Yang Terluka

Yang Terluka
Bukan Pria Jahat


__ADS_3

Echa langsung menarik tangannya ketika Radit melepaskan hisapannya tangannya. Echa meninggalkan Radit di dapur tanpa sepatah kata pun.


Radit menyunggingkan senyum ketika dia melihat wajah Echa yang merona. Dan Radit melanjutkan kegiatan membuat nasi goreng yang Echa tinggalkan. Dengan penuh cinta Radit membuatkan nasi goreng untuk Echa.


Setelah selesai, Radit mengetuk pintu kamar Echa. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.


"Bhul, aku buatin nasi goreng untuk kamu. Buka dong pintunya," ujar Radit.


"Aku gak lapar," sahut Echa.


"Ya udah, aku taruh di sofa depan kamar ya. Takutnya kamu lapar," ucap Radit. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.


Setengah jam berlalu, Echa perlahan membuka pintullllllll kamarnya. Dan dia tersenyum ketika melihat nasi goreng lengkap seperti nasi goreng Abang-Abang.


Echa pun bergegas mengambil nasi goreng itu dan masuk ke dalm kamarnya. Sedangkan Radit tertawa pelan melihat tingkah Echa. Hatinya kembali menghangat melihat Echa.


Pagi harinya, Radit sudah berada di depan pintu kamar Echa. Echa sedikit terlonjak ketika melihat Radit sudah berada di depannya.


Seperti biasa Echa bersikap acuh. Namun, Radit tak menyerah. Radit menarik tangan Echa hingga Echa masuk ke dalam pelukan Radit.


Ada kehangatan yang menjalar di tubuh keduanya. Radit memeluk erat tubuh Echa meskipun Echa tak membalasnya.


"Aku rindu kamu, Bhul. Sangat rindu." Radit meresapi pelukan ini. Dan air mata Echa sudah luruh begitu saja.


"Aku bukan Ayah dari anak yang dikandung Fani. Aku tidak melakukan itu. Sungguh aku tidak melakukan itu."


"Lepas Dit, aku mohon. Aku tidak ingin jadi perusak hubungan kalian. Aku tidak ingin," imbuh Echa.


"Harus dengan cara apa aku meyakinkan kamu jika, aku tidak melakukan hal apapun kepada Fani," lirih Radit.


Echa segera melepaskan pelukan Radit dan pergi meninggalakannya. Pengkhianatan ayahnya terhadap mamahnya menjadi hal yang menakutkan untuk Echa. Dia tidak ingin seperti mamahnya. Tapi, takdir seakan menyuruhnya untuk mengikuti jejak sang mamah. Yaitu, dikhianati oleh pria yang dia cintai.


"Echa," seru Genta.


Echa mencoba menghapus air matanya namun, Genta segera memeluknya.


"Ikut Kakek, ya,"pinta Genta.


Tanpa memerlukan jawaban dari Echa, Genta segera membawa Echa masuk ke dalam mobil diikuti oleh Radit yang duduk di kursi depan.


Sesekali Radit memperhatikan Echa dari arah kaca spion depan.

__ADS_1


"Air mata kamu adalah kesakitan aku, Bhul," batin Radit.


Tiba sudah mereka di sebuah rumah sakit besar. Genta terus membawa Echa ke sebuah ruangan. Dan mereka disambut oleh dokter yang jika dilihat seumuran dengan sang Papa. Ternyata, Gio pun sudah ada di sana.


"Papa."


Echa berjalan cepat dan memeluk tubuh tegap sang Papa. Echa menangis dalam dekapan Papanya.


"Tenangkan hati kamu, ya. Sekarang kamu duduk."


Echa pun menuruti perintah Gio. Mereka berempat duduk berhadapan langsung dengan dokter Steve.


"Untuk hasil tes DNA tidak ada rekayasa sama sekali. Dan memang di kertas ini tertulis jelas jika, DNA yang dimiliki Radit tidak sama dengan DNA yang ada pada janin di dalam kandungan Fani."


"Dan ketika Tuan Genta memberikan sampel DNA berupa rambut, ternyata rambut itu memiliki kesamaan dengan plasenta kandungan Fani, Dan diketahui ternyata rambut itu milik Rindra," jelas dokter Steve.


"Apa dokter yakin itu milik Kak Rindra?" tanya Echa.


Benar dugaan Genta, Echa tidak akan dengan mudahnya mempercayai semuanya. Terlebih ECha tahu, Kakeknya bukanlah orang sembarangan. Apapun bisa Kakeknya lakukan asal kuat uang.


"Tes DNA pada rambut Rindra sudah dilakukan dua kali dan hasilnya sama." Dokter Steve menyerahkan dua lembar kertas hasil tes DNA milik Rindra.


"Sebenarnya Radit dijebak. Ketika kalian memergoki Radit sedang tidur dengan wanita itu, ada Rindra di sana. Dan desahan yang Echa dengar itu desahan Fani yang sedang dipuaskan oleh Rindra," jelas Genta.


"Semua bukti ada di Kakek. Termasuk rekaman CCTV yang ada di apartment milik Radit. Kita bisa lihat di rumah," lanjut Genta lagi.


Radit tidak berani menatap Gio. Ada sebuah ketakutan di hati Radit. Apalagi, hantaman tangan Gio sangatlah mengenai di hatinya.


Gio beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Radit. "Obati luka putri saya," ucap lembut Gio.


Perlahan Radit menegakkan kepalanya menatap Gio yang sudah tersenyum ke arahnya.


"Saya percaya sama kamu. Ketika Echa kembali ke Jakarta, saya ingin dia sudah sembuh akan semua luka yang dideritanya."


Radit pun mengangguk tanpa ragu. Ketika lampu hijau sudah diberikan, saatnya Radit berjuang untuk mendapatkan Echa kembali.


Sesampainya mereka di rumah Genta. Genta membawa Echa masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Gio sudah harus kembali ke Jakarta. Karena kepergiannya ke Ausi tanpa sepengetahuan istrinya.


"Lihatlah semua!" Genta memutar rekaman video di laptopnya.


Baru dimenit kedua air mata Echa sudah jatuh. Dan dia juga dapat melihat Rindra masuk terlebih dahulu ke apartment milik Radit sebelum Radit dan Fani datang.

__ADS_1


Dan adegan tidak senonoh pun Rindra lakukan dengan Fani di samping tubuh Radit yang sedang tak sadarkan diri.


"Bagaimana?"


"Echa masih belum siap, Kek," jawab Echa seraya menunduk.


"Kakek tidak akan memaksa kamu, Cha. Yang terpenting, kamu tahu kenyataan yang sebenarnya. Radit bukanlah pria jahat, berbeda dengan Kakaknya yang jika, sudah terobsesi pasti akan melakukan cara yang licik sekalipun," terang Genta.


"Psikiater yang menangani kamu sedang tugas di luar negeri. Jadi, sekarang psikiater kamu adalah Radit," imbuh Genta.


"Tapi, Kek ...."


"Tidak ada penolakan. Lagi pula Radit sudah berhasil menyembuhkan puluhan pasien dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan namanya juga sudah tidak diragukan lagi."


Mau tidak mau Echa pun menuruti perkataan Genta. Toh, cuma jadi psikiater. Karena dia belum siap untuk membuka hatinya kembali untuk Radit. Meskipun tidak dipungkiri, Echa juga masih menyayangi Radit.


Pagi harinya, Echa berjalan kaki menuju tempat praktek Radit yang diberitahukan oleh Genta. Echa sangat menikmati udara pagi di Ausi. Hingga langkahnya terhenti di sebuah tempat praktek. Sebelum masuk, Echa menarik napas terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya ketika dia mendapati Radit sedang membersihkan lantai dengan hanya memakai celana pendek.


"Maaf belum buka," ucap Radit,


Ketika Radit menoleh, ternyata Echa yang ada di hadapannya.


"Ya udah, nanti siang aku balik lagi," sahut datar Echa dan berbalik meninggalkan tempat praktek Radit.


Pelukan Radit dari belakang, membuat langkah Echa terhenti. "Jangan pergi, kamu tunggu aku di atas."


Radit melepaskan pelukannya dan menggantinya dengan menggenggam tangan Echa dengan eratnya. Membawa Echa ke ruangan atas. Di mana sebuah kamar yang disulap menjadi sebuah Raung kerja jika, di pagi hari.


"Kamu tunggu sebentar. Aku mandi dulu," ucap lembut Radit.


Selama Radit mandi, mata Echa terus saja berkeliling ke setiap sudut ruangan. Bibir Echa tersungging ketika melihat foto Radit yang memakai jas putih yang biasa dipakai dokter.


Dan mulutnya tercekat ketika melihat figura yang ada di atas nakas kerja Radit. Fotonya dan juga Radit serta wallpaper di laptop Radit adalah foto dirinya yang sedang tertawa lepas dengan editan kata yang sangat menyayat hati.


...Alasan utama untuk aku bertahan sampai saat ini adalah kamu. Aku ingin menjadikan kamu masa depanku serta ibu dari anak-anakku. Aku sangat mencintaimu, Elthasya. ...


...~Raditya Addhitama~...


...----------------...


Sebenarnya kalian baca cerita ini gak sih? Sedih banget aku, views semakin merosot 🤧

__ADS_1


__ADS_2