Yang Terluka

Yang Terluka
Tersungkur


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Radit selalu sibuk. Dia hanya bisa mengantar Echa tanpa bisa menjemputnya pulang. Selama Radit masih selalu memberikan kabar, itu tidak masalah untuk Echa. Karena Addhitama sudah memberitahu Echa untuk beberapa Minggu ke depan Radit akan sibuk karena harus mengurus perusahaan bersama kedua kakaknya.


Hari ini H-3 acara pensi. Semua sudah panitia siapkan hingga mereka rela pulang malam untuk membuat acara itu sukses dan meriah. Echa mondar mandir ke sana ke mari. Mengecek ini itu bersama panitia lain, hingga mereka terduduk di lantai seraya menyenderkan tubuh mereka ke dinding.


"Lelah banget," ucap salah seorang panitia.


Echa hanya tersenyum. Echa menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya namun, tidak ada pesan dari Radit. Dia pun hanya menghela napas kasar.


Seseorang memberikan botol air mineral ke hadapan Echa. Hati Echa mulai menghangat, dia mengira itu adalah Radit. Tapi, ketika dia menegakkan kepalanya, Riza lah yang memberikan air mineral itu.


"Makasih," ucapnya.


Riza tersenyum dan duduk di samping Echa. "Pacarmu gak keliatan?" tanya Riza.


"Sibuk." Jawaban singkat nan ketus yang keluar dari mulut Echa membuat hatinya sakit. Echa pun meninggalkan Riza dan dia bergabung dengan panitia yang lain.


Sudah hampir seminggu ini Radit sudah tidak pernah ke rumahnya. Ada rasa rindu di dadanya. Tapi, Echa tidak boleh egois. Dia harus mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh Radit.


Bukan hanya Echa yang merindukan Radit. Radit pun sangat merindukan Echa. Namun, kesibukannya membuatnya harus mengabaikan rasa rindunya sejenak.


Jam sepuluh malam dia baru tiba di rumah. Membuat tubuh Radit sangat tidak berdaya. Dia pun langsung terlelap. Karena besok pagi harus ada meeting dengan klien penting.


Sedangkan di rumah Echa, dia sedang menunggu pesan dari Radit. Biasanya setiap malam Radit selalu mengucapakan selamat malam. Sebuah kalimat yang tidak penting namun sangat berarti untuk Echa. Hingga pada akhirnya, penantian Echa berujung terlelap ke alam mimpi.


Pagi harinya Radit tidak bisa mengantarkan Echa ke sekolah. Karena dia harus langsung pergi ke Depok. Untung saja Echa sedang sibuk mempersiapkan pensi, jika tidak dia pasti akan sangat merindukan Radit.


Haus dan lapar tidak dihiraukan oleh para panitia. Mereka sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Waktu semakin sore tapi, mereka belum merampungkan semuanya.


Tibalah waktu istirahat, Echa menyeka keringatnya dengan punggung tangannya. Dia mengambil air mineral yang sudah tersedia di meja. Namun, ada seseorang yang menghadangnya dengan segelas es kopi.


Radit pun tersenyum ke arah kekasihnya. Dia mengeluarkan tisu dan menyeka keringat di dahi Echa.


"Maaf, Bhal. Aku sangat sibuk," ucap Radit penuh penyesalan. Echa hanya tersenyum dan menerima es kopi yang sudah Radit buka untuknya.


"Udah makan?" tanya Radit. Echa hanya menggeleng.

__ADS_1


"Aku beliin, ya." Echa melarangnya. "Di sini aja dulu temenin aku," ujarnya.


Radit pun menuruti permintaan kekasihnya, dan dia menemani Echa beristirahat dengan sesekali tertawa dan juga bercanda. Dengan tangan yang saling menggenggam.


Wajah Riza sangat amat tidak bersahabat. Dia menatap Radit dan juga Echa dengan tatapan penuh kemarahan. Apalagi, mereka berdua berbagi minuman bersama.


"Aku ke dalam dulu, ya." Radit pun tersenyum lalu menggandeng tangan Echa dan ikut masuk ke dalam.


Setelah semuanya beres, Echa dan Radit pun pulang. Seperti biasa Radit menemani Echa dulu dan dia pun memang sangat merindukan kekasihnya ini. Sedari tadi Radit mendekap hangat tubuh Echa.


"Aku kangen banget sama kamu, Bhul." Echa mengeratkan pelukannya.


"Aku juga Bhal, hanya saja aku harus bisa mengerti kamu sekarang."


"Makasih ya, sudah mengerti aku. Makasih selalu menjaga hatimu," ucap Radit.


Echa menatap Radit dengan tatapan tajam. "Kamu juga harus menjaga mata dan hatimu. Pasti di kantor banyak perempuan-perempuan cantik, kan."


"Banyak, tapi tidak secantik pacar aku ini," ucap Radit sambil mencubit gemas pipi Echa.


"Ampun deh sama pasangan ini," ujar Ayanda.


"Mah, Echa ingin kwetiau cumi pedas," pinta Echa.


"Pesen aja, kasihan loh Mamah kamu," sahut Radit.


"Gak apa-apa, Dit. Udah lama banget Tante gak masakin buat putri Tante ini," balasnya dengan mengusap lembut rambut Echa.


"Kamu bahagia dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangimu?" Echa hanya mengangguk.


"Seneng deh ngeliat kamu manja begini," imbuh Radit.


"Sesibuk apapun usahain kabarin aku ya, biar aku gak berpikiran buruk sama kamu," sahut Echa.


"Iya, Sayang."

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah gladi resik Echa memutuskan untuk mencari buku di sebuah mall. Ada buku yang ingin dia baca.


Dia melihat-lihat buku yang berada di rak. Matanya tidak sengaja melihat laki-laki yang sangat dia kenali sedang merengkuh pinggang seorang wanita. Wanita itu sangat cantik. Dan sepertinya itu teman satu kantornya.


Hati Echa terasa sesak, dia memilih untuk keluar dari toko buku itu. Namun, Radit menyadari jika Echa ada di sana. Radit pun langsung mengejar Echa. Dia memanggil-manggil nama Echa tapi, tak Echa hiraukan. Hingga dia berhasil menarik tangan Echa.


Plak!


Tamparan mendarat di pipi Radit. "Itu tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Radit.


"Dit, aku udah selesai," ucap wanita yang tadi bersama Radit di toko buku.


Echa mengibaskan tangan Radit dengan sangat keras. Dia menatap tajam ke arah Radit dan meninggalkan Radit. Dia pulang dengan perasaan yang sangat sakit.


Setibanya di rumah, Echa langsung masuk ke kamarnya dan langsung mengunci kamarnya. Tak lama, Radit pun datang ke rumah Echa masih dengan kemeja yang dia kenakan.


"Tante, Echa di mana?" tanya Radit dengan napas yang tersengal.


"Di kamar, ada apa Dit?" Radit langsung menuju kamar Echa. Dia terus mengetuk pintu namun, tidak ada jawaban dari dalam.


"Bhul, itu tidak seperti yang kamu lihat. Tolong buka pintunya Bhul, biar aku jelasin ke kamu," pinta Radit.


Satu jam sudah Radit berdiri di depan pintu kamar Echa, namun Echa tidak bergerak keluar. Menyahuti perkataannya pun tidak. Ponsel Echa pun mati.


Ayanda menghampiri Radit, menanyakan apa yang sedang terjadi dengannya dan juga putrinya. Radit menceritakan semuanya. Ayanda hanya menghela napas kasar.


"Tunggulah dia, nanti juga dia keluar kamar." Radit pun menuruti perintah Ayanda.


Sedari pagi Radit belum makan, dia benar-benar tidak merasakan lapar karena Echa sedang salah paham dengannya. Berkali-kali Ayanda menyuruhnya untuk makan namun, Radit selalu menolak.


Radit menunggu di ruangan belakang karena dia tahu pasti Echa akan terus menghindarinya. Radit mendengar suara langkah kaki menuju lantai bawah. Perlahan dia masuk ke ruangan depan, sudah ada Echa di sana.


"Bhul," ucap Radit. Echa menoleh ke arah Radit, dan matanya melebar ketika tubuh Radit sudah tersungkur ke lantai.


****

__ADS_1


Happy reading ...


Up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun


__ADS_2