
Hati Echa sangatlah sensitif. Apa yang dia katakan bisa jadi memang benar adanya. Echa merasa ada yang sedang para orang tuanya tutupi darinya. Terlebih suaminya seakan membatasi pergerakan Echa.
"Mau ke mana, Yang?"
"Aku ingin buat jus." Echa sudah memegang gagang pintu.
"Biar aku aja." Radit segera menghampiri istrinya. Namun, Echa mencoba untuk tidak mengindahkan Radit.
Langkahnya terhenti ketika samar-samar dia mendengar ada obrolan di ruang keluarga. Echa semakin mencuri dengar. Dia segera menghampiri semua orang dan melampiaskan semua amarahnya.
Echa mampu membungkam mulut ibu sambung serta adiknya. Selama ini Echa sudah banyak mengalah perihal ini dan itu.
"Asal kalian tahu, hartaku lebih banyak dari Ayah." Amarahnya sudah memuncak dan semua kemarahannya pun dia luapkan.
Awalnya Echa tidak ingin membahas perihal harta karena itu sangat sensitif. Ketika ibu sambung serta adiknya selalu iri hati padanya Karan Rion selalu menganak emaskan Echa, dia hanya bilang 'tidak apa-apa'.
Kali ini, kesabarannya sudah habis. Emosinya sudah ke ubun-ubun dan akhirnya semuanya Echa luapkan.
"Toko yang Ayah kelola sekarang ini akan Echa ambil alih dan balik namakan atas nama Echa. Semuanya Mamah berikan untuk Echa. Juga rumah yang memang sudah atas nama Echa akan Echa ambil."
Echa menjelma menjadi manusia serakah di mata orang di depannya. Akan tetapi, ini caranya untuk melindungi semua yang sudah ayahnya perjuangkan selama ini. Dia sudah mencium ketidak beresan ibu sambungnya.
Selain itu juga, Echa memberitahukan kebobrokan adiknya yang telah memaksa Aksa. Radit mencoba meredam kemarahan Echa. Namun, emosi istrinya tak kunjung reda.
"Sayang, sudah. Kasihan anak kita." Echa pun merasakan kesakitan yang kadang datang dan pergi ketika dia meluapkan emosi.
__ADS_1
"Kita pergi dari sini," pinta Echa. Radit mengangguk mengerti.
"Dek, jangan pergi." Kini Rion yang membuka suara.
"Echa dan suami Echa sudah memiliki hunian sendiri, Ayah. Hunian itu suami Echa beli dengan hasil keringatnya sendiri. Tidak dari harta orang tua." Sungguh kalimat yang menusuk Amanda serta Riana.
"Asal kalian tahu," tunjuk Echa kepada Riana serta Amanda.
"Rumah Ayah pun masih mampu aku beli," tukasnya.
Echa menarik tangan Radit untuk pergi dari rumah mamahnya. Tanpa orang tuanya tahu, Echa menitikan air mata setelah mengatakan itu semua.
Radit mengusap lembut kepala sang istri yang tak hentinya menangis. Menenangkan istrinya karena dia takut terjadi sesuatu kepada anak-anaknya.
Tibanya di apartment, Echa masih saja menangis. Radit segera memeluk tubuh istrinya yang terlihat sangat terluka.
"Tidak, Sayang. Apa yang kamu ungkapkan itu adalah sebuah kekecewaan yang selama ini kamu pendam sendirian. Kamu itu seperti menyimpan bom waktu yang kapan saja akan meledak." Radit mengusap lembut punggung Echa.
Radit membiarkan Echa menumpahkan rasa sedihnya. Dia hanya akan menjadi pendengar sejati dengan tangan yang terus memberikan kehangatan pada sang istri. Lelah menangis, Echa terlelap dalam dekapan Radit.
"Itu bukti, jika kamu sangat kecewa." Radit mengusap lembut jejak air mata di mata Echa. Dikecupnya secara bergantian.
Kecupan hangat Radit berikan di atas perut Echa. Menangkap pergerakan kecil yang anak-anaknya berikan.
"Jadilah manusia yang kuat seperti Bubu ya, anak-anak Baba. Baba sayang kalian."
__ADS_1
Ponsel Radit berdering ketika dia hendak membandingkan tubuhnya di samping sang istri. Tertera nama sang ayah mertua di sana.
"Iya, Ayah."
"Echa baik-baik saja."
"Dia sekarang sudah terlelap."
"Itu tanda kekecewaan yang mendalam yang Echa rasakan."
"Baik, Ayah."
Radit menghela napas kasar melihat ke arah sang istri. "Sekuat itukah dirimu, Sayang? Menyimpan kekecewaan selama ini," gumam Radit.
Keesokan paginya, bel apartment berbunyi. Radit tidak mau mengganggu kenyamanan istrinya yang masih berbalut dengan selimut. Serta gorden yang yang masih Radit tutup agar tidak ada cahaya yang masuk.
"Eh, Ayah," sapa Radit.
"Echa mana?"
"Dia masih tidur. Semalam tidur malam." Rion mengangguk mengerti.
"Ini." Rion menyerahkan paper bag kepada Radit. "Sarapan kesukaan Echa sewaktu sekolah." Hati Radit mencelos mendengar ucapan sang ayah mertua.
"Ayah tidak akan mengganggunya. Biarkan dia istirahat." Radit hanya mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah Rion pergi menjauhi unit apartment-nya, Radit menatap nanar ke arah punggung Rion.
"Apa aku mampu menjadi ayah yang hebat untuk ketiga putriku?" Perlakuan Rion membuat hatinya terenyuh. Masih mau mengantarkan sarapan di saat kondisi anaknya masih kecewa terhadapnya.