Yang Terluka

Yang Terluka
Pengasuh Kalfa


__ADS_3

Semenjak Christina mengatakan bahwa dia sudah menjadi pacar Aska, si triplets sama sekali enggan bertemu dengan Aska. Beginilah mereka, selamanya tidak akan pernah suka.


Kabar Aska menjalin hubungan dengan Christina pun sudah sampai ke telinga Genta. Itu dia dengar dari mulut Christo langsung. Ketika ditanyakan kepada Gio, putranya pun membenarkan. Hari ini Genta terbang ke Indonesia. Dia sengaja meluangkan waktunya untuk bertemu dengan cucu-cucunya serta tiga cicitnya yang menggemaskan.


"Dek, Christina sering ke sini," ujar Ayanda.


"Adek juga mau tinggal di kosan aja, Mom."


Kalimat yang dikeluarkan Aska membuat Ayanda terkejut. Dia menatap tajam ke arah sang putra.


"Cukup Abang kamu saja yang pergi, Dek," kata Ayanda lagi.


Aska bersimpuh di hadapan sang ibu. Dia menggenggam tangan Ayanda dengan sangat erat.


"Adek tidak ingin seperti ini. Adek lelah dicecar suruh tunangan terus. Adek punya pilihan sendiri, Mom."


Ayanda sedih mendengar ucapan dari Aska. Tidak dipungkiri dia juga lelah dengan desakan Christo.


"Bicarakan dulu sama Daddy ya, Dek. Kalau Daddy setuju, Mommy juga setuju," terangnya.


Aska mengangguk dan memeluk tubuh Ayanda. "Maafkan Adek ya, Mom."


"Gak apa-apa, Dek. Kebahagiaan kamu adalah yang utama."


Di lain tempat, kedua orang tua si triplets sedang meyakinkan ketiga anaknya yang sangat keras kepala.


"Anak-anak Bubu, Kakek uyut akan datang ke rumah Mimo. Beliau ingin bertemu kalian. Kalian mau 'kan?"


Si triplets menggeleng dengan kompak. Mulut mereka pun seakan terkunci rapat.


"Coba berita sama Baba. Kenapa kalian gak suka sama pacarnya Om?" tanya Radit.


"Nanti meleka gak akan bahagia. Satunya awoh dan satunya begini." Aleesa menggenggam tangannya sendiri.


"Belantem telus," lanjut Aleesa.


Radit dan Echa saling pandang. Mereka mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa.


Malam pun tiba, Genta sudah datang ke rumah putranya. Dia mencari-cari ketiga cicitnya. Akan tetapi, mereka tidak ada.


"Ke mana si triplets?" tanya Genta.


Echa dan Radit hanya terdiam, sedangkan Aska sudah berwajah sendu.

__ADS_1


"Mereka marah sama Adek," jawabnya.


"Marah?" ulang Genta.


"Ya. Mereka tidak menyukai Christina dan ketika Christina mengatakan bahwa dia pacar Aska, anak-anak Echa malah menjauhi si Adek."


Genta tertawa mendengar penjelasan dari Echa. Dia juga sangat bangga kepada ketiga cicitnya.


"Sudah saatnya kamu dewasa, Dek. Jika, tidak suka katakan tidak suka. Jangan terus-terusan memiliki sifat tidak enakan," imbuh Genta.


"Kamu laki-laki. Kamu harus memiliki ketegasan," ujarnya lagi.


Aska mendengarkannya secara seksama nasihat sang kakek. Dia tahu pasti dirinya akan dibandingkan dengan Aksara.


"Coba contoh Abangmu. Sampai saat ini dia masih menjaga cintanya. Hari-harinya hanya dia isi untuk kuliah dan bekerja."


Apa Askara marah? Tentu tidak, mereka memang memiliki karakter yang berbeda-beda. Jujur saja, Aska pun memang mengagumi sosok kakaknya itu.


"Ayah, apa pengacara Christo juga mendesak untuk segera mengadakan tunangan?" tanya Gio.


"Tentu saja. Namun, Ayah menolaknya. Ayah sangat tidak suka dengan yang namanya perjodohan. Apalagi menikah dengan yang beda agama. Ayah ingin, anak-anak, cucu-cucu dan cicit-cicit Ayah menikah dengan iman yang sejalan. Iman yang membawanya menuju ridho-Nya."


Dari Gio kecil hingga dia sudah menjadi seorang kakek, itulah yang selalu Genta katakan. Carilah pasangan yang seiman. Itu akan membuat rumah tenang karena sejalan dan beriringan.


Wejangan dan nasihat Genta berikan kepada Aska. Dia sebenarnya tidak membedakan cucu kembarnya. Hanya saja Aska tidak sejalan dengannya. Namun, Genta tetap support Aska.


"Adek mau ngekos aja."


Kalimat yang mampu membuat semua orang terkejut, kecuali Ayanda.


"Kenapa?" tanya Gio.


Genta tersenyum dan menepuk pundak sang cucu. "Apa menghindar cara terbaik?" Genta seolah tahu apa yang ada dipikiran Aska.


"Adek gak mau dikejar-kejar terus, Kek. Adek ingin hidup tenang," ungkapnya.


Ayanda menatap ke arah Gio. Gio hanya menghela napas kasar.Dia juga sangat melihat anak keduanya ini sangat tertekan akan desakan Christo.


"Bicaralah kepada Christina. Berikan alasan yang memuaskan," kata Christo.


Sulit bagi Aska untuk mengungkapkan semuanya. Apalagi Christina mengancam akan bunuh diri. Christian pun pernah menghubunginya untuk tidak meninggalakan Christina. Christina masih memliki trauma akan masa lalunya. Christian berharap Aska bisa menyembuhkan trauma adiknya.


Ingin rasanya menolak, tetapi Christian juga sudah banyak membantunya dalam menghadapi kesulitan ketika membangun kafe di Bandung. Bagaimanapun kafe yang dia bangun di Bandung harus memiliki legalitas secara hukum. Christianlah yang banyak berjasa.

__ADS_1


Ketika malam tiba, Aska bergelut dengan pikirannya sendiri. Pernah sekali Aska mengatakan kata pisah, berujung Christina menyayat tangannya sendiri. Alhasil, Askalah yang harus bertanggung jawab atas Christina. Sulit, sungguh sangat sulit.


Keesokan harinya, Aska mendapat telepon dari Echa. Dia disuruh menjemput ketiga keponakannya di sekolah, dengan senang hati Aska melakukannya. Namun, ketika Aska datang mereka malah menjauh.


"Om disuruh jemput kalian," ujar Aska.


"Enggak! Kakak Na gak mau pulang sama Om," pekiknya.


Sama halnya dengan Aleena, Aleeya dan Aleesa pun tidak ingin pulang bersama Aska. Untung saja hari ini Satria yang menjemput Kalfa. Jadi, mereka bisa menumpang kepada Satria. Tanpa meminta izin, mereka masuk ke dalam mobil Satria mengikuti Kalfa.


Satria menatap Aska. Hanya helaan napas kasar yang terdengar.


"Tolong jaga mereka ya, Om. Nanti aku suruh Kak Echa atau Bang Radit jemput mereka di rumah Om." Satria pun mengangguk.


Pada akhirnya mereka dibawa oleh Satria ke rumahnya. Wajah si triplets pun sekarang sudah berubah. Apalagi Aleeya yang selalu meramaikan suasana.


Tibanya di rumah Satria, Kalfa segera berlari menuju ke arah dapur. Ada wanita cantik di sana yang tengah menyiapkan makan siang.


"Kakak," panggil Kalfa.


Perempuan cantik itu menoleh dan tersenyum ke arah Kalfa.


"Udah pulang?" Kalfa pun mengangguk.


"Kal, bawa teman-teman loh. Mereka kembar tiga," ujar Kalfa sangat antusias.


"Benarkah?"


Kalfa menarik tangan perempuan itu yang tak lain adalah pengasuh Kalfa yang juga merangkap jadi tukang masak untuk makanan Kalfa. Satria tidak menginginkan putranya ini makan junk food terus menerus.


Si triplets sudah duduk di sofa. Satria baru saja datang membawakan minuman untuk mereka bertiga.


"Makasih, Om," ucap mereka bertiga.


Satria tersenyum dan mengusap lembut rambut kepala mereka bertiga. Melihat anak-anak Echa yang cantik dan lucu membuat Satria bahagia. Suara langkah kaki terdengar, Satria tersenyum ke arah Kalfa yang sudah menarik paksa pengasuhnya. Si triplets hanya memandang Kalfa dengan tatapan bingung.


"Aleena, Aleesa, dan Aleeya ... kenalin ini Kakak pengasuh aku."


"Hai!" sapa pengasuh Kalfa sambil melambaikan tangan.


"Hai juga," balas si triplets.


"Nama Kakak siapa?" tanya Aleena si anak ingin tahu.

__ADS_1


"Nama Kakak Jingga."


__ADS_2