Yang Terluka

Yang Terluka
Barang Bekas


__ADS_3

Mendengar ucapan sang Papih, Radit hanya mengangguk dan tersenyum lega. Berbeda dengan Echa yang sudah mulai beranjak dari pangkuan sang suami.


"Sayang," tahan Radit.


Echa hanya terdiam, dia ingin mencoba berdamai dengan hatinya. Namun, itu tidak semudah yang dia bayangkan.


"Mau ke mana kamu, Cha?" tanya sang Papih mertua. "Apa kamu mau papih pesankan hotel?" goda Addhitama.


Echa hanya menggeleng dan tersenyum tipis. "Echa ingin menikmati udara segar, Pih."


Echa pergi begitu saja. Melihat keterkejutan sang suami ketika mendengar sekretarisnya akan dipindahkan membuat dada Echa semakin sesak. Padahal, Radit terkejut sekaligus bahagia. Namun, Echa mengartikan berbeda.


Radit hendak menyusul Echa, tetapi Addhitama melarangnya. "Biarkan dia sendiri dulu."


Helaan napas kasar keluar dari mulut Radit. Renita pun tahu diri, dia segera pergi dari ruangan tersebut. Kecewa, sudah pasti Renita rasakan. Dia sangat melihat betapa besarnya rasa cinta Radit untuk istrinya.


Addhitama menepuk pundak Radit seraya berkata, "wanita memang mudah memaafkan, tapi sulit melupakan." Radit pun terdiam mendengar ucapan sang ayah. "Apalagi, kamu sudah menggoreskan luka di hati istri kamu. Sekecil apapun luka yang kamu goreskan, pasti akan dia ingat seumur hidupnya."


Hati Radit sakit mendengar ucapan sang ayah. Dia benar-benar menjadi pria yang sangat jahat. Berjanji akan membahagiakan Echa seumur hidupnya malah sebaliknya, berani menyakitinya.


Kini, Echa berada di pantry dengan secangkir teh manis panas. Dia hanya seorang diri di sana karena petugas kebersihan di sana sedang banyak tugas.


Pintu pantry terbuka, Renita dengan gemetar masuk ke dalam. "A-ada apa Ibu memanggil saya?" tanyanya dengan nada uang sangat gugup.


"Duduk!"

__ADS_1


Suara Echa terdengar sangat dingin dan mengerikan. Mata Echa kini menatap tajam wajah Renita.


"Sudah sejauh mana hubungan kamu dengan suami saya?"


Pertanyaan Echa mampu membuat Renita keluar keringat dingin karena takut.


"Haruskan aku berkata jujur? Atau berbohong saja? Kelihatannya istri dari Pak Radit ini polos."


Renita pun memberanikan diri untuk menatap Echa. Wajah Echa nampak polos dan datar membuat Renita meremehkannya.


"Ibu menanyakan sejauh mana hubungan saya dengan suami Ibu. Em ...." Renita pura-pura berpikir. "Mungkin sedekat merkuris ke Venus," jawabnya.


Echa tidak merespon apa-apa. Tatapannya masih saja datar dan sulit diartikan.


"Em ... kissing. Hot kissing, French kiss ...."


"Cukup!"


Renita tertawa di dalam hati karena dia merasa Echa sudah terpancing dengan ucapannya. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Echa sebelum dia memulai berbicara.


"Jika, itu benar terjadi ... saya akan membuat perhitungan dengan kamu, Renita Aprilia," tekan Echa.


Echa mengeluarkan beberapa lembar foto ke hadapan Renita. Senyum jahatnya pun muncul.


"Ayahmu bekerja di WAG Grup, perusahaan milik kakek saya, Genta Wiguna." Renita pun terhenyak mendengar ucapan Echa.

__ADS_1


"Kamu tahu Giondra Aresta Wiguna? Beliau adalah papah sambung saya."


Terkejut, sudah pasti. Namun, Renita masih mencoba bersikap santai dan tenang.


"Hanya Papah angkat bangga sekali, Anda," ejek Renita.


"Coba Anda tanya siapa ELTHASYA AFANI di perusahaan WAG Grup," titahnya.


"Pansos aja belagu," cibir Renita.


Dia pun segera menanyakan jabatan Echa kepada sang ayah. Terkejut sekali Renita ketika mendengar bahwa Echa adalah atasan dari ayahnya.


"Ja-jadi ...."


"Apa kamu pantas bersaing dengan saya?" tanya Echa dengan penuh amarah. "Hanya dengan satu jentikan jari, perekonomian keluarga kamu akan hancur dalam waktu kurang dari tidak puluh menit."


Tubuh Renita menegang mendengar ucapan Echa. Tubuhnya seakan terpaku dan sulit untuk digerakkan. Echa mendekat ke arah Renita dan berbisik, "jangan anggap remeh wanita polos karena dia akan menjadi singa betina buas jika hidupnya diusik."


Seringai jahat pun terukir di wajah Echa. "Jangan bangga ketika menjadi orang ketiga ... karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menjadi yang pertama dalam hatinya. Hanya sebagai persinggahan sementara, setelah penatnya hilang berlalu dan meninggalkan kamu begitu saja dan kembali ke rumah utamanya. Siapa? Istri dan anak-anaknya." Senyum tipis pun terukir di wajah cantik Echa.


"Manusia yang memiliki harga diri rendah itu selalu ingin menguasai milik orang lain. Padahal ... yang ingin dikuasai itu hanyalah BARANG BEKAS yang belum tentu BERKUALITAS."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2