Yang Terluka

Yang Terluka
Bunda


__ADS_3

Semenjak mereka selalu meluangkan waktu untuk Rion. Keluarga Echa semakin terlihat bahagia. Namun, akhir-akhir ini Iyan selalu pulang terlambat. Membuat Echa sering khawatir.


"Kenapa kamu baru pulang?" sergah Echa. Ini sudah dari tiga kali Iyan tidak pulang tepat waktu.


"Iyan capek, Kak."


Dia meninggalakan kakaknya begitu saja. Echa hanya menggelengkan kepala tak mengerti dengan adiknya yang satu ini.


Di dalam kamar, Iyan meletakkan tasnya di atas meja belajar. Bokongnya dia dudukkan di kursi.


"Kenapa mirip sekali dengan Bunda?"


Seminggu yang lalu, Iyan yang pulang sekolah dijemput ojek online karena Pak Mat sedang mengantar Echa. Dia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sedang menuntun anak perempuan bisa diperkirakan seusia dengannya. Hati kecil Iyan meminta ojek online itu berhenti. Lebih tepatnya dia meminta diturunkan di lampu merah itu.


Mata Iyan berkaca-kaca ketika melihat wajah ibu itu mirip sekali dengan bundanya.


"Bunda."


Air matanya luruh begitu saja. Rasa rindu yang menggebu membuat Iyan merasa rapuh. Dia menghampiri perempuan itu.


"Bunda ... benar itu Bunda?"


Perempuan pemulung botol bekas itu menatap aneh ke arah Iyan.


"Siapa kamu, Nak?"


Tutur kata ibu itu sangat lembut membuat hati Iyan terenyuh.


"Saya bukan ibu kamu," lanjutnya lagi.


"Tapi ... Anda sangat mirip dengan Bundaku," lirih Iyan.


Perempuan itu pun tersentak mendengar penjelasan dari Iyan. Dia tidak tega melihat wajah Iyan yang sudah bermandikan air mata.


"Bunda kamu memang ke mana, Nak?"


"Sudah meninggal."


Hati perempuan itu sakit mendengarnya. Kemudian, dia memeluk tubuh Iyan.


"Bunda kamu sudah berada di surga sekarang."


Iyan pun mengangguk, sedangkan anak yang bersama ibu itu pun tersenyum ke arah Iyan.


"Boleh Iyan panggil ibu dengan panggilan Bunda?"


"Tentu saja, Nak. Meskipun, ibu tidak pantas menjadi ibu dari anak orang kaya seperti kamu."


"Oh iya, kenalkan ini Anggita, anak satu-satunya ibu."


Anggita mengulurkan tangannya ke arah Iyan dengan senyum yang mengembang. Tangan Iyan menyambut uluran tangan Anggi serta membalas senyumannya.


"Anggi."


"Iyan."


Hati Iyan merasakan hal yang berbeda ketika menjabat tangan Anggi. Namun, Iyan tidak tahu rasa apa itu?


"Iyan, kamu tinggal di mana? Lebih baik kamu pulang, nanti kamu dicari oleh ayah kamu," ujar perempuan itu.


"Ayah Iyan masih di kantor. Kak Ri masih sekolah, dan Kak Echa sedang pergi ke Bogor."


"Wah, enak ya punya kakak. Pasti kamu banyak yang jagain."


Iyan tersenyum mendengar celotehan Anggi. Apa yang dikatakan Anggi memang benar adanya.


"Gak kayak aku," keluh Anggi.


"Kami bisa kok panggil aku, kakak."


Mata Anggi berbinar mendengar ucapan Iyan. Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya.


"Beneran?"


Iyan mengangguk dan mengusap lembut rambut Anggi.

__ADS_1


"Makasih ya, Iyan. Anggi jadi punya teman sekarang."


"Sama-sama Bunda."


Iyan membantu ibu pemulung itu membawa barang yang sudah terkumpul ke sebuah rumah yang bisa dikatakan kumuh dan tidak layak huni.


"Inilah rumah kami, Iyan."


Mata Iyan berkeliling ke setiap sudut rumah Anggi. Rumah yang hanya berdinding bilik bambu, berlantai tanah. Tidur pun di atas bale dengan kasur yang sangat tipis. Atapnya lu. banyak yang sudah bolong.


"Kami hanya orang miskin, Yan. Berbeda dengan kamu yang serba ada dan berkecukupan," imbuh ibunda Anggi.


Baru saja ibunda Anggi meletakkan karung berisi botol bekas, pekikan suara seorang wanita terdengar.


"Parmi! Bayar hutang lu sekarang juga!"


Wanita tambun dengan dandanan menor, alis seperti bulan sabit Saudah mengomel tanpa henti.


"Maaf Bu, saya belum punya."


Wanita itu hendak berbuat kasar kepada ibu Parmi. Namun, Iyan hadang.


"Berapa hutang Bunda?" tanya Iyan.


"Bunda?" tawa wanita si penagih hutang pun menggema.


"Terlalu bagus sebutan itu buat perempuan miskin seperti si Parmi itu! Perempuan penyakitan!"


"Jangan hina Ibu!" sergah Anggi.


Ibu Parmi menggeleng menandakan Anggi tidak boleh seperti itu. Biarlah wanita itu mencaci maki dirinya.


Iyan yang tak tahan dengan hinaan ibu rentenir ini, mengeluarkan beberapa yang lembaran merah dalam tasnya.


"Apa ini cukup?"


"Satu juta rupiah." Wanita itu terlihat kegirangan mendapatkan uang dari Iyan.


"Lu anak orang kaya, ya?" tanyanya.


"Baiklah ... baiklah. Gua gak akan ganggu si Parmi lagi. Hutangnya juga 'kan udah lunas. Ngapain gua mesti repot-repot datang ke tempat kumuh begini."


Iyan hanya menghela napas kasar, sedangkan Ibu Parmi sudah menggelengkan kepalanya.


"Iyan, itu terlalu banyak. Hutang ibu tidak sampai segitu."


"Tidak apa-apa, Bunda." Iyan berucap dengan sangat tulus dan senyum yang melengkung indah di bibirnya.


Semenjak kejadian itu, sepulang sekolah Iyan sering berkunjung ke rumah Anggi. Sekedar membawakan Anggi dan ibunya makanan atau memberi uang. Iyan tahu, hasil dari menjual botol bekas digunakan untuk menebus obat ibu Parmi yang mengalami penyakit paru-paru.


Iyan sampai rela untuk tidak jajan di sekolah, uangnya dia gunakan untuk membeli sembako dan diberikan kepada Anggi. Iyan tidak tega mendengar cerita Anggi, seringnya dia hanya makan nasi dengan garam. Sudah makan nasi pun sudah sangat bersyukur. Teriris hati Iyan.


****


Malam hari, Echa mendatangi ruang kerja Radit. Menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kenapa Sayang?"


Radit yang sedang fokus pada laptopnya pun sedikit kaget. Kemudian, dia menghampiri istrinya.


"Ada yang aneh dengan Iyan," ujarnya.


"Hantu lagi?" Echa menggeleng. Dahi Radit pun mengkerut.


"Dia selalu pulang telat. Jika, ditanya tidak pernah menjawab. Langsung masuk ke dalam kamar."


Radit mengusap lembut ribut Echa yang tengah mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Iya, nanti aku bantu sama Iyan. Kamu juga harus mulai menyelidikinya."


Hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Echa. Tangannya melingkar di pinggang Radit.


"Iyan kurang kasih sayang dari ibunya."


Radit hanya bisa mengusap lembut punggung sang istri. Jika, menyangkut kasih sayang. Dia juga sama seperti Iyan, malah lebih malang dari Iyan.

__ADS_1


Setiap hari, Radit berusaha mengajak bicara Iyan. Namun, Iyan seolah sedang menutupi sesuatu. Sama sekali tidak mau membuka suara.


"Iyan tidak apa-apa, Bang."


Hanya kalimat itu yang Iyan katakan. Rasa curiga mulai hinggap di kepalanya. Akan tetapi, Rion belum tahu perihal ini. Echa dan Radit tidak ingin emosi ayahnya meradang.


Radit membuka pintu kamar, di mana Echa sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Suaminya menggeleng menandakan dia telah gagal.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Echa yang benar-benar bingung.


"Kamu ikutin Iyan secara diam-diam."


Keesokan harinya, Echa sudah akan menitipkan ketiga anaknya kepada sang mamah yang kebetulan sedang tidak ada kegiatan. Ditambah papanya pun ada di rumah karena baru pulang dari Singapura. Baru saja hendak keluar pintu rumah, seorang perempuan berseragam guru datang ke rumahnya.


"Apa benar ini rumah Rian Juanda?"


Deg.


Hati Echa berdegup cukup cepat. Dia benar-benar sedang dilanda ketakutan.


"I-iya ... ada apa?"


Echa pun mengajak guru tersebut masuk ke dalam rumahnya. Guru itu tidak menjelaskan apapun. Dia hanya menyerahkan selembar kertas.


"Silahkan dibaca, Bu."


Mata Echa melebar ketika membaca isi dari surat tersebut.


"Akhir pekan depan, sudah akan diadakan acara outbond. Namun, sampai sekarang Iyan belum membayarnya. Spp bulan ini juga belum Iyan bayarkan. Serta sudah tiga hari ini, Iyan tidak masuk sekolah."


Bagai disambar petir di siang bolong mendengar penuturan dari guru tersebut. Marah, kecewa jadi satu. Namun, Echa masih bisa untuk meredamnya.


"Untuk pembayaran outbond dan juga uang SPP, besok langsung saya bayar ke sana.".


"Baik, Bu. Lalu, tiga hari ini Iyan tidak masuk sekolah ke mana?"


Echa menggeleng lemah. Dia juga tidak tahu Iyan pergi ke mana. Dia harus bisa menjaga masalah ini agar tidak tembus kepada sang ayah. Echa takut, Iyan akan kena pukul ayahnya.


Setelah guru itu pergi, Echa menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah tak bertulang. Dia tidak menyangka, Iyan seperti ini. Namun, dia juga tidak ingin gegabah. Lebih baik menanyakannya ketika kepala dingin.


Tak berselang lama, Iyan pulang dengan baju yang terlihat sedikit kotor. Echa hanya memperhatikannya tanpa bertanya. Iyan merasa bingung sendiri, tidak biasanya kakaknya seperti ini.


Lelah di tubuhnya membuat Iyan segera melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Dia juga takut, jika sang kakak akan menanyakan sesuatu hal lagi.


Malam hari, Echa menyerahkan kertas kepada Radit. Terkejut, sudah pasti.


"Kayaknya ada yang gak beres."


Echa setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Setelah mengurus uang sekolah Iyan, dia akan mencari tahu. Anak-anaknya akan dititipkan kepada Nesha.


"Aku sih gak terlalu mempermasalahkan perihal uangnya. Akan tetapi, ke mana Iyan selama tiga hari ini?"


Uang satu juta tidaklah sulit untuk Echa. Namun, yang dia sesalkan adalah bolosnya Iyan sudah tiga hari ini.


Keesokan paginya, Echa sendiri yang mengantar Iyan ke sekolah. Penolakan Iyan membuat Echa curiga. Akan tetapi, dia tetap memaksa.


Tibanya di sekolah, Echa malah memasukkan mobilnya ke parkiran sekolah. Sontak Iyan terkejut.


"Ka-kakak mau apa?"


"Mau apa apanya?" tanya balik Echa.


Echa sudah bisa menebak ada gelagat aneh dari Iyan. Sepertinya dia ingin kabur.


Echa mengantar Iyan hingga masuk ke dalam kelasnya. Kemudian, dia melanjutkan langkahnya menuju ruang tata usaha dan juga ruang BK.


Cukup lama Echa berada di sana membahas perihal Iyan. Echa memutuskan untuk menunggu Iyan. Namun, di tempat yang lebih jauh dari sekolah.


Bel pulang sekolah berbunyi, Iyan mendapatkan kabar dari wali kelasnya bahwa orang rumah tidak ada yang bisa menjemputnya. Iyan bersorak gembira dalam hati.


Dari kejauhan, Echa melihat Iyan yang tengah berjalan dengan tergesa. Mobilnya mengikuti Iyan dari belakang. Namun, Echa memicingkan mata ketika Iyan berhenti di sebuah warung. Dia tidak tahu apa yang dibeli oleh Iyan. Akan tetapi, Iyan keluar dengan rona bahagia.


Echa terus mengikuti langkah Iyan hingga Iyan masuk ke dalam sebuah gang sangat sempit. Membuat mobilnya tidak bisa masuk. Echa pun harus turun dari mobilnya untuk terus mengikuti Iyan.


Langkahnya terhenti ketika dia melihat Iyan berhenti di gubuk reyot. Ada seorang anak perempuan yang menyambutnya dengan riang gembira. Di belakangnya ada seorang wanita yang sedang terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Bunda."


__ADS_2