
Ketika kedua insan sedang terbuai akan kenikmatan. Tanpa memperdulikan pakaian mereka berserakan. Keringat sudah bercucuran menandakan tubuh mereka semakin memanas. Namun, semuanya harus terhenti ketika sebuah bel berbunyi.
Radit pun mengerang kesal, baru saja dia akan mengarahkan pelurunya ke dalam gawang. Harus gagal karena sebuah gangguan.
Radit memakaikan istrinya selimut hingga menutupi leher dan dia segera memakai celana pendeknya serta kaos putih. Membukakan pintu kamar untuk tamu yang tidak dia tahu siapa.
Seorang asisten rumah tangga tersenyum ramah kepada Radit. Membawakan beberapa macam makanan untuknya dan juga sang istri. Radit menghela napas kasar, untuk saat ini perutnya tidak lapar. Adik kecilnya yang sedang kelaparan.
Radit menyuruh asisten itu pergi dan membawa makanan itu ke dalam seorang diri. Senyumnya merekah ketika melihat wajah Echa yang nampak kelelahan. Dia sedang bersandar di kepala ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Makan dulu, Yang," ucap Radit yang sudah membawakan makanan untuk istrinya. Mengecup keningnya istrinya sangat dalam dan mengusap bibir istrinya yang terlihat membengkak karena ulahnya.
"Lemes," keluh Echa. Radit pun tertawa. Dia meletakkan piring yang sudah dia bawa di atas nakas. Kemudian, memeluk tubuh Echa dari samping sambil mengusap lembut kepala sang istri.
Radit sendiri mengakui, ini salahnya. Dialah yang sudah membuat Echa merasa lemas. Tangan dan lidah nakalnya yang mampu membuat Echa menggelinjang berkali-kali. Sedangkan dirinya belum bisa menikmati surga dunia sesungguhnya.
"Maaf, Yang." Itulah yang Radit katakan. Apalagi melihat beberapa tanda merah di leher Echa. Membuatnya tersenyum penuh kemenangan.
"Makan dulu, ya. Terus kamu tidur." Radit tidak tega melihat tubuh Echa yang sudah lemah tak berdaya.
Setelah menyuapi sang istri, Radit membantunya untuk berbaring. Dia memeluk serta mengusap lembut kepala sang istri hingga dengkuran halus pun terdengar.
"Makasih, Sayang." Radit mengecup kening Echa sangat dalam.
Sore pun tiba, mereka semua pergi ke hotel dengan menggunakan sopir. Echa menjadi bulan-bulanan Arya ketika lehernya dipenuhi tanda merah.
"Kamu dengar gak sih apa yang Papamu bilang tadi," geram Rion yang kini menjewer telinga Radit. Belum dua puluh empat jam menjadi menantunya, Radit sudah dianiaya.
Sedangkan Echa tidak peduli. Tangannya masih setia melingkar di lengan Radit dengan kepala yang bersandar di pundak sang suami. Di sepanjang perjalanan pun Echa masih betah bersandar di bahu Radit. Radit pun memberikan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Echa membuat Papa dan Mamah Echa tersenyum bahagia. Jika, anak mereka sudah manja seperti itu menandakan Echa sudah sangat nyaman berada di samping Radit. Menganggapnya seperti ayahnya.
Tibanya di hotel, mereka disambut hangat oleh para petugas hotel. Mereka semua dipandu ke sebuah ruangan cukup besar di mana make up artis sudah datang. Radit yang harusnya bersiap memakai pakaiannya harus menemani sang istri terlebih dahulu. Dia benar-benar tidak tega melihat sang istri yang terlihat lesu.
"Mbak, ini masih bisa ditutup 'kan," tanya Radit sambil menunjuk ke arah tanda merah di leher sang istri.
Make up artis itu pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Radit. "Ganas amat sih, Mas." godanya sambil terkekeh. Radit hanya mengusap lembut tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan khawatir, semuanya pasti tertutup kok," ujar make up artis yang tidak ingin melihat pengantin pria khawatir. Radit bisa bernapas lega.
Radit bersimpuh di depan sang istri. Mengusap lembut tangannya seraya menatap manik mata Echa. "Aku ke ruang ganti dulu, ya." Dijawab anggukan oleh Echa. Radit bangkit dari posisi awalnya lalu mengecup puncak kepala sang istri.
"Nanti aku ke sini lagi," ucapnya sebelum pergi.
Hati siapa yang tidak meleleh mendapat perlakuan manis seperti itu. Make up artis itu pun merasa iri terhadap Echa.
"Sweet banget suaminya." Echa hanya tersenyum simpul.
Echa sangat beruntung bersuamikan Radit. Dari pacaran hingga sah menjadi sepasang suami-istri sikapnya tidak pernah berubah. Selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Semarah-marahnya Radit tidak akan pernah membentak Echa. Dia selalu berkata lembut meskipun ada perbedaan dari nada bicaranya.
Satu jam berselang, Radit sudah kembali dengan setelan baju berwarna silver. Sungguh dia terlihat tampan dan juga menawan. Echa tersenyum ke arah sang suami disambut senyuman manis dari Radit.
Setelah Echa selesai dirias. Kini, saatnya Echa berganti pakaian. Gaun silver yang senada dengan Radit. Echa seperti putri-putri di negeri dongeng yang cantik jelita. Radit yang tadinya sedang menatap ponselnya, beralih ke arah seseorang yang sudah berada di hadapannya. Matanya tidak berkedip menatap sang istri yang terlihat sangat cantik.
"Cantik banget kamu, Yang," puji Radit yang kini sudah mencium kening sang istri.
Acara resepsi pun sudah dimulai. Tamu undangan sudah berdatangan. Didominasi dari kalangan pengusaha dan para kolega dari Gio dan Genta. Hadir pula para dokter dan psikolog ternama di negeri ini. Teman sejawat dari Addhitama.
Sudah dua jam Radit dan Echa berdiri. Echa sudah mulai mengeluh karena dia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi.
"Kapan selesainya sih," keluh Echa.
__ADS_1
"Sabar, Sayang." Radit merengkuh pinggang istrinya kemudian mengecupnya. Membuat semua orang yang sedang melihat ke arah pelaminan berteriak.
"Sungguh pasangan yang sempurna," ucap mereka.
Resepsi pun selesai, Radit sudah membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah disiapkan. Meletakkan pelan-pelan di atas tempat tidur.
"Aku siapkan air hangat dulu, ya." Echa pun mengangguk pasrah. Dia membuka gaun yang dia kenakan. Sedikit sulit memang. Namun, akhirnya dia berhasil juga. Ketika Echa mulai membuka gaunnya. Radit sudah ada di hadapannya dengan mata yang sangat sayu. Terlebih Echa hanya menggunakan pakaian dalam saja.
"Biasa aja, Ay. 'Kan tadi udah lihat semua," ucap Echa tenang padahal hatinya sedang bergemuruh.
Radit mendekat dan merengkuh tubuh Echa. "Aku ingin merasakannya, Sayang," bisik Radit yang membuat bulu kuduk Echa meremang.
Dengan cepat Radit menanggalkan pakaiannya dan membopong tubuh istrinya ke dalam kamar mandi. Membuat Echa menatap heran. Namun, tetap diam.
Radit memangku tubuh sang istri di dalam bath up yang sudah terisi air hangat dan aroma terapi.
"Aku tidak akan terburu-buru. Aku ingin kamu mengenal adik kecilku lebih dalam lagi," ucap Radit.
Acara perkenalan pun berlangsung. Dari sebuah perkenalan membuat mereka terbuai. Nafsu sudah saling menderu. Tatapan sayu sudah mereka tunjukkan. Ketika Echa menganggukkan kepala, Radit segera membawa tubuh polos istrinya serta dirinya yang juga polos ke atas tempat tidur. Dibaringkannya tubuh Echa dengan sangat hati-hati. Tangan Radit mulai nakal dan membuat Echa semakin terbuai.
"Aku mulai, ya," bisik Radit. Echa hanya mengangguk pasrah.
Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua juga gagal. Sekarang, Radit sudah mulai mengarahkan pelurunya menuju sebuah lubang yang masih memiliki dinding pertahanan yang kuat. Percobaan ketika cukup berhasil.
"Sakit," lirih Echa. Radit mengecup mata Echa dan mengecup bibirnya.
"Tahan sebentar ya, Sayang. Nanti juga sakitnya hilang." Radit mengecup seluruh wajah Echa. Dan berakhir memagut bibir Echa dengan bagian tubuh bawahnya terus membobol gawang.
Hanya sebuah alunan merdu penuh kenikmatan yang keduanya nyanyikan. Keringat sudah bercucuran, tetapi tak mereka hiraukan. Mereka sedang berenang menuju puncak kenikmatan.
Lenguhan panjang terdengar dari keduanya. Bertanda semuanya sudah selesai. Radit pun tersenyum ke arah Echa yang sedang terengah-engah.
"Makasih, Sayang. Sudah menjaganya untuk aku." Echa hanya tersenyum.
Ketika suaminya sudah berhasil menanam benih. Dia pun terkapar di samping sang istri.
"Maaf, Sayang. Tubuhmu selalu membuatku ingin terus," sesalnya. Echa hanya tersenyum sambil mengusap lembut pipi sang suami.
"Izinkan aku tidur, ya. Aku udah benar-benar lemas." Radit pun mengangguk. Kemudian mencium kening Echa sangat dalam.
Mereka tertidur pulas. Jam tiga sore Mereka baru terbangun dengan kondisi hanya berbalut selimut. Echa mencoba untuk bangun. Namun, dia tidak sanggup hingga rintihan keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Radit yang sedikit panik.
"Aku ingin ke kamar mandi, tetapi gak kuat," ucap Echa. Radit segera membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi. Mendudukkannya di atas closet.
"Kalo udah selesai panggil aku, ya." Echa pun mengangguk patuh.
Lima belas menit berselang, panggilan dari dalam kamar mandi terdengar. Radit membawa tubuh polos istrinya kemudian didudukkan di tepian tempat tidur. Dia memakaikan istrinya piyama.
"Emang kita gak pulang?" tanya Echa.
"Semuanya sudah kembali. Tinggal kita aja yang di sini. Nunggu kondisi kamu membaik dulu." Echa hanya tersenyum kemudian memeluk tubuh suaminya.
Keesokan sorenya, Radit dan Echa baru pulang ke rumah Ayanda. Mereka disambut hangat oleh keempat orang tua Echa, Addhitama, sertakan keluarga Arya dan juga keluarga Kano.
"Malam pertamanya sukses banget kayaknya," ledek Arya sambil menatap ke arah leher Echa.
Radit hanya tersenyum sedangkan Echa hanya mendelik kesal ke arah Om-nya yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Doain aja semoga cepat jadi," imbuh Radit.
"Emangnya gak mau ditunda dulu?" tanya Beby.
Radit dan Echa kompak menggeleng. "Kita ingin jadi Papa dan Mama muda," sahut Radit.
"Anak adalah rezeki. Lagi pula, Echa 'kan akan ikut suami ke Ausi. Jadi, ketika suami Echa kerja Echa gak kesepian kalo udah ada anak," ujar Echa.
Ucapan Echa membuat semua orang terdiam. Mereka sedikit sedih karena Echa akan pergi meninggalkan mereka.
Setelah bincang-bincang keluarga selesai. Echa dan Radit masuk ke dalam kamar mereka. Echa sudah berganti baju dengan piyama kesukaannya. Sedangkan Radit hanya menggunakan celana boxer dan kaos.
"Masih sakit, Yang," tanya Radit sambil menyentuh bagian sensitif sang istri.
"Sedikit."
"Maaf." Radit memeluk tubuh istrinya dengan penuh penyesalan. Echa hanya mengusap pelan rambut suaminya.
"Sudah berapa puluh kali kamu mengatakan kata maaf. Aku tidak apa, Ay. Wajar, ini pertama buat kamu. Makanya kamu gak mau berhenti," terang Echa dengan penuh kelembutan.
Radit menatap Echa dengan senyum bahagia. "Besok kamu mau ke mana? Aku akan mengikuti semua keinginan istriku," imbuh Radit.
"Aku hanya ingin rebahan." Jawaban yang membuat Radit tertawa. Echa yang pertama kali dia kenal memang tidak berubah. Echa tidak suka keramaian hanya nyaman dengan yang namanya rebahan.
Keesokan paginya, Echa sudah bangun sebelum suaminya bangun. Dia turun ke lantai bawah menuju dapur bersih. Berniat untuk membuatkan kopi untuk sang suami. Baru saja membuka bungkus kopi kesukaan Radit, Echa dikejutkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Sejurus kemudian Echa tersenyum ketika melihat cincin pernikahan di jari manis orang yang sedang memeluknya dari belakang.
"Kenapa udah bangun?" tanya Echa yang sedang menuangkan serbuk kopi.
"Kamu gak nemenin aku tidur," jawab Radit yang kini sudah meletakkan dagunya di pundak sang istri dengan rambut yang masih berantakan.
"Aku 'kan mau bikinin kamu kopi, Ay. Jadi, setelah kamu bangun sudah tersedia kopi untuk kamu," jelas Echa.
"Istri terbaik," ucap Radit sambil mengecup pipi Echa. Echa hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ay, sarapannya aku bikinin roti bakar, mau?"
"Apa aja, Sayang, yang penting buatan tangan kamu," imbuh Radit yang masih betah memeluk tubuh istrinya.
Tidak dia pedulikan asisten rumah mertuanya berlalu lalang. Menatap mereka dengan gelengan kepala. Dari kejauhan senyum seorang ibu merekah dengan sempurna. Hatinya teramat bahagia ketika melihat putri tercintanya mendapatkan pendamping yang benar-benar menyayanginya.
Terlihat dari keduanya yang terus menyunggingkan senyum penuh cinta. Meskipun posisi Ayanda ada di belakang mereka, tetapi Ayanda mampu melihat pancaran kebahagiaan itu. Ayanda menyeka ujung matanya yang basah.
Dia pun terhenyak ketika seseorang memeluknya dari belakang. Bibir Ayanda melengkungkan senyum ketika tangan kekar itu melingkar di perutnya.
"Melihat mereka seperti melihat kita ketika pengantin baru," ujar Gio. Ayanda hanya tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio.
"Mommy harap, Echa dan Radit akan bisa melalui ujian rumah tangga yang pastinya kan menghampiri mereka. Mommy selalu berdoa agar rumah tangga mereka tidak seperti rumah tangga mamah dan ayahnya."
Gio semakin mengeratkan pelukannya sambil menatap anak dan menantunya sedang bermesraan di depan kompor. Ketika Echa dan Radit membalikkan tubuh. Echa sedikit terkejut ketika Papa dan Mamahnya tersenyum ke arah Echa dan Radit.
"Ay, lepas dulu. Malu ada Mamah dan Papa."
"Gak," tolak Radit.
Gio dan Ayanda pun tertawa. Mereka menghampiri sang putri yang sedang menahan malu dan marah menjadi satu.
"Gak usah malu, Sayang. Wajar, namanya juga pengantin baru. Pasti maunya nempel melulu," kata Gio.
"Tuh denger, Yang. Apa kata Papa." Sekarang Echa harus belajar menerima sifat manja suaminya yang melebih adik kembarnya. Jika, Arya melihatnya sudah pasti Om-nya yang satu itu akan meledaknya habis-habisan.
__ADS_1
...****************...
Komennya mana???