang. Sentuhan lembut yang tidak pernah dia dapatkan dari sosok ibu yang melahirkan, kini dapat dia rasakan dari tangan istrinya. Wanita yang tidak pernah mengeluh akan kesibukannya. Padahal Radit tahu, tenaga dan waktu Echa hanya dihabiskan di sumur, dapur dan kasur.
"Sambil nunggu semuanya siap, makan salad buah dulu, ya. Ini salad buah buatan aku," ujar Echa tanpa menoleh ke arah Radit.
Dia mengambil salad buah dan meletakkan di atas meja. "Makan ini dulu, ya. Sebentar lagi semuanya siap." Tangan Radit mencekal tangan Echa yang hendak kembali ke depan kompor.
"Suapin."
Echa terkekeh mendengar kemanjaan sang suami. "Ya udah, tapi aku matiin kompor dulu, ya."
Dengan telatennya Echa menyuapi sang suami. Baru dua suapan, Radit sudah menggelengkan kepala.
"Gak enak?" tanya Echa.
"Mulut akunya yang gak enak," jawab Radit. Echa tersenyum kemudian menutup kembali cup salad.
"Istirahat dulu, ya. Nanti kalau buburnya udah jadi aku bangunin," pinta Echa.
"Temenin."
Echa membuka celemek yang sedang dia pakai. Meninggalkan beberapa bahan yang belum selesai dimasak untuk toping bubur ayam. Menuruti setiap permintaan sang suami yang sedang ingin bermanja.
Pernah sekali Echa lelah dengan kemanjaan Radit jika sedang sakit. Echa mengungkapkannya dengan terang-terangan sehingga Radit tidak lagi manja kepada Echa. Saking tidak ingin merepotkan sang istri, sakit yang Radit rasakan dia simpan sendiri. Ada titik di mana tubuhnya tidak bisa berpura-pura dan tak sadarkan diri ketika melakukan praktek. Untung saja, di rumah sakit tempat Radit praktek di Aussie ada Addhitama yang sedang berkunjung ke rumah sakit di mana dia juga pernah melakukan praktek di sana.
Addhitama terkejut melihat tubuh Radit terbaring lemah di ruang IGD dengan wajah yang sangat pucat.
__ADS_1
Addhitama menghampiri Radit dan menatap Radit dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa bisa begini?" Radit mengerti apa yang dimaksud oleh sang Papih.
"Radit tidak ingin merepotkan Echa, Pih. Katanya, kalau Radit sakit Radit terlalu manja. Membuatnya lelah," terang Radit.
Addhitama menghela napas kasar. Dia mengerti kenapa Radit manja. Radit adalah seorang anak yang haus akan kasih sayang sang ibu. Wajar, jika dia bersikap seperti itu terhadap Echa. Namun, Addhitama juga tidak bisa menyalahkan Echa. Pastilah Echa lelah jika harus menghadapi kemanjaan Radit layaknya balita.
"Jangan bilang kalau Radit dirawat. Echa jangan sampai tahu," pinta Radit.
Tanpa sepengetahuan Radit, Addhitama ke rumah Echa dan membawanya menuju rumah sakit di mana Radit dirawat. Echa selalu bertanya kepada sang mertua tujuan mereka hendak ke mana. Namun. Addhitama seakan diam membisu.
Tibanya di rumah sakit tempat suaminya praktek, dada Echa bergemuruh sangat cepat. Dia menatap ke arah ayah mertuanya.
"Ikut Papih," titahnya.
Echa terus mengikuti langkah kaki Addhitama dengan perasaan campur aduk. Hingga dia berhenti di salah satu ruang perawatan.
"Lihatlah!"
Mata Echa melebar ketika melihat sang suami sedang terbaring lemah di ranjang pesakitan dengan selang infus yang menancap di tangannya.
"Maafkan putra Papih jika sedang sakit manjanya gak ketulungan. Dia hanya anak piatu yang haus akan kasih sayang seroang ibu. Melalui sentuhan hangat tangan kamu, dia bisa merasakan lembutnya telapak tangan ibunya. Tulusnya tangan itu membelainya." Suara Addhitama terdengar sangat pilu.
"Karena keluhan kamu tempo hari, Radit memutuskan untuk menyimpan sakitnya seorang diri. Hingga tubuhnya tidak mampu berpura-pura lagi dan akhirnya tumbang. Di saat seperti ini pun, Radit melarang Papih untuk memberitahu kamu. Dia tidak ingin merepotkan kamu."
Mendengar penjelasan Addhitama, air mata Echa meluncur begitu saja. Dia merasa bersalah sekali karena telah melarang Radit untuk bermanja dengannya. Wajar jika suami sakit ingin mendapat perhatian lebih dari istri.
Tanpa berkata lagi, Echa membuka pintu kamar perawatan. Masuk dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Ay," panggil lirih Echa.
Radit yang baru saja terpejam sedikit terkejut ketika melihat sang istri sudah ada di sampingnya dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Sayang, kamu kena-"
Echa segera memeluk tubuh Radit. Menangis di atas dada sang suami.
"Maafkan aku, Ay. Maafkan aku," sesalnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Echa masih saja terus menangis tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
Mata Radit beralih pada seseorang yang berada di ambang pintu. Addhitama sudah tersenyum ke arahnya. Radit pun menghela napas kasar.
Dari kejadian itu lah Echa menjelma menjadi istri yang siaga. Memprioritaskan suami dan ketiga anaknya, baru lah dirinya.
Radit terus memeluk tubuh Echa. Menelusupkan wajahnya ke tempat favoritnya. Hanya bisa menyentuh bagian itu saja tanpa bisa masuk ke dalam gua kenikmatan karena Radit tidak ingin melihat istrinya kesakitan.
Tak berselang lama, Radit pun terlelap dengan dengkuran halus. Echa tersenyum lega. Dia ingin kembali meneruskan pekerjaannya di dapur. Namun, tangan hangat sang suami yang melingkar di perutnya membuat Echa enggan beranjak dari tempat tidur. Hingga akhirnya mereka terlelap bersama.
Ketiga anak Echa yang sudah terbangun pun mencoba naik ke atas tempat kedua orang tuanya. Mereka merangkak ke arah tengah di mana masih ada celah kosong. Untungnya wajah ayahnya sudah terlepas dari bantalan favoritnya. Aleeya tidur di tengah-tengah. Aleena bersandar di kaki Echa. Sedangkan Aleesa bersandar di kaki Radit. Mereka tidur bersama dalam satu ranjang.
Echa merasa kakinya teras berat. Perlahan. dia membuka matanya dan terkejut ketika melihat ketiga anaknya sudah tertidur bersamanya dan juga Radit. Echa membangunkan Radit dengan terus menepuk pundaknya perlahan.
"Apa sih?" Echa segera menutup bibir Radit dengan telunjuknya.
Mata Radit membola melihat ketiga putrinya sedang tertidur dengan posisi masing-masing. Senyum di bibirnya merekah dan dia merasakan kehangatan yang tiada terkira.
"Aku akan pindahkan Aleesa," ucap Radit pelan.
Dengan sangat hati-hati Radit mendudukkan tubuhnya dan meraih tubuh Aleesa. Meletakkannya di samping Aleeya. Begitu juga dengan Aleena. Radit mengangkat tubuh Aleena dan meletakkannya di samping Aleeya.
"Tidur lagi, Sayang," titahnya pada Echa.
Echa mengikuti perintah Radit karena dia pun masih mengantuk. Ada kebahagiaan yang Echa rasakan. Kebahagiaan yang tidak ternilai oleh apapun. Apalagi tidur di ranjang bersama dengan ketiga buah hatinya adalah momen yang sangat langka. Ketiga buah hatinya tidak betah jika diajak tidur bersama dengannya dan juga Radit. Sedari kecil Echa sudah membiasakan ketiga anaknya tidur mandiri. Tanpa didampingi oleh kedua orangtua.
__ADS_1