
Mata Echa berkaca-kaca membaca tulisan yang ada di wallpaper itu. Perasaan Echa sulit digambarkan saat ini. Senang, sedih, terharu dan juga kecewa itu masih ada. Apakah Echa akan memberikan Radit kesempatan kedua?
Radit yang baru saja selesai mandi dan masih menggantungkan handuk di leher. Menatap khawatir kepada Echa yang sedang mematung dengan wajah sendu.
"Bhul, kamu ke ...."
Echa berhambur memeluk tubuh Radit dan membuat Radit sedikit terkejut dengan kelakuan Echa.
"Jangan nangis, Sayang." Suara Isak tangis terdengar lirih di telinga Radit.
Radit mendudukkan Echa di kursi kerjanya. Radit berjongkok di depan Echa dengan tangan yang menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Echa.
"Hati aku sakit kalo liat kamu nangis kaya gini," ujar Radit.
"Aku sangat mencintai kamu, Bhul. Selama ini aku sibuk untuk memantaskan diri agar bisa bersanding bersama kamu. Aku ingin menjadi orang yang dikenal dan dipandang akan prestasi ku sendiri bukan karena warisan orangtuaku," jelas Radit.
"Percayalah padaku. Anak yang dikandung Fani bukan anak aku. Itu anak Bang Rindra, Abang kandung aku yang dengan tegas menjebak aku demi untuk mendapatkan kamu," lirihnya.
"Aku memang bodoh. Hingga Abang ku sendiri tega mencurangi aku. Dan menjadikan aku korbannya untuk menutupi kebejatannya."
"Aku sayang kamu, Bhul. Sayang kamu," ucapnya dengan air mata yang sudah menetes.
Echa memeluk tubuh Radit yang dan mereka berpelukan dalam keadaan jongkok.
"Maukah kamu kembali bersamaku lagi?" tanya Radit. Anggukan kepala yang menjadi jawaban dari Echa.
Pagi hari yang sangat membahagiakan untuk Radit. Kembali bersama Echa menjadi tujuan hidupnya sekarang. Dan sekarang, Echa telah kembali ke dalam pelukannya.
"Makasih Sayang, makasih," ucap Radit dengan wajah yang sangat berseri.
Radit memesan sarapan untuk mereka berdua. Namun, tangan Radit masih betah memeluk pinggang Echa yang sedang menyiapkan makanan yang baru saja diantar.
"Bhal, aku mau mindahin makanan ini dulu ke piring," imbuh Echa.
"Biarkan seperti ini dulu, Sayang. Aku kangen banget sama kamu."
Echa hanya menggelengkan kepalanya. Sekangen-kangennya Echa kepada Radit, dia tidak akan seperti ini.
Echa meletakkan makanan di atas meja dan Radit masih memeluknya dari belakang.
"Makan dulu, ya," tukas Echa.
Radit pun menuruti ucapan Echa. Dan Radit melarang Echa untuk makan sendiri. Biarlah Radit yang menyuapi Echa.
Setelah selesai sarapan, Echa yang hendak bangun untuk membereskan piring kotor dicekal oleh Radit. Radit pun merebahkan kepalanya di atas paha Echa seraya menelusupkan wajahnya pada perut Echa.
"Abis makan gak boleh langsung tidur, Bhal."
"Biarkan aku seperti ini, Sayang, Hampir satu tahun aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku ingin tidur di pangkuan kamu. Agar aku membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi yang sering aku alami," cicit Radit.
Echa membelai rambut Radit dengan sangat lembut sehingga Radit. Perlahan terdengarlah napas teratur dari Radit.
Apa selama ini hidup kamu juga menderita?
__ADS_1
Satu jam sudah, Radit tertidur di pangkuan Echa. Dan selama itu juga tak hentinya Echa memandangi wajah kekasihnya.
"Makasih telah menjaga cinta kamu untuk aku," gumamnya.
Perlahan, Radit mulai membuka mata. Bibirnya tersenyum ketika orang yang dia lihat pertama kali adalah Echa.
"Maaf." Lagi-lagi kata maaf yang terucap dari bibir Radit
"Ini belum lebaran, Bhal. Baru dua jam aku di sini. sudah puluhan kali kata maaf terucap dari bibir kamu." imbuh Echa.
Radit bangkit dari duduknya dan menatap manik Echa sangat dalam. "I love you," katanya dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Echa.
"Love you too."
Pasien Radit sudab mulai berdatangan sedangkan Radit belum turun dari lantai atas.
"Aku ke bawah, ya. Aku udah buat janji sama beberapa pasien soalnya."
Echa pun mengangguk pelan dan kembali fokus ke piring yang sedang dia bersihkan. Pelukan tangan Radit dari belakang membuat Echa hampir menjatuhkan piring yang sedang dia pegang.
"Katanya mau ke bawah," ucap Echa.
"Masih pengen berduaan sama kamu padahal," sahutnya.
"Kerja dulu sana, mau aku buatin kopi?"
"Boleh, kopi kesukaan aku, ya. Tapi. kopi panas aja terus bawa ke bawah," jawab Radit panjang lebar.
"Iya." Satu ciuman Radit layangkan di pipi Echa membuat wajah Echa merona.
Echa mematung di tempatnya. Merasakan kecupan hangat yang Radit berikan di pipinya. Ya, ini kali pertama untuk Echa. Biasanya Radit hanya mencium kening dan kedua kelopak matanya saja.
Echa membawa nampan ke bawah. Dahinya mengkerut ketika melihat pasien Radit perempuan semua. Echa menarik napas dalam sebelum melanjutkan langkahnya memasuki ruangan Radit.
Sebelumnya, ECha mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan Radit. Ketika ada sahutan dari dalam barulah Echa masuk.
Dilihatnya, Radit sedang berbincang dengan seorang wanita bule berparas cantik. Echa mencoba acuh meskipun, hatinya bergemuruh.
"Letakkan di sini, Sayang," pintanya pada Echa.
"Who is she?"
(Siapa dia)
"She"s my fiance."
(Dia tunangan saya)
"Oh my God, she is so beautiful. She is so perfect for you."
(Ya Tuhan, dia sangat cantik. Dia sangat cantik untuk kamu)
"Ya, I know. I very love her," ucap Radit seraya menarik tangan Echa hingga terjatuh di pangkuan Radit.
__ADS_1
(Ya, saya tahu. Saya sangat mencintainya)
"I know. Your eye talking about it."
(Saya tahu. Mata kamu mengatakan tentang itu)
"Malu,". bisik Echa. Namun, tak indahkan oleh Radit.
Setelah pasien pertama Radit keluar, Radit membawa Echa ke sebuah kamar yang ada di ruangan itu.
"Kamu istirahat di sini, ya. Sekalian bisa kamu pantau siapa aja pasien aku," ujar Radit.
"Aku tidak seposesif itu Raditya," kesal Echa. Radit pun terkekeh melihat wajah kesal Echa.
Sudah hampir satu tahun dia tidak menggoda Echa dan dia merindukan wajah kesal Echa yang terlihat sangat menggemaskan di mata Radit.
Radit melanjutkan pekerjaannya sedangkan Echa berbaring di atas kasur single milik Radit, Ya, Echa bisa mendengar apa yang Radit obrolkan dengan para pasiennya. Sehingga, Echa tidak perlu khawatir jika, Radit akan berpaling darinya.
Setelah semua pasiennya tidak ada, Radit menghampiri Echa yang sedang terbaring dengan ponsel di tangannya. Radit merampas ponsel Echa dan memasukkan ponsel Echa ke saku celana Radit.
"Bhal ...."
"Udah dong main ponselnya. Kan udah ada aku di sini." Echa berdecih kesal.
"Keluar yuk, kita nikmati suasana pacaran di Ausi." Belum juga Echa menjawab, Radit sudah menarik tangan Echa hingga Echa berdecak kesal.
Langkah mereka terhenti ketika mereka melihat Fani sudah ada di dalam ruko milik Radit.
"Ternyata selama ini kamu di sini? Aku mencari kamu, Radit," lirih Fani.
Echa tak bergeming, dia masih menatap datar ke arah Fani. Sedangkan wajah Radit menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa. Dia takut Echa akan pergi dari hidupnya lagi. Dan kali ini sudah dipastikan Radit akan gila jika, Echa pergi meninggalkannya.
"Kenapa kamu selalu menghindar Radit. Anakmu membutuhkan sosok ayahnya," ucap Fani lagi.
Hanya senyuman tipis yang tersungging di bibir Echa.
"Yang, anak yang ada di dalam kandungan dia bukan anakku," sangkal Radit.
"Cukup Radit! Ketika tidak ada perempuan ini, kamu selalu nemenin aku. Ngajak bicara anak kita. Tapi, semenjak kehadiran cewek ini kamu seakan membuang aku, Radit."
"Sudah aktingnya?" sahut Echa.
"Kalo mengikuti casting sudah dipastikan kamu tidak akan lolos," ejek Echa.
Echa mendekat ke arah Fani dan menatapnya tajam.
"Aku bukan orang bodoh yang akan termakan akan sandiwara yang kamu lakukan. Apa kamu tidak sadar? Beberapa hari kemarin aku melihatmu di rumah sakit tempat Radit praktek. Kalian tidak saling tegur. Dan sekarang kamu mengatakan seperti ini."
"Sungguh jelek aktingmu Fani, jelek!"cibir Echa.
"Jangan jadi wanita bodoh, yang hanya dijadikan boneka oleh seorang pria yang sebenarnya hanya memanfaatkan mu. Demi mendapatkan obsesinya."
Echa berbalik dan mengecup pipi Radit di depan mata Fani. Seolah mengatakan jika, Radit adalah miliknya dan hanya miliknya.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan komen kalian.