
Waktu terasa cepat sekali bergulir. Hari ini adalah hari wisuda untuk Echa. Semua keluarganya sudah berada di Canberra di kediaman Genta. Bukan hanya Ayanda, Gio, Rion serta Amanda yang datang. Arya dan Beby pun ikut serta, Rumah Genta berubah menjadi sangat berisik.
Kedatangan Radit membuat suasana semakin tidak terkendali. Apalagi Echa yang tidak ingin berpisah jauh dengan sang kekasih. Sukses membuat Rion berdecak kesal.
Keesokan paginya mereka sudah siap dengan pakaian yang senada. Echa memakai kebaya modern berwarna peach. Radit tidak bisa berkedip melihat kecantikan sang kekasih yang sudah cantik dengan riasan tipis nan flawless.
Tangan Radit terulur dan disambut oleh Echa. Senyum merekah di bibir keduanya.
"Kok Mamah merasa ini bukan acara wisuda kamu ya, Kak. Tapi, acara lamaran kamu," imbuh Ayanda.
Radit dan Echa terkekeh mendengarnya. Kemudian, mereka memperlihatkan cincin yang sama kepada keluarga Echa. Sontak mata mereka melebar.
"Ka-kalian ...."
"Ayah tidak perlu khawatir. Ini hanya kesepakatan kami selama di sini. Agar kamu terikat satu sama lain," potong Echa.
"Jika, makhluk alien itu melamar kamu. Apa kamu mau?" tunjuk Rion kepada Radit. Echa tersenyum lalu, mengangguk mantap.
"Gak ada alasan untuk lu nolak lamaran Radit, bro" sambung Arya.
__ADS_1
"Betul itu. Mereka sama-sama cinta dan sayang. Lagi pula hubungan mereka sudah terjalin lebih dari lima tahun. Mau nunggu apalagi?" terang Beby.
Rion hanya menghela napas kasar. Dia menatap mantan istrinya. "Apa kamu setuju, Dek?"
"Selagi Radit bisa membahagiakan Echa aku akan merestui mereka. Lagi pula, Radit sudah banyak membantu putri kita. Dan aku juga melihat Radit tulus menyayangi Echa. Tidak alasan untuk menolaknya," jelas Ayanda.
Rion benar-benar kalah telak kali ini. Ibu dari anaknya sudah merestui Radit. Dan bagaimana dengan dirinya? Jujur saja, Rion juga menyukai sosok Radit yang berbeda dari laki-laki yang lain. Apalagi mantan kekasih Echa terdahulu.
"Bagaimana dengan kamu, Rion?" Sekarang giliran Genta yang bersuara.
"Maharnya harus sepadan," jawab Rion asal.
Mereka pun menuju tempat di mana diselenggarakannya wisuda. Ada kebanggaan di hati kedua orang tua kandung Echa melihat anaknya memakai baju toga. Mendapat gelar sarjana.
Echa menghampiri keluarganya dan memeluk tubuh sang mamah. "Anakmu sudah lulus, Mah," ujar Echa dengan suara bergetar. Tetesan air mata yang menjadi jawaban dari Ayanda.
"Mamah bangga sama kamu, Kak." Ayanda memeluk erat tubuh putrinya.
Kini, Echa beralih pada Rion. Menatap manik mata sang ayah dengan senyuman yang merekah.
__ADS_1
"Echa sudah menepati janji Echa, Ayah. Lulus dengan nilai terbaik." Rion segera memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat.
"Makasih telah menjadi kebanggan Ayah. Makasih telah hadir di dalam hidup Ayah. Dan makasih, kamu sudah banyak mengubah hidup Ayah." Echa tidak sanggup mendengar ucapan dari sang ayah yang teramat tulus. Hatinya terlalu sakit ketika ayahnya mengucapkan kata terimakasih atau sekedar kata maaf.
Setelah keharuan, sekarang waktunya bersua foto. Echa sedikit ragu. Karena dia sedang menginginkan sesuatu.
"Pa, Bun." Ucapan Echa terjeda sejenak. Gio dan Amanda menoleh ke arah Echa.
"Bolehkah Echa berfoto dengan Mamah dan Ayah terlebih dahulu?" ucapnya ragu.
Gio dan Amanda terdiam sejenak. Kemudian, Echa tersenyum ke arah mereka. "Jika, kalian keberatan Echa tidak apa-apa, kok."
Echa tidak ingin membuat masalah baru. Biarlah keinginannya untuk memliki foto wisuda dengan diapit oleh kedua orang tua kandungnya tidak terlaksana. Yang penting, keluarga baru dari kedua orang tuanya bahagia.
"Fotolah, Sayang. Mereka adalah orang tua kandungmu," jawab Gio dengan senyum penuh ketulusan.
Mata Echa nanar dan dia berhambur memeluk tubuh Gio. "Thanks a lot, Pa."
...----------------...
__ADS_1
Kemen dong ....