
Setelah menginap di rumah sang opa, kini si triplets kembali ke rumah mereka. Kehadiran mereka disambut hangat oleh engkong dan juga Iyan.
"Kangen Engkong," kata mereka bertiga.
Senyuman melengkung indah di wajah Echa dan juga Radit. Melihat keakraban antara ayah dan anaknya membuat hati Echa merasa tenang.
Hari ini Rion yang akan mengasuh ketiga cucunya. Bermain bersama mereka bertiga hingga terdengar gelak tawa.
Apalagi Rion yang dikerjai habis-habisan. Dikuncir tiga dengan wajah yang sudah dilukis dengan make up mainan yang baru saja dibelikan oleh Rifal. Rion diam saja dengan apa yang dilakukan oleh ketiga cucunya.
"Engkong cantik, kayak ondel-ondel."
Rion terbahak mendengar pujian aneh yang keluar dari mulut Aleeya.
"Emang ondel-ondel cantik?" tanya Rion.
"Iya, kalau ondel-ondel yang masih balu," jawabnya.
Rion mengecup gemas Aleeya. Cucu comelnya. Radit yang keluar dari kamarnya tertawa melihat wajah mertuanya itu.
"Baba, Engkong cantik 'kan," ucap Aleena.
"Sangat cantik," puji Radit sambil menahan tawanya.
Lirikan tajam Rion berikan kepada Radit. Namun, Radit tidak akan pernah takut pada tatapan itu.
"Ayah, Iyan di mana?" tanya Radit.
"Di bawah pohon mangga. Katanya kemarin ada hantu baru, terus dia bawa ke pohon mangga," jawab Rion.
"Hantu balu?" ulang Aleesa dengan wajah sumringah.
Anak kedua dari Radit itu berlari menuju pohon mangga. Radit dan Rion menggelengkan kepala.
"Besok-besok bikin channel YouTube deh. Judulnya pemburu hantu cilik," ujar Rion.
Radit tertawa mendengar ucapan dari Rion. Namun, kedua anak Radit memukul lengan Rion.
"Hantu itu ada, Engkong. Jangan bicala sepelti itu," ucap Aleena.
Rion menatap ke arah Radit. Menantunya itu hanya menggedikkan bahu.
"Iya, Engkong. Di tubuh kita juga banyak hantunya. Buktinya banyak manusia yang bsifat sepelti setan." Sungguh tercengang Rion dan Radit mendengar ucapan dari Aleeya. Tidak biasanya anak ketiga Radit itu berbicara layaknya orang normal.
"Emangnya Dedek pernah lihat hantu?" tanya Radit penasaran.
"Kakak Sa selalu lihatin hantu balu kepada Dedek dan juga Kakak Na. Malah meleka lucu-lucu. Ada yang sepelti pelmen susu, tubuhnya dibungkus, di atas dan bawahnya diikat," terang Aleeya.
"Ada juga yang wajahnya sepelti ondel-ondel belwalna melah," lanjut Aleena.
Radit ternganga mendengar penjelasan dari kedua anaknya ini. Apa yang dia takutkan bahwa kedua anaknya ini akan takut dengan makhluk tak kasat mata malah salah.
Rion sudah tidak bisa berkata apapun. Ternyata anak-anak di rumahnya ini adalah anak-anak pemberani yang tidak takut hantu.
Di bawah pohon mangga, Aleesa tertawa cekikan ketika melihat hantu anak kecil yang matanya tidak ada sebelah.
"Matanya bolong," ucap Aleesa.
Hantu itu malah menangis mendapat ejekan dari Aleesa. Bukannya takut, Aleesa malah tertawa terbahak-bahak.
"Udahlah Bo, jangan cengeng. Semakin kamu cengeng, kamu akan ditindas sama Aleesa," tutur Iyan.
Hantu baru itu bernama Obo. Menurut ceritanya Obo, dia adalah korban kecelakaan di depan jalan raya tak jauh dari komplek rumah Iyan. Sebagian tubuhnya terlindas truk dan matanya tidak tahu ke mana.
Iyan melihat Obo yang hendak mengganggu pengendara motor yang sedang membawa anak kecil. Dia ingin anak kecil itu bernasib sama seperti dirinya agar dia tidak sendiri dan memiliki teman.
__ADS_1
"Hantu jahat!"
Tanpa Iyan bercerita, Aleesa dapat mengetahui siapa Obo sebenarnya. Hanya dengan menatap Obo dengan sorot matanya membuat Obo menangis keras. Tubuhnya seperti terbakar dia menjerit kesakitan.
"Ampun, aku gak akan nakal lagi," teriaknya.
Semua makhluk tak kasat mata ini akan diam ketika Aleesa mengeluarkan tatapan tajamnya. Tatapan itu mengeluarkan api dan dapat membakar tubuh mereka.
Semakin hari kekuatan dan kemampuan Aleesa semakin mempuni. Padahal tidak ada orang yang mengarahkan. Kemampuan Aleesa pun tidak Radit dan Echa ekspose karena mereka takut orang lain akan menganggap anak keduanya itu gila. Padahal, itu adalah kemampuannya yang sangat luar biasa.
Iyan dan Aleesa yang asyik bermain dengan hantu baru teralihkan pandangan merek ketika melihat mobil yang sangat asing terparkir di halaman rumah mereka. Mereka saling pandang, tetapi Iyan menggelengkan kepala.
Di depan rumah, dua lontong putih tengah memeriksa orang ini dengan sangat detail. Namun, om poci menggelengkan kepalanya ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita yang sudah berumur itu.
"Kenapa manusia senangnya memakai pakaian yang kurang bahan?" gumamnya.
Langkah kaki wanita itu melangkah menuju pintu rumah Echa. Dia menekan bel yang ada di sana. Tak lama, Mbak Ina membukakan pintu dan matanya melebar ketika melihat wanita yang ada di hadapannya.
Memakai baju tanpa lengan dengan belahan dada yang sangat rendah serta rok mini.
"Astaghfirullah."
Mbak Ina Samapi beristighfar melihatnya. Wanita yang sudah hampir senja, tetapi masih bergaya layaknya anak muda. Apa masih pantas?
"Kenapa lihatin sayanya sepeti itu? Kamu kagum dengan kecantikan saya?" sergahnya .
"Orang beristighfar dikata muji. Rada gendeng nih orang," umpatnya dalam hati.
"Kenapa bengong kayak sapi ompong?" hardiknya.
"Panggilin majikan kamu." Wanita itu pun segera masuk ke dalam rumah Rion tanpa dipersilakan. Mbak Ina menggelengkan kepala melihat tingkah laku tamu tak ada sopan santunnya itu.
Mbak Ina segera menuju ruang keluarga di mana Rion berada. Di sana juga ada Aleena serta Aleeya dan juga Radit.
Rion yang tengah didandani ala banci taman Lawang mengkerutkan dahinya.
"Siapa?"
Mbak Ina menggeleng dan kemudian menjawab. "Perempuan seksi."
Rion menatap ke arah Radit, tetapi Radit menggelengkan kepalanya bertanda dia tidak tahu. Kedua cucu Rion malah sudah bangkit dari tempatnya. Mereka segera menuju ruang tamu.
Tatapan mereka berdua begitu tajam ke arah wanita yang memakai busana kurang bahan.
"Engkongnya gak ada!" seru mereka berdua.
Wanita itu menoleh ke arah Aleena dan juga Aleeya. Dia tersenyum dan ingin mendekatinya. Akan tetapi, mereka mundur.
"No!" pekik mereka berdua.
Rion dan Radit segera menuju ke ruang tamu.
"Astaghfirullah Al adzim."
Kompak mereka berdua beristighfar. Radit segera membalikkan tubuhnya begitu juga dengan Rion.
"Mending body bagus," sungut Radit.
Echa keluar dari kamar, dia melihat ayah dan juga suaminya tengah mengumpat kesal, sedangkan ketiga anaknya tidak ada di sana.
"Anak-anak mana?" tanya Echa.
"Yang, coba deh kamu ke ruang tamu. Usir deh wanita seperti itu," pinta Radit.
"Usir wanita?" ulang Echa. Kedua pria kesayangannya itu mengangguk. Echa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Radit dan Rion.
__ADS_1
Echa melangkah menuju ruang tamu dan dilihatnya wanita ya g sudah berumur sedang duduk manis di sofa. Pakaian yang dia gunakan benar-benar tidak sopan.
"Hai Echa! Masih ingat Tante 'kan," sapanya. Ternyata wanita itu adalah ibu dari Mima sahabat Echa.
"Maaf Tante, jika bertamu harap berpakaian sopan. Di sini ada anak-anak Echa. Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk mereka," ketusnya.
"Ini udah sangat sopan loh," timpalnya.
Echa tersenyum tipis lalu menggeleng. Dia menatap tajam ke arah ibunda dari Mima.
"Tante ingin menjadi ibu sambung kamu, seperti pesan Tante pada waktu itu." To the point sekali maksud dan tujuan dari ibunda sahabatnya ini.
"Tante yakin, pasti Tante bisa memuaskan ayah kamu," sambungnya lagi.
Echa tertawa dan menatap tajam ke arah Miska.
"Apa menikah hanya untuk mencari kepuasan? Terlalu hina jika seperti itu. Tante tak jauh berbeda dengan pelacoer yang menjanjikan kepuasan kepada para pria."
Kalimat yang sangat kejam yang Echa ucapkan. Jika, Echa sudah seperti ini bertanda dia sudah tidak suka.
"Jaga mulut kamu ya," sentak Miska.
"Lah kenapa harus jaga mulut Echa, sedangkan Tante saja tidak bisa menjaga cara berbusana Tante yang seperti wanita murahan," pungkasnya.
Wajah Miska sudah merah padam. Ingin rasanya dia melayangkan tamparan kepada anak kemarin sore di hadapannya ini.
"Pernikahan bukan hanya untuk sebuah kepuasaan, pernikahan adalah penyatuan dua insan manusia untuk saling melengkapi dan menjaga satu sama lain. Mencintai satu sama lain. Pernikahan berlandaskan napsu hanya akan bertahan seumur jagung," tandasnya.
"Echa mohon, sekarang Tante pergi dari rumah Echa. Echa sangat menolak keinginan Tante itu," tegasnya.
"Anak belagu kamu!" seru Miska.
"Jangan berlagak sok suci kamu. Harusnya kamu ingat bagaimana bejatnya ayahmu dulu," geram Miska.
"Jangan pernah bawa masa lalu Ayah karena semua orang pasti memiliki masa lalu dan juga kesalahan. Tante mau mengungkit masa lalu Ayah, silakan. Echa juga akan mengungkit masa lalu Tante seperti apa. Jangan Tante kira Echa tidak tahu," tantangnya.
Mulut Miska terbungkam rapat. Dia tidak menyangka bahwa Echa memiliki kartu As-nya.
"Sekarang, silakan Tante pergi!" usirnya.
Miska pergi dari rumah Echa dengan amarah yang memuncak. Umpatan demi umpatan Miska berikan kepada Echa.
Setelah Miska pergi, Echa menghampiri dua pria yang menjadi kesayangannya.
"Jika, Ayah ingin menikah lagi lebih baik pergi dari rumah ini." Kalimat yang mampu membuat Rion tercengang.
"Iyan juga akan memilih tinggal bersama kakak dari pada bersama Ayah," sambung Iyan yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalian kenapa sih? Siapa yang mau menikah lagi? Ayah gak punya niatan sama sekali untuk menikah," jelasnya.
Echa dan Iyan hanya menatap ayah mereka dengan tatapan datar.
"Dengar ya, Ayah ingin seperti Kakek Genta yang setelah kepergian istrinya tidak menikah lagi. Akan tetapi, mampu menjadikan anaknya menjadi anak yang hebat seperti Daddy Giondra. Ayah juga ingin seperti Om Addhitama, mengurus anak-anaknya sendiri. Menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya. Namun, mampu membuat anaknya sukses sama seperti dirinya saat ini. Ayah ingin seperti itu," ungkapnya.
"Menikah ketika usai sudah tua seperti Ayah apa gunanya? Ayah hanya ingin menikmati masa tua Ayah dengan tenang dan damai. Ayah tidak ingin kehadiran orang lain membuat ketenangan keluarga kita hancur. Cukup kita yang ada di rumah ini. Ketika anggota keluarga kita bertambah itupun karena kehadiran malaikat kecil yang Tuhan berikan untuk kamu, Dek."
Rion bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Echa dan mengusap lembut rambut Echa.
"Ayah tahu ... masih ada ketakutan di hati kamu. Ayah tidak akan bertindak bodoh lagi, Dek. Cukup sekali Ayah mengorbankan kebahagiaan kamu. Ayah tidak ingin mengorbankan anak-anak Ayah yang lain. Ayah ingin menjadi orang tua yang baik untuk kalian. Hanya itu yang Ayah inginkan sekarang."
"Ayah juga ingin mengurus cucu-cucu Ayah karena merekalah kebahagiaan Ayah yang sesungguhnya."
Echa memeluk tubuh Rion begitu juga dengan Iyan.
"Jangan menikah lagi, Ayah. Sudah cukup kasih sayang yang Ayah dan Kak Echa berikan untuk Iyan. Iyan tidak butuh kasih sayang orang lain. Cukup keluarga Iyan sendiri yang menyayangi Iyan dengan tulus. Iyan tidak ingin ada orang lain masuk lagi ke dalam keluarga kita."
__ADS_1