Yang Terluka

Yang Terluka
Romantis dan Mesra


__ADS_3

Dirga benar-benar salut pada Radit. Dia harus banyak belajar dari seorang Raditya. Bohong, jika mengurus tiga anak itu mudah. Sudah pasti lebih sulit.


"Mereka lebih dekat sama lu apa sama ibunya?" tanya Dirga penasaran.


"Imbang sih," jawab Radit.


"Hebat ya adik gua, sekali ngegarap langsung jadi tiga," kelakar Rifal.


Dirga dan Rindra tertawa mendengar candaan Rifal, sedangkan ketiga anak Radit menatap tajam ke arah sang om.


"Ngurus anak satu aja riweuh," ujar Rindra.


"Betul banget," balas Dirga.


Di dalam kamar putra dari Dirga, Echa dan Nesha tengah berbincang dengan Niar, istri dari Dirga.


"Tampan sekali," puji Echa.


"Namanya juga cowok, Jeng," balas Niar seraya tersenyum ke arah Echa.


Echa sedikit terkejut dengan ucapan dari Niar. Panggilan yang sangat asing di telinganya.


"Panggil Echa aja, Kak," tawarnya.


Niar tersentak mendengar permintaan Echa. Biasanya jika dia bergabung dengan kelompok sosialita panggilannya seperti itu.


"Namanya siapa?" tanya Nesha.


"Dinar Arshen Anggara, panggilannya Arshen."


Nesha mengusap pipi Arshen yang merah dan gembil.


"Jeng, punya anak berapa?" tanyanya pada Nesha.


Nesha bergidik ngeri mendengar panggilan seperti itu. "Jangan panggil Jung jang jeng jeng. Panggil aja Mbak sama seperti Echa," imbuhnya.


Niar merasa terkejut dengan dua istri pengusaha ini. Ketika para istri pengusaha yang lain ingin dihargai setinggi langit, Nesha dan Echa malah sebaliknya. Selama menemani Dirga bertemu dengan rekan koleganya, hanya Nesha dan juga Echa yang berbeda. Mereka seperti orang biasa.


Echa tersenyum melihat anak laki-laki tersebut. Tanpa dia sadari, tangannya mengusap lembut perutnya yang masih rata. Dia masih berharap bisa mengandung anak lagi.


"Mau gendong?" Niar menawarkan kepada Echa. Senyum melengkung indah di wajah Echa. Sedari tadi dia memang ingin menggendong Arshen, tetapi dia merasa sungkan.


"Gimana rasanya punya anak tiga? Aku punya anak satu aja capek banget," tutur Niar.


"Luar biasa capeknya, Kak. Apalagi Echa dan Kak Radit sepakat untuk tidak memakai jasa baby sitter. Jadi, semuanya kita urus berdua," terangnya.


Niar tak percaya dengan ucapan Echa ini. Tiga anak tanpa baby sitter bagaimana rasanya?


"Bisa sharing gak? Sepertinya aku harus banyak belajar sama kamu," ucapnya.


"Sebenarnya ada Mamah yang selalu nemenin Echa, tetapi Echa melarang mamah untuk membantu hal yang bisa Echa lakukan sendiri. Kenapa? Biar Echa bisa mandiri. Tugas mamah hanya mengarahkan saja. Echa sudah berjanji kepada diri Echa sendiri, kalau Echa punya anak nanti Echa tidak ingin merepotkan mamah. Sudah cukup mamah lelah mengurus Echa sewaktu kecil. Ketika Echa punya anak Echa harus bisa mengurusnya sendiri."


Nesha dan Niar terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang Echa paparkan. Sungguh luar biasa seoranh Echa ini.


"Pokoknya Echa dan Kak Radit saling bergantian jaga anak-anak. Kak Radit juga jadi suami siaga banget. Mau bantu Echa meskipun dia capek kerja. Setiap malam kalau begadang ya begadang berdua," terangnya.


Tak lama, pria yang baru saja Echa ceritakan masuk ke dalam kamar. Dia membawa ketiga anaknya yang tengah berlari menuju Echa. Mereka mencium gemas pipi Arshen.


"Jangan nakal, ya." Ketiga anaknya pun mengangguk mengerti.


Radit menghampiri Echa, dia melihat anak dari Dirga yang ketampanannya luar biasa. Seulas senyum hadir di bibirnya.


"Aku di luar, ya. Kalau ada apa-apa telepon aja," imbuhnya.


Sebelum keluar kamar Arshen, Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Niar dan Nesha merasakan kebahagiaan yang Echa rasakan.


"Manis banget suami kamu," ujar Niar.


Echa hanya tersenyum, dia malah sibuk dengan ketiga anaknya yang tidak mau diam. Tangan mereka tidak mau diam dan terus mengganggu Arshen.


"Bubu, nama baby-nya siapa?" tanya Aleeya.


"Arshen," jawab Echa sambil mengusap lembut pipi Arshen.


"Oh, Dedek AC," ulang Aleeya.


Mata Echa melebar sedangkan Niar dan juga Nesha tertawa mendengar ucapan Aleeya.


"Arshen, Dek. Bukan AC," balas Echa.


"Susah Bubu manggilnya. Gampangan juga baby AC."


Niar dan Nesha semakin tergelak mendengar ucapan dari Aleeya. Niar sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Aleeya. Dia malah senang sekali karena rumah yang biasanya hanya dihiasi suara tangisan Arshen kini lebih ramai lagi.


"Kamu lucu banget, sih." Niar mencubit gemas pipi Aleeya.


Aleeya malah mengedipkan matanya dengan cepat dengan tangan yang menangkup pipinya. Semua orang pun tergelak kembali.


Aleena memilih keluar dan menghampiri Rifal. Dia duduk di pangkuan sang om.


"Tumben," kata Rifal.


Aleena tidak menjawab. Dia malah merangkulkan lengannya di leher Rifal. Rindra dan Radit tertawa. Mereka berdua bisa menebak ada udang di balik batu.


"Ingin boneka bayi yang bisa nangis," bisiknya pada Rifal.


Rifal tertawa dan mencium gemas anak pertama dari adiknya ini.


"Pulang dari sini, ya." Aleena mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


Dirga tersenyum bahagia melihat kedekatan antara anak-anak Radit dan juga om mereka. Hal yang jarang dia lihat.


Kali ini Aleesa naik ke pangkuan uncle papihnya. Dia memeluk erat tubuh Rindra.


"Mau apa?" tanya Rindra sambil mengusap lembut kepala Aleesa.


"Beli es klim yang biasa opa beli," ucapnya.


Dirga tertawa melihat tingkah lucu anak-anak Radit. Padahal ada ayahnya, mereka malah minta kepada om-om mereka.


"Baiklah, tapi pulang dulu, ya. Ajak Kakak Iyo juga." Aleesa tersenyum dan mengangguk. Dia mencium pipi uncle papihnya.


"Gua benar-benar salut sama keluarga kalian. Dekat satu sama lain," puji Dirga.


Ketiga anak Addhitama hanya tersenyum mendengar ucapan Dirga. Mereka sudah berjanji untuk tidak mengungkit masa lalu mereka. Bagaimana hubungan mereka dulu. Semuanya tidak perlu mereka ceritakan apalagi aib keluarga.


"Baba!" Aleeya sudah menangis dan memanggil ayahnya. Radit segera menghampirinya dan menggendong Aleeya.


"Kenapa, Dek?" tanya Radit.


"Arshen hampir dicubit pipinya sama Aleeya," jawab Echa yang ikut keluar.


Aleeya sudah menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah. Dia takut jika ibunya marah. Marahnya Echa seperti monster di mata ketiga anak Echa.


"Gak apa-apa, namanya juga anak kecil," bela Dirga.


Niar dan Nesha pun ikut keluar, Mereka mendekat ke arah suami mereka masing-masing. Hanya Rifal yang hanya seorang diri.


"Sini, sama aunty Mamih." Nesha mengambil Aleeya dari gendongan Radit. Dia menggendongnya dan memeluknya.


Rindra mengusap lembut kepala Aleeya, sedangkan di pangkuannya Aleesa tengah memeluknya.


"Jangan nangis, pulang dari sini kita beli es krim," bisik Rindra. Aleeya pun menoleh ke arah sang om. Kemudian, seulas senyum mengembang di wajahnya.


Echa hanya menggelengkan kepala melihat ketiga anaknya. Echa duduk di samping Radit dengan wajah yang sedikit pucat.


"Masih sakit?" Echa mengangguk.


Radit menarik Echa ke dalam pelukannya. Tak dia hiraukan banyak orang di depannya. Istrinya jika tengah datang bulan akan merasa sakit yang luar biasa.


Dirga dan Niar tersenyum melihat Radit dan Echa yang sangat romantis. Meskipun sudah memiliki tiga orang anak, cinta mereka masih sangat besar hingga saat ini.


"Tipsnya dong, Cha. Kamu dan suami 'kan sudah lama menikah. Bisa tetap romantis seperti itu apa rahasianya?" tanya Niar.


Radit dan Echa hanya tertawa. Mereka malah saling pandang. Tak mengerti juga harus menjawab apa.


"Radit ini suami bucin. Si Echa istri manja, klop dah," ejek Rifal.


"Sirik aja jomblo abadi. Melebihi bunga edelweis," sahut Echa.


Lagi-lagi mereka tergelak bersama. Ingin rasanya Dirga bisa masuk ke dalam keluarga Addhitama. Pastinya akan sangat menyenangkan.


"Anak si Radit yang satu ini malu-maluin aja." Rifal menepuk keningnya.


"Ada, Sayang. Yuk, sekarang kita. makan."


Niar mengajak tamu dari suaminya untuk makan bersama. Di meja makan pun candaan masih terdengar riuh. Niar dan Dirga merasa sangat bahagia dengan kedatangan rekan bisnisnya yang aslinya sangat menyenangkan. Selesai makan, mereka berbincang sebentar lalu pulang.


"Makasih atas jamuannya," ucap Echa pada Dirga dan Niar.


"Sama-sama, hanya itu yang bisa aku dan suami kasih. Gak ada yang spesial," balas Niar.


Selepas mereka pergi, Dirga dan Niar membawa Arshen ke kamarnya. Niar melebarkan matanya ketika melihat hadiah yang istri dari teman-teman suaminya bawa. Semuanya barang bermerk semua.


"Gimana berbincang dengan istri Radit dan Rindra?" tanya Dirga.


Niar menatap ke arah suaminya. Bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Mamih baru bertemu dengan istri pengusaha yang sangat-sangat sederhana. Selama Mamih berbincang dengan Echa dan juga Mbak Nesha mereka adalah pribadi yang luar biasa. Mampu berbagi ilmu dan yang terpenting tidak mengagungkan suami mereka. Tidak menyombongkan apa yang mereka miliki. Berbeda dengan istri-istri pengusaha yang biasa Mamih temui ketika menemani Papih," ungkapnya.


Dirga tersenyum dan mengusap lembut kepala Niar. Dia juga tidak menyangka bahwa rekan bisnisnya itu memiliki istri yang berbeda dari istri pengusaha pada umumnya.


"Mamih tahu siapa istri Raditya?" tanya Dirga. Niar menggeleng.


"Dia anak sambung dari penerus Wiguna Grup dan juga pemilik A&R bakery. Penghasilan dia per bulan aja melebihi penghasilan suaminya," jelas Dirga.


Mata Niar membola, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia kira Echa dari kalangan biasa seperti dirinya.


"Mamih gak bisa berkata apapun, Pih. Sungguh Echa wanita yang luar biasa. Dia tidak menunjukkan semuanya di hadapan Mamih atau Mbak Nesha. Malah seperti ibu rumah tangga pada umumnya," tukas Niar.


"Papih harap, Mamih dan istri Rindra serta Raditya bisa berteman baik. Mereka adalah orang-orang yang baik. Mereka juga sama seperti Mamih yang tidak suka dengan perkumpulan ibu-ibu sosialita."


Niar mengangguk dan dia memeluk tubuh Dirga. "Mamih harap, kita juga bisa seperti Echa dan suaminya ya, Pih. Meskipun sudah lama menikah, tetapi masih romantis dan mesra."


Echa dan Radit menjadi pasang panutan untuk semua orang. Bukan hanya untuk Dirga dan Niar. Mereka juga menjadi pasangan panutan untuk Nesha dan juga Rindra.


Ketika mereka di kamar, Nesha memeluk tubuh suaminya dnabb snaabg erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Kenapa, Mamih?" Rindra yang tengah memainkan ponsel pun segera meletakan ponselnya dan segera memeluk tubuh Nesha. Dia mengecup ujung kepala Sang istri.


"Echa dan Radit selalu mesra. Apa kita bisa seperti itu?" tanya Nesha.


"Tentu, Sayang. Papih sangat mencintai Mamih. Mamih segalanya untuk Papih, begitu juga Rio."


Nesha tersenyum ke arah Rindra. Dia mengingat bagaimana pertemuannya dahulu .


Mereka bertemu di Nugro's kafe. Di mana Nesha bekerja. Rindra datang dengan mengunakan kemajuan hitam dan terlihat sangat tampan. Membuat Nesha terpana untuk beberapa saat. Dia kita dia tidak makan bertemu Rindra kembali. Ternyata dugaannya salah. Ketika dia pulang kerja malam hari ada mobil yang menabrak motornya di jalanan sepi hingga dia dan motornya terjatuh. Mobil itu pun berhenti dan Rindra segera membantu Nesha. "Kamu tidak apa-apa?" Rindra sudah membantu Nesha berdiri.


Ingin sekali Nesha memaki, tetapi mulutnya seketika membeku ketika bola mata berwarna cokelat itu menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Ayo, naik ke mobilku. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya," ujar Rindra yang kini memapah Nesha sampai masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sudah hubungi orang bengkel kenalanku. Motor ini akan segera mereka ambil." Nesha seakan terhipnotis akan ucapan Rindra. Dan hanya mengangguk patuh.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?" Dengan cepat Nesha menggeleng.


"Cuma terkelupas sedikit. Diberi obat merah juga nanti akan sembuh." Rindra menyunggingkan senyum mendengar ucapan lembut yang terlontar dari mulut Nesha. Hatinya terasa damai dan sejuk mendengar Nesha berbicara.


"Ya sudah, aku akan mengantar kamu dan mengobati luka kamu di rumahmu."


"Ja-jangan," tolak Nesha.


"Kenapa?" Tangan yang hendak memutar kunci mobil pun terhenti. Sekarang Rindra menatap lekat ke arah Nesha.


"Ini sudah larut. Aku hanya tinggal di kontrakan sempit seorang diri. Aku tidak mau orang lain berpikiran yang macam-macam terhadapku," jelas Nesha berhati-hati.


Bibir Rindra sedikit terangkat, tangannya mengusap lembut ujung kepala Nesha membuat jantung Nesha tak bisa diam seketika.


"Baiklah, aku hanya akan mengantar kamu saja. Jika, siang hari aku boleh 'kan main ke kontrakan kamu?" Nesha mengangguk.


Mobil pun melaju ke arah kontrakan Nesha. Mobil Rindra hanya mampu berhenti di depan gang. Karena letak kontrakan Nesha berada di dalam gang sempit.


"Boleh aku tahu di mana kontrakan kamu?" Nesha yang hendak membuka pintu mobil pun kembali terdiam.


"Aku hanya ingin memenuhi tanggung jawabku. Mengantarkan kamu selamat sampai tujuan." Sungguh ucapan yang sangat manis.


"Ya sudah," jawab Nesha pasrah.


Rindra mengikuti Nesha dari belakang. Hingga langkah Nesha terhenti di kontrakan kecil dan kumuh. "Ini tempat tinggalku."


Hati Rindra seketika teriris mendengat ucapan Nesha. Tidak dia sangka perempuan cantik seperti Nesha tinggal di kontrakan yang bisa dibilang tidak layak untuk dihuni.


"Aku masuk, ya," pamit Nesha.


Namun, Rindra menarik tangan Nesha. "Kenapa lagi?"


"Kita belum kenalan," ujar Rindra.


"Nesha," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Rindra." Uluran tangan Nesha disambut hangat oleh Rindra. Senyum terukir dari keduanya. Pandangan mereka terkunci dan mampu membuat mata mereka tidak berkedip.


Deheman seseorang membuat Nesha dan Rindra memutuskan pandangan. "Aku masuk, ya."


Rindra terus memperhatikan Nesha hingga masuk ke dalam kontrakannya.


Keesokan paginya Nesha bingung mau mengendarai apa ke kafe. Motornya dibawa ke bengkel oleh pria yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Nesha memilih berjalan kaki karena ini sudah tanggal tua. Jarak kontrakan dan juga kafenya cukup jauh.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Nesha. Nesha bingung karena dia sama sekali tidak mengenal mobil itu. Kaca mobil terbuka dan sosok pria yang membuat Nesha berbunga-bunga sudah ada di hadapannya lagi.


"Maaf, ya," sesal Rindra yang sudah menggenggam tangan Nesha. Jantung Nesha berdegup sangat cepat mendapat perlakuan dari Rindra.


"Aku antar," ucap Rindra yang sudah menarik lembut tangan Nesha dan membukakan pintu mobil untuk Nesha.


"Makasih." Hanya seulas senyum yang Rindra berikan kepada Nesha. Wanita cantik meskipun wajahnya polos tanpa sentuhan make up.


"Kamu sudah sarapan?" Nesha menggeleng.


"Kita makna bubur aja, ya. Aku juga belum sarapan," kata Rindra yang masih fokus ke jalan.


Mobil Rindra berhenti di pinggir jalan tempat para penjaja makanan gerobakan berada. Rindra memesan dua porsi bubur untuknya dan juga Nesha. Berhubung keadaan ramai, mereka berdua duduk berdampingan hingga kulit mereka saling menyentuh.


Menatap kulit putih Nesha membuat Rindra merasakan hal yang berbeda. Apalagi jika melihat manik mata Nesha yang sangat teduh. Membuatnya merasa nyaman dan tenang.


Dua mangkuk bubur sudah tersaji di depan mereka. Bibir Nesha terangkat ketika dia bisa mengisi perutnya dengan sarapan di depannya. Karena biasanya Nesha hanya sarapan susu sereal yang ada di warung-warung. Sebagai pengganjal perutnya. Nesha harus menghemat karena penghasilannya sebagai pelayan tidaklah banyak.


Rindra tersenyum ketika melihat Nesha sangat lahap menyantap bubur. Tidak sadar ibu jari Rindra mengusap sudut bibir Nesha. Seketika tatapan mereka bertemu. Nesha sangat terpesona dengan ketampanan Rindra begitu juga yang merasa damai menatap manik mata Nesha.


"Pak." Ucapan Nesha membuat Rindra tersadar. Dan mereka melanjutkan sarapan mereka dengan kecanggungan.


Setelah selesai Rindra mengantarkan Nesha ke kafe milik Nugro. Sebelum Nesha turun, Rindra menarik Nesha hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Deru napas mereka bersahutan.


Bibir Rindra menempel di kening Nesha membuat Nesha mematung sesaat. "Sebelum motormu selesai diperbaiki. Aku yang akan antar-jemput kamu. Jangan dulu pulang sebelum aku jemput kamu." Seperti terhipnotis Nesha mengangguk patuh.


Nesha turun dari mobil dengan dada yang bergemuruh. Begitu juga Rindra yang tak kunjung melakukan mobilnya. Menatap punggung Nesha hingga dia hilang di balik pintu.


"Kenapa dadaku terasa berdetak lebih cepat?" Monolog Rindra sebelum dia melajukan mobilnya meninggalkan kafe Nugro.


Sepulang kerja, Nesha tidak melihat mobil Rindra. Padahal dia mengatakan akan menjemputnya. Nesha pun memilih menunggunya.


Tubuh Rindra membeku ketika dia melihat seorang perempuan yang kedinginan sambil menelungkupkan wajahnya di atas lutut.


Rindra berlari ke arah Nesha dan berhambur memeluk tubuhnya yang tengah terduduk.


"Maaf, maaf, aku terlambat," sesal Rindra. Tidak ada jawaban dari Nesha hanya Isak tangis yang terdengar.


"Aku takut," lirihnya.


Hati Rindra terasa sakit mendengarnya. Dia merutuki kesalahannya. Perempuan mana yang tidak takut berada di depan kafe yang sudah gelap tengah malam begini.


"Jangan takut, aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu." Rindra semakin mengeratkan pelukannya begitu juga Nesha yang membalas pelukan erat Rindra.


Nyaman, itulah yang Rindra rasakan. Ucapannya sangat tulus dari lubuk hatinya.


Nesha tidak menyangka bahwa Rindra yang hanya bisa dia kagumi kini menjadi miliknya sepenuhnya.


Rindra memicingkan matanya ketika melihat istrinya tersenyum-senyum sendiri.


"Hayo, mikirin apa?" Rindra mencubit hidung Nesha.

__ADS_1


"Apa sih, Pih. Mamih lagi teringat akan pertemuan dulu." Senyum pun semakin merekah di bibir Nesha.


__ADS_2