Yang Terluka

Yang Terluka
Berkacak Pinggang


__ADS_3

Tibanya di kediaman Addhitama, ketiga anak Echa sangat gembira. Apalagi kedua omnya sudah menjanjikan sesuatu. Di rumah sang opa pun sudah ada Kalfa sedang bermain dengan Rio.


"Hai Kelapa," sapa Aleeya.


Addhitama dan Satria akan tertawa ketika mendengar panggilan dari Aleeya untuk Kalfa. Nama siapapun pasti akan dia ubah.


"Kalfa, Aleeya. Bukan kelapa," ralat Rio.


"Susah Kak Lio-lio," sahut Aleeya.


Untung saja Rio diajarkan selalu mengalah kepada ketiga sepupunya ini. Jika, tidak Rio akan mencubit Aleeya hingga dia menangis.


Jika, kelima anak ini sudah berkumpul keadaan rumah Addhitama akan seperti kapal pecah. Akan tetap, dia tidak akan marah. Malah sebaliknya dia akan bahagia sekali karena bisa melihat cucu-cucunya bermain dan bercanda bersama.


"Opa udah beli es krim banyak," ujar Addhitama.


Ketiga anak Echa menatap Addhitama dengan mata yang berbinar.


"Mbak, ambilin es krim," titah Addhitama.


Ketiga cucunya pun bersorak gembira, Kalfa dan Rio hanya menggedikkan bahu mereka karena mereka sudah terlebih dahulu makan es krim yang Addhitama belikan.


"Jangan banyak-banyak, Sayang."


Baru saja Mbak meletakan es krim, sang ayah sudah memperingatkan. Sontak si triplets mendelik kesal.


"Dit, bawa istri kamu ke kamar. Biar dia istirahat," titah sang Papih.


Terkadang ada sedikit rasa cemburu di hati Nesha akan sikap Addhitama. Perlakuannya terhadap Echa sedikit berbeda. Namun, Rindra selalu meyakinkan Nesha bahwa papihnya tidak seperti itu. Papihnya sangat menyayangi Echa dan juga dirinya seperti anaknya sendiri.


Namun. Nesha juga sadar siapa Echa. Kenapa ayah mertuanya sangat menyayangi Echa. Bukan tanpa alasan ayah mertuanya melakukan hal seperti itu terhadap Echa. Tidak Nesha pungkiri, Addhitama pun sangat baik kepadanya. Perhatian dan juga sangat menyayanginya.


Radit membawa Echa ke kamar mereka. Menitipkan ketiga anaknya kepada papihnya.


"Mau dikompres air hangat gak?" Echa mengangguk pelan.


Radit tahu bukan hanya kesakitan yang Echa rasakan karena tamu bulanan. Dia sedikit kecewa dengan apa yang sudah terjadi.


"Anak-anak, jangan nakal, ya. Baba temani Bubu dulu." Ketiga anak Echa itu pun mengangguk.


Radit membawa mangkuk besar dan juga handuk kecil. Di kamar Echa sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Radit mulai mengompres perut sang istri dengan air hangat.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan terus, Sayang," imbuh Radit seraya mengusap lembut kepala Echa.


"Anak-anak masih membutuhkan kamu. Kalau kita punya anak lagi, sudah pasti perhatian kita akan terbagi. Usia mereka masih sangat kecil. Tunggu setelah mereka berusia empat atau lima tahun, ya."


Akhirnya Echa mengangguk dan memeluk erat tubuh Radit. Echa bukanlah orang yang akan meluapkan perasaannya dengan kata-kata. Dia hanya perlu dimengerti dan diperhatikan maka apa yang dia rasakan bisa dia luapkan. Radit pun adalah orang yang tidak bisa berdiam diri ketika melihat orang yang dia sayangi sedang tidak baik-baik saja. Dia akan memberikan ketenangan dengan sebuah pelukan. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi satu sama lain.


Di ruangan bawah, ketiga anak Radit tengah asyik menikmati es krim. Addhitama terus melengkungkan senyum ketika melihat mereka bahagia.


"Sekarang pasti Kakak sudah sangat bahagia," ujar Satria.


Pandangan Addhitama beralih kepada Satria. Dia pun tersenyum.


"Tinggal satu lagi, Rifal."


Satria mengangguk mengerti. Keponakannya yang satu itu memang sulit membuka hati. Dia sendiri juga bingung tipe wanita seperti apa yang Rifal sukai.


Rindra dan Nesha tengah melihat seorang jomblo abadi mendekati bunga desa. Siapa lagi jika bukan Rifal dan juga Jingga, pengasuh Kalfa.


"Si Ipang emang udahan sama ceweknya, Pih?" tanya Nesha.


"Kemarin sih katanya break. Gak tahu kalau sekarang," jawab Rindra sambil merangkul mesra Nesha.


Kedatangan seseorang membuat Jingga sedikit tersentak. Rifal duduk di sampingnya. Jingga sedikit bergeser membuat Rifal meliriknya tajam.


"Maaf, saya tidak ingin membuat kegaduhan," terangnya.


Rifal pun tersenyum dan pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sama seperti hatinya yang kosong sekarang ini.


"Lebih baik kita break. Kita introspeksi diri masing-masing."


Kalimat yang membuat hati Rifal sakit. Rifal yang melihat Keysha jalan bersama pria lain, malah Keysha yang marah dan menginginkan hubungan mereka dijeda sejenak. Selama ini Rifal sudah sangat mengerti Keysha. Menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mengerti akan pergaulan Keysha dan banyak berkorban demi Keysha. Namun, inilah yang dia dapatkan.


"Kenapa malah ikut bengong?" tanya Jingga.


Rifal hanya tertawa sumbang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jingga.


"Hanya sedang teringat akan sebuah kenangan," jawabnya.


Dua insan manusia yang hanya berdiam diri tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Apa Kakak butuh kopi? Biar aku buatkan," tawarnya.

__ADS_1


Rifal menatap manik mata Jingga yang sangat indah. Senyum pun melengkung indah di wajahnya.


"Boleh," jawab Rifal.


Senyum pun merekah di wajah Jingga. Dia masuk ke dalam dan membuatkan kopi untuk keponakan dari majikannya.


"Kopi buat siapa?" tanya Satria.


"Buat Kak Rifal, Pak," jawab Jingga.


Satria dan juga Addhitama saling pandang. Mereka berdua tersenyum tipis.


"Apa Kakak merestui?" tanya Satria.


"Kenapa tidak? Aku bukanlah orang tua yang pemilih dan mengharukan anak-anakku menikah dengan orang berada. Asal wanita itu baik, mampu membuat anakku bahagia aku pasti mendukung," papar Addhitama.


Satria tersenyum lega, dia juga tahu siapa Nesha. Dia bukan anak dari kalangan berada, hanya anak piatu yang memiliki kepribadian yang sangat baik. Sekarang malah menjadi menantu dari kakaknya tersebut.


"Ini, Kak." Jingga meletakkan kopi yang sudah dia bawa di meja kecil di sana.


"Makasih." Ucapan yang sangat tulus dengan sudut bibir yang melengkung sempurna.


Rifal baru menyadari bahwa perempuan di sampingnya ini sangatlah cantik. Kecantikan alami yang Jingga miliki mampu membuatnya terpaan untuk beberapa saat.


"Kenapa liatin aku, Kak?" tanya Jingga.


Rifal gelagapan sendiri dan dia membuang muka ke arah yang lain. Sungguh dia terciduk. Baru saja dia hendak menyesap kopi buatan Jingga. Pekikan suara membuat Rifal menjulurkan lidah karena dia kaget dan tak sengaja menyeruput kopi yang masih panas.


"Om!" Aleeya sudah berada di hadapan Rifal yang tengah mengipas-ngipaskan tangannya ke arah lidahnya karena masih kepanasan.


Rifal menatap ke arah Aleeya yang sudah berkacak pinggang dan juga menatapnya tajam.


"Ada apa lagi sih?"


"Jangan dekat-dekat Kak Jing-jing!" sentak Aleeya dengan mata melotot.


Baru saja hendak menimpali ucapan Aleeya, tarikan di rambut belakangnya membuat Rifal mengaduh.


"Ampun, ampun," ucapnya.


"Kak Jing-jing bukan untuk, Om!" seru Aleesa.

__ADS_1


__ADS_2