Yang Terluka

Yang Terluka
Bimbang


__ADS_3

Tumbuh kembang si triplets yang semakin hari semakin ada saja kelakuan nakalnya, membuat Rion semakin betah di rumah. Apalagi jika pagi hari, rasa malas dan enggan ke kantor selalu melanda hatinya.


"Apa pensiun aja, ya? Biar si Echa aja yang nerusin. Ada si Bhaskara ini di kantor," gumamnya seraya menyandarkan diri di sofa kebesarannya.


Namun, ada sedikit keraguan di hatinya. Echa sudah menjadi seorang istri, dia perlu ijin dari Radit. Apa Radit akan mengijinkan? Sedangkan harta Radit tidak akan habis tujuh turunan. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Rion.


Dia bertekad akan membicarakannya dengan semua keluarga besarnya. Keputusan yang Rion ambil adalah keputusan yang besar.


"Ngapain lu merenung kayak ayam yang mau mati besok?" kelakar Arya.


"Berisik lu!"


"Kenapa sih setiap jadi duda pasti tuh mulut judesnya gak ketulungan," sungut Arya.


Rion tidak mau menanggapi ucapan Arya yang lama kelamaan akan membuat darahnya mendidih.


"Lu udah beli kado buat ketiga cucu lu belum? Jangan sampai kado dari gua lebih mahal dari yang lu kasih," ejek Arya.


Mata Rion melebar, dia hampir melupakan ulang tahun ketiga cucunya.


Sial!


Tanpa bicara dia bergegas keluar kantor. Arya yang terus meneriakinya pun tidak dia hiraukan.


"Dasar duda judes!" geramnya.


Mobilnya terhenti di sebuah mall. Dia berkeliling seorang diri menuju tempat mainan anak-anak. Jika, memberikan baju atau sepatu ketiga cucunya sudah memiliki semuanya. Sebenarnya mainan pun sudah banyak di kamar ketiga cucunya. Akan tetapi, hampir tujuh puluh persen mainan itu dirusak oleh Aleeya. Si bocah bangor junior itu lah julukan dari Arya untuk anak ketiga Echa.


Rion tersenyum melihat Vespa mini yang sedang dipakai oleh salah seorang balita. Vespa itu berwarna pink cocok untuk si kembar.


"Lucu juga. Bisa buat mereka main di halaman atau kamar," gumamnya.


Rion memilih-milih Vespa yang cocok untuk ketiga putrinya. Setelah itu, dia membayar semuanya. Harganya memang murah jika dibandingkan dengan satu setel baju cucunya. Namun, kebahagiaan bukankah tidak bisa diukur dari uang? Bisa saja barang murah membuat mereka tersenyum cerah.


"Kirim ke alamat ini." Rion menyerahkan kartu nama kepada pegawai toko tersebut. Tidak masalah berapapun biaya ongkir yang harus dia tanggung.


Hari ini, entah kenapa Rion ingin berkeliling mall. Tanpa acara belanja dia masih terus memutari mall tersebut. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat anak kembar identik yang asik menikmati es krim. Sepertinya usia mereka satu tahun di atas si triplets.


"Aku ingin mengajak mereka seperti itu," gumam Rion.


Rion berhenti disalah satu kedai kopi yang semua orang pasti tahu. Dia memilih duduk di pojokan seroang diri dengan capuchino panas yang ada di atas meja.


"Sudah saatnya aku tidak memikirkan pekerjaan. Usia ku sudah tidak muda lagi. Aku ingin menikmati masa tuaku di rumah. Bermain bersama ketiga cucuku dan bercengkrama dengan anak-anak serta menantuku."


Sebuah keinginan kecil dari seorang Rion Juanda. Rasa lelah sudah mendera, di mana usia mudanya dia habiskan untuk bekerja keras, hingga di usia yang sudah mencapai kepala lima pun dia masih harus bekerja keras.


"Semuanya harus dibicarakan. Tidak boleh egois juga," gumamnya.


Sedangkan di kediaman Echa, ketiga anaknya sedang membuat onar. Iyan dan Riana terus saja berteriak karena ketiga keponakannya itu malah membawa balon yang baru selesai mereka tiup. Tak lama suara letusan balon terdengar dan mereka tertawa bahagia.


"Kak, Iyan nyerah," keluhnya pada Echa di dapur.


"Ri juga, Kak," timpalnya.


Echa mengerutkan dahinya, dia menuju ruang keluarga di mana ketiga anaknya selalu membawa kabur balon yang sudah besar. Kemudian mereka tusuk-tusuk dengan ranting kayu hingga meletus.


"Anak-anak Bubu," serunya.


Ketiga anak Echa yang sedang tertawa sekarang ini menundukkan kepala. Echa menghembuskan napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kenapa nakal?" Mereka bertiga semakin menunduk.


Echa mensejajarkan tubuhnya dengan ketiga anaknya. Menegakkan kepala anaknya satu per satu.


"Lihat Bubu!" pintanya. Mereka bertiga menuruti setiap ucapan yang keluar dari mulut Echa.


"Bubu tidak pernah mengajarkan kalian untuk bersikap nakal. Bubu tidak pernah mengajarkan kalian tidak menghargai hasil kerja orang lain. Meniup balon ini butuh tenaga. Sekarang minta maaf sama aunty dan Om kecil." Perintah dari Echa akan segera mereka laksanakan.


Dengan tangan yang saling bergenggaman, mereka menghampiri Iyan dan juga Riana di dapur.


"Map."


"Tolli."


Dua kata itulah yang si triplets katakan. Semua orang yang berada di dapur tersenyum melihat ketiga anak Echa yang sudah mengulurkan tangan ke arah Iyan dan Riana.


Riana dan Iyan saling tatap. Mereka berdua tersenyum penuh arti. Bukannya meraih uluran tangan si triplets, Iyan dan Riana malah melipat kedua tangan di atas dada.


"Onti."

__ADS_1


"Om."


Panggilan mereka sangat lirih. Apalagi ada ibu mereka yang berada di belakang mereka dengan sorot mata tajam. Mata mereka sudah berkaca-kaca, hidung mereka pun sudah memerah.


"O-onti, tata Na nta map," ucap Aleena dengan bahasa cadelnya.


"**** Om," kata Aleesa.


Aleeya hanya mengangguk membenarkan ucapan kedua kakaknya. Akan tetapi Tante dan Om-nya masih terdiam. Aleena pun menoleh ke arah Echa. Begitu juga Aleesa dan Aleeya.


"Bubu ...."


Mereka bertiga menangis dan memeluk tubuh Echa.


"On-ti dak mu mapin," adu Aleena dengan Isak tangis.


"Om uda, Bu," ucap Aleesa dan Aleeya.


Melihat mereka bertiga menangis, Riana dan Iyan tertawa. Ketiga anak Echa akan menangis ketika ada dari anggota keluarganya yang mendiami mereka. Tidak menimpali celotehan mereka bahkan tidak mau bicara dengan mereka. Mereka bertiga sangat perasa.


"Ya sudah, sekarang kalian tidur. Bubu yakin setelah bangun tidur om keci dan aunty pasti akan maafin kalian."


Echa menggiring ketiga anaknya menuju kamar. Sedangkan Iyan dan Riana tertawa terbahak-bahak.


"Jahat ih," ucap Mbak Ina.


"Mereka itu susah banget dibuat nangis. Cuma dengan cara itu mereka bisa nangis," kekeh Iyan.


Di kamar si triplets, mereka bertiga sudah duduk manis di atas karpet berbulu. Echa sudah memberi mereka susu, tetapi mereka tak kunjung meminumnya.


"Kenapa?" tanya Echa heran.


"Pon Baba," jawab Aleeya. Diangguki oleh kedua kakaknya.


"Baiklah, setelah itu kalian tidur."


Echa mencoba menghubungi Radit, tetapi tak kunjung ada jawaban. Dia melihat ke arah jam dinding. Angka baru menunjukkan pukul tiga sore.


"Baba lagi sibuk. Sekarang kalian tidur ya. Nanti, setelah bangun tidur baru telepon Baba lagi." Anak-anak Echa sangat pengertian. Apa yang diucapkan dan diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak dini selalu mereka praktekan.


Echa terus memandangi ketiga anaknya. Tak terasa usia mereka sudah menginjak satu tahun. Tak terasa dia sudah menjalankan tugasnya sebagai ibu dengan cukup baik. Hingga kecupan di ujung rambutnya membuat senyum itu memudar.


"Kenapa? Kok nangis," ujar Radit.


"Waktu terasa cepat sekali bergerak. Anak-anak kita sekarang sudah semakin besar," imbuhnya dengan suara terbata.


Radit tidak bisa menjawab, apa yang dikatakan Echa benar adanya. Dia tidak ingin ikut melow. Dia lebih memilih membahas topik yang lain.


"Si triplets udah satu tahun. Berarti boleh dong aku buka puasa," ujarnya.


Echa yang sedang mengeratkan pelukannya, kini melepaskan tangannya dari pinggang Radit. Menatap Radit dengan tatapan membunuh. Sedangkan Radit hanya menaik turunkan kedua alisnya.


"Gak jelas!" sungutnya dan meninggalkan Radit yang terkekeh.


Radit menghela napas kasar ketika melihat ketiga anaknya yang sudah terlelap.


"Tumbuh kembang kalian terlalu cepat. Kalian yang dulunya hanya terus tertidur, sekarang sudah bisa berjalan dan berlari kecil. Menyambut Baba dengan tawa riang kalian. Menjadi pengobat penat Baba. Kalian adalah energi untuk Baba." Radit mencium ketiga anaknya bergantian.


Keadaan di dapur semakin ramai. Semua makanan sudah tersedia ala prasmanan. Senyum terus mengembang di bibir Echa. Begitu juga keluhan yang datang dari Iyan dan juga Riana yang harus bekerja keras meniup balon.


"Bang, bantuin dong," ucap Iyan ketika milhat sang Abang baru keluar dari kamar.


"Abang bantu dengan doa," balasnya.


Ingin sekali Riana melempar bantal yang ada di atas sofa. Namun, dia takut dosa. Apalagi, Abang iparnya adalah ladang uang untuknya.


"Kuenya gak pesen?" tanya Radit sambil membuka lemari pendingin. Mengambil salad buah di dalam cup.


"Katanya Mamah yang mau bawa," jawab Echa yang kini mendudukkan diri di kursi meja makan.


Radit duduk di samping Echa, menyuapi istrinya dengan salad buah yang baru dia ambil.


"Papih jadi datang?" tanya Echa sambil mengunyah.


"Papih dan Abang lagi ke Kalimantan. Kakak lagi ke Jogja." Echa hanya ber-oh ria.


"Setelah mereka kembali ke Jakarta kemungkinan mereka akan menyiapkan pesta kecil-kecilan juga untuk anak-anak."


Beginilah derita cucu Sultan. Pesta kecil-kecilan yang Radit maksud akan menjadi pesta besar bagi mereka yang berada dikalangan menengah ke bawah.

__ADS_1


"Ay, kamu serius mau buka puasa sekarang?" Radit tersedak mendengar ucapan Echa. Untung saja di dapur hanya ada mereka berdua.


"Kenapa memangnya? Belum siap?" Radit masih asyik menyuapkan salad ke dalam mulutnya.


"Bukan ...."


"Lalu?" tanya Radit kembali.


"Kamu harus pakai pengaman, aku 'kan belum pakai alat kontrasepsi," jawab Echa.


"Gak enak, Yang. Enakan dikeluarin di dalam," balasnya.


Echa mengerucutkan bibirnya. Menandakan dia tengah marah. Berhasil membuat Radit terkekeh.


"Besok kita ke dokter kandungan. Kita konsultasi alat kontrasepsi apa yang bagus untuk kamu. Tidak menyebabkan gemuk serta jerawat atau flek di wajah," terangnya.


"Emang aku jerawatan? Wajahku banyak flek?" hardik Echa.


Radit terkekeh mendengar ucapan sang istri. Wajah Echa seputih susu dan selicin porselen, sangat sempurna.


"Apa aku harus beliin kamu kaca besar? Agar kamu bisa menilai sendiri wajah kamu?"


Malam hari semua orang sudah berkumpul di kediaman Echa. Balon warna-warni, dekorasi khas anak-anak di ruang keluarga. Belum lagi kue ulang tahun di atas meja yang berjumlah tiga buah. Masing-masing di sana ada nama ketiga anak Echa.


Si triplets yang digandeng oleh kedua orang tuanya berteriak gembira ketika melihat balon yang banyak dan juga lilin di atas kue ulang tahun. Anggota keluarga Echa takjub akan penampilan Echa dan Radit yang mengenakan baju sama dengan ketiga anak mereka. Baju itu pun khusus Gio pesankan di salah satu butik ternama.


"Selamat ulang tahun triplets," ucap semua orang.


Ketiga anak Echa bertepuk tangan gembira dan berlari menuju meja di mana sudah ada kue-kue cantik. Tangan mereka hendak mencolek kue-kue tersebut. Namun, Ayanda melarangnya.


"Setelah tiup lilin baru boleh. Okay?" Mereka pun mengangguk setuju.


Lagu ulang tahun pun dinyanyikan dengan riang gembira. Kado sudah berserakan di mana-mana.


Tiup lilinnya tiup lilinnya


Tiup lilinnya sekarang juga


Sekarang juga ...


Ketiga anak Echa meniup lilin di masing-masing kue mereka. Semua orang bertepuk tangan gembira begitu juga dengan ketiga bocah yang sudah menginjak satu tahun.


"Harapannya apa nih buat anak-anak kalian?" tanya Gio.


Echa menatap ke arah Radit, mempersilahkan Radit untuk berbicara.


"Harapannya sama seperti orang tua yang lain. Semoga Aleena, Aleesa dan Aleeya tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar, berbakti kepada kedua orang tua," ujar Radit.


Baru saja Radit selesai berbicara ketiga kurcaci itu sudah tertawa lepas. Di mana krim kue ulang tahun mereka jadikan mainan. Sehingga wajah mereka seperti anak setan.


Radit dan Echa hanya menghela napas kasar melihat kelakuan ketiga anak mereka.


"Perasaan abang dan adek gak gini-gini amat, ya," ucap Ayanda.


"Gimana rasanya punya anak kembar tiga, Dit?" ejek Arya.


"Melelahkan dan menguras emosi," keluhnya.


Namun, mereka semua salut kepada Echa dan Radit. Kedua orang tua baru itu tidak pernah memarahi ketiga anak mereka meskipun anak mereka nakal dan biang onar. Echa dan Radit selalu mengingatkan dengan cara lembut. Atau dengan hukuman mereka tidak akan mendapat pelukan dan gendongan dari Radit dan Echa.


Kebahagiaan mereka terganggu karena seorang kurir datang memabwa hadiah besar.


"Itu hadiah dari Engkong," ucap Rion.


Ketiga anak itu sangat antusias dan menyuruh Rion untuk cepat membuka kardusnya.


"Ngeng-ngeng," ucap Aleeya sangat bahagia.


Aleeya si bocah Bangor junior sudah menaiki motor Vespa. Rion mengajari mereka bertiga bagaimana cara mengendarainya. Daya tangkap mereka sangat cepat. Sekali diajarkan mereka langsung bisa.


Semua orang sibuk memvideokan tingkah lucu anak-anak Echa yang sedang menunggangi Vespa. Sepuluh menit mereka berkonvoi ria. Hingga Aleeya dengan sengaja menabrakkan vespa yang dikendarainya ke belakang Vespa milik Aleesa. Kemudian menabrakkan lagi ke Vespa milik Aleena. Alhasil mereka main tabrak-tabrakan Vespa.


"Lebih parah dari lu, Bangor!" keluh Arya.


"Sebentar lagi juga rusak." Belum kering ucapan Rion, Vespa yang mereka bertiga kendarai sudah tidak berfungsi. Penyok di sana sini, lecet di mana-mana.


Rion menepuk jidatnya sedangkan yang lain tertawa melihat ketiga cucu Rion yang super aktif.


Gimana mau ngurus ini anak tiga? Tingkahnya melebihi anak cowok.

__ADS_1


Rion sedang dilanda kebimbangan saat ini. Antara pensiun, tetapi terkena darah tinggi mengurus ketiga cucunya atau tetap bekerja dengan semangat yang sudah menghilang.


__ADS_2