Yang Terluka

Yang Terluka
Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

"Minggu depan kamu harus pulang. Abang kamu mau menikah." Begitulah yang Radit dengar dari sambungan telepon.


"Menikah?" ulang Radit.


Echa menatap Radit dengan tatapan aneh. Wajah Radit seperti orang yang kebingungan. Echa membungkam mulutnya hingga Radit mengakhiri panggilan teleponnya.


"Siapa yang menikah?" tanya Echa.


"Abang."


"Kenapa? Cemburu?" imbuh Echa sambil menatap layar laptopnya. Echa berpikiran Radit cemburu karena kakak pertama Radit akan menikah dengan Fani.


"Cemburu ke siapa?" Echa hanya menggedikkan bahunya. Dan Radit hanya tersenyum tipis.


"Kamu kali yang cemburu? Hayo ngaku," goda Radit.


"Apaan sih, Dit. Aku mau ngerjain tugas nih," balas Echa malas.


Radit malah menjadi, terus memeluk tubuh Echa dari samping. "Kamu mau ikut gak?" Mendengar pertanyaan Radit Echa menatap manik mata Radit. "Aku dikejar skripsi. Lagi pula aku ...."


Radit menutup mulut Echa dengan telunjuknya. Mengisyaratkan dia tidak boleh melanjutkan bicaranya.


"Aku ngerti perasaan kamu," sambung Radit. "Kejadian itu pasti sangat berbekas di hati dan pikiran kamu." Sekarang Radit sudah menggenggam tangan Echa. "Aku berjanji tidak akan membuat kamu menangis. Aku akan membahagiakan kamu." Radit menarik tangan Echa lalu dikecupnya. Menandakan dia sangat mencintai dan menyayangi wanita yang sedang berada di sampingnya.


"Aku tidak hanya ingin sekedar janji. Tetapi, bukti yang aku butuhkan. Bukan sebuah khayalan, melainkan kenyataan," sahut Echa.


Radit mengangguk dan mengeratkan pelukannya kepada sang kekasih, Dia berjanji, setelah Echa lulus kuliah dia akan melamar Echa dan menikahinya.


Waktu terus berjalan, dua hari sebelum hari H Radit sudah mengemas barangnya untuk pulang ke Indonesia selama satu Minggu. Berat dan enggan sekali meninggalkan kekasih hatinya di negara ini. Meski Echa sudah kembali ke rumah sang kakek.


"Mau oleh-oleh apa?" tanya Radit ketika Echa membantu Radit mengemas barang bawaannya.


"Titip hatimu agar ketika kamu kembali hatimu masih utuh untuk aku,"jawab Echa tanpa melihat ke arah Radit.


Takut itulah yang Echa rasakan. Bukan tanpa alasan, kekasihnya akan pulang ke Indonesia untuk menyaksikan pernikahan Kakak pertamanya bersama wanita yang mencintai Radit. Echa takut ini adalah jebakan dari keluarga Radit. Seperti di novel-novel online yang dia baca.


"Kamu takut?" Radit mampu membaca isi hati Echa. Dia membalikkan tubuh Echa yang membelakanginya.


Benar saja, mata Echa sudah nanar. Menahan bulir bening yang ingin menetes dari pelupuk matanya. Radit mencium kedua kelopak mata Echa bergantian. Menangkup wajah sang kekasih dengan tatapan sangat yakin.

__ADS_1


"Aku hanya mencintai kamu. Hanya kamu yang aku cintai," jelas Radit. Echa pun berhambur memeluk Radit dan menumpahkan ketakutannya dalam derai air mata.


"Aku akan video call kamu ketika aku sampai dan selama acara itu berlangsung. Sekalipun Abang atau Papih menipuku, aku lebih baik dicoret dari kartu keluarga dan pergi meninggalkan mereka semua. Daripada aku harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai."


Keberangkatan Radit tiba, pengawal Echa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat sejoli ini yang terlihat berlebihan di matanya. Padahal ini membuktikan bahwa cinta mereka sama-sama kuat.


Belum sehari Radit pergi hidup Echa seolah hampa. Ada yang kurang. Genta sudah tertawa melihat tingkah cucunya.


"Lulus kuliah langsung nikah aja. Radit pria yang baik dan dia sangat mencintai kamu," ujar Genta.


Echa hanya terdiam. Tidak ada jawaban darinya. Menikah? Dia belum siap sebenarnya.


Ketika pagi tiba, Echa mendapat telepon video dari Radit. "Loh, Yang. Mata panda kamu?"


"Iya, aku begadang karena gak bisa tidur." Radit menghela napas kasar. Apalagi kantung mata Echa yang sudah menghitam membuatnya sangat khawatir.


"Aku gak akan lama di sini. Setelah aku kembali, kamu harus perawatan, ya." Hanya anggukan yang menjadi jawaban Echa.


Melihat wajah Radit seakan membuat hatinya tenang. Dan matanya mulai terpejam. Radit terkekeh melihatnya.


"Selamat tidur, Sayang."


"Pih, " panggil Radit yang baru saja masuk ke dalam rumah. Tak lama Addhitama keluar dari kamar.


"Ini Abang mau nikah atau Papih jebak Radit?" Radit sudah berburuk sangka. Karena sangat mencurigakan.


"Abang memang mau nikah. Tetapi, nikah di bawah tangan dulu," terang Addhitama.


"Loh kenapa?"


"Ceritanya panjang. Lagian acara pernikahan ini tidak diketahui oleh Abang kamu." Radit semakin bingung dibuatnya.


"Maksud Papih gimana? Radit benar-benar gak ngerti," kata Radit.


"Abang punya pacar lagi selain si Fani. Padahal kandungan si Fani semakin besar," terang Rifal yang baru saja bergabung.


"Berengsek!" maki Radit.


Addhitama hanya menghela napas kasar. Inilah cara satu-satunya agar Rindra dan Fani menikah. Ada anak yang tidak berdosa yang membutuhkan pengakuan.

__ADS_1


"Panggil Abang kamu," titah Addhitama kepada Rifal.


Rifal menuruti perintah sang Papih. Berkali-kali Rifal mengetuk pintu kamar Rindra, tidak ada jawaban di sana. Rifal mencoba membuka pintu kamar sang kakak dan di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa. Rifal mencoba mengetuk pintu kamar mandi tidak ada jawaban pula. Dahi Rifal mengkerut, otaknya segera berpikir cepat.


"jangan-jangan ...."


Rifal segera menghampiri Addhitama yang sedang berbincang dengan Radit. "Abang sepertinya gak pulang," imbuh Rifal. Mata Addhitama seketika melebar.


"Coba lihat ke garasi," pintanya pada Radit. Dan setelah mengecek garasi tidak ada mobil sang Abang di sana.


"Tidak ada, Pih," kata Radit.


Addhitama mengerang kesal. DIa segera menghubungi nomor ponsel Rindra. Namun, tak ada jawaban dari putra sulungnya. Mencoba menghubungi Fani pun sama saja.


"Kemana mereka?" geram Addhitama.


"Pernikahannya gimana, Pih?" tanya Rifal. Tidak ada jawaban dari Addhitama.


Dia terus menghubungi nomor ponsel Rindra dan Fani. Hasilnya tetap saja nihil. Radit hanya diam saja tidak ingin ikut campur masalah sang Abang. Jujur, dia pun masuk memendam amarah karena Rindra telah mencuranginya dengan memfitnahnya tidur bersama Fani.


"Mau ke mana kamu, Dit?" tanya Adhhitama ketika Radit sudah menaiki anak tangga.


"Rebahan, Pih," jawabnya santai dan melanjutkan langkahnya kembali.


Addhitama hendak marah, Rifal mencegahnya. "Jangan egois, Pih. Hati Radit mungkin masih sakit dengan perlakuan Abang beberapa tahun lalu. Kalo aku jadi Radit, aku tidak akan pulang meskipun Abang akan menikah."


Addhitama terdiam mendengar ucapan Rifal. Selama ini Addhitma memang egois. Terlalu mementingkan Rindra dibanding Radit anak bungsunya.


"Coba mengerti Radit sedikit saja," pinta Rifal. Addhitama pun mengangguk lemah.


Orang berbaju hitam masuk ke kediaman Addhitma dan menunduk sopan ke arah Addhitama.


"Putra sulung Tuan bersama calon istrinya adalah di rumah sakit."


...****************...


Apa yang terjadi? Yuk baca kisah Rindra di Novel terbaruku. Jangan tanya terbit di mana? Karena di covernya sudah tertera aplikasinya. ya.


__ADS_1


__ADS_2