Yang Terluka

Yang Terluka
Calon Ibu


__ADS_3

Hari ini Echa dan Radit tidak ada jadwal untuk mengunjungi siapapun. Echa memilih untuk tidak keluar kamar.


"Sayang, mau jalan-jalan atau makan diluar?" tanya Radit yang sudah selesai mengecek pekerjaannya.


"Aku ingin di kamar. Kalo ingin sesuatu kita pesan aja," jawabnya.


Terkadang, Radit merasa heran dengan istrinya. Wanita mana yang tidak suka jalan-jalan dan berbelanja. Pergi ke salon untuk merawat diri. Hanya Echa lah wanita yang tidak menginginkan semua itu. Bukan berarti dia tidak merawat dirinya. Echa cukup melakukan perawatan dari rumah saja.


Radit memeluk tubuh istrinya yang tengah memainkan ponselnya. Mengecup puncak kepala Echa berkali-kali.


Hingga gedoran pintu terdengar nyaring membuat Radit dan Echa kaget dibuatnya. Ketika Radit membuka pintu cengiran khas bocah berusia tujuh tahun menyapa Radit.


"Bee, ingin Kak Echa."


Bocah itu menabrak tubuh Radit dan masuk ke dalam kamar Echa. "Kak Echa." Suaranya cukup memekik telinga.


Echa merentangkan tangannya dan bocah itu pun masuk ke dalam pelukan Echa.


"Kenapa Kakak tidak pernah main lagi ke rumah, Bee?" tanya anak perempuan cantik ini dengan raut kesal.


"Kakak belum sempet, Bee. Kalo udah sempet, pasti Kakak ke rumah kamu," jawab Echa.


"Kamu ke sini sama siapa, Bee?" Kini Radit yang bertanya.


"Diantar Papah, tapi Papah harus buru-buru pergi katanya ada meeting." Radit dan Echa mengangguk mengerti.


"Kamu udah makan?" Beeya pun menggeleng.


Echa tersenyum lembut ke arah Beeya. Mengusap rambut Beeya yang digerai dengan penuh kasih sayang.


"Ya udah, kita makan dulu. Sebelumnya, kamu harus ganti baju dulu," imbuh Echa.


"Di tas Bee selalu ada baju ganti, kok." Beeya membuka tasnya dan mengeluarkan baju ganti dari dalam tas.

__ADS_1


"Bee numpang kamar mandi ya, Kak." Dahi Echa mengkerut. "Emang kamu bisa pake baju sendiri?" Dengan cepat Beeya mengangguk.


Bibir Echa melengkung sampai pintu kamar mandi itu pun tertutup. Radit mengahampiri istrinya dan memeluk tubuh Echa.


"Kamu sudah pantas menjadi seorang ibu," ujar Radit. Echa hanya tersenyum sambil menatap manik mata Radit. Radit tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia kecup bibir mungil Echa. Memainkannya sebentar hingga suara terdengar.


"Bee gak lihat. Bee gak lihat." Beeya sudah menutup matanya dengan kedua telapak tangan.


Echa dan Radit pun mulai salah tingkah. Menatap Radit dengan tatapan nyalang.


"Maaf, Sayang. Aku tidak tahu," bisiknya.


Echa mengajak Beeya menuju ruang makan. Namun, Beeya menghentikan langkahnya dan menarik tangan Echa.


"Bee, ingin makan mie instan." Echa dan Radit pun tertawa.


"Kenapa makan mie instan?" tanya Radit.


"Bee ingin merasakannya. Karena Mamah dan Papah selalu melarang, Bee. Katanya tidak sehat," adu Beeya.


Setelah selesai membuatkan mie goreng spesial. Echa membawa dua piring mie instan ke ruang keluarga. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat suaminya dengan sabar mengajari Beeya soal yang tidak mengerti.


"Makan dulu, nanti baru lanjut lagi," ucap Echa.


"Tinggal dua soal lagi, Kak," sahut Beeya.


Echa sudah duduk bergabung bersama suami serta anak dari Om-nya. Echa seperti merasakan memiliki keluarga kecil yang bahagia.


Setelah selesai, Beeya dan Radit pergi ke wastafel untuk mencuci tangan.


"Kok mie-nya cuma dua?" tanya Beeya.


"Kak Echa dan Kak Radit makan sepiring berdua," jawab Radit.

__ADS_1


"Emang kenyang?" tanya Beeya polos. Radit dan Echa hanya tertawa.


Beeya sangat menikmati mie goreng buatan Echa. Lengkap dengan sayur, telur, sosis dan juga ayam.


"Enak sekali, Kak," ucap Beeya.


Sedangkan Radit masih setia menyuapi sang istri. Semenjak sah menjadi suami-istri, mereka lebih senang menikmati makanan sepiring berdua. Lebih romantis serta mesra.


Selesai makan siang, Beeya mulai menguap. Echa mengajak Beeya untuk masuk ke dalam kamarnya. Beeya pun berbaring di atas tempat tidur.


"Kak, Bee ingin dibacakan dongeng," pinta Beeya. Echa pun menuruti permintaan Beeya. Radit pun mulai ikut terbaring di belakang istrinya. Memeluk tubuh Echa dari belakang.


Dongeng pun dibacakan, mata Beeya mulai terpejam begitu juga dengan Radit. Ketika dongeng selesai dibacakan, bibir Echa melengkung dengan sempurna ketika melihat Beeya sudah terlelap dengan damainya. Pun dengan suaminya. Ketika tangan suaminya sudah masuk ke dalam baju yang Echa gunakan. Tangannya yang sudah berhenti bermain-main di sana. Menandakan bahwa Radit sudah terlelap.


Echa pun mulai memejamkan matanya. Mereka tertidur layaknya keluarga kecil bahagia.


Sore harinya Beeya dijemput oleh Arya."Makasih udah jaga Beeya," ucapnya tulus pada Echa dan juga Radit.


"Sama-sama."


"Dadah Kak Echa. Dadah Kak Radit." Beeya mengucapkan selamat tinggal kepada Echa dan juga Radit.


"Kamu akan menjadi ibu yang hebat," ucap Radit. Echa hanya tersenyum dan memeluk pinggang sang suami.


Waktu terus bergulir. Hari ini adalah hari terakhir Echa berada di Indonesia. Dia harus mengikuti suaminya ke negara kangguru. Di mana Radit bekerja dan membuka praktek. Rumah mewah pun sudah Radit siapkan. Jadi, tidak perlu khawatir Echa akan hidup menderita.


"Jangan pergi." Itulah yang Aksa dan Aska katakan. Si kembar yang tidak ingin jauh dari sang kakak kesayangan.


"Bandit, kenapa bawa pergi Kakak?" sergah Aksa. Aksa lah yang sangat garang jika mengenai Echa.


"Dengar Mommy, Bang. Ketika nanti Abang dewasa. Terus Abang menikah, Abang pun sama akan membawa istri Abang untuk pergi dari rumah orang tuanya. Karena kewajiban istri adalah mengikuti ke mana suami pergi. Mommy pun dulu begitu. Dua tahun Mommy dan Daddy harus berpisah dengan Kakak. Kakak memilih untuk tinggal bersama Ayah sedangkan Mommy harus mengikuti Daddy di Singapura. Dewasa nanti, Abang dan Adek akan mengerti apa yang diucapkan oleh Mommy."


Memberikan pengertian kepada anak kembarnya itulah yang harus Ayanda lakukan. Dia tahu si kembar sangat dekat dengan Echa. Pasti, mereka akan sedih jika ditinggalkan sang kakak. Gio dan Ayanda sudah terlanjur mengatakan bahwa Echa

__ADS_1


hanya bersekolah di Singapura selama kurang lebih lima tahun. Pada nyatanya ini ucapan mereka meleset.


Setelah menikah Echa harus kembali lagi ke sana untuk mengikuti suaminya. Para orang tua Echa dan Radit menyarankan untuk Echa tetap tinggal di Indonesia. Namun, Echa menolak. Dia ingin mengikuti ke mana pun suaminya melangkah. Mengajaknya dalam keadaan apapun pasti akan Echa terima. Karena itulah kewajibannya.


__ADS_2